Indonesia
NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang Lebih Awal

Bulan-bulan berikutnya mengubah cara Aiden menjalani kehidupannya di Empire. Ia masih berusia sepuluh tahun, tetapi permainan dan rasa ingin tahu yang dahulu mudah mengalihkan perhatiannya perlahan tersingkir oleh satu tujuan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Setiap pagi, ia datang ke halaman latihan sebelum anak-anak lain berkumpul. Udara masih dingin dan tanah lapang belum dipenuhi debu ketika Aiden mulai berlari mengelilinginya seorang diri.

Ia berlari sampai napasnya terasa menggores tenggorokan. Ketika kedua kakinya mulai berat, ia memaksa menyelesaikan satu putaran lagi sambil mengingat Marcus yang terbaring pucat di balik kaca klinik.

Eddie segera melihat perubahan tersebut. Kepala penjaga itu tidak memberi Aiden latihan khusus, tetapi ia juga tidak membiarkan bocah tersebut memperoleh keringanan hanya karena usianya paling muda di antara beberapa peserta.

Aiden belajar jatuh tanpa membiarkan kepalanya menghantam tanah. Ia belajar melepaskan diri dari pegangan, menjaga keseimbangan ketika didorong, dan menggunakan seluruh berat tubuhnya saat memukul karung yang diisi pasir serta kain bekas.

Pada awalnya, kulit buku-buku jarinya hanya memerah. Beberapa minggu kemudian, bagian tersebut sering pecah dan berdarah meskipun telah dibalut menggunakan potongan kain.

Memar muncul pada lengan, bahu, rusuk, dan paha. Warnanya berubah dari merah menjadi ungu, kemudian menguning sebelum lebam baru muncul pada bagian lain.

Aiden tidak pernah meminta berhenti. Setiap kali jatuh, ia bangkit sebelum Eddie sempat menyuruh dan kembali mengambil posisi dengan lutut sedikit ditekuk.

Pada hari-hari terburuk, pandangannya menghitam sesaat ketika berdiri terlalu cepat. Ia pernah muntah di tepi lapangan setelah berlari, membilas mulut dengan air, lalu kembali sebelum kelompok berikutnya mulai berlatih.

Eddie tidak memuji tindakan tersebut. Kepala penjaga itu beberapa kali memaksanya duduk sampai napasnya pulih, tetapi Aiden selalu memperhatikan latihan dari tempatnya beristirahat dan mengulang setiap gerakan di dalam kepala.

Beberapa anak mengatakan ia sedang mencoba memperoleh perhatian Dmitri. Aiden membiarkan mereka berbicara karena menjelaskan alasan sebenarnya hanya akan membuat suara jeritan Marcus kembali terdengar di kepalanya.

Selesai latihan, tubuh Aiden sering terasa begitu berat hingga ia harus menggunakan dinding sebagai penyangga ketika menaiki tangga. Keringat mengering pada punggung, membuat kemejanya menempel dan kulit yang lebam terasa semakin nyeri setiap kali kain bergesekan.

Ia tetap hadir di kelas Nyonya Elma pada sore hari. Aiden duduk tegak di bangkunya dan memaksa mata mengikuti setiap kata yang dituliskan pada papan meskipun kepalanya beberapa kali hampir jatuh ke depan.

Jemarinya kaku ketika memegang pensil. Luka pada buku-buku jari terbuka kembali saat ia menekan terlalu kuat, meninggalkan bercak kecil pada pinggir kertas yang buru-buru ditutup menggunakan telapak tangan.

Nyonya Elma beberapa kali memintanya beristirahat. Aiden selalu menggeleng, membasuh wajah dengan air, lalu kembali mengeja sampai huruf-huruf tersebut berhenti bergerak di hadapan matanya.

Ia tidak hanya ingin menjadi kuat. Aiden mulai memahami bahwa seseorang yang tidak mampu membaca tanda, peta, atau petunjuk obat dapat terbunuh semudah orang yang tidak mampu menggunakan senjata.

Nilai bacaannya perlahan membaik meskipun tubuhnya sering kelelahan. Kata-kata panjang masih membuatnya berhenti, tetapi ia tidak lagi mengeja setiap suku kata pada papan dan mulai mampu membaca satu halaman tanpa bantuan.

