"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Kepergian Sean
“Siapa sebenarnya Tante Elisa?”
Sean sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Abian. Pandangannya masih terpaku pada layar ponsel. Ia memperbesar foto perempuan yang baru beberapa kali ia temui itu, mencoba memastikan sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Wajah Elisa memang tidak terlalu asing.
Ada kemiripan yang sulit dijelaskan dengan Ayunda—perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi misteri dalam keluarganya. Meskipun Elisa kini sudah berusia lebih tua, garis wajahnya masih tampak begitu familiar jika dibandingkan dengan foto Ayunda ketika masih berusia dua puluhan.
“Papa tanya dari tadi kok malah bengong?”
Sean akhirnya mengangkat kepala.
“Papa pernah bilang Tante Ayunda diculik, kan?”
Abian mengangguk pelan.
“Terus, sampai sekarang gimana?”
Ekspresi Abian berubah serius. Tatapannya lurus ke depan, seolah pertanyaan itu kembali membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
“Papa masih mencarinya. Tapi semakin lama, Papa semakin berpikir kalau Ayunda mungkin sudah tidak ada. Kalau dia masih hidup, rasanya Papa pasti sudah menemukannya.”
Abian menghela napas.
“Papa sudah mencarinya ke berbagai tempat. Hampir seluruh pelosok negeri pernah Papa datangi.”
Sean mengangkat alis.
“Sampai ke lubang semut juga?”
“Itu cuma perumpamaan.”
Abian mengulurkan tangan. “Sini ponselnya.”
Namun Sean segera menjauhkan ponselnya.
“Bagi fotonya dong, Pa. Kirim ke WhatsApp-ku.”
“Buat apa?”
“Siapa tahu suatu hari aku ketemu Tante Ayunda. Aku bisa membandingkan wajahnya dengan foto ini.”
Sean berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Soalnya aku kenal seseorang bernama Tante Elisa. Wajahnya mirip sekali dengan Tante Ayunda. Kalau nanti aku dapat kepastian kalau dia memang orang yang Papa cari selama ini, aku akan kasih tahu Papa.”
Abian langsung menatap putranya.
“Kalau begitu, pertemukan Papa dengan Tante Elisa.”
Sean langsung mendengus.
“Dia istri orang, Pa. Jangan sembarangan.”
Abian mengangkat sebelah alis.
“Papa cuma mau bertemu. Bukan mau macam-macam.”
Sean tertawa kecil.
“Iya, kalau ternyata Tante Elisa benar-benar Ayunda, mungkin nggak masalah. Tapi kalau cuma kebetulan mirip, bisa-bisa kepala Papa digetok linggis sama suaminya.”
Abian menahan tawa.
“Ya jangan dibawa ke hotel atau apartemen. Ketemu di tempat umum saja.”
Sean menatap papanya beberapa detik. Abian pun balas menatapnya.
Keduanya kemudian sama-sama terkekeh.
Ada kalanya hubungan ayah dan anak memang aneh. Mereka bisa membicarakan hal serius beberapa detik sebelumnya, lalu berubah menjadi bahan lelucon dalam sekejap.
Sean menggeleng-gelengkan kepala.
“Papa ternyata begitu juga, ya.”
“Begitu apanya?”
“Dulu waktu muda pasti suka petualangan.”
Abian langsung menyipitkan mata.
“Petualangan apa?”
“Naik turun lembah.”
“Sean!”
Tawa Sean langsung pecah.
Ia tidak menyangka ayahnya yang selama ini terlihat begitu serius ternyata memiliki masa lalu yang cukup berwarna.
“Papa keliatan polos dan nggak pernah macam-macam. Ternyata dosa Papa juga lumayan panjang.”
“Dasar anak kurang ajar.”
Abian menggelengkan kepala sambil tetap fokus mengemudikan mobil.
“Itu dulu. Sekarang Papa sudah tua. Sudah bertobat. Lagi pula, mengurus keluarga dan anak bandel seperti kamu saja sudah menghabiskan banyak tenaga.”
Sean menyeringai.
“Benar juga.”
Ia lalu memasang wajah sok serius.
“Kalau begitu, mulai sekarang Sean akan menjadi anak yang berbakti. Sean akan membantu mengurus perusahaan dengan baik.”
Abian mengangguk puas.
“Bagus.”
“Dan Sean akan selalu mendoakan Papa.”
“Nah, begitu dong.”
Sean tersenyum lebar.
“Semoga Papa tenang di sisi-Nya.”
Abian langsung menoleh tajam.
“PAPA BELUM MATI!”
Sean tertawa terbahak-bahak ketika Abian menjewer telinganya.
“PINTER!”
“Aduh, Pa! Sakit!”
“Biar tahu rasa.”
Sean masih tertawa sambil mengusap telinganya.
“Ngomong-ngomong, sebelum Papa benar-benar meninggal, jangan lupa alihkan seluruh aset Papa atas nama Sean.”
“Benar-benar anak durhaka!”
Tawa Sean semakin pecah.
