Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Terbelah

Hawa dingin dari sisa-sisa sihir es milik Monica masih menyengat di udara. Di tanah, serpihan kristal hitam perlahan menguap menjadi asap tipis, menyisakan keheningan yang janggal di tengah Hutan Mistik.

Monica berdiri di depan barisan, menyeka setetes keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. Tongkat safirnya masih bergetar pelan, menyalurkan sensasi ganjil yang terus menggelitik matanya. Tatapan Monica tertuju lurus ke kegelapan di balik pepohonan mati. Tekanan sihir yang baru saja merayap di hatinya terasa teramat asing—bukan sekadar dorongan hawa membunuh dari monster biasa, melainkan tatapan dari sesuatu yang sangat kuat dan sadis.

"Kau baik-baik saja, Monica?" suara lembut Elena memecah fokusnya. Gadis berambut cokelat itu mendekat, busur emasnya sudah disarungkan sebagian, tetapi matanya tetap memperhatikan keadaan sang ketua tim dengan cemas.

Monica membetulkan ikatan kuncir kudanya yang sedikit longgar. "Aku baik-baik saja, Elena. Hanya saja... gelombang musuh tadi bukan kebetulan. Ada yang dengan sengaja mengarahkan mereka untuk menguras daya sihir kita sebelum kita mencapai lembah."

"Benar-benar trik yang licik," gerutu Reno seraya menyandarkan tameng besarnya di tanah. Otot-otot tangannya yang kekar tampak tegang. "Mereka tahu kita pasti akan membendung serangan utama dari depan, jadi mereka mengirimkan umpan dalam jumlah fantastis."

Kazuma, yang sedang mengamati tanah bekas hempasan sihir es Monica, berlutut dan menyentuh sisa debu hitam dengan ujung jarinya yang dilapisi kain tebal. "Perhatikan ini. Bekas peninggalan monster-monster ini tidak menyatu dengan tanah. Ada bekas jalur arus mana yang ditarik secara paksa menuju satu titik tertentu di utara. Seseorang sedang memanen sisa-sisa energi pertarungan kita."

"Memanen energi?" Danis yang baru saja melompat turun dari dahan pohon mengerutkan kening. "Jadi makin banyak kita membantai mereka, makin kuat sihir yang terkumpul di pusat lembah?"

Monica mengangguk pelan, membenarkan dugaan kedua rekannya. Sebagai ketua sekaligus pemegang sihir utama di kelompok ini, ia menyadari bahaya yang jauh lebih besar. "Itulah alasan mengapa kita tidak bisa bertindak gegabah lagi. Kalau kita terus-terusan mengandalkan sihir skala besar seperti tadi, kita justru memberi makan dalang di balik semua ini."

Tiba-tiba, angin kencang berembus hebat, merobek kabut kelabu di atas kepala mereka. Udara berubah menjadi sangat dingin dan berat hingga membuat seluruh anggota Tim Vanguard terhenyak, nyaris tak bisa bernapas. Dari balik awan hitam yang menggumpal, bayangan raksasa muncul menutupi rembulan.

Seekor naga hitam berukuran sangat besar dengan mata merah menyala mengepakkan sayapnya tanpa suara, terbang melayang tepat di atas kepungan pepohonan mati.

Namun, yang paling mengejutkan bukanlah monster purba tersebut.

Di atas kepala sang naga hitam, berdiri seorang sosok perempuan misterius yang terbalut gaun hitam panjang berpendar aura kegelapan. Wajahnya tertutup sebagian oleh topeng perak, tetapi senyum sinis melengkung jelas di bibirnya.

"Fufu... Fufufu..."

Suara tawa melengking dari perempuan itu bergema indah namun mengerikan, memenuhi seluruh penjuru hutan dan menusuk langsung ke dalam pikiran mereka. Tawa yang penuh dengan penghinaan dan kepuasan atas perjuangan anak-anak muda di bawahnya.

"Siapa dia?!" jerit Elena seraya refleks menarik tali busurnya dan mengarahkan anak panah cahaya ke atas langit.

Monica membelalakkan matanya, meremang tatkala mata perempuan itu bersirat dingin menatap langsung ke arah kuncir kudanya. Monica melangkah ke depan, mengangkat tongkat safirnya tinggi-tinggi. "Hei! Apakah kau yang mengendalikan semua pasukan kegelapan ini?!"

Perempuan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyunggingkan tawa yang makin renyah, mengangkat satu tangannya ke udara, dan mengibaskan jarinya pelan.