Kemajuan tersebut tidak terasa menyenangkan seperti ketika mendapatkan mainan atau belati baru. Bagi Aiden, setiap kata yang berhasil dibaca hanya menjadi alat lain yang mungkin suatu hari diperlukan untuk menjaga Marcus tetap hidup.

Robin merupakan orang pertama yang berhenti menerima alasan-alasannya. Gadis itu melihat memar yang tidak tertutup lengan kemeja, langkah Aiden yang pincang setelah latihan, dan caranya menahan napas ketika duduk karena rusuknya sakit.

Ia sering menunggu Aiden di luar ruang belajar dengan sedikit obat dari klinik. Terkadang Robin mengoleskannya tanpa meminta izin, sementara Aiden duduk diam dan membiarkan jemari gadis itu membersihkan darah kering pada tangannya.

Setiap kali ditanya apakah dirinya baik-baik saja, Aiden memberikan jawaban yang sama. Ia akan mengatakan tubuhnya hanya lelah dan luka tersebut akan hilang sebelum latihan berikutnya.

Robin tidak pernah terlihat benar-benar percaya. Namun, setelah beberapa kali perdebatan tidak mengubah apa pun, ia berhenti memaksa Aiden menjelaskan dan hanya memastikan perbannya terikat cukup kuat.

Kekhawatiran Robin muncul melalui hal-hal kecil. Ia menyisihkan bagian makanan untuk Aiden, membawa air setelah latihan, dan berjalan lebih lambat menuju kelas ketika melihat kaki sahabatnya mulai menyeret.

Aiden tetap mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Setiap kebohongan membuat dada terasa berat, tetapi mengakui rasa sakit berarti memberi Robin alasan untuk memintanya berhenti.

Di tengah rutinitas tersebut, Marcus akhirnya diizinkan meninggalkan klinik. Dokter Ivana masih memeriksanya secara teratur, tetapi tidak lagi mengharuskannya tidur di ruangan terpisah.

Marcus kembali ke kamar dan menempati ranjang dekat pintu. Malam pertama setelah kepulangannya, Aiden terjaga lama hanya untuk mendengarkan dengkur rendah yang sempat ia takutkan tidak akan pernah terdengar lagi.

Para dokter berkali-kali menjelaskan bahwa berada dekat Marcus tidak membahayakan siapa pun. Perubahan di dalam tubuhnya tidak menular melalui napas, sentuhan, makanan, atau barang yang dipakai bersama.

Risiko hanya muncul jika darah Marcus masuk ke luka terbuka milik orang lain. Selama perbannya diganti dengan benar dan setiap luka segera ditutup, ia dapat hidup serta bekerja bersama warga seperti sebelumnya.

Pada hari Marcus meninggalkan klinik, Aiden memeluknya di depan Ivana tanpa meminta izin. Perempuan tua itu hanya menyuruh Aiden tidak menyentuh perban, lalu kembali memeriksa catatan seperti pelukan tersebut bukan sesuatu yang berbahaya.

Aiden mengingat tatapan beberapa petugas ketika itu. Ia sengaja memeluk Marcus lebih lama, menempelkan pipi pada dadanya, dan baru melepaskannya setelah mendengar detak jantung ayahnya sendiri.

Penjelasan tersebut cukup bagi pengelola Empire untuk mengizinkan Marcus kembali ke bagian perawatan generator. Dmitri juga tidak membatalkan keputusan itu meskipun setiap pekerjaan Marcus kini harus dilakukan bersama anggota tim lain.

Namun, penjelasan dokter tidak menghilangkan ketakutan semua orang. Beberapa warga mulai mengubah arah saat melihat Marcus berjalan di koridor, sedangkan orang lain menjaga jarak lebih lebar daripada yang diperlukan.

Di ruang makan, bangku di samping Marcus sering tetap kosong meskipun meja lain telah dipenuhi orang. Ada warga yang mengambil kembali cangkir setelah mengetahui Marcus sempat menyentuh gagangnya, lalu membilas benda tersebut lebih lama daripada biasa.

Seorang ibu pernah menarik putranya menjauh ketika Marcus membantu mengambilkan mangkuk yang jatuh. Anak itu tidak memahami apa yang terjadi dan terus menoleh, sedangkan ibunya membawa ia pergi tanpa mengucapkan terima kasih.