Abian hanya bisa mengomel sambil menggelengkan kepala. Namun di balik kekesalannya, ada rasa sayang yang tidak pernah berkurang kepada putra satu-satunya.
Setelah beberapa saat, Sean kembali terdiam. Kali ini ekspresinya lebih serius.
“Pa.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Tante Ayunda benar-benar ditemukan, Papa mau apa?”
Pertanyaan itu membuat Abian terdiam cukup lama.
“Sekarang Papa sudah menikah dengan Mama. Kalau Tante Ayunda benar-benar kembali, apa yang akan Papa lakukan?”
Abian menghela napas.
“Sebelum Papa menikah dengan Mama, Papa sudah pernah memikirkan kemungkinan itu.”
Sean menoleh.
“Papa pernah bilang, kalau suatu hari Ayunda kembali, Papa akan tetap menganggap Ayunda sebagai istri pertama dan Mama kamu sebagai istri kedua.”
Sean membulatkan mata.
“Wah, hidup Papa ternyata enak juga. Bisa punya dua istri.”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum jahil.
“Kalau begitu, nanti—”
Belum sempat Sean menyelesaikan kalimatnya, Abian langsung mencubit bibir putranya.
“Mulut kamu itu!”
Sean tertawa sambil berusaha melepaskan diri.
Abian ikut tersenyum meski menggeleng-gelengkan kepala.
Percakapan mereka memang selalu berakhir seperti itu. Namun di balik canda yang terdengar ringan, keduanya sama-sama tahu satu hal: jika sosok Ayunda benar-benar masih hidup, kepulangan perempuan itu akan mengubah banyak hal dalam keluarga mereka—termasuk kehidupan Bastian, Diandra, dan Serly yang selama ini mereka jalani.
“Ck, mana mungkin istri pertama dan istri kedua tinggal serumah? Apalagi sampai melakukan hal-hal seperti itu bertiga. Jelas tidak mungkin.”
Abian terkekeh kecil.
“Tapi kalau Ayunda dan Aretha sama-sama mau, Papa juga tidak akan menolak.”
Sean langsung menatap papanya dengan ekspresi geli.
“Idih, ingat umur, Pa. Aku yakin baru melayani dua orang saja pinggang Papa sudah minta pensiun.”
Abian melotot, tetapi beberapa detik kemudian justru ikut tertawa. Sean pun semakin terbahak-bahak.
Inilah salah satu hal yang Sean sukai ketika hanya bepergian berdua dengan papanya. Di luar, Abian dikenal sebagai pria tegas dan disegani. Namun ketika hanya bersama keluarga, sisi jahil dan hangatnya sering muncul.
“Sudah, Pa. Capek aku. Dari tadi ketawa terus.”
Sean menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil mengatur napas.
Beberapa saat kemudian, Abian kembali membuka percakapan.
“Ngomong-ngomong, Diandra dan Bastian itu benar-benar akan bercerai?”
Senyum Sean seketika muncul.
“Benar. Dan setelah mereka resmi bercerai, aku mau menikahi Diandra.”
Abian langsung melirik putranya.
“Serius?”
“Serius. Papa harus merestui. Kalau Papa tidak merestui, Papa aku pecat dari jabatan sebagai papaku.”
Abian tertawa sinis.
“Terbalik. Kalau begitu, kamu yang Papa pecat dari jabatan sebagai anak.”
Sean terkekeh.
“Papa tega?”
“Kenapa tidak? Memangnya perempuan cuma Diandra?”
Sean terdiam sebentar, lalu tersenyum penuh keyakinan.
“Bukan begitu, Pa. Aku memilih Diandra karena aku tahu apa yang sudah dia lalui.”
Nada suaranya berubah lebih serius.
“Dia pantas mendapatkan seseorang yang menghargai dirinya, bukan seseorang yang membuatnya terus merasa tidak cukup.”
Abian memperhatikan putranya melalui kaca spion.
“Kamu yakin dengan keputusanmu?”
Sean mengangguk.
“Yakin.”
Ia kemudian menatap keluar jendela.
“Diandra mungkin pernah menjadi istri Bastian, tapi itu tidak mengubah caraku memandangnya. Kalau suatu hari dia benar-benar menjadi istriku, aku ingin dia merasa aman, dihargai, dan dicintai.”
Abian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas.
“Kamu sudah memikirkan semuanya?”
“Sudah.”
“Termasuk Serly?”
Sean mengangguk.
“Termasuk Serly. Aku tahu dia bagian dari kehidupan Diandra. Aku tidak akan memintanya meninggalkan siapa pun hanya demi bersamaku.”
Abian tersenyum tipis.
“Setidaknya kali ini kamu bicara seperti laki-laki dewasa.”
Sean langsung menyeringai.
“Berarti Papa merestui?”
“Belum tentu.”
“Yah, Papa!”
Abian terkekeh melihat ekspresi kecewa putranya.
“Buktikan dulu kalau niatmu memang serius. Jangan hanya karena sedang kagum.”
