Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Telepon dari Ibu

Beberapa hari kemudian.

Setelah melalui musyawarah kedua keluarga, akhirnya ditentukan hari pelaksanaan akad nikah. Kabar itu dengan cepat menyebar ke seluruh desa.

Persiapan demi persiapan mulai dilakukan, undangan dicetak, gedung di balai desa segera dipesan untuk acara resepsi.

Keluarga Juragan Marta bahkan memutuskan seluruh biaya pernikahan akan mereka tanggung agar keluarga Diyah tidak merasa terbebani.

Diyah tinggal menyerahkan data-datanya untuk keperluan pendaftaran di KUA, lalu duduk manis sambil menunggu hari H.

Di KUA, Biyakta baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen. Tiba-tiba rekan kerjanya menghampiri lalu menyeletuk.

"Wah, Mas Biyakta katanya sebentar lagi jadi pengantin ya?"

Pegawai lain ikut menyahut.

"Beneran? Selamat ya, Mas."

"Jangan lupa nanti traktir."

Biyakta hanya tertawa kecil.

"Belum akad," katanya.

"Sudah tinggal hitungan hari. Orang kata Pak Nandar datanya sudah masuk," balas rekannya dengan senyum jahil.

"Katanya calon istrinya gadis paling baik di desa."

"Haha, anak juragan akhirnya menyerah juga sama urusan cinta."

Semua orang saling melempar obrolan hingga ruangan tersebut dipenuhi tawa.

Salah seorang pegawai bahkan menggoda. "Nanti kalau sudah menikah jangan pulang malam terus. Kasihan istrinya."

Biyakta hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Jarang sekali rekan-rekannya melihat pria setenang dirinya tersipu seperti itu.

****

Keesokannya Biyakta izin untuk datang terlambat karena dia ada jadwal fitting dengan pihak wedding organizer. Tentunya dia tidak datang sendirian, bersama Diyah dan ditemani Anjani, mereka pergi ke lokasi.

Selama di dalam mobil, ketiganya tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Sama-sama bingung untuk memulai dari mana, tetapi akhirnya mereka sampai juga.

"Yang mana calonnya Mas Biyakta?" tanya salah satu tim WO karena ada dua wanita, Biyakta langsung menoleh pada Diyah.

"Yang ini," tunjuknya. Diyah mengangguk malu.

"Oh kalau begitu mari masuk, Mbak, kita lihat-lihat dulu baju pengantinnya, kalau merasa klop nanti dicoba," ujar wanita tadi sambil menggandeng Diyah masuk ke dalam.

"Saya boleh ikut, Mbak?" tanya Anjani dan langsung mendapat anggukan.

Di sana banyak sekali kebaya dan gaun yang tersedia dengan berbagai macam warna. Dari yang paling mahal sampai ke harga yang paling terjangkau, hingga salah satunya memikat mata Diyah.

"Saya boleh coba yang ini, Mbak?" tanyanya.

"Boleh, Mbak. Ayo saya bantu pakaikan, nanti biar Mas Biyakta yang nilai bagus apa nggak."

Diyah langsung mengangguk, dan mengikuti pegawai itu ke ruang ganti. Kebaya berwarna kalem, cocok dengan kepribadian Diyah. Bahkan ukurannya sangat pas di tubuh wanita itu.

Keluar dari ruang ganti Diyah berjalan malu-malu ke arah Biyakta yang menunggu di sofa. Anjani yang ada di sana ikut terpesona dengan pilihan sahabatnya.

"Bagus banget, Diyah," celetuk Anjani sambil memberi dua jempol, sampai membuat pipi Diyah menggembung merah.

Sementara Biyakta tak langsung memberi respon, dia menatap Diyah dari kaki sampai ujung kepala. Kemudian mulutnya bicara. "Cantik."

Diyah makin tak terkendali, di salah tingkah sampai tak tahu harus melihat ke arah mana.

'Apaan sih, Diyah.' batinnya.

"Yakan, Diyah kamu cantik sekali," cetus Anjani.

"Bajunya, bajunya cantik," sambar Biyakta yang membuat senyum Diyah langsung sirna seketika. Padahal dia sudah kegeeran.

Selesai fitting Diyah langsung pamit kepada Biyakta untuk pulang ke rumah, dia mengajak Anjani untuk naik angkot saja.

"Kan tadi saya yang jemput, jadi pulang juga sama saya!" tukas Biyakta. Namun, Diyah yang terlanjur malu, tak mau menerima penawaran tersebut.

"Nggak perlu, kamu langsung ke tempat kerja saja. Biar saya pulang sama Anjani naik angkot," balas Diyah dengan lugas.

"Kenapa?" tanya Biyakta dengan polos. Namun, pertanyaan tak mendapat jawaban karena Diyah langsung menarik tangan sahabatnya ke arah angkot.

"Kami permisi," katanya, Anjani yang hanya bisa mengekor mengangguk kepada Biyakta untuk pamit.

Biyakta menggaruk kepalanya, karena tak mengerti dengan perubahan sikap Diyah.