Marcus hanya meletakkan mangkuk tersebut di atas meja dan kembali makan. Aiden harus menahan diri agar tidak berdiri serta meneriaki perempuan itu di hadapan seluruh ruang makan.

Aiden melihat semuanya. Setiap tatapan, langkah mundur, dan percakapan yang berhenti saat mereka lewat terasa seperti goresan kecil yang terus menumpuk di dalam dadanya.

Hal yang paling membuatnya sedih adalah Marcus tidak menunjukkan bahwa perlakuan tersebut mengganggunya. Ia tetap menyapa orang yang menghindar, makan tanpa memperhatikan bangku kosong, dan membawa kembali cangkirnya sendiri setelah selesai.

Jika seseorang menolak bekerja terlalu dekat dengannya, Marcus hanya bergeser dan menyelesaikan bagiannya tanpa berdebat. Ia tidak pernah mengeluh kepada Aiden atau menyebut nama orang-orang yang mulai menjauh.

Aiden berharap ayahnya marah. Kemarahan akan membuktikan bahwa Marcus menganggap perlakuan mereka salah, tetapi sikap tenang tersebut membuat Aiden merasa ayahnya telah menerima bahwa dirinya memang pantas dijauhi.

Aiden menolak ikut melakukan hal yang sama. Ia tetap duduk di samping Marcus saat makan, menggunakan cangkir yang baru dipakai ayahnya, dan memeluknya kapan pun rasa takut mengenai masa depan muncul kembali.

Marcus tidak pernah menolak pelukan tersebut. Tangan kasarnya masih turun pada belakang kepala Aiden, lalu menahan putranya dekat dada sampai napas bocah itu kembali tenang.

Selama beberapa bulan, tubuh Marcus belum menunjukkan perubahan yang disebut Ivana. Wajahnya tetap sama, hidungnya tetap utuh, dan kulit di sekitar luka yang telah menutup tidak berubah menjadi busuk.

Namun, Aiden mulai melihat sesuatu yang lebih kecil. Kemeja Marcus tidak lagi tertarik ketat pada bahu dan lengannya, sedangkan ikat pinggang harus dipasang pada lubang yang lebih dalam.

Otot pada lengan yang dahulu terasa keras ketika memeluk Aiden mulai menyusut. Perubahannya belum cukup besar untuk dilihat orang yang jarang memperhatikan, tetapi Aiden mengenal tubuh ayahnya terlalu baik untuk melewatkannya.

Marcus juga lebih mudah lelah. Ia terkadang duduk lama setelah pulang bekerja dan menunggu napasnya teratur sebelum melepas sepatu, walaupun selalu berdiri kembali jika menyadari Aiden sedang melihat.

Pada suatu malam, Aiden baru kembali dari makan malam setelah menyelesaikan pelajaran bersama Nyonya Elma. Bahu kirinya terasa nyeri akibat latihan pagi, dan bibir bawahnya pecah setelah terkena siku anak lain.

Lorong tempat kamar mereka berada lebih sepi daripada ruang makan. Suara percakapan warga tertinggal di belakang, digantikan dengung lampu serta bunyi lift yang bergerak di dalam dinding.

Aiden membuka pintu sambil masih mengunyah potongan terakhir roti yang dibawanya. Ia berhenti begitu melihat Marcus telah berada di dalam kamar.

Ayahnya duduk di tepi ranjang dekat pintu. Kedua sikunya bertumpu pada paha dan jemarinya saling mengunci di antara lutut.

Kemeja kerjanya masih dikenakan. Noda oli menghitamkan bagian dada serta lengan, tetapi kotak perkakas yang biasanya dibawanya pulang tidak terlihat di mana pun.

Marcus seharusnya belum kembali selama hampir satu jam lagi. Aiden menelan sisa roti tanpa mengunyah sampai halus, membuat tenggorokannya terasa sakit.

“Dad, kau sudah kembali?”

Marcus mengangkat kepala. Wajahnya terlihat lelah dan sedikit lebih pucat daripada ketika berangkat pagi itu.

“Kevin menyuruhku pulang lebih awal.”

Aiden mengenal nama tersebut. Kevin memimpin tim perawat generator dan mengatur pembagian tugas para pria yang bekerja bersama Marcus.

Sejak Marcus kembali, Kevin selalu memastikan orang lain berada di dekatnya. Aiden semula mengira itu hanya peraturan keselamatan, tetapi beberapa kali ia melihat Kevin mengamati perban lama pada lengan Marcus lebih lama daripada mesin yang sedang diperbaiki.