Sean mengangguk mantap.
“Akan aku buktikan.”
Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan itu dimulai, Abian tidak lagi bercanda.
Ia tahu keputusan Sean bukan perkara sederhana. Diandra memiliki masa lalu, Bastian masih menjadi bagian dari cerita hidupnya, dan Serly adalah salah satu alasan terbesar mengapa semuanya harus dipikirkan dengan matang.
Namun melihat kesungguhan di mata putranya, Abian sadar bahwa Sean bukan sekadar sedang bermain-main.
Mungkin, setelah semua luka yang dialami Diandra, akhirnya akan ada seseorang yang benar-benar ingin menjadikannya prioritas.
...****************...
“Ma!”
Suara teriakan seorang laki-laki terdengar begitu keras dari dalam rumah.
Diandra yang sedang duduk santai di taman sambil membaca majalah dan menikmati susu dan cemilan segera bangkit. Ia buru-buru masuk ke rumah untuk mencari sumber keributan.
“Ya?” sahut Diandra begitu tiba di dapur.
Seorang laki-laki dengan kaus oblong hitam dan celana pendek menoleh. Tatapannya langsung berhenti pada Diandra. Alisnya berkerut karena sama sekali tidak mengenal perempuan yang berdiri di hadapannya.
Semalam Angga baru pulang sekitar pukul sebelas malam. Ia baru terbangun sekitar pukul sembilan pagi dan sebenarnya hari itu bukan hari libur kuliah. Namun, ia sengaja pulang untuk menjenguk mamanya, Elisa.
“Kamu Angga, kan? Anak Tante Elisa?”
Angga mengerutkan kening.
“Lo siapa?”
“Namaku Diandra. Aku tinggal di sini sementara.”
Diandra tersenyum kikuk.
“Anggap saja aku pembantu.”
Angga menatap Diandra dari atas sampai bawah. Ia jelas tidak percaya dengan pengakuan tersebut.
Perempuan itu terlalu rapi dan anggun untuk terlihat seperti pembantu. Wajahnya manis, sorot matanya lembut, dan pembawaannya jauh berbeda dari orang yang selama ini ia lihat bekerja di rumah.
“Gue nggak percaya lo pembantu.”
Angga menyandarkan tubuhnya pada meja.
“Lo pasti anak teman Mama yang lagi numpang tinggal di sini.”
Ia kemudian menunjuk gelas di tangan Diandra.
“Btw, ini bukan hari libur, kan? Lo bolos kuliah?”
Diandra langsung melotot.
“Heh! Jangan sembarangan. Aku sudah lulus SMA, bahkan sudah lulus kuliah.”
Ia mengangkat dagunya dengan bangga.
“Aku juga sudah menikah.”
Angga terdiam sesaat.
Kemudian tawanya pecah.
“Pfft... anak SMA ngaku sudah menikah.”
“Siapa yang anak SMA?!”
Diandra semakin kesal.
Namun, Angga mendadak berhenti tertawa. Pandangannya beralih pada minuman yang sedang dipegang Diandra.
“Eh, tunggu.”
Matanya membesar.
“Itu susu pisang gue!”
Diandra refleks menyembunyikan botol tersebut di belakang tubuhnya.
Angga langsung membuka pintu kulkas.
“Pantesan dari tadi gue cari nggak ada!”
“Ini Tante Elisa yang kasih.”
Diandra buru-buru membela diri.
“Katanya aku boleh mengambil apa saja yang ada di kulkas.”
“Boleh ambil, bukan berarti boleh menghabiskan semuanya!”
Angga menunjuk kulkas yang hampir kosong.
“Setiap kali gue pulang, susu pisang gue selalu ada. Sekarang tinggal kenangan.”
Diandra menggigit bibir.
“Nanti aku ganti.”
“Sekarang.”
“Sudah habis.”
Angga menatapnya tak percaya.
“Makanya gue minta lo ganti!”
Diandra terdiam. Uang di dompetnya memang sedang tidak banyak.
Saat mereka masih berdebat, pintu rumah terbuka. Elisa akhirnya pulang dari pasar.
“Tante!”
Diandra langsung menghampirinya dan menggandeng lengannya.
Elisa tersenyum melihat tingkah Diandra.
“Ada apa?”
Angga segera menunjuk ke arah Diandra.
“Ma! Susu pisang dan cemilan aku diambil dia!”
Elisa melirik minuman di tangan Diandra, lalu tertawa kecil.
“Oh, itu? Mama yang menyuruh Diandra meminumnya.”
Angga menunjuk kulkas.
“Ya, tapi jangan sampai habis semua, Ma! Lihat sendiri. Sekarang nggak ada satu pun!”
Diandra langsung memasang wajah bersalah.
“Maaf, Tante.”
“Jangan pasang wajah begitu,” gerutu Angga. “Tetap saja susu pisang gue habis.”
Diandra mendengus.
“Ya sudah, nanti aku ganti.”
“Sekarang.”
“Uangnya dari mana?”
“Pakai uang lo.”