Dalam sekejap mata, gelombang kegelapan pekat menyelimuti tubuh sang naga dan perempuan tersebut. Sebelum panah Elena meluncur, sosok perempuan yang tertawa di atas naga hitam itu menguap hampa bersama angin malam, melenyapkan keberadaan mereka tanpa menyisakan jejak sihir sedikit pun.

Keheningan kembali melanda. Monica mengepalkan tangannya kuat-kuat di gagang tongkat, napasnya memburu. Sosok misterius itu baru saja menunjukkan dominasi yang mengerikan tanpa menyentuh tanah sekalipun.

"Perempuan itu... dialah dalangnya, atau setidaknya tangan kanan dari penguasa kegelapan ini," desis Kazuma dengan wajah pucat pasi.

"Tawanya... benar-benar membuat bulu kudukku berdiri," puji Danis seraya memegang erat kedua belatinya, matanya masih menatap langit kosong tempat naga itu tadi menghilang.

Monica mengembuskan napas panjang, memantapkan kembali pijakan kakinya dan membetulkan posisi berdiri. Ada rasa cemas yang mengintai, tetapi tekad di matanya membakar lebih terang dari sebelumnya.

"Kita tidak boleh gentar," tegas Monica, suaranya mengembalikan fokus

teman-temannya. "Dia baru saja memamerkan kekuatannya untuk memecah mental kita. Kita harus tetap pada rencana awal!"

Monica mengacungkan tongkatnya ke tanah, menggambar sketsa kasar wilayah Hutan Mistik berdasarkan peta perkamen yang ia ingat dari Kepala Sekolah Alaric.

"Jalur menuju Lembah Kelam terbagi menjadi dua di depan sana," jelas Monica seraya menunjuk dua garis bercabang. "Satu melewati Ngarai Tengkorak yang terjal dan sempit, satu lagi melewati bekas reruntuhan desa tua di tepi sungai kering. Aliran mana raksasa itu terbagi menjadi dua cabang sebelum menyatu kembali di inti benteng tempat perempuan itu bersembunyi."

"Artinya, sumber daya energinya dikendalikan oleh dua altar berbeda?" potong Elena, menangkap maksud perkataan Monica dengan cepat.

"Tepat," tegas Monica. "Jika kita langsung menerobos ke inti bersama-sama, kita akan dihantam oleh gabungan dua pasokan energi raksasa yang belum terputus. Kita harus mematikan aliran itu secara bersamaan."

"Penyergapan terpisah?" Kazuma menyesuaikan posisi kacamatanya, tampak sedang menimbang risiko dalam kepalanya. "Risikonya tinggi. Jika salah satu tim terdesak, kita tidak bisa memberikan bantuan secara instan."

"Tapi ini satu-satunya cara agar kita tidak terjebak dalam perangkap energi mereka," jawab Monica mantap. Tatapan matanya yang tajam memancarkan kepemimpinan mutlak. "Reno dan Kazuma, kalian bergerak menuju Ngarai Tengkorak.

Pertahanan kuat milik Reno dan serangan area api dari Kazuma sangat cocok untuk medan sempit seperti ngarai. Putuskan altar utama di sana."

"Siap, dilaksanakan!" ujar Reno mantap, menepuk dada armor besinya hingga berdentang nyaring.

"Serahkan padaku," tambah Kazuma singkat dengan anggukan percaya diri.

Monica lalu menoleh ke arah tiga lainnya. "Aku, Elena, dan Danis akan menyusuri jalur reruntuhan desa. Karakteristik medan yang terbuka butuh pengawasan jarak jauh dari panah Elena dan kelincahan Danis untuk menyusup.

Begitu altar di kedua tempat hancur, kita berkumpul kembali di gerbang utama Lembah Kelam."

"Mengerti!" sahut Elena dan Danis serempak.

Sebelum mereka berpisah di persimpangan jalan, Monica melangkah ke tengah-tengah mereka. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan, disusul oleh Elena, Reno, Kazuma, dan Danis yang menumpukkan telapak tangan mereka di atas tangan Monica.

"Ingat sumpah Tim Vanguard," bisik Monica, memandangi mata sahabat-sahabatnya satu per satu dengan penuh kehangatan. "Tidak ada yang bertindak konyol. Kita selesaikan misi ini, dan kita semua akan pulang ke akademi bersama-sama."

"Pasti!" seru Reno dengan senyum lebar.

Kedua kelompok kecil itu pun mulai melangkah membelah kegelapan menuju jalur masing-masing. Monica memimpin langkah menuju kawasan desa mati, menggenggam tongkat safirnya erat-erat. Bayangan perempuan tertawa di atas naga hitam masih menari di benaknya, tetapi Monica tahu, demi melindungi sahabat-sahabat di sampingnya, ia harus menjadi yang paling kuat di garis depan.

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!