Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Debut Dadakan Penguasa Jakbar Jadi Member TXT
"Wahai anak muda yang gemar berdandan, kamu diwajibkan untuk segera menyelesaikan satu tugas darurat dariku! Segera!"
Suara bariton yang berat nan gaib itu kembali menggema memenuhi seisi ruangan kosong tersebut.
Darah Reno seketika langsung mendidih naik ke kepala. Ia sudah sangat hafal di luar kepala dengan nada suara sok berwibawa milik makhluk tak kasat mata itu.
"Woy!! Si Golok Botak penuh daki! Itu pasti suara lo lagi, kan?! Keluar lo sekarang dari persembunyian! Hadepin gue langsung di sini, jangan cuma berani main sulap dimensi begini dong! Dasar lo hantu pengecut!" teriak Reno lantang sambil telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk ke arah langit-langit plafon ruangan, seolah-olah musuh bebuyutannya sedang nongkrong di atas sana.
"Kamu diwajibkan untuk segera menggantikan posisi dari salah satu member grup idol K-Pop terkenal, yang saat ini kondisinya sedang mengalami mulas perut luar biasa akibat diare di dalam toilet backstage."
Reno seketika melongo sempurna dengan mulut mangap. Kedua alis tebalnya bertaut hampir menyatu di tengah dahi. "Hah?! Maksud kata-kata lo apaan sih? Grup idol yang mana maksud lo? Jangan setengah-setengah dong kalau ngasih info ke orang! Gue kan nggak tahu biodata artis sini!"
"Nanti kamu akan tahu dan menyaksikannya sendiri dengan mata kepalamu."
"Dasar lo kakek Botak licin nan menyebalkan!! Keluar lo sekarang!!"
Reno meninju angin kosong di depannya dengan perasaan geram maksimal, namun suara gaib itu sudah telanjur hilang lenyap dari kepalanya.
"Arrghh, sialan bener!"
Cklek!
Pintu ruangan mendadak terbuka dari luar. Seorang pemuda bertubuh jangkung dengan struktur wajah yang sangat tampan beraura bule melangkah masuk.
Reno menoleh menatap pemuda itu, dan pada detik itu juga, jantung di dalam dadanya seolah-olah mendadak melompat naik ke tenggorokan.
‘Anjir... itu kan Hueningkai member TXT asli?!’
Reno membatin histeris setengah mati di dalam hatinya. Sebagai salah satu penganut fans K-pop garis keras sejak zaman sekolah SMA dulu, ia tentu tahu betul dengan visual ketampanan mirip 'boneka hidup' milik pemuda di depannya ini.
Jantung Reno seketika langsung berdisko brutal lebih kencang daripada ketukan irama musik lagu Crown.
Hueningkai berjalan mendekat, lalu sepasang matanya menatap lurus ke arah Reno dengan ekspresi wajah yang tampak sangat cemas.
"Hyung," panggil pemuda bule itu dengan nada lembut.
Rupanya, ia mengira kalau Reno adalah Yeonjun, rekan satu grupnya yang memiliki kemiripan wajah dengannya.
"Hah? Gue?"
Reno hanya bisa melongo cengo di atas kursi. Mulut gantengnya sedikit menganga, sementara tangan kanannya secara otomatis bergerak refleks mengarahkan jari untuk garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
Hueningkai tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam melihat tingkah laku aneh bin ajaib dari sosok "Yeonjun" di depannya.
"Wae os-eul gal-aibji anh-ass-eo?" (Kenapa kamu dari tadi belum mengganti pakaian panggungmu, Hyung?)
‘Mati gaya gue... ini bocah ngomong pakai bahasa apa sih? Gue kan selama ini cuma tahu kosakata Saranghae sama Kamsahamnida doang dari drama!’
Reno mulai mengucurkan peluh keringat dingin, raut wajahnya mulai berubah pucat pasi menahan panik bahasa.
Hueningkai menghela napas panjang, lalu tangan kanannya menarik sebuah kostum kain dari atas rak gantungan baju.
Sebuah pakaian tradisional Hanbok yang sudah dimodifikasi modern berwarna biru kombinasi putih, lengkap dengan bordiran benang perak yang tampak sangat mewah dan berkilau.