Diandra langsung mengulurkan tangan.
“Kalau begitu kasih uangnya.”
Angga terdiam.
“Kenapa gue yang kasih uang?”
“Kan nanti kamu yang minum.”
“Lah, itu susu pisang gue!”
Elisa yang sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka akhirnya menghela napas.
“Sudah, sudah. Jangan ribut cuma gara-gara susu.”
Ia mengangkat beberapa kantong belanja.
“Mama tadi sekalian membeli jajanan pasar.”
Mata Diandra dan Angga langsung berbinar.
“Aku mau!”
“Aku juga!”
Keduanya menjawab bersamaan.
Elisa tertawa lalu meletakkan belanjaannya di meja. Begitu satu per satu jajanan pasar dikeluarkan, Diandra dan Angga langsung berebut mengambil.
Angga melirik Diandra yang makan dengan lahap.
“Idih, anak kecil. Makannya banyak banget.”
“Aku bukan anak kecil.”
Diandra menjawab dengan mulut penuh makanan.
Elisa terkekeh sambil mengusap sudut bibir Diandra yang terkena remah makanan.
“Makan dulu, baru bicara.”
Diandra mengangguk patuh.
Setelah kenyang, Angga berdiri.
“Pokoknya siang nanti susu pisang gue harus sudah ada lagi di kulkas.”
“Iya, iya,” jawab Diandra malas.
Angga menatapnya tajam sebelum akhirnya menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Diandra menghela napas panjang.
“Itu benar-benar anak Tante?”
Elisa tertawa.
“Iya. Angga anak kedua Tante.”
“Nyebelin banget. Beda sama Bang Victor yang baik.”
Diandra menggelengkan kepala.
“Cuma gara-gara susu pisang saja sampai seperti mau perang.”
Elisa tersenyum.
“Victor anak pertama Tante. Dia anak dari suami Tante dan istri pertamanya. Mungkin karena itulah sifat Victor dan Angga cukup berbeda.”
“Oh...”
Diandra terlihat berpikir.
“Berarti Tante menikah dengan duda yang sudah punya anak?”
Elisa mengangguk.
“Begitu ceritanya.”
“Wah, keren juga.”
Diandra tersenyum tipis.
“Pernikahan Tante tetap bertahan sampai sekarang. Padahal pasti nggak mudah. Apalagi ada keluarga dari pernikahan sebelumnya.”
Ia terdiam sejenak.
“Kalau boleh tahu, mantan istri suami Tante nggak pernah mengganggu?”
Elisa menggeleng.
“Tidak. Hubungan kami baik. Mantan suami Tante juga sudah menikah lagi dan sekarang menjalani kehidupannya sendiri bersama keluarganya.”
Diandra mengangguk pelan.
“Berarti orang-orang di masa lalu Tante bisa berdamai dengan kehidupan masing-masing.”
Ia menunduk.
“Sayangnya hidupku tidak sesederhana itu.”
Elisa mengusap bahu Diandra dengan lembut.
Diandra menarik napas panjang.
“Kadang aku berpikir, mungkin aku harus berubah menjadi jahat supaya bisa menghadapi Serly.”
Elisa menatapnya.
“Jangan bicara begitu.”
“Aku serius, Tante. Kadang aku ingin sekali menyerah menghadapi semuanya.”
Suara Diandra terdengar lirih.
“Serly seperti selalu menang. Dia punya keluarga yang menyayanginya, adik yang perhatian, kehidupan yang sempurna... bahkan anak-anak seperti Azzam dan Azzura juga begitu dekat dengannya.”
Diandra tersenyum getir.
“Dan setelah aku resmi bercerai dengan Bastian, mungkin dia akan menikah dengan Bastian.”
Ia menatap kosong ke depan.
“Seolah-olah semuanya memang sudah menjadi miliknya.”
Elisa mengusap rambut Diandra dengan penuh kasih.
“Sayang, jangan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.”
Diandra terdiam.
“Tidak ada sesuatu yang benar-benar kekal di dunia ini. Apalagi sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak baik.”
Elisa tersenyum lembut.
“Dan ingat, kamu bahkan belum resmi bercerai dengan Bastian. Jangan membuat kesimpulan tentang masa depan sebelum semuanya benar-benar terjadi.”
Diandra menatap Elisa.
“Kalau memang Bastian adalah jodohmu, sejauh apa pun kalian dipisahkan, kalian akan selalu menemukan jalan untuk kembali bertemu. Namun kalau bukan, kamu juga akan menemukan kehidupan yang jauh lebih baik.”
Diandra mengerucutkan bibir. Matanya mulai berkaca-kaca.
Tanpa banyak bicara, ia merapat kepada Elisa dan memeluk perempuan itu.
“Makasih, Tante.”
Elisa membalas pelukannya.
“Untuk apa?”
“Entah kenapa, setiap kali Tante bicara, hati aku selalu terasa lebih tenang.”
Elisa mengusap punggung Diandra perlahan.