Setelah duduk di dalam angkot Diyah langsung menghela napas panjang. Entah kenapa suasana hatinya sedikit berubah. Apalagi saat tiba-tiba mereka melihat Cakra dan Rani sedang berboncengan.

"Katanya mereka juga mau menikah ya?" ceplos Anjani menurut berita yang dia dengar dari para tetangga.

"Masa bodo, Jan, toh aku juga mau menikah. Malah mungkin aku duluan," balas Diyah dengan nada sedikit ketus, membuat Anjani makin bingung saja.

'Diyah kenapa ya? Kok tiba-tiba jadi galak begini?'

****

Bangun dari tidur siang Diyah berniat untuk membantu ibunya menyiapkan makan malam. Namun, tiba-tiba ponselnya yang diletakkan di atas meja berdering.

Nomor yang muncul membuat tangannya membeku.

Ibu.

Sudah hampir satu tahun mereka tidak berbicara dan saling menghubungi, karena Diyah memang merasa tidak punya ikatan batin yang lebih dengan wanita paruh baya itu. Sejak kecil Diyah diasuh oleh nenek dan kakeknya, sampai akhirnya kedua orang tuanya bercerai dia hidup dengan sang ayah.

Namun, mau tak mau Diyah mengangkat panggilan itu.

"Assalamu'alaikum."

Suara Diyah terdengar sedikit canggung.

"Wa'alaikumussalam, Diyah," balas Arumi—ibu kandung Diyah.

"Iya, Bu."

"Gimana kamu sehat?"

"Alhamdulillah sehat."

Percakapan itu terasa begitu kaku. Setelah perceraian kedua orang tuanya bertahun-tahun lalu, Arumi memilih menikah lagi dengan pria lain dan mengikuti suaminya tinggal di kota.

"Oh iya, Ibu dengar kamu mau menikah. Benar?" tanya Arumi.

Diyah menatap ke sembarang arah, dengan pikirannya yang melalang buana.

"Iya, Bu."

"Sama anak juragan?" Suara Arumi terdengar antuasias. Namun, tidak dengan Diyah.

"Iya."

Arumi terdiam beberapa saat.

"Berarti benar ya?"

"Ibu tahu dari siapa?"

"Damar yang kasih kabar, kamu kan tidak pernah telepon Ibu."

Diyah menggigit bibir bawahnya.

"Terus kapan akadnya?" tanya Arumi lagi, sekedar basa-basi. Dan Diyah menyebutkan tanggal yang telah disepakati.

"Ohh." Suara Arumi terdengar ragu. "Ibu sebenarnya mau datang."

Mendengar kalimat itu, hati Diyah sedikit menghangat. Sudah lama dia berharap ibunya bisa hadir di momen penting di hidupnya. Namun, harapan itu tak bertahan lama.

"Tapi ... Ibu lagi nggak punya ongkos."

Diyah terdiam.

"Uang Ibu habis buat bayar sekolah adikmu—Diva. Yah namanya baru masuk SMP, harus bayar ini dan itu. Belum lagi setiap hari harus antar jemput," cerocos Arumi.

Diva adalah anak kandung Arumi dari pernikahan keduanya. Diyah sudah pernah bertemu dengan gadis kecil itu, sebenarnya Diyah sayang, tetapi karena Arumi terlihat pilih kasih, terkadang Diyah juga cemburu.

"Pokoknya Ibu lagi banyak pengeluaran."

Suasana kembali sunyi. Lalu Arumi berkata dengan suara pelan. "Tapi kalau kamu memang kamu ingin Ibu datang ...."

Diyah menggenggam ponselnya lebih erat.

"..., transfer saja uang ongkosnya buat pulang pergi. Total tiga orang, Ibu, Ayah dan Diva, kalo bisa sama uang makannya juga, ya perjalanankan cukup jauh, nggak mungkin cuma minum doang."

Kalimat itu secara tak langsung membuat hati Diyah kembali terasa kosong. Bukan karena nominalnya. Melainkan karena dia berharap ibunya akan berkata.

"Bagaimanapun caranya, Ibu pasti datang."

Namun, yang dia dengar justru permintaan biaya perjalanan. Diyah menelan ludahnya susah payah.

"Aku akan usahakan, Bu," pungkas Diyah yang membuat Arumi tersenyum lebar.

"Ya sudah nanti Ibu kirim nomor rekeningnya. Kalau sudah transfer langsung kabari Ibu," balas Arumi.

"Iya, Bu," balas Diyah singkat, rasanya ingin segera mengakhiri percakapan.

"Jaga kesehatan."

"Iya."

Panggilan itu pun berakhir. Diyah tetap memegang ponselnya beberapa saat. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ibunya memang tidak memarahinya. Tidak pula menentang pernikahannya.

Namun, percakapan singkat itu membuatnya semakin sadar bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sekadar soal tempat tinggal.

Ada ruang kosong yang selama bertahun-tahun tak pernah benar-benar terisi.