Aiden menutup pintu di belakangnya. Ia meletakkan buku serta sisa makanan di atas meja, lalu berjalan mendekati ranjang.

“Apa alasannya?”

Marcus menunduk dan membuka ikatan salah satu sepatunya. Jemarinya bergerak lebih lambat daripada biasa dan harus mencoba dua kali sebelum simpul tersebut terlepas.

“Katanya aku tampak tidak sehat.”

Aiden memperhatikan wajah ayahnya. Ada keringat pada garis rambut meskipun udara malam cukup dingin, dan bagian bawah matanya terlihat lebih gelap.

Kekhawatiran segera berubah menjadi kemarahan yang diarahkan kepada orang yang tidak berada di kamar. Aiden tahu dirinya tidak melihat apa yang terjadi di ruang generator, tetapi bayangan Kevin mengambil perkakas dari tangan Marcus terasa cukup untuk membuat rahangnya mengeras.

“Kau baik-baik saja, Dad. Kau masih lebih kuat daripada kebanyakan laki-laki di sini.”

Marcus berhenti membuka sepatu. Ia memandang Aiden tanpa segera membalas.

“Dia hanya mencari alasan untuk menjauhkanmu dari tempat kerja, bukan?”

“Aiden...”

Nada tersebut seharusnya menjadi peringatan agar Aiden berhenti menuduh. Aiden justru bergerak maju dan berdiri di antara kedua lutut ayahnya.

Ia memeluk Marcus sebelum pria itu dapat menahannya. Kedua lengannya melingkari leher ayahnya, sementara wajahnya ditekan pada bahu yang kini terasa lebih sempit di balik kemeja kerja.

Marcus mengeluarkan napas pelan. Tangannya terangkat dan menyentuh bagian atas punggung Aiden, jauh dari beberapa lebam yang tersembunyi di balik kemeja.

“Aku memang merasa sedikit tidak enak badan.”

Kalimat itu diucapkan dekat telinga Aiden. Suaranya tenang, seperti penjelasan sederhana yang diharapkan dapat mengakhiri kemarahan putranya.

“Jangan bohong.”

Aiden mempererat pelukan. Ia dapat merasakan tulang bahu Marcus lebih jelas daripada beberapa bulan sebelumnya, dan penemuan itu membuat matanya mulai panas.

Marcus menarik tubuh Aiden perlahan sampai pelukan tersebut terlepas. Kedua tangannya kemudian berpindah pada bahu putranya dan menahannya agar mereka dapat saling melihat.

Tatapan Marcus turun dari bibir Aiden yang pecah menuju memar pada rahang, balutan di tangan, dan noda darah kering pada lengan kemejanya. Kerutan pada dahinya semakin dalam setelah melihat semuanya.

“Lihat tubuhmu. Kau tampak berantakan.”

Aiden mencoba melepaskan bahunya dari pegangan Marcus. Ayahnya menahan tanpa menyakitinya, membuat usaha tersebut hanya menggeser kemeja pada kulit yang lebam.

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Dad.”

“Aku tidak mengalihkannya.”

Marcus mengangkat salah satu tangan Aiden dan memeriksa balutan pada buku-buku jarinya. Darah telah merembes melalui kain, sedangkan satu simpul hampir terlepas.

“Kau yang akan menjadi Remnant lebih dahulu kalau terus pulang dengan keadaan seperti ini.”

Marcus mengatakannya dengan wajah serius. Sudut mulutnya mulai terangkat sesaat kemudian, lalu tawa pendek keluar dari tenggorokannya.

Aiden menatap ayahnya beberapa saat. Lelucon tersebut buruk dan seharusnya tidak terasa lucu, tetapi bunyi tawa Marcus membuat satu kekakuan di dalam dadanya sedikit melonggar.

Ia akhirnya ikut terkekeh. Suaranya kecil dan serak, sementara matanya tetap terpaku pada kemeja yang kini menggantung lebih longgar di bahu Marcus.

Marcus mengacak rambut Aiden dan kembali tertawa pelan. Aiden membiarkannya, walaupun kesedihan yang tadi dibawa masuk tidak benar-benar pergi dan hanya bersembunyi di balik tawa mereka.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!