“Karena kamu hanya sedang membutuhkan seseorang yang mau mendengarkanmu.”
Diandra mengangguk dalam pelukan Elisa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian menghadapi semua kekacauan dalam hidupnya.
Saat jam makan siang tiba, Sean menyempatkan diri datang ke rumah Elisa. Di tangannya sudah ada sebuah paper bag berisi martabak telur, makanan yang paling disukai Diandra.
Sudah beberapa hari Sean tidak bertemu perempuan itu. Rasa rindunya membuat langkahnya semakin cepat. Dalam pikirannya, ia ingin segera melihat calon istrinya.
“Diandraaaa!”
Suara Sean terdengar dari ruang tengah.
Diandra yang sedang berebut remote televisi dengan Angga langsung menoleh ke arah pintu.
Namun, baru beberapa langkah Sean mendekat, pandangannya langsung tertuju pada Angga yang duduk sangat dekat dengan Diandra.
Alis Sean terangkat.
Instingnya seketika menyala.
“Heh! Jaga jarak, lo!”
Sean berjalan menghampiri mereka, meletakkan paper bag di atas meja, kemudian tanpa basa-basi menyelipkan tubuhnya di antara Diandra dan Angga.
Angga langsung terdorong ke samping.
“Siapa lagi sih ini?”
Kesal karena kedatangannya diganggu, Angga mengangkat remote lalu memukulkannya pelan ke kepala Sean.
Sean menoleh tajam.
“Berani lo?”
Ia merebut remote tersebut dan membalas memukul kepala Angga dengan benda yang sama.
“Eh, kalian berdua!”
Diandra sudah gemas melihat kelakuan mereka. Ia berusaha merebut remote dari tangan Sean.
“Sini! Aku mau nonton!”
Namun, baru saja remote berpindah ke tangan Diandra, Angga kembali merebutnya.
“Punya gue!”
“ Angga!”
Diandra melotot.
“Berani banget kamu memukul orang yang lebih tua!”
Angga mencibir.
“Lebih tua apanya? Gayanya saja kayak anak SMA.”
“Aku bukan anak SMA!”
Diandra benar-benar tersinggung.
Sejak tadi ia sudah berkali-kali menjelaskan bahwa dirinya sudah dewasa, bahkan sudah lulus kuliah dan pernah menikah. Namun, Angga tetap saja menganggapnya seperti anak sekolah.
Sean ikut tidak terima.
“Jangan panggil Diandra anak SMA. Dia calon istri gue.”
Diandra langsung menoleh tajam.
“Kamu juga jangan asal mengaku! Aku bukan calon istri kamu.”
Angga langsung tertawa puas.
“Tuh dengar! Dia sendiri yang bilang bukan calon istri lo.”
Sean mendengus.
“Banyak bacot.”
Dalam hitungan detik, suasana ruang tengah berubah menjadi arena perang kecil.
Diandra yang sudah kesal menjambak rambut Sean dan Angga sekaligus.
“Awas kalian!”
“Aw!”
Keduanya memekik bersamaan.
Angga tidak mau kalah. Ia menarik rambut Diandra, sementara Sean refleks menarik kerah baju Angga agar menjauh dari Diandra.
“Lepasin!”
“Lo duluan!”
“Berhenti!”
Namun tidak ada satu pun yang benar-benar mau mengalah.
Mereka bertiga akhirnya saling tarik, saling dorong, dan berteriak seperti anak-anak yang sedang berebut mainan.
Saat itulah Elisa keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi jus.
Langkahnya langsung terhenti.
Matanya membulat melihat kekacauan di ruang tengah.
“YA AMPUN!”
Diandra, Sean, dan Angga serentak menoleh.
Ketiganya langsung memasang wajah bersalah.
Sayangnya, tangan mereka masih belum melepaskan satu sama lain.
Diandra masih mencengkeram rambut Sean dan Angga. Sean masih memegang kerah Angga, sedangkan Angga masih menarik tangan Diandra.
Elisa meletakkan nampan di meja dengan wajah tidak percaya.
“Kalian ini sudah dewasa, tapi kelakuannya seperti anak-anak!”
Mereka bertiga langsung diam.
“Lepaskan sekarang.”
Ketiganya masih saling menatap.
Elisa menaikkan alis.
“Sekarang!”
Barulah mereka perlahan melepaskan tangan masing-masing.
“Dia yang mulai duluan, Ma,” kata Angga sambil menunjuk Diandra.
“Kamu yang dari tadi cari gara-gara,” balas Diandra.
“Sudah!”
Elisa mengusap pelipisnya.
“Tidak ada yang mulai dan tidak ada yang menang. Sekarang salaman.”
Ketiganya saling pandang dengan enggan.
“Salaman,” ulang Elisa.
Dengan wajah masam, Diandra mengulurkan tangan kepada Angga.
Vernon membalasnya.
Kemudian Sean ikut menjabat tangan keduanya.
“Nah, begitu dong.”
Elisa tersenyum puas. Ia mengusap kepala mereka satu per satu seolah sedang menenangkan tiga anak kecil.
