Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Hari-hari setelah Dominic dilaporkan atas kasus penyalahgunaan dana perusahaan terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir. Masalah hukum belum selesai, jabatannya sebagai pimpinan di Laurent Group sudah dicabut, dan sekarang masalah yang jauh lebih pribadi datang menghantamnya. Vivienne mengajukan gugatan perceraian.
Dominic masih berada dalam tahanan ketika pengacaranya datang membawa kabar tersebut. Pria itu duduk dengan wajah kusut di sebuah ruangan yang terasa semakin sempit setiap kali pikirannya dipenuhi masalah. Rambutnya berantakan, matanya terlihat lelah, dan sejak tadi ia hanya menatap kosong ke lantai.
Pintu perlahan terbuka, pengacaranya masuk sambil membawa sebuah map tebal. Ia berjalan mendekat, kemudian meletakkan map tersebut di atas meja di hadapan Dominic.
"Ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui, Tuan Dominic," ujar sang pengacara sambil menarik kursi.
Dominic mengangkat wajah dengan tatapan lelah. "Apa?" