Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah yang Sesungguhnya

Luki sudah menunggu di lobi bawah ketika mobil itu tiba, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya — biasanya ia menunggu di penthouse, mempercayakan keamanan sepenuhnya pada timnya. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang bisa duduk diam menunggu.

Begitu pintu mobil terbuka, Indra melompat keluar dan berlari langsung ke pelukannya, dan Luki berlutut di tempat, menangkap tubuh kecil anaknya dengan kedua tangan yang gemetar — gemetar yang tidak pernah ditunjukkannya bahkan di hadapan senjata sekalipun.

"Ayah takut," bisik Indra ke dalam pelukannya, suaranya teredam oleh jaket ayahnya.

"Ayah tahu," jawab Luki, suaranya juga bergetar sekarang, tanpa berusaha menyembunyikannya lagi. "Ayah di sini. Kamu aman."

Alena berdiri di dekat mobil, menyaksikan momen itu dengan dada sesak — bukan karena ia merasa tidak pada tempatnya berada di sana, tapi karena  ia melihat secara langsung betapa nyatanya ketakutan yang selama ini disembunyikan Luki di balik ketenangannya yang selalu terkontrol.

Bram berdiri beberapa langkah di belakang, memberi laporan singkat sambil mereka semua berjalan menuju lift. "Kami sudah kirim tim untuk melacak van itu, Tuan. Berdasarkan gerak-geriknya, ini bukan operasi amatir."

Luki tidak menjawab, hanya mengangguk, tangannya masih erat menggenggam tangan Indra saat mereka naik ke lantai tiga.

Setelah Indra dimandikan dan diberi makan malam — yang sebagian besar dilakukan Alena karena tangan Luki masih terlalu gemetar untuk melakukan tugas-tugas sederhana yang biasanya ia lakukan dengan mudah — mereka duduk bertiga di ruang keluarga, seperti yang sudah dijanjikan Luki pagi tadi sebelum semuanya berubah menjadi jauh lebih mendesak dari sekadar percakapan yang tertunda.

"Aku janji akan cerita semuanya," kata Luki, duduk di kursi seberang Indra yang meringkuk di sofa dengan selimut kecil yang dibawanya dari kamar. "Tapi sebelum itu, Ayah perlu kamu tahu satu hal paling penting: apa pun yang kamu dengar malam ini, itu tidak mengubah betapa besar Ayah menyayangi kamu."

Indra mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari wajah ayahnya, mencari-cari tanda-tanda kebohongan yang biasanya bisa ia deteksi dengan mudah dari orang lain, tapi tidak pernah bisa ia temukan dari ayahnya sendiri.

Luki menghela napas panjang, lalu mulai bicara — bukan dengan detail yang mengerikan, tapi dengan kerangka sederhana yang ia harap bisa dipahami anak enam tahun tanpa membuatnya terlalu trauma. "Kakekmu, ayah dari Ayah, punya bisnis yang besar. Bisnis itu punya banyak musuh, karena mereka menginginkan apa yang kakekmu punya. Ketika kakekmu meninggal, bisnis itu jadi tanggung jawab Ayah. Dan bisnis itu... tidak seperti bisnis biasa yang diajarkan di sekolah."

"Bisnis apa itu?" tanya Indra, suaranya kecil tapi jelas, tidak gentar seperti yang mungkin diharapkan Luki.

"Bisnis yang membuat orang-orang takut pada Ayah," jawab Luki, memilih kejujuran alih-alih eufemisme yang mungkin lebih membingungkan. "Kadang Ayah harus membuat keputusan-keputusan sulit untuk melindungi orang-orang yang bekerja untuk Ayah, dan untuk melindungi kamu. Video yang kamu lihat itu—" ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "—itu bagian dari bisnis itu. Bagian yang Ayah harap tidak pernah perlu kamu lihat."

Indra diam lama, memproses informasi itu dengan cara yang khas dirinya — bukan dengan emosi meledak-ledak, melainkan dengan analisis diam yang membuat orang dewasa di sekitarnya menunggu dengan napas tertahan.

"Orang yang tadi mau nangkep aku di taman," katanya akhirnya, "itu musuh Ayah?"