“Sekarang minum jus.”
Tatapan mereka langsung tertuju pada gelas di atas meja.
Elisa kemudian menoleh kepada Sean.
“Kamu belum dapat, kan? Tante buatkan lagi.”
“Nggak usah, Tante. Aku sekalian bantu.”
Sean mengambil paper bag yang tadi ia letakkan.
“Aku juga bawa sesuatu.”
Ia membuka paper bag tersebut.
Aroma martabak telur langsung memenuhi ruangan.
Mata Diandra seketika berbinar.
Angga pun tidak kalah antusias.
“Wah!”
Mereka berdua hampir bersamaan mendekati meja.
Sean terkekeh melihat reaksi mereka.
“Ini buat Tante Elisa.”
Senyum Diandra dan Angga langsung menghilang.
“Yah...”
Sean tertawa puas.
“Kenapa? Kirain buat kalian?”
Ia kemudian memotong martabak menjadi beberapa bagian.
“Sudah, makan saja. Tapi Diandra, suapin aku dulu.”
Diandra mengambil sepotong martabak.
“Baik.”
Sean membuka mulut lebar-lebar.
“Aaaa...”
Diandra mendekatkan tangannya seolah hendak menyuapi Sean.
Namun, tepat sebelum makanan itu masuk ke mulutnya, Diandra justru memasukkannya ke mulut sendiri.
“Hap!”
Ia tertawa puas.
Vernon spontan ikut tertawa.
Sean hanya bisa menatap Diandra dengan wajah tidak percaya.
“Jahaaaatt.”
Diandra tertawa semakin keras.
Elisa yang melihat tingkah mereka hanya bisa tersenyum geli. Ia kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkan minuman.
Sean ikut menyusul.
“Tante, biar aku bantu bikin jus.”
Elisa menoleh sambil tersenyum.
Sementara di ruang tengah, Diandra dan Angga sudah kembali sibuk menyantap martabak.
Rasanya baru beberapa menit mereka berhenti bertengkar, tetapi melihat makanan saja sudah cukup untuk membuat keduanya kembali akur.
Rumah Elisa yang biasanya tenang mendadak terasa jauh lebih hidup sejak Diandra hadir di sana.
Dan tanpa mereka sadari, kedekatan yang terjalin di antara mereka perlahan membuat rumah itu terasa seperti sebuah keluarga kecil yang tidak pernah mereka rencanakan.
“Kalau haus, ambil air di kulkas,” ujar Elisa sambil tetap sibuk menyiapkan buah.
“Iya, Tante.”
Sean membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Setelah meneguk beberapa kali, pandangannya beralih kepada Elisa yang sedang memotong jambu di meja dapur.
Entah kenapa, kali ini Sean memperhatikan wajah Elisa lebih lama.
Semakin diperhatikan, semakin jelas kemiripan perempuan itu dengan Ayunda.
Bentuk wajahnya, sorot matanya, bahkan beberapa garis wajahnya terlihat begitu serupa.
Namun Sean tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan.
Bisa saja semua itu hanya kebetulan. Bukankah banyak orang di dunia ini yang memiliki wajah mirip meskipun tidak memiliki hubungan darah?
Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang terus mendorong Sean untuk mencari tahu.
“Tante.”
Elisa menghentikan aktivitasnya dan menoleh.
“Ya?”
Sean merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka galeri, mencari sebuah foto, kemudian menunjukkan layar tersebut kepada Elisa.
“Tante kenal laki-laki ini?”
Elisa memperhatikan foto yang ditunjukkan Sean.
Beberapa detik berlalu.
Ia kemudian menggeleng.
“Tidak. Tante belum pernah bertemu dengannya.”
Sean mengamati ekspresinya dengan saksama.
“Benar-benar nggak kenal?”
Elisa kembali menggeleng.
“Memangnya siapa dia?”
Sean langsung menyimpan ponselnya.
“Penjaga kebun binatang, Tante.”
Ia nyengir jahil.
Elisa spontan menggelengkan kepala.
“Ada-ada saja kamu.”
Sean ikut tertawa kecil, tetapi pikirannya tidak ikut tertawa.
Jawaban Elisa justru membuat rasa penasarannya semakin besar.
Jika perempuan ini memang bukan Ayunda, mengapa wajah mereka begitu mirip?
Sean memandangi Elisa yang kembali memotong buah.
“Tante, Sean boleh tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
Sean ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya.
“Tante pernah mengalami kecelakaan?”
Gerakan tangan Elisa terhenti.
Ia tampak mencoba mengingat sesuatu dari masa lalu yang selama ini tersimpan samar di kepalanya.
“Pernah.”
Sean langsung fokus mendengarkan.
“Tapi Tante tidak tahu persis apa yang terjadi. Suatu hari, Tante tiba-tiba sadar sudah berada di rumah sakit.”
Elisa menarik napas pelan.
“Tante tidak ingat bagaimana bisa sampai di sana. Bahkan Tante tidak ingat siapa diri Tante saat itu.”
