Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Karina terus berjalan meninggalkan tempat acara, tanpa menoleh kembali ke belakang, Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, bukan karena gaun Katrin yang terkena champagne, melainkan perkataan Adrian Pria yang selama ini ia kagumi justru menjadi orang yang paling membuat hatinya terluka. Karina merasa kesalahan yang terjadi malam itu bukan sepenuhnya karena dirinya. Namun, Adrian seolah hanya melihat kesalahannya tanpa mau mendengar penjelasan.
Ia menggigit bibir, berusaha menahan tangis.
"Aku tidak seharusnya berharap terlalu banyak," gumamnya lirih.
Karina berhenti sejenak di halaman rumah mewah tersebut. Ia mengusap air matanya dengan cepat ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.
"Ayo mba Karina saya antar pulang." sapa pria didalam mobil
Karina hanya melihat sekilas, ia sudah hafal dengan suara itu, sebelum masuk ke mobil ia mengusap kembali air matanya dengan cepat, Sepanjang perjalanan, Karina hanya memandang keluar jendela.
Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya.
Namun, di dalam pikirannya, suara Adrian terus terngiang, Dan setiap kali mengingatnya, dadanya kembali terasa sesak, sampai akhirnya mobil itu sampai didepan gang rumahnya
"Terima kasih pak Tomy, tidak perlu mengantarku aku baik - baik saja." kata Karina sambil ia kemudian berjalan menuju rumahnya, Tomy hanya mendengarkan permintaan Karina, ia tahu semua yang terjadi pada Karina, namun tomy memilih diam agar membuat hati Karina lebih tenang.
Sementara didalam rumah mewah itu, acara masih terus berlangsung, Katrin sudah membersihkan gaunnya, ia kembali bergabung dengan tamu undangan sambil menikmati minuman ditanganya sesekali bibirnya tersenyum tipis, mengingat kejadian yang membuatnya bahagia malam ini, dimana Adrian ternyata masih peduli padanya, dan ia kerasa bahwa Karina bukan lah wanita spesial di hati Adrian, katrin tampak sedikit bernafas lega, namun ia tetap merasa waspada dengan kehadiran Karina.
Sementara itu Karina tiba dirumahnya, dengan masih memakai gaun mewah yang tadi dikenakan nya, disambut sang ibu yang terus menunggu nya
"Ibu khawatir sama kamu karina, kamu baik - baik saja kan?"
"Aku baik - baik saja Bu, tapi sepertinya impianku sangat lah sulit Bu."
"Aku kira ini adalah awal hidupku, tapi ternyata bukan jalanku disana Bu." Karina mengutarakan kesedihan nya sampai dirinya tertidur pulas dipangkuan sang ibu dengan masih berpakaian yang sama. Sang ibu membiarkan nya, dengan terus mengusap rambutnya, ia menyadari perjuangan putrinya, dan ia tidak menyalahkan nya, dengan semua impian dan harapan nya.
***
Satu bulan berlalu, karina akhirnya memutuskan kembali bekerja dibengkel pak Hendra, dan berusahan melupakan impian nya, semua senang dengan kembali nya Karina dibengkel termasuk Dimas yang sangat bahagia melihat Karina kembali mendekat pada nya dengan Karina pun akhirnya merasa senang dengan kembali nya karina ia berharap karina bisa kembali seperti dulu dan melupakan impian yang belum pasti menjadi miliknya.
Sementara dirumah mewah itu Adrian dan Sang Ayah tengah membahas produk yang sudah satu bulan ini dipasaran,
"Kau lihat Adrian, bagaimana produk mu bisa diterima masyarakat dengan market yang bagus."
"Aku juga sudah memantaunya Yah, dan ini akan menjadi produk best seller yang akan aku unggulkan."
"Bagus..., Ayah senang, tapi Ayah akan semakin senang bila kau memikirkan Karina yang juga ikut terlibat dalam produkmu."
"Karina?"
"Kau lupa, bahwa dalam produknya Karina lah yang bisa jadi salah satu faktor prudukmu meningkat dipasaran.
Adrian terdiam ia mengingat kata - kata terakhir dipesta itu yang membuat Karina pergi, ia sadar produknya memang kini penjualan nya meningkat, tapi apa benar Karina salah satu penyebab nya
"Benar pa Adrian, harus nya kita berterima kasih dengan mba Karina, dia juga belum mendapatkan bayaran yang seharusnya ia dapatkan." sahut tomy yang duduk diantara mereka
"Kau yakin Adrian, tidak akan melakukan apapun untuk orang yang sudah berjasa pada peluncuran produk mu?" sahut sang Ayah namun Adrian masih diam seribu bahasa, tidak ada yang dapat ia katakan, bahkan ia kini menyadari kesalahan nya pada Karina, sepanjang hari dikantor pikiranya dipenuhi dengan Karina bagaimana bisa ia meminta maaf pada Karina, sementara di layar saham produk terbarunya terus mengalami peningkatan penjualan, bahkan beberapa tempat ada yang sampai kehabisan stok,
"Tom....berikan cek pada Karina dari hasil kerja dan royalti yang seharusnya dia dapatkan." kata Adrian
Tomu terdiam sesaat, dalam hatinya tersenyum bahagia dengan perkataan tuanya yang sudah ditunggu nya sejak lama.
