Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Batu kekosongan dan bayangan tua

Sisa kabut pagi masih menyelimuti tanah, namun ketegangan yang semula menguasai udara perlahan hilang berganti menjadi ketenangan yang dingin. Arlen berdiri diam di depan rumahnya, menatap batu hitam kecil yang kini tergeletak di telapak tangannya. Batu itu sedingin es, namun tidak memancarkan bahaya lagi—hanya kekosongan yang sunyi.

Cedric berdiri di sampingnya, matanya tidak lepas dari jalan yang dilalui Tuan Karis tadi malam.

"Apakah dia akan kembali?" tanyanya pelan.

Arlen perlahan menutup tangannya, menyembunyikan batu itu. Ia mengangkat wajah nya, menatap ke arah kejauhan dengan pandangan yang tajam dan tenang.

"Rasa takut mungkin membuatnya lari hari ini, tapi keserakahan tidak pernah tahu arti mundur. Dia hanyalah daun yang terombang-ambing yang di tiup angin, Ayah. Yang harus kita waspadai adalah tangan yang menghembuskan angin itu."

Arlen berbalik menatap ayahnya.

"Pergilah ke dalam dan jaga Ibu. Aku harus pergi sebentar ke kedai tua di kota. Benda ini menyimpan rahasia yang tidak seharusnya ada di tanganku sendirian."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Arlen berjalan perlahan meninggalkan halaman rumahnya, diikuti Penjaga yang berjalan setia di sampingnya. Ia berjalan menuju kota kecil itu, langkahnya tegap dan tenang, seolah tidak ada beban yang memikul bahunya, padahal dia tahu ia sedang memegang jejak kekuatan terlarang.

Sesampainya di kedai tua yang sepi itu, Arlen mendapati Tuan Valian sedang duduk di meja dekat sudut, di dekat jendela yang remang. Pria tua itu tampak sedang membaca sebuah buku tebal bersampul kulit. Ia tidak menoleh saat pintu terbuka, namun bibirnya bergerak pelan.

"Aku mendengar ada badai yang lewat semalam," ucap Valian tanpa mengangkat wajahnya. "Dan aku mendengar badai itu hancur."

Arlen berjalan mendekat, lalu duduk di hadapan pria tua itu. Ia meletakkan batu hitam itu perlahan di atas meja kayu kasar di antara mereka.

"Bukan badai, melainkan sekumpulan niat jahat yang dikumpulkan menjadi satu wujud," jawab Arlen tenang. Matanya menatap lurus ke arah pria tua itu, seolah ingin menembus pikirannya. "Dan kau pasti sudah tahu dari mana asalnya, Tuan Valian. Kau tahu banyak hal, namun kau selalu memilih untuk diam sampai saat yang tepat."

Tuan Valian akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap batu hitam itu, lalu pandangannya beralih ke wajah anak kecil di hadapannya. Ada kilatan kekaguman yang mendalam di matanya. Valian mengusap batu itu dengan ujung jarinya yang keriput.

"Ini disebut Batu Kekosongan, sisa wujud makhluk yang tercipta dari sisa-sisa energi yang tidak memiliki tempat. Dia tidak hidup, namun dia juga tidak mati. Mereka adalah racun bagi dunia kita." Valian mengangkat matanya kembali menatap Arlen lekat-lekat. "Dan kau tidak hanya mengalahkannya, kau juga memurnikannya hingga tersisa hanya intinya.

Arlen bersandar sedikit ke kursi kayunya, sikapnya santai namun mendominasi ruang percakapan itu.

"Kekuatan tidak baik atau buruk sejak lahir. Semua tergantung pada tangan siapa yang memegangnya. Orang-orang kecil sering kali menyalahkan benda tajam karena melukai, padahal mereka lupa bahwa pisau itu tidak akan bergerak jika tidak ada yang menggerakkannya."

Arlen mengarahkan ujung jarinya tepat ke batu hitam itu.

"Yang perlu kita ketahui adalah: siapa yang mengajarkan manusia cara memanggil makhluk seperti ini? Tuan Karis tidak cukup pintar untuk memikirkannya sendiri."

Tuan Valian menutup bukunya perlahan. Suaranya menjadi lebih rendah dan serius.

"Kau benar. Di balik bayang-bayang kerajaan, ada banyak organisasi yang bersembunyi. Salah satunya adalah Lingkaran Kelam. Mereka mengajarkan bahwa kekuatan mutlak hanya bisa didapatkan dengan mengorbankan sesuatu yang lain. Mereka mencari benda-benda kuno, tempat suci, dan anak-anak berbakat untuk mempercepat ambisi mereka."

Valian menatap Arlen dalam-dalam.

"Dan sekarang, Arlen... karena bukit tempatmu tinggal adalah salah satu tempat yang paling dijaga rahasianya, kau telah menjadi penghalang terbesar bagi rencana mereka. Mereka tidak akan berhenti hanya dengan mengirim makhluk atau orang bodoh seperti Karis. Akan datang orang-orang yang jauh lebih kuat dan cerdas."

Arlen tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya namun menyiratkan keyakinan yang kokoh.