Sean membeku.
Dadanya terasa sesak.
“Lalu... setelah itu bagaimana, Tante?”
“Waktu itu Tante tidak memiliki identitas dan tidak tahu harus pergi ke mana. Mantan suami yang saat itu menolong Tante akhirnya membawa Tante pulang.”
Elisa tersenyum tipis saat mengingat masa lalu.
“Seiring waktu, kami semakin dekat. Kami saling menyayangi, lalu akhirnya menikah.”
Sean masih diam.
“Mantan suami, Tante sebelumnya pernah menikah. Victor adalah anaknya dari pernikahan terdahulu. Sedangkan Angga adalah anak Tante hasil pernikahan kami.”
Senyum Elisa perlahan memudar.
“Sayangnya, dia meninggal sekitar satu tahun yang lalu.”
Sean menundukkan kepala.
“Oh... Sean kira suami Tante masih ada. Turut berduka cita, Tante.”
Elisa mengangguk.
“Terima kasih.”
Ia kemudian menatap Sean dengan sedikit heran.
“Tapi Tante jadi penasaran. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal-hal seperti itu?”
Sean segera menggeleng.
“Nggak ada apa-apa.”
Ia berusaha tersenyum.
“Sudah, yuk kembali ke ruang tengah.”
Elisa mengangguk. Ia mengambil nampan berisi dua gelas jus dan beberapa camilan.
“Kamu duluan saja.”
“Iya, Tante.”
Elisa berjalan lebih dulu menuju ruang tengah.
Namun Sean masih berdiri di dapur.
Pikirannya berputar begitu cepat.
Kecelakaan.
Kehilangan ingatan.
Tidak mengetahui identitas.
Seorang pria yang menolong Elisa dan kemudian menikahinya.
Semua potongan itu terasa seperti kepingan puzzle yang perlahan mulai menemukan tempatnya.
Jangan-jangan...
Sean mengepalkan tangannya.
Selama ini Ayunda masih hidup?
Dan perempuan yang dikenal sebagai Elisa sebenarnya Ayunda?
Pikiran berikutnya jauh lebih mengerikan.
Sean teringat kalung yang pernah ditemukan Diandra.
Jika kalung itu memang memiliki hubungan dengan Ayunda dan Abian, maka kemungkinan besar Diandra bukan sekadar perempuan yang kebetulan memiliki benda tersebut.
Kalau benar Diandra adalah anak Ayunda dan Abian...
Sean menelan ludah.
Berarti perempuan yang selama ini ia cintai...
adalah kakak perempuannya sendiri.
Langkah Sean terasa berat ketika akhirnya ia berjalan menuju ruang tengah.
Dari kejauhan, ia melihat Diandra sedang tertawa bersama Elisa.
Pemandangan yang biasanya membuat hatinya hangat, kali ini justru membuat dadanya terasa sesak.
Jantungnya berdebar keras.
Bukan karena bahagia.
Bukan pula karena gugup.
Melainkan karena ketakutan.
Sean takut semua dugaan itu benar.
Takut perempuan yang selama ini ingin ia jadikan istrinya ternyata adalah putri kandung Abian.
Kakak perempuannya.
Dan jika semua itu terbukti...
maka impiannya untuk menikahi Diandra harus berakhir sebelum sempat dimulai.
Sean memejamkan mata sejenak.
Rasa sakit itu datang begitu dalam hingga ia bahkan tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Untuk pertama kalinya, ia berharap dugaan yang paling ia takutkan ternyata salah.
“Tidak... ini tidak mungkin.”
Sean berdiri begitu saja, wajahnya tampak pucat. Setelah itu ia berbalik dan berlari keluar rumah.
“Sean!”
Diandra spontan mengejarnya.
“Sean! Kamu mau ke mana?”
Diandra berhenti di halaman ketika melihat Sean sudah mengenakan helm full face dan bersiap menaiki motornya.
Ia segera menghampiri dan memegang lengannya.
“Kok buru-buru? Kamu kenapa?”
Sean tidak menjawab.
Ia hanya melepaskan tangan Diandra dengan perlahan, kemudian naik ke atas motor.
“Sean, jawab aku. Kamu kenapa?”
Mesin motor menyala.
Tanpa memberikan penjelasan sedikit pun, Sean langsung melaju meninggalkan halaman.
“Sean...”
Suara Diandra terdengar lirih.
Ia berdiri terpaku, menatap motor Sean yang semakin jauh hingga akhirnya menghilang di ujung jalan.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Selama ini Sean tidak pernah pergi tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan ketika sedang terburu-buru sekalipun, laki-laki itu selalu menyempatkan diri menenangkan Diandra.
Namun kali ini berbeda.
Diandra tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Ia hanya bisa berharap Sean baik-baik saja.
Malam semakin larut, tetapi Diandra masih belum mampu menghilangkan Sean dari pikirannya.
Berkali-kali ia mengirim pesan.
Panggilan demi panggilan juga sudah dilakukan.
