SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Pelelangan Bawah Tanah dan Hama Pirang yang Merana
Kereta Udara berlambang Naga Perak mendarat dengan mulus di sebuah pelataran tersembunyi di bawah tebing Istana Hitam. Begitu pintu terbuka, dentuman musik klasik yang dimainkan oleh orkestra magis langsung terdengar.
Aura melangkah turun, menggandeng lengan Caden. Matanya langsung menyapu ruangan raksasa yang didekorasi dengan emas hitam dan lampu kristal merah darah. Ratusan bangsawan kelas atas, konglomerat, dan bos mafia dunia bawah mengenakan topeng elegan, duduk di sofa-sofa beludru merah.
"Gila," bisik Aura dari balik topeng renda hitamnya. "Bos, gue baru ngitung valuasi kasar perhiasan yang dipakai ibu-ibu di meja depan itu. Cukup buat nutupin defisit APBN tiga kuartal!"
Caden, yang hanya mengenakan topeng separuh wajah yang semakin menonjolkan rahang tajamnya, terkekeh pelan. "Fokus, Elara. Kita di sini bukan untuk merampok perhiasan nyonya-nyonya tua."
"Sayang banget, padahal return of effort-nya lumayan kalau kita copet satu-dua kalung," gumam Aura asal.
Mereka berjalan menuju area VVIP di balkon lantai dua. Kehadiran Caden, meski bertopeng, langsung dikenali oleh aura dominannya yang mencekik. Semua orang menunduk hormat, menyibakkan jalan.
"Yang Mulia Pangeran Caden," sapa sang Tuan Rumah Pelelangan, seorang pria gemuk berkumis tebal yang langsung membungkuk hingga hidungnya nyaris menyentuh lantai. "Suatu kehormatan yang tak terhingga! Dan... Nona yang mendampingi Anda?"
"Asisten Keuangan Utamaku," jawab Caden dingin. "Beri kami meja dengan pandangan terbaik. Dan siapkan sampanye paling mahal."
"S-segera, Yang Mulia!"
Aura duduk di sofa empuk di balkon, memandang lurus ke panggung lelang di bawah sana. Tiba-tiba, matanya menangkap sesosok pria berambut pirang yang duduk di area kelas menengah, mengenakan jubah abu-abu sederhana dan topeng yang menyedihkan.
"Bos! Bos! Lihat jam arah jam sepuluh bawah!" Aura menepuk-nepuk paha Caden dengan semangat. "Itu si Hama Pirang, kan? Ngapain dia duduk di kelas ekonomi gitu? Katanya pangeran utama?"
Caden menyesap sampanyenya dengan elegan. "Arthur baru saja kehilangan wilayah Timur. Kas negaranya disita sementara oleh bank pusat karena gagal bayar. Dia mungkin harus menggadaikan kereta udaranya hanya untuk membeli tiket masuk pelelangan malam ini."
"Buset! Gembel elit rupanya!" Aura tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak menjaga image. "Terus dia mau beli artefak pakai apa? Pakai daun?"
"Dia meminjam uang dari lintah darat Fraksi Selatan. Kudengar limitnya sekitar lima ratus ribu emas." Caden menatap Aura dengan senyum sadis. "Tugasmu adalah memastikan lima ratus ribu emas itu tidak cukup untuk membeli apa pun malam ini."
"Siap, Bos! Serahkan pada spesialis inflasi harga!" Aura mengeluarkan Kartu Platinumnya, menciumnya, lalu mengangkat papan lelang berangka '01' miliknya tinggi-tinggi.
Di bawah sana, sang Juru Lelang memukul palu.
"Hadirin sekalian! Mari kita mulai pelelangan utama malam ini! Barang pertama: 'Air Mata Dewi Suci'. Sebuah artefak peninggalan era kuno yang mampu menyembuhkan segala jenis wabah penyakit dalam radius satu wilayah! Sangat cocok untuk... kondisi darurat!" Juru Lelang melirik ke arah Arthur.
"Harga pembukaan! Seratus ribu koin emas!"
Arthur langsung mengangkat papannya dengan tangan gemetar. "Seratus lima puluh ribu!"
"Seratus lima puluh ribu dari Tuan berjubah abu-abu!"
Bangsawan dari Fraksi Selatan ikut mengangkat papan. "Dua ratus ribu!"
"Tiga ratus ribu!" teriak Arthur, suaranya mulai terdengar putus asa. Ia tahu wabah penyakit di sisa wilayahnya semakin parah setelah gagal panen, dan artefak ini adalah satu-satunya harapan untuk memulihkan citranya di mata rakyat.
