Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Pagi berikutnya, Dika datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Semalaman ia hampir tidak bisa berhenti memikirkan transaksi yang ditemukan bagian keuangan.
Bukan jumlah uangnya yang membuat pikirannya terusik, melainkan waktu transaksi itu terjadi. Dua puluh lima tahun lalu. Masa ketika Rina pergi darinya.
Dika masih ingat perempuan itu meninggalkan rumah dalam keadaan hamil tujuh bulan. Saat itu, ia tidak mengejarnya. Ia membiarkan semuanya berakhir begitu saja.
Selama bertahun-tahun, Dika tidak pernah berusaha mencari tahu ke mana Rina pergi.
Ia hanya menganggap perempuan itu sudah memilih hidupnya sendiri. Sekarang, sebuah transaksi lama membuat kenangan yang selama ini terkubur kembali muncul.
Pintu ruang kerjanya diketuk.
"Masuk."
Kepala bagian keuangan masuk sambil membawa beberapa berkas. "Pak, saya sudah menemukan beberapa data tambahan."
Dika langsung mengangkat wajah. "Letakkan di sini."
Berkas itu diletakkan di atas meja. Dika segera membukanya. "Transaksi ini memang terjadi tidak lama setelah Bu Rina meninggalkan rumah," jelas pria itu.
Dika mengangguk pelan. "Perusahaan penerimanya sudah ditemukan?"
"Sudah, Pak."
Jawaban itu membuat Dika menghentikan gerakannya. "Siapa pemiliknya?"
"Perusahaan itu hanya bertahan sekitar delapan bulan. Setelah itu dibubarkan."
"Delapan bulan?"
"Iya, Pak. Yang lebih menarik, perusahaan tersebut tidak memiliki kegiatan usaha yang cukup besar untuk menerima dana sebesar itu."
Dika mengerutkan kening. "Jadi?"
"Kami telusuri aliran dananya." Pria itu membuka lembar berikutnya. "Uang tersebut tidak lama berada di rekening perusahaan. Sebagian besar langsung dipindahkan ke rekening lain."
"Atas nama siapa?"
"Di situlah masalahnya, Pak."
Dika menatapnya.
"Rekening berikutnya atas nama sebuah perusahaan jasa investigasi."
Ruangan mendadak terasa sunyi. Dika kembali melihat tanggal transaksi.
"Investigasi?"
"Benar."
"Perusahaan itu masih ada?"
"Sudah tidak aktif. Tapi kami menemukan data pembayaran lama mereka."
Dika menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Pembayaran untuk apa?"
"Kami belum menemukan keterangan lengkap. Tapi dari catatan yang tersisa, jasa yang digunakan berkaitan dengan pencarian seseorang."
Jari Dika yang sejak tadi mengetuk meja berhenti. "Pencarian seseorang?"
"Ya, Pak."
"Siapa?"
Kepala bagian keuangan menggeleng.
"Nama orang yang dicari tidak tercantum di dokumen pembayaran. Hanya ada kode pekerjaan dan tanggal."
Dika terdiam. Tanggal itu kembali ia lihat.
Tidak jauh dari hari ketika Rina pergi. Ingatan lama yang selama ini tidak pernah ia sentuh mulai tersusun kembali.
Rina pergi dalam keadaan hamil. Beberapa waktu setelah itu, ada uang dari perusahaan yang dialihkan kepada sebuah perusahaan yang kemudian membayar jasa penyelidikan untuk mencari seseorang.
Dika menatap dokumen itu cukup lama. "Siapa yang punya akses terhadap transaksi ini waktu itu?"
"Data lama menunjukkan beberapa orang dari bagian administrasi dan keuangan."
"Siapa yang menyetujuinya?"
Pria itu membuka berkas lain. "Persetujuan akhirnya menggunakan otorisasi internal yang saat itu memang berada di bawah pengawasan keluarga."
Dika mengangkat kepala. "Siapa?"
Kepala bagian keuangan menarik satu lembar dari map. "Nama Bu Miranda tercantum sebagai pihak yang mengetahui transaksi tersebut."
Dika membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.
"Apakah tanda tangannya ada?"
"Tidak secara langsung, Pak. Hanya persetujuan administrasi."
"Jadi belum tentu dia yang melakukan."
"Benar."
Dika menutup map perlahan. "Aku tidak mau kesimpulan sebelum semua datanya jelas."