"Alangkah lebih baik, pak Adrian yang memberikanya secara langsung, kita juga akan lebih banyak membutuhkan nya, jika permintaan pasar semakin melonjak." jawab Tomy, dan jawaban itu membuat Adrian membenarkan perkataan asisten nya.
Sore hari dalam perjalannan nya kembali ke rumah, Mobil yang ditumpangi adrian dan Tomy kini menuju sebuah gang kecil tempat Karina tinggal, Karina yang baru pulang dari bengkel, langsung menatap kaget ke arah depan rumah nya manakala melihat dua orang yang dikenalnya dengan berpakaian rapih menghampiri nya, dia tak menyangka Adrian datang ke rumahnya, semakin berjalan mendekatinya
"Karina....Aku ingin memberikan gaji beserta royalti yang sempat tertunda kemarin." kata Adrian sambil menyodorkan sebuah kertas cek yang bertuliskan nominal angka didalamnya, sementara Karina masih tidak bisa berkata apapun, tampak Tomy yang berada disamping Adrian hanya tersenyum senang, Karina memgambil kertas itu dengan tangan sedikit gemetar
"Aku juga berterima kasih atas kerja keras mu Karina, dan aku... meminta maaf atas kejadian malam itu." tambah Adrian kemudian berhenti sejenak, mata nya masih menatap Karina tajam "Aku pamit Karina, selamat sore." tambah nya sekaligus langsung dirinya berbalik meninggalkan Karina yang masih terus berdiri tanpa bersuara, Karina masih terus melihat kearah mereka sampai kedua orang itu menghilang dibalik gang kecil rumahnya, saat matanya beralih ke sebuah kertas yang di pegang nya, mata nya kini membelalak lebar, ia tak menyangka nominal yang dituliskan dikertas itu diluar dugaan nya,
"Ibu...." karina berteriak histeris sambil berloncat kegirangan
"Ada apa Karina."
"kita kaya Bu, kita kaya...., kita bisa beli rumah." sambil berloncat memegangi pundak sang ibu
"Lihat Bu...kita akan pindah dari sini."
"Apa....uang dari mana ini Karina?" kata sang ibu sambil melihat cek yang kini dipegang nya
"Dia datang Bu, dia kesini tadi."
"Siapa?"
"Adrian Bu...dia yang ngasih langsung kesini." karina masih terus tertawa bahagia, dirinya tak menyangka adrian sendiri yang datang meminta maaf dan memberikan cek itu padanya, sesuatu yang tidak pernah ia duga , dan karina semakin tidak menduga dengan nominal yang diterima dalam cek itu membuatnya bahagia luar biasa.
Sementara itu, di tempat lain, Katrin justru tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Sejak dirinya mengetahui produk terbaru adrian kini laris dipasaran, hati nya mulai tidak tenang, Baginya, keberhasilan produk itu bukan kabar baik.
Semakin tinggi penjualannya, semakin besar pula nama Karina dikenal masyarakat.
Dan jika nama Karina semakin terkenal, kemungkinan Adrian kembali menggunakan Karina sebagai model akan semakin besar.
"Ayah....Ayah harus melakukan sesuatu."
"Ada apa Katrin?"
Katrin meletakkan ponselnya di atas meja.
"Produk terbaru Adrian, ayah sudah tau kan kalau penjualan nya sudah sangat banyak."
"Iya Ayah tahu, dan itu merupakan keuntungan buat kita."
"Tidak ayah, ayah harus buat produk itu bermasalah, aku tidak ingin produk itu meroket."
"Tapi kenapa Katrin."
"Aku tidak ingin Karina, si pelayan itu menjadi terkenal."
Ia menatap ayahnya dengan serius, Sang ayah mulai memahami arah pembicaraan putrinya.
"Aku takut Ayah kemungkinan Adrian akan kembali menjadikannya model."
Ia berhenti sejenak.
"Dan kalau itu terjadi, Karina akan semakin sering bertemu Adrian."
Katrin mengepalkan tangannya.
"Aku tidak mau itu terjadi"
Sang ayah menatap putrinya beberapa saat.
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
"Menjatuhkan produk Adrian sebelum Karina semakin terkenal." sahut nya dengan penuh kebencian dalam hati nya. Ia yakin dengan menghancurkan produk tersebut, ia juga bisa menghancurkan kesempatan Karina untuk kembali masuk ke kehidupan Adrian.
Namun, Katrin tidak menyadari satu hal.
Semakin besar usaha seseorang untuk menjatuhkan Adrian, semakin besar pula kemungkinan Adrian akan mencari tahu siapa dalang di balik semua itu.
Dan ketika Adrian menemukan kebenarannya nanti...
bukan hanya produk yang akan menjadi taruhan, tetapi juga hubungan Katrin dengan Adrian.