Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Mengenal Keluarga Baru
Dua minggu telah berlalu sejak Arthur pulang dari rumah sakit. Kini dia sudah bisa berjalan tanpa tongkat, meskipun masih harus berhati-hati dengan gerakan tiba-tiba. Luka di punggungnya sudah mengering, dan rasa sakitnya sudah berkurang drastis. Arthur menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah keluarga Fernando, dikelilingi oleh Helena dan James yang tidak pernah meninggalkannya sendirian.
Pagi itu, Arthur duduk di kursi taman di belakang rumah, menikmati sinar matahari yang hangat. Secangkir kopi ada di tangannya, dan di pangkuannya, sebuah buku gambar terbuka. Dia sedang mencoba menggambar sketsa sebuah rumah di tepi pantai—rumah yang dijanjikan Robert untuk mereka.
Helena keluar dari dapur, membawa sepiring roti panggang dan selai. Dia duduk di kursi di sebelah Arthur. "Kamu sudah menggambar lagi? Dokter bilang kamu harus istirahat, bukan menggambar sepanjang hari."
Arthur tersenyum, menatap Helena. "Aku tidak bisa diam, Hel. Pikiranku selalu melayang pada masa depan. Rumah baru, taman, mungkin kolam renang kecil untuk James."
Helena tertawa kecil, mengambil secangkir kopi dari Arthur untuk mencicipinya. "Kamu terlalu bersemangat. Kita belum pindah ke sana. Dan jangan lupa, kamu masih harus pemulihan."
Arthur menatap Helena dengan tatapan lembut. "Aku ingin cepat pulih, Hel. Aku ingin membangun kehidupan baru bersama kalian berdua. Aku sudah terlalu lama menunggu."
Helena tersenyum, mengusap pipi Arthur. "Kita akan membangunnya bersama, Arthur. Pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru."
James muncul dari dalam rumah, mengenakan kaos olahraga dan celana pendek. Dia tampak masih mengantuk, rambutnya berantakan. "Selamat pagi, Pa, Ma. Ada sarapan?"
Helena menunjuk roti panggang yang dibawanya. "Ada, Sayang. Ayo duduk, Mama sudah buatkan roti dan jus."
James duduk di kursi di antara Arthur dan Helena. Dia mengambil sepotong roti panggang, mencelupkannya ke selai, dan menggigitnya dengan lahap. "Ma, nanti aku mau ke sekolah. Ada ujian matematika. Tapi aku sudah belajar semalaman."
Arthur tersenyum. "Bagaimana kalau aku antar kamu ke sekolah, Nak? Aku bisa jalan-jalan sebentar. Dokter bilang aku perlu bergerak untuk memperlancar sirkulasi."
Helena menatap Arthur dengan tatapan ragu. "Arthur, kamu yakin? Perjalanan ke sekolah cukup jauh."
Arthur tersenyum. "Aku yakin, Hel. Aku ingin mengantar anakku ke sekolah. Seperti ayah lainnya."
James menatap Arthur dengan mata yang berbinar. "Serius, Pa? Kamu mau antar aku?"
Arthur mengangguk. "Serius, Nak. Ayo selesaikan sarapanmu, kita berangkat bersama."
Helena akhirnya mengalah. "Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Jika kamu merasa lelah, langsung pulang."
Arthur tersenyum, mengangguk. "Janji."
---
Setengah jam kemudian, Arthur dan James sudah berada di dalam mobil. Aldi yang bertindak sebagai sopir dan pengawal membawa mereka menuju sekolah James. Arthur duduk di kursi belakang, menatap James yang duduk di sampingnya.
"Nak, bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Arthur.
James mengangkat bahu. "Biasa aja, Pa. Tapi aku seneng kamu mau antar aku. Selama ini, Mama selalu yang antar aku. Tapi kali ini, aku merasa seperti anak-anak lain yang punya ayah."
Arthur tersenyum, merasakan sedikit kesedihan di balik kata-kata James. "Maaf, James. Aku tidak bisa berada di sana saat kamu kecil. Tapi aku janji, mulai sekarang, aku akan selalu ada untukmu. Apapun yang terjadi."
James menatap Arthur. "Pa, kamu masih ingat waktu aku bilang aku ingin jadi arsitek?"
Arthur mengangguk. "Aku ingat."
