Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Valeria

Semenjak saat itu, ketika penemuan sebuah pita yang tidak terduga terjadi, hari yang berlalu menjadi sedikit berbeda. Kewaspadaan Rozen bertambah satu tingkat karena Aurora kemungkinan besar juga diincar. Menjadi bagian dari kehidupan mafia bukanlah perkara sederhana. Serangan musuh tidak mudah diprediksi, musuh dalam selimut yang tidak diduga-duga, bahkan makanan yang tersaji tidak sepenuhnya aman dikonsumsi. Tapi Rozen tidak akan membiarkan kediamannya menjadi tempat paling berbahaya untuk berlindung.

Dan pagi di Mansion Salvadore terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi di ruang makan, menyentuh permukaan meja yang telah dipenuhi hidangan sarapan. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan. Menu yang menjadi kesukaan Aurora sejak menikahi Rozen Salvadore.

Aurora duduk di sebelah suaminya dengan rutinitas wajibnya di meja makan. Membaca koran bisnis dengan mimik wajah serius.

Pagi itu sebenarnya pikiran Aurora tidak lagi sepenuhnya tertuju pada hidangan makanannya. Kilas kejadian semalam menjadi materi utama di benaknya yang diharapkan untuk dapat segera di rampungkan.

Sejak mereka kembali dari acara keluarga semalam, satu hal terus mengganggunya, yaitu pita putih yang ditemukan Rozen.

Aurora masih sangat penasaran tentang satu hal, kenapa benda kecil itu terasa begitu familiar.

"Kenapa tidak makan?" Suara Rozen membuat Aurora tersentak. Menyadarkannya bahwa dirinya telah melamun cukup lama.

Dengan satu lirikan tipis, ia menatap piringnya. Benar saja, hidangannya masih utuh di sana.

"Aku akan makan," jawab Aurora tidak bersemangat dengan tangan yang mulai bergerak pelan mengambil garpu.

Raut wajahnya tampak lesu dengan sorot mata yang tidak sedamai seperti Aurora yang biasanya.

"Aku hanya sedang berpikir." Aurora kembali mengungkapkan kegelisahannya.

Alunan lembut suara Aurora mencuri perhatian pria itu. Rozen segera menurunkan cangkir kopinya setelah menenggak cairan hitam itu sedikit.

"Tentang pita itu?" tebak Rozen tepat sasaran.

Aurora memandang Rozen dengan binar penuh harap.

"Entah kenapa, rasanya aku pernah melihatnya. Tapi aku tidak tahu kapan dan di mana."

Rozen diam sejenak sembari membalas tatapan wanita yang telah menjadi istrinya itu.

"Yakin itu bukan milikmu?"

Aurora menggeleng. Ia sangat yakin bahwa pita itu tidak pernah menjadi miliknya. Aurora sungguh dibuat frustasi.

"Aku yakin." Kemudian ia tersenyum kecil. "Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir," ucapnya lagi.

Rozen tidak menjawab namun sorot matanya tampak tulus memperhatikan keadaan Aurora yang masih gundah.

Selang beberapa saat, Rozen menurunkan pandangannya, kemudian mengambil ponselnya.

Ada sebuah pesan baru masuk dari Christon Labour. Isinya demikian: "Kami menemukan rekaman kamera CCTV dari lantai dua."

Di bawah pesan singkat itu tersemat sebuah potongan video. Rozen segera membukanya.

Cuplikan rekaman CCTV berdurasi dua menit yang memperlihatkan keadaan lorong menuju balkon. Pada tayangan video berdurasi singkat itu terekam potret seorang wanita. Wanita itu terlihat berjalan santai melewati kamera.

Dalam keadaan wajahnya yang tidak terlihat sempurna, Rozen cukup merasa familiar pada gerakan yang dilakukan wanita tersebut. Rozen segera memperbesar gambar kemudian berhenti tepat ke hal yang hendak diperhatikannya dengan seksama.