"Ya," jawab Luki, tidak berusaha menyembunyikan lagi. "Mereka ingin mengambil kamu karena mereka tahu betapa pintarnya kamu, dan mereka pikir kepintaranmu bisa mereka manfaatkan untuk hal-hal jahat."

Sejak percakapan dimulai, sesuatu retak di wajah Indra — bukan ketakutan, melainkan kemarahan kecil yang tak terduga muncul dari anak yang biasanya begitu tenang.

"Jadi ini salah aku?" tanyanya, suaranya bergetar. "Kalau aku nggak sepintar ini, mereka nggak akan mau nangkep aku?"

"Tidak," Luki bergerak cepat, berlutut di depan sofa agar sejajar dengan mata anaknya, meraih kedua bahu kecilnya dengan tangan yang kini sudah lebih stabil. "Ini bukan salahmu, Indra. Ini tidak pernah, dan tidak akan pernah, jadi salahmu. Kepintaranmu adalah anugerah. Yang salah adalah orang-orang yang melihat anugerah itu dan hanya melihat keuntungan, bukan melihat kamu sebagai manusia."

Alena, yang sejak tadi duduk diam mengamati percakapan itu tanpa ikut campur, kini akhirnya bicara, suaranya lembut tapi tegas. "Indra, kamu tahu kenapa Kak Alena berhenti duduk di bangku taman dan langsung berlari waktu kamu teriak?"

Indra menggeleng.

"Karena Kak Alena sayang sama kamu. Bukan karena kamu pintar, bukan karena ayahmu bayar Kak Alena. Tapi karena selama dua minggu ini, kamu jadi salah satu orang paling berharga dalam hidup Kak Alena." Alena tersenyum kecil, meski matanya berkaca-kaca. "Dan aku yakin, banyak orang lain di sekitarmu — Bram, ayahmu, bahkan orang-orang yang kamu belum kenal — akan melakukan hal yang sama. Karena kamu Indra. Bukan karena angka IQ-mu."

Indra menatap Alena lama,  sesuatu di wajahnya melunak — bukan sepenuhnya tenang, tapi setidaknya tidak lagi sepenuhnya diliputi ketakutan.

"Ayah bakal jagain aku, kan?" tanyanya, suaranya kembali menjadi suara anak enam tahun yang butuh diyakinkan.

"Dengan seluruh hidup Ayah," jawab Luki, tanpa ragu sedikit pun. "Apa pun yang akan Ayah lakukan, siapa pun yang harus Ayah hadapi — kamu akan selalu aman. Itu janji Ayah."

Setelah Indra akhirnya tertidur malam itu, kelelahan emosional membuatnya tertidur lebih cepat dari biasanya bahkan tanpa dongeng, Luki dan Alena duduk berdua di ruang kerja, keduanya diam untuk beberapa saat, membiarkan keheningan mengisi ruangan yang baru saja menyaksikan salah satu percakapan paling berat sepanjang hidup mereka berdua.

"Terima kasih," kata Luki akhirnya, menatap Alena dengan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa syukur profesional. "Untuk hari ini. Untuk melindunginya. Untuk kata-kata yang kamu ucapkan tadi."

"apa yang ia lakukan adalah hal yang wajar, normal, dan sudah seharusnya dilakukan oleh siapapun yang memiliki rasa peduli. " jawab Alena, meski pipinya sedikit memerah mendengar tatapan itu.

"Justru itu," kata Luki, suaranya lebih pelan sekarang, "yang membuatnya berarti begitu besar. Kamu memilih untuk peduli, padahal kamu tahu sepenuhnya sekarang siapa aku sebenarnya."

Alena menatapnya lama, memikirkan kata-kata itu dengan seksama, menyadari bahwa jawabannya, apa pun itu, akan mengubah sesuatu yang selama ini ia coba jaga tetap profesional di antara mereka berdua.

"Kamu bukan hanya satu hal, Luki," katanya akhirnya, memanggil namanya tanpa embel-embel formal. "Kamu adalah semua yang kulihat hari ini — pria yang berlutut ketakutan di lobi, ayah yang memeluk anaknya seolah dunia akan runtuh tanpa dia. Itu juga bagian dari siapa kamu sebenarnya."

Sejak mereka bertemu, jarak yang selama ini terjaga rapi di antara mereka berdua terasa jauh lebih tipis dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!