Dari balik pintu kamar, ibu sambungnya memperhatikan Diyah dengan cemas.

"Diyah, kamu nangis?" tanya Nuni.

Diyah buru-buru mengusap sudut matanya dan memaksakan senyum.

"Nggak apa-apa, Bu."

"Tadi telepon dari siapa?"

"Ibu," jawab Diyah pelan.

"Kamu sudah memberitahunya? Dia datang 'kan?"

Diyah mengangguk pelan. Dia tidak bicara terang-terangan soal permintaan ibunya, tapi Nuni seolah tahu.

"Kalau dia memang datang, sambutlah dengan baik," ujar Nuni memberi pesan.

Diyah mengangguk.

Meski ada kecewa yang mengendap di dalam hati, Diyah tidak ingin menyimpan kebencian kepada wanita yang telah melahirkannya.

Di kamarnya malam itu, dia menatap undangan pernikahan yang tergeletak di atas meja.

Hari akad semakin dekat. Namun, semakin dekat hari itu tiba, semakin banyak pula ujian yang harus dia hadapi.

Entah bisik-bisik para tetangga, juga kerinduan akan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tak pernah benar-benar dia miliki.

1
Diah_Kustantie ✨💛
Next
Radya Arynda
semangaaat diya,biyahta,,semogah kalia selalu ber sama dalam suka duka,,,,,
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
kapokkkk! kurma di bayarr kontan. dulu kalian pamerr kemesraan di depan Diyah, tapi nyatanya semua itu hanya sementara saja. di saat rumah tangga kalian penuh prahara, beda dnegan rumah tangga diyah yang banyak di hujani kebahagiaan.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
astagaa manten baru, masak mau mesrah2han di tengah sawah 😆 kayak enggak ada tempat lain saja. lagian kalau dah kebelett mending pulang sono...jangan guling2 di tengah sawah 😆
Dien Elvina
sementara s Cakra seperti hidup d neraka dgn Rani ..jangan² s Rani hami anak orang lain
Dien Elvina
good Dyah s Laksmi harus d lawan jangan mau d tekan s benalu ..lama² juga bakal berhenti sendiri
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
nahhh gitu dong diyah! aku suka perubahan kamu. kamu harus lebih berani dan jangan cuma diam saja, saat orang lain meremehkan atau merundungmu. dengan begini, laksmi enggak bakal berani macam2...karena kamu enggak cuma diam dan pasrah.
Diah_Kustantie ✨💛
Janu sudh mulai terprovokasi kayanya.akang biya udh mulai terdiyah Diyah nih ga malu2 ngumbar kemesraan
Dien Elvina
ihh jahat banget Januar ..pengen liat Biyakta rugi dgn mengganti pupuk biar panen hancur n Biyakta kena Omelan pak Marta ..ini gara² hasutan s Laksmi sang benalu 😡
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hohoho seperti kamu mau ngerjain mas kamu januar, kamu asal ganti pupuk supaya hasil panen hancur dan biyakta kena omel bapak kamu gitu kan? gara2 pengaruh dari laksmi. kamu sampai segitunya sama mas kamu. kamu bakal nyesel, jika tahu kalian sedang di adu dombaa.

mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: pasangan klop! 😆 januar lebih percaya sama orang lain, daripada sama saudara kandung. di peralat laksmi saja kok yaa mau2nya.
total 2 replies
Mira Hastati
bagus
Radya Arynda
waaah januar sudah ke makan sama hasutan sengkuni,,wanita iblis si lasmi....semogah kamu tidak menyesal saja war januwar...,
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh
Margaretha Indrayani
diyah kalau suami sudah siap kalau kamu hamil ya sudah diterima kalau memang langsung hamil
Margaretha Indrayani
idih nenek sihir sok kuasa, wong dua juga nebeng dirumah juragan marta, gak punya malu😡😡😡😡😡.
Ny Rudi Harianto
pertanyaan yg awal nya bermaksud baik buat kedua nya malah jadi kesalahpahaman...tapi untung nya biyakta bijak sehingga gak berlanjut masalah nya
Radya Arynda
nah manyap biyantah,,kamu haru selalu melindungi dia,,,,dari mereka2 yang jahat,,,kasih tau biyantah diyah kalau kamu di kasih ramuan ber bahaya sama sengkuni lasmi,,biar kamu ngak salah nanti kalau biyan menemukan obat itu....semangaaaat....
juwita
jgn di tunda " Dyah umur km udh 30 klo di tunda lg mau umur brapa km hamil?
Maria Kibtiyah
diyah terlalu kelamar kelemer
Diah_Kustantie ✨💛
Hamil gas gacorrrr bikin adonan setiap malem sebanyak banyak nya
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Sarmilaa ohh sarmilaa 😆 takutnya malah kamu di jatuhkan sama ekspetasi kamu sendiri. kamu terlalu percaya sama omongan laki2 kota, yang bisa saja malah membuat kamu celaka. kamu terlalu berambisi mengalahkan Diyah, dan takutnya kamu malah salah langkah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!