Ada sesuatu pada cara wanita itu berjalan yang membuat ingatan Rozen bergerak kembali pada masa lalu. Sebuah potongan memori yang tidak ingin dikatakannya kepada Aurora.

Belum saatnya.

Rozen mematikan layar ponsel miliknya sebelum kembali menyeruput kopinya.

"Ada masalah?" tanya Aurora.

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat. Cukup membuat Aurora merasa tidak nyaman. Wanita itu hanya menatap suaminya beberapa detik namun memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

...***...

Jauh dari Mansion Salvadore berdiri megah, sebuah mobil berhenti di hadapan sebuah bangunan tua yang tersembunyi di antara gedung-gedung kota pencakar langit. Dari dalam mobil yang telah terparkir, seorang wanita turun dengan perlahan.

Isabella Valencia turun bersama Adrian Grey, kekasihnya.

Dalam langkah yang tidak terburu-buru, mereka masuk ke sebuah ruangan kecil di lantai atas. Hanya ada mereka berdua dan sebuah penerangan seadanya. Map di tangan yang mereka bawa kembali diletakkan di atas meja.

Isabella membukanya. Mengeluarkan segala isi yang ada di dalam. Ada beberapa dokumen baru dan satu di antaranya berhasil membuat matanya berhenti meneliti.

Itu adalah laporan aktivitas sebelum hari pernikahannya dengan Rozen. Isabella membacanya perlahan. Hingga beberapa hal membuatnya harus mengerutkan kening.

"Ada yang sengaja mengirim informasi palsu kepadaku."

Adrian yang sejak awal berdiri di belakangnya ikut terusik. Pria itu bergeser menjadi berdiri di samping Isabella.

"Aku sudah menduganya," timpal Adrian kemudian.

Isabella membalik halaman dengan antusias. Pikiran mendadak kacau. Ketakutannya semakin jelas.

"Dia tahu bahwa kau akan kabur."

Isabella terdiam. Jantungnya berdebar kencang dengan seluruh darah di tubuhnya turut berdesir hebat. Beberapa saat kemudian, dalam selipan berkas yang tercecer di atas meja, ia menemukan sebuah catatan kecil.

Tidak ada nama atau informasi tentang siapa pengirimnya. Dalam secarik kertas kecil itu hanya ada sebuah kalimat yang bertuliskan: "Rozen tidak akan pernah memilihmu".

Jari Isabella menegang. Sorot matanya membara akan kekesalan yang luar biasa. Ia mengenali gaya kalimat itu. Mengenali cara seseorang berbicara kepada dirinya bertahun-tahun lalu.

Isabella menutup mata. Tebakannya tidak mungkin salah. Isabella telah mengetahui siapa dalangnya.

"Valeria." Nama itu akhirnya terucap juga.

Adrian yang berdiri di sebelah menatap kekasihnya. "Kamu yakin?"

"Belum sepenuhnya tapi aku yakin tebakanku tidak akan meleset." Isabella membuka matanya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Karena hanya dia yang pernah mengatakan hal seperti ini kepadaku."

Nama itu kembali muncul dari masa lalu yang selama ini berusaha Isabella lupakan. Seorang wanita yang pernah begitu dekat dengan kehidupan Rozen. Seorang wanita yang pernah mencintai Rozen dengan cara yang tidak sehat. Seseorang yang ingin memiliki Rozen dengan ambisi dan obsesi yang begitu hebat.

Isabella kembali menatap dokumen di tangannya.

"Tapi dia seharusnya sudah pergi."

Adrian membalas dengan lantang, "Orang seperti itu tidak akan benar-benar pergi, Bella."

Isabella terdiam mencermati ucapan Adrian. Dengan helaan napas panjang, pandangannya kini jatuh pada foto Aurora yang terselip di antara tumpukan kertas lainnya.

Ekspresi wanita itu berubah. "Kalau memang dia telah kembali, artinya adikku benar-benar dalam bahaya, Adrian.

...***...