"Biarkan mereka datang. Selama mereka datang mencari masalah kepadaku, mereka akan menemukan batas yang tidak boleh dilampaui. Dunia ini sudah terlalu lama terpecah belah karena keserakahan mereka. Jika aku harus berdiri tegak sendirian untuk menghentikannya, aku akan melakukannya."

Kalimat itu diucapkan dengan nada rendah, namun berat dan tegas, seolah sebuah pernyataan takdir yang sudah tertulis sejak lama.

Namun pembicaraan mereka terhenti saat pintu kedai tua itu terbuka lebar secara kasar. Angin sejuk masuk menerpa, dan di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi berpakaian seragam hitam berhias benang perak. Wajahnya tegas, matanya tajam menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada sosok Arlen dan Valian.

Di dadanya terpasang lambang mata yang menatap ke segala arah—tanda pengawas Kerajaan.

Pria itu melangkah masuk, langkahnya berat dan berwibawa. Ia berjalan lurus ke arah meja mereka. Penjaga di luar tampak mengikuti di belakangnya namun berhenti menjaga pintu.

"Aku mendengar ada hal menarik yang terjadi di wilayah ini," ujar pria itu. Suaranya berat dan dingin. Ia berhenti tepat di samping meja, menatap batu hitam yang masih tergeletak di sana. "Dan aku mendengar anak kecil ini terlibat di dalamnya."

Tuan Valian tampak tenang, namun Arlen merasakan tekanan udara yang berubah. Pria ini berbeda dari penyihir yang datang kemarin. Ia membawa otoritas mutlak yang didapat dari kekuatan sejati.

"Aku adalah Kapten Jenderal Kaelen, pengawas wilayah utara atas perintah takhta pusat," ujar pria itu, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Arlen. "Anak kecil, apa benda yang sedang kau mainkan itu?"

Biasanya anak-anak akan gemetar ketakutan di hadapan sosok berpangkat tinggi yang mengancam. Namun Arlen justru mendongak perlahan, menatap balik tanpa berkedip sedikit pun. Ia tidak berdiri, tidak pula menunduk hormat.

"Benda yang seharusnya tidak ada di tangan orang sepertimu," jawab Arlen tenang namun menantang. "Atau mungkin Kerajaan kini mulai tertarik pada kotoran yang dibawa arus sungai?"

Kaelen mengerutkan keningnya, terkejut mendengar jawaban berani itu. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mencoba menekan Arlen dengan kehadirannya yang besar.

"Berhati-hatilah dengan kata-katamu, Nak. Kau sedang berbicara dengan perwakilan hukum tertinggi di tanah ini. Setiap benda berbahaya ada di bawah wewenang Kerajaan."

Arlen perlahan mengangkat tangannya, menutup batu hitam itu sepenuhnya dari pandangan pria itu. Dia bersandar tegak di kursinya, matanya kelabu itu menyala dingin.

"Hukum Kerajaan berlaku di tanah yang dikuasainya, bukan di hati manusia, dan tentu saja tidak pada apa yang dilindungi oleh keseimbangan alam. Kau bisa pergi dan melaporkan apa pun yang kau lihat di sini. Tapi ingatlah satu hal..."

Arlen berhenti sejenak, suaranya turun namun terdengar lebih tajam.

"Jangan mencoba melangkah lebih jauh dari batas kemampuanmu, Jenderal. Kadang apa yang kau anggap mangsa, ternyata adalah perangkap yang sedang menunggu kau masuk."

Keheningan mencekam terjadi di ruangan itu. Kaelen menatap tajam ke arah Arlen, mencoba mencari jejak ketakutan di wajah anak itu, namun ia tidak menemukan apa pun selain ketenangan yang membuatnya tidak nyaman. Ia merasa seolah sedang berhadapan bukan dengan seorang anak, melainkan dengan pejabat tinggi yang jauh lebih tua dan berkuasa darinya.

"Aku akan mengingat kata-kata itu," ujar Kaelen akhirnya dengan suara berat. Ia mundur selangkah. "Kita akan bertemu lagi, dan saat itu aku berharap kau masih bisa berbicara seberani ini."

Dengan satu isyarat tangan singkat, ia berbalik dan meninggalkan kedai tua itu.

Setelah kepergiannya, Tuan Valian menghela napas pelan namun menatap Arlen dengan pandangan campur aduk antara kekhawatiran dan kekaguman.

"Kau berani sekali menantang orang seperti dia, Arlen. Dia bukan sekadar prajurit biasa, dia adalah salah satu penyihir terkuat Kerajaan."

Arlen perlahan mengepalkan tangannya, batu hitam itu lenyap disimpan di balik pakaiannya. Ia berdiri tegak, menatap ke arah jalan keluar tempat Jenderal Kaelen pergi.

"Pedang yang tajam sekalipun tidak berguna jika dipegang oleh orang yang tidak tahu ke mana harus mengarahkannya," ucap Arlen pelan. "Dia hanyalah alat. Dan alat selalu memiliki tuas penggeraknya sendiri."

Arlen berbalik menatap Tuan Valian.

"Kita punya banyak hal yang harus disiapkan sekarang, Tuan Valian. Jika orang sekuat dia sudah dikirim ke sini, artinya mata kekuasaan sudah mulai tertuju tepat ke arah kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!