"Baik, Pak."
"Tapi lanjutkan."
Pria itu mengangguk.
"Telusuri perusahaan investigasi itu. Cari siapa orang yang membayar jasanya, siapa yang memberikan perintah, dan kalau masih ada arsip pekerjaan, cari tahu siapa yang sebenarnya dicari."
"Baik, Pak."
Ia berbalik hendak keluar.
"Dan jangan beri tahu siapa pun tentang penyelidikan ini."
"Termasuk Bu Miranda?"
Dika terdiam sesaat.
Tatapannya jatuh pada dokumen di atas meja.
"Terutama dia."
Kepala bagian keuangan mengangguk, lalu meninggalkan ruangan.
Pintu kembali tertutup.
Dika tetap duduk tanpa bergerak.
Selama dua puluh lima tahun, ia mengira Rina pergi begitu saja.
Ia tidak pernah membayangkan ada seseorang yang mungkin sengaja mencari perempuan itu setelah kepergiannya.
Lebih buruk lagi, jejaknya justru mengarah kepada orang yang selama ini paling ia percaya.
Dika meraih ponselnya.
Ia hampir menghubungi Miranda.
Namun jarinya berhenti sebelum menyentuh nama istrinya. Tidak. Belum sekarang. Kalau Miranda memang tidak tahu apa-apa, pertanyaan itu hanya akan membuatnya panik.
Tetapi kalau Miranda memang menyimpan sesuatu... Dika menurunkan ponselnya, setelah dua puluh lima tahun, ia merasa kepergian Rina mungkin bukan sekadar akhir dari sebuah hubungan.
Ada sesuatu yang terjadi setelah perempuan itu pergi. Dan Dika berniat menemukan jawabannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain, Miranda justru sedang melakukan hal yang sama. Mencari seseorang. Seorang perempuan dari masa lalu Dika.
Rina.
Miranda duduk di dalam mobil yang terparkir agak jauh dari sebuah kantor jasa penyelidikan.
Seorang pria masuk ke kursi belakang beberapa menit kemudian.
"Sudah saya cari."
Miranda menoleh. "Ketemu?"
"Belum langsung."
Miranda terlihat kesal. "Saya tidak meminta alasan."
Pria itu menyerahkan sebuah map. "Kami menemukan beberapa petunjuk lama. Setelah meninggalkan kota, Rina memang sempat berpindah-pindah tempat."
Miranda membuka map tersebut. "Ada alamat terakhir?"
"Belum bisa dipastikan."
Miranda membalik beberapa lembar.
"Tapi ada satu nama yang muncul di beberapa catatan."
Miranda berhenti. "Siapa?"
"Belum kami pastikan apakah orang ini masih berhubungan dengan Rina atau tidak."
"Cari sampai ketemu."
Pria itu mengangguk.
Miranda menutup map. "Dan jangan sampai Dika tahu kalau aku sedang mencarinya."
"Baik."
Pria itu hendak turun, tetapi Miranda kembali memanggilnya.
"Kalau sudah menemukan Rina, jangan lakukan apa pun."
Pria itu menoleh. "Jangan temui dia. Jangan menghubunginya. Aku hanya ingin tahu di mana dia sekarang dan bagaimana kehidupannya."
"Baik, Bu."
Setelah pria itu turun, mobil kembali sunyi.
Miranda menatap jalan di depan. Selama bertahun-tahun ia mengira masa lalu itu sudah terkubur.
Ternyata tidak. Ia masih ingat apa yang ia lakukan setelah Rina pergi. Saat itu Miranda tidak ingin perempuan tersebut kembali kepada Dika. Ia mencari keberadaan Rina secara diam-diam dan menggunakan uang yang berasal dari urusan perusahaan untuk membayar seseorang mendapatkan informasi tentang perempuan itu.
Bukan untuk membantu Rina. Justru sebaliknya. Miranda hanya ingin memastikan Rina benar-benar jauh dari kehidupan Dika. Namun sekarang, jejak pembayaran lama itu mulai ditemukan.
Dan kalau Dika mengetahui ke mana uang tersebut mengalir, bukan hanya urusan aset yang akan terbongkar. Ia bisa menemukan alasan Miranda pernah mencari Rina.