Di Mansion Salvadore, setelah usai menghabiskan sarapannya, Aurora kembali ke kamarnya. Ia berdiri di depan jendela kamar dengan tatapan kosong di sepasang mata bulatnya yang tidak terlihat berbinar seperti biasanya. Ia menatap taman sambil mengingat kembali kejadian semalam.

Bermula dari perasaan tidak tenangnya tentang seseorang yang diduga sedang memperhatikannya dari kejauhan, hingga penemuan pita putih yang tiba-tiba saja mengusik perasaan.

"Pita putih itu...." bisik Aurora di tengah kehampaan. Aurora kembali merasakan perasaan aneh itu lagi tanpa alasan.

Jika tidak ada bunyi ketukan pada pintu kamarnya, mungkin Aurora akan terus terjebak pada lamunan berkepanjangan itu. Suara ketukan itu akhirnya berhasil menarik Aurora kembali ke kenyataan.

Aurora menoleh dan terkejut saat mendapati Rozen telah berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Kita perlu bicara." Suara Rozen berkumandang dengan cepat hingga Aurora sedikit terkejut.

"Apakah ada sesuatu?" tanya Aurora penuh cemas namun Rozen tidak langsung menjawabnya.

Pria itu berjalan mendekat. Pada sepasang matanya yang tajam, ada tatapannya yang serius.

"Sebaiknya kamu mulai berhati-hati."

Aurora mengerutkan kening karena perkataan tiba-tiba suaminya yang terdengar cukup menakutkan.

"Ada apa?"

"Jangan pergi sendirian untuk sementara waktu."

Aurora berjalan selangkah, menatap suaminya dengan heran, "Rozen?"

"Aku serius, Aurora."

Nada suaranya datar dengan tekanan yang sulit untuk dipahami. Sebuah titah yang cukup tegas hingga membuat Aurora tidak lagi membantah.

Wanita itu hanya mengangguk patuh walau masih dilanda kebingungan yang kontras.

"Baiklah."

Satu anggukan tercipta sebelum Rozen hendak meninggalkan kamar Aurora. Dan ketika kaki Rozen bergerak selangkah, Aurora memanggilnya.

"Rozen?”

Rozen memilih berhenti dengan tatapannya yang seperti biasa. Datar dan tanpa ekspresi yang berlebihan.

"Apakah ini ada hubungannya dengan Isabella?" ucap Aurora kemudian.

Rozen terdiam hingga beberapa detik berlalu.

"Aku belum bisa memberikan jawabannya."

Jawaban jujur itu justru membuat Aurora semakin cemas.

Rozen kemudian menatap Aurora lebih lama. "Menurutlah. Kulakukan ini karena aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu."

Jantung Aurora berdetak pelan. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi lebih sejuk. Padahal beberapa detik yang lalu, suasananya masih sangat tegang dan panas.

Selalu saja kalimat Rozen kembali membuat Aurora salah mengartikan perhatian yang diterimanya.

Aurora tidak memperlihatkan reaksi yang beragam, namun senyum kecil di bibirnya tidak akan pernah lupa diperlihatkan.

"Aku mengerti... Maksudku, terima kasih."

Rozen mengangguk lalu pergi. Kali ini Aurora tidak lagi mencoba menghentikan pria itu. Setelah pintu kamarnya tertutup sempurna, tanpa sadar tangannya menempel di dada. Aurora masih sangat merasakan bagaimana detakan di dadanya itu masih terjadi dengan tidak kondusif.

Perasaannya kembali berantakan. Padahal ia tahu bahwa Rozen mungkin hanya menjalankan tanggung jawab saja. Namun kenapa hatinya terus berkata sebaliknya? Kenapa hatinya sulit menerima bahwa tidak ada perasaan istimewa dari Rozen untuknya.

Aurora harus sadar bahwa Rozen tidak akan mencintainya. Bahwa Rozen melihatnya hanya karena pria itu punya mata.

Tapi saat ini sepertinya Aurora mulai melihat Rozen karena wanita itu mulai memiliki rasa.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!