"Tiga ratus ribu emas! Ada yang berani lebih?!"
Aura menopang dagunya, menatap Arthur di bawah sana dengan senyum bos mafia. Ia menyenggol lengan Caden.
"Bos, kalau gue langsung hancurin mentalnya sekarang, kurang seru nggak sih?"
"Lakukan sesukamu, Gadis Serakah. Kartu itu milikmu," jawab Caden, tangannya merangkul pinggang Aura dari belakang sofa.
Aura berdiri, berjalan ke tepi balkon kaca, dan mengangkat papannya dengan santai.
"Lima ratus ribu koin emas!" seru Aura dengan suara jernih yang menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Semua kepala langsung mendongak ke arah balkon VVIP. Arthur memucat. Ia mengenali suara itu.
"L-lima ratus ribu dari Balkon VVIP 01!" Juru Lelang berseru heboh.
"E-Elara?!" Arthur berdiri dari kursinya, menatap ke balkon dengan rahang mengeras. "Apa yang kau lakukan?! Kau tidak butuh artefak penyembuh itu!"
Aura bersandar di pagar kaca, memutar-mutar Kartu Platinum di tangannya agar cahaya lampu kristal memantulkan kilauannya tepat ke mata Arthur.
"Butuh atau nggak itu urusan sekunder, Pangeran Hama!" balas Aura santai. "Di dunia bisnis, ini namanya diversifikasi aset! Siapa tahu besok-besok peliharaan naga Bos gue sakit perut, kan lumayan artefaknya bisa dipakai buat ngobatin!"
"Kau menyamakan nyawa rakyatku dengan perut naga peliharaan?!" teriak Arthur murka, urat di lehernya menonjol.
"Rakyat lo sakit karena lo gagal sediain dana subsidi kesehatan dan sanitasi, Arthur! Jangan nyalahin inflasi pasar bebas atas ketidakbecusan lo ngurus manajemen krisis!" ceramah Aura dari atas balkon.
Beberapa bangsawan di bawah sana mulai berbisik-bisik, membenarkan argumen logis gadis itu.
Arthur mengepalkan tangannya. "Lima ratus lima puluh ribu!" teriaknya nekat, melampaui limit pinjamannya.
"Tujuh ratus ribu emas! Cash! Langsung gesek sekarang!" balas Aura tanpa jeda sedetik pun, tawanya menggelegar. "Gimana, Pangeran? Mau pakai fitur PayLater lintah darat lo lagi? Bunganya naik lima persen per hari, lho!"
"Elara, kumohon!" Arthur memelas, suaranya parau. "Jangan lakukan ini karena Caden yang menyuruhmu! Aku tahu kau wanita baik!"
Tiba-tiba, Caden berdiri. Ia melangkah ke sisi Aura, memeluk pinggang gadis itu dari belakang, dan menatap Arthur dengan pandangan merendahkan yang sangat absolut.
"Dia tidak melakukan ini karena aku yang menyuruhnya, Arthur," suara Caden berat, pelan, namun mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. "Dia melakukan ini karena dia tahu... uangmu terlalu sedikit untuk duduk di meja permainan yang sama dengannya."
"Tujuh ratus ribu koin emas! Satu! Dua! Tiga! TERJUAL KEPADA BALKON VVIP 01!" palu Juru Lelang diketuk keras.
Arthur jatuh terduduk di kursinya. Wajahnya pucat pasi, matanya kosong. Satu-satunya harapannya untuk menjadi pahlawan rakyat, baru saja dihancurkan oleh asisten dari musuh bebuyutannya.
Di balkon, Aura mengelus dadanya. "Duh, Gusti. Jantung gue mau copot nebut angka tujuh ratus ribu emas. Bos, itu duitnya setara sama pendapatan negara sebulan, kan?!"
"Tidak usah dipikirkan. Anggap saja itu uang receh yang jatuh di sela-sela sofa," jawab Caden santai, mengecup bahu terbuka Aura. "Kerja bagus, Asisten. Kau merusak mentalnya dengan sangat indah."
"Jelas dong! Tapi artefaknya beneran buat pajangan doang nih? Nggak mau kita sewain ke klinik-klinik dengan sistem bagi hasil?" otak kapitalis Aura masih menolak rugi.
Caden tertawa, membalikkan tubuh Aura. "Terserah kau. Malam ini, kau bebas melakukan apa pun dengan aset itu."