Miranda memejamkan mata sejenak. Ia memang menginginkan harta Dika. Selama bertahun-tahun, ia telah mengambil sedikit demi sedikit dari kekayaan suaminya. Tetapi di balik semua keserakahan itu, ada satu hal yang tidak pernah ingin ia lepaskan.
Dika. Ia tidak mau kehilangan laki-laki itu. Karena itu, Rina tidak boleh kembali.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, kehidupan Azmira berjalan seperti biasa. Pagi itu ia kembali bekerja di rumah sakit. Setelah menyelesaikan beberapa pasien, Azmira keluar dari ruang pemeriksaan sambil membawa berkas.
Tania yang sedang berdiri di dekat meja perawat langsung memanggilnya.
"Mira."
Azmira menoleh. "Apa?"
"Kamu tahu nggak?"
"Tahu apa?"
Tania mendekat sambil menunjukkan ponselnya. "Bu Shiren tadi datang."
Langkah Azmira berhenti. "Shiren?"
"Iya."
"Untuk apa?"
"Katanya ada urusan dengan pihak manajemen."
Azmira mengangguk biasa. Ia memang tahu Shiren mengenal William. Pertemuan mereka sebelumnya juga sudah pernah terjadi.
Tidak ada alasan baginya untuk mempermasalahkan kedatangan perempuan itu. Namun beberapa detik kemudian, Tania berkata lagi,
"Kayaknya dia cukup dekat dengan Pak William."
Azmira menatap Tania. "Maksudmu?"
"Ya... kelihatannya mereka sudah saling kenal."
"Aku tahu mereka saling kenal."
Tania mengangkat kedua tangan. "Oke. Aku cuma kasih tahu."
"Aku juga tidak bertanya."
"Nah, berarti memang kepikiran."
"Tania."
Tania tertawa lalu kembali pada pekerjaannya. Azmira menggeleng. Ia memilih melanjutkan langkah. Namun ia tidak tahu bahwa di lantai yang sama, Shiren baru saja keluar dari ruang administrasi.
Perempuan itu berhenti sejenak di dekat lift.
Tatapannya tertuju pada Azmira yang berjalan menjauh. Ada sesuatu yang mengusiknya.
Bukan karena pekerjaan ataupun pertemuan mereka sebelumnya tapi karena satu hal yang baru ia sadari.
Perempuan itu adalah Azmira. Anak kecil yang bertahun-tahun lalu pernah menabraknya ketika ia berjualan cangcimen di taman raya. Saat itu Shiren hanya menganggap kejadian tersebut sebagai hal sepele. Tetapi sekarang nama itu kembali muncul di hadapannya. Dan yang lebih mengganggu adalah William.
Shiren tahu William semakin sering berada di sekitar Azmira. Ia mengeluarkan ponsel. Salah satu kontak tersimpan di sana. Shiren membuka percakapan lama, lalu mengetik sebuah pesan.
Aku ingin tahu tentang Dokter Azmira. Pesan itu dikirim kepada seseorang yang selama ini biasa membantunya mencari informasi.
Tidak sampai satu menit, balasan masuk.
Informasi seperti apa?
Shiren menatap punggung Azmira yang sudah menghilang di balik pintu.
Semua.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan rasa ingin tahunya terhadap Azmira berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
Shiren ingin tahu siapa perempuan itu. Dari mana asalnya. Keluarganya siapa. Dan yang paling penting... kenapa William terlihat begitu berbeda ketika berada di dekatnya?
Sore harinya, William menerima sebuah laporan dari bagian manajemen. Ia membacanya sambil berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. Ketika selesai, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Shiren.
William, kita perlu bicara.
William membaca pesan itu tanpa langsung membalas. Beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.
Aku ingin bertanya tentang seseorang.
William mengernyit.
Ia mengetik singkat.
Siapa?
Balasan datang. Azmira.
Jari William berhenti di layar.
Tatapannya berubah. Bukan karena ia keberatan Shiren mengenal Azmira. Tetapi karena ia tahu satu hal. Shiren tidak mungkin menanyakan nama itu tanpa alasan.
William meletakkan ponselnya. Ia tidak langsung membalas pesan tersebut entah kenapa ia mulai merasa bahwa kedekatannya dengan Azmira mungkin sudah menarik perhatian seseorang yang tidak ia duga.
Dan di tempat lain, tanpa diketahui siapa pun, seseorang sedang mulai membuka kehidupan Azmira sedikit demi sedikit.
Bersambung...
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