Tidak satu pun mendapatkan jawaban.
Diandra semakin gelisah.
Sean kenapa?
Ia menatap layar ponsel dengan cemas. Ponsel itu memang pemberian Sean ketika Diandra meninggalkan rumah Bastian. Isinya hampir hanya nomor Sean karena sebagian besar barang pribadi Diandra masih tertinggal di rumah Bastian.
“Mungkin dia sedang sibuk.”
Diandra mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ia meletakkan ponsel di atas nakas.
“Besok saja aku tanya Bang Victor tentang keadaan Sean.”
Diandra melirik jam dinding.
Sudah hampir pukul sebelas malam.
Ia akhirnya berbaring di atas ranjang. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samping tempat tidur.
Namun ketika hendak memejamkan mata, pandangannya justru tertuju pada sebuah kalung dengan liontin berwarna biru.
Diandra meraihnya.
Jemarinya mengusap permukaan liontin itu dengan lembut.
Entah mengapa, benda itu terasa begitu berharga meskipun ia sendiri belum memahami sepenuhnya alasan di baliknya.
“Bastian sedang apa sekarang?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
“Sudah makan atau belum?”
Diandra menghela napas.
“Biasanya kalau bekerja sampai malam, dia suka lupa makan.”
Namun ia segera tersenyum getir.
“Sekarang sudah ada Serly. Serly pasti mengingatkannya.”
Pikirannya kemudian beralih kepada anak-anak.
“Sekarang mungkin Bastian sedang bersama Serly, Azzam, dan Azzura.”
Diandra menunduk.
“Mungkin memang seharusnya aku tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka.”
Ia menarik napas panjang.
“Dulu aku selalu menganggap Serly sebagai penghalang kebahagiaanku.”
Diandra tersenyum pahit.
“Tapi kalau dipikir-pikir lagi... mungkin justru akulah yang selama ini menghalangi kebahagiaan mereka.”
Ia menatap kosong ke depan.
“Semoga mereka bahagia.”
Setelah mengucapkan itu, Diandra meletakkan kalung di atas nakas.
Matanya kemudian tertuju pada cincin berlian yang masih melingkar di jari manisnya.
Ia mengangkat tangan dan memandangi benda itu cukup lama.
“Kalau bukan karena pernah menjadi istrimu, mungkin aku tidak akan pernah memiliki cincin seperti ini.”
Diandra tersenyum tipis.
“Cincin ini indah. Pernikahan kita juga pernah menjadi sesuatu yang sangat berarti bagiku.”
Ia mengusap permukaannya dengan ibu jari.
“Tapi semuanya ternyata harus dibayar dengan luka yang begitu dalam.”
Diandra menarik napas panjang.
“Sekarang aku ingin melepaskan semuanya.”
Dengan hati yang berat, ia perlahan menarik cincin itu dari jari manisnya.
Begitu cincin tersebut terlepas, Diandra menggenggamnya erat.
“Aku lepaskan cincin ini.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dan aku juga akan belajar melepaskan semua hal tentangmu dari hidupku, Bastian.”
Diandra meletakkan cincin itu di samping kalung.
Ia kemudian merebahkan tubuhnya dan memiringkan badan menghadap kedua benda tersebut.
Tatapannya kembali terpaku pada cincin berlian putih itu.
Ingatan tentang hari pernikahannya muncul begitu jelas.
Hari ketika Bastian memasangkan cincin tersebut ke jarinya.
Hari yang dulu ia yakini sebagai awal dari kebahagiaan mereka.
Hari yang pernah menjadi salah satu hari terbaik dalam hidupnya.
Diandra tersenyum samar.
“Walaupun hanya sebentar, kamu pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku.”
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
“Luka yang aku rasakan mungkin bukan sepenuhnya salahmu.”
Ia memejamkan mata.
“Mungkin aku sendiri yang terlalu banyak berharap.”
Diandra menarik selimut hingga ke dada.
“Harapanku terlalu tinggi. Dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan, aku sendiri yang paling terluka.”
Senyum kecil muncul di bibirnya.
“Mulai sekarang, mungkin aku harus belajar berharap secukupnya.”
Ia menguap pelan.
“Supaya kalau suatu hari aku jatuh lagi, sakitnya tidak akan separah ini.”
Kelopak matanya semakin berat.
“Bastian...”
Nama itu menjadi bisikan terakhir sebelum Diandra benar-benar terlelap.
Satu tetes air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
Pukul satu dini hari.
Rumah Elisa telah sepenuhnya sunyi.
Di kamar Diandra, perempuan itu masih tertidur lelap.
Tiba-tiba jendela kamar bergerak perlahan.
Seseorang membuka jendela dengan sangat hati-hati.
Sosok laki-laki yang mengenakan jaket hitam masuk ke dalam kamar tanpa menimbulkan suara.
Ia kemudian menutup jendela kembali.
Dalam kegelapan, langkahnya bergerak perlahan mendekati tempat tidur Diandra.
Sementara Diandra sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang di dalam kamarnya.