James tersenyum. "Aku ingin belajar dari kamu. Aku ingin kamu mengajariku menggambar, merancang, dan membangun. Aku ingin suatu hari nanti, kita bisa membangun rumah bersama."
Arthur menatap James, dan air matanya hampir tumpah. "Aku akan mengajarimu, James. Aku akan mengajarimu segalanya. Dan suatu hari nanti, kita akan membangun rumah yang indah bersama. Rumah untuk kita bertiga."
James tersenyum. "Aku akan berusaha menjadi anak yang baik, Pa. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Arthur mengusap rambut James dengan lembut. "Kamu sudah menjadi anak yang baik, James. Dan aku bangga padamu."
Mobil tiba di depan gerbang sekolah. James turun dari mobil, lalu menatap Arthur. "Pa, terima kasih sudah mengantar. Aku pergi dulu."
Arthur mengangguk. "Belajar yang rajin, Nak. Aku akan menjemput kamu pulang nanti."
James tersenyum, lalu berlari masuk ke gerbang sekolah. Arthur menatap punggung James yang menghilang di antara siswa-siswa lain. Dadanya terasa hangat.
"Aldi, terima kasih sudah mengantar," kata Arthur.
Aldi tersenyum di kursi depan. "Tidak masalah, Pak. Senang melihat Bapak bahagia."
Arthur kembali menatap sekolah itu. "Aku benar-benar bahagia, Aldi. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, aku merasa hidupku lengkap."
---
Sore harinya, Arthur menjemput James tepat di jam pulang sekolah. James terlihat bersemangat saat melihat mobil Arthur berhenti di depan gerbang. Dia berlari mendekat, membuka pintu mobil, dan duduk di samping Arthur.
"Pa, aku dapat nilai bagus di ujian matematika!" seru James.
Arthur tersenyum lebar. "Bagus, Nak! Aku bangga padamu."
James tersenyum. "Pa, nanti malam aku mau masak bersama Mama. Mama bilang dia mau mengajariku membuat sup ayam. Kamu mau makan sama kita?"
Arthur mengangguk. "Tentu, Nak. Aku akan menyantapnya dengan lahap."
Mereka pulang dengan suasana yang hangat. Di rumah, Helena sudah menyiapkan bahan-bahan untuk sup ayam. James langsung berlari ke dapur, memakai apron, dan mulai membantu Helena memotong sayuran.
Arthur duduk di kursi dekat dapur, menikmati pemandangan Helena dan James yang bekerja sama di dapur. Helena tertawa saat James salah memotong wortel, dan James menggerutu dengan lucu.
"Arthur, kamu jangan cuma duduk! Bantu juga dong!" seru Helena.
Arthur tersenyum, berdiri perlahan, dan berjalan ke dapur. "Baik, aku akan membantu. Tapi jangan salahkan aku jika supnya terasa aneh."
Helena tertawa. "Kami akan menanggung risikonya."
Malam itu, mereka bertiga duduk di meja makan, menyantap sup ayam buatan Helena dan James. Rasanya tidak sempurna—sedikit terlalu asin dan sayurnya agak terlalu matang—tapi mereka semua menyantapnya dengan senyuman.
"Ini sup terenak yang pernah aku makan," kata Arthur.
James tersenyum bangga. "Besok kita masak lagi, Pa. Aku mau belajar yang lain."
Helena menatap Arthur dan James, dan dia merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan dan rahasia, akhirnya dia memiliki keluarga yang utuh. Tidak sempurna, tapi dipenuhi cinta.
Malam itu, setelah James tidur, Arthur dan Helena duduk di teras belakang. Mereka menatap bintang-bintang yang bersinar terang.
"Arthur, aku tidak pernah membayangkan ini," kata Helena. "Aku tidak pernah membayangkan kita akan memiliki momen seperti ini."
Arthur menggenggam tangan Helena. "Aku juga tidak, Hel. Tapi aku bersyukur. Kita diberi kesempatan kedua. Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Helena bersandar di bahu Arthur. "Aku juga, Arthur. Aku juga tidak akan menyia-nyiakannya."
Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, Arthur dan Helena berjanji untuk menjaga keluarga mereka. Dan untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa masa lalu yang kelam telah berlalu. Yang tersisa hanyalah masa depan yang cerah.