Ia menyodorkan kain kostum mewah itu tepat ke arah dada Reno. "Seodulleoseo sayonghaseyo! God chaj-aboebgessseubnida." (Cepat pakai pakaian ini sekarang, Hyung! Sebentar lagi giliran grup kita yang akan tampil naik ke atas panggung.)
Reno menerima bentangan kain Hanbok itu dengan kondisi kedua tangan yang gemetar hebat. "Oh... oke, oke! Intinya gue disuruh pake baju ini kali ya sama si Abang? Oke, paham, aman!"
Reno mengangguk-angguk berlebihan dengan gerakan kepala naik-turun mirip boneka pajangan di dasbor mobil, lalu ia segera berganti pakaian dengan gerakan tubuh yang luar biasa canggung.
Setelah proses ganti baju selesai, Hueningkai langsung ngacir kabur keluar melewati pintu, meninggalkan Reno sendirian yang masih sibuk meraba-raba kebingungan mencari letak simpul tali ikat pinggang baju Hanbok-nya.
"Lah... kok gue malah ditinggal sendirian di sini?! Main pergi-pergi aja tuh bocah bule!"
Tak butuh waktu lama, Hueningkai kembali masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang perempuan paruh baya yang bertugas sebagai penata rias (makeup artist).
Tanpa perlu memakai acara basa-basi lagi, perempuan Korea itu langsung melakukan aksi penyerangan brutal ke arah area wajah Reno menggunakan spons bedak tebal dan kuas perona mata.
Reno hanya bisa pasrah total menerima keadaan. Bagian kepalanya digerakkan paksa ke sana kemari mengikuti arah kuas, persis mirip sesosok manekin toko baju.
Namun, di balik segala rasa kepanikan bahasanya itu, seulas senyuman tipis mulai terukir manis di sudut bibir Reno.
‘Beuh... gue beneran udah gak sabar lagi nih pengen ngerasain langsung sensasi jadi idol K-Pop dadakan di atas panggung megah! Sering-sering aja dah lo kasih tugas ginian ke gue, wahai si kakek Botak sakti! Tapi awas aja ya lo, kalau besok-besok tugasnya malah dikasih yang nyeremin lagi kayak di dunia zombie, gue silet beneran ntar itu jenggot sama kumis putih panjang lo sampai mulus mengkilap!’ batin Reno memotivasi diri sendiri dengan kobaran semangat yang berapi-api.
Reno mulai menyeringai bangga sendirian di depan cermin besar, sama sekali mengabaikan pandangan mata aneh yang dilayangkan oleh para staf kru di sekitarnya.
Pikiran liarnya sudah terbang melayang membayangkan panggung megah berukuran raksasa, mengimajinasikan dirinya bakal menjadi pusat perhatian utama dari jutaan pasang mata di seluruh belahan dunia.
Padahal kenyataan pahitnya, dia hanyalah sesosok 'pemain pengganti' darurat yang sedang terjebak dalam sebuah situasi absurd akibat kutukan kakek klenik.
"좋아, 끝났어 (joh-a, kkeutnass-eo)," ucap sang perempuan penata rias sembari tangan kanannya menyemprotkan cairan setting spray terakhir ke arah wajah Reno.
"Oke, proses rias wajah sudah selesai."
Reno mulai mengerjapkan kedua matanya pelan, lalu menatap tajam ke arah pantulan bayangan dirinya di cermin yang kini tingkat kemiripannya sudah terbukti 99% identik dengan sosok Yeonjun TXT asli.
Kulit wajahnya tampak sangat glowing merona, berkilau seolah-olah dirinya baru saja selesai mandi menggunakan air zam-zam segar.
Belum lagi tatanan rambut hitamnya yang ditata begitu presisi, hingga sehelai rambut pun dijamin tidak bakal berani bergerak bergeser dari posisinya.
"형, 빨리 준비하자 (hyeong, ppalli junbihaja)!" seru Hueningkai lantang sambil telapak tangannya menepuk keras pundak kanan Reno, saking kerasnya sampai membuat Reno hampir saja tersungkur ke depan.
"Ayo Hyung, cepat kita bersiap-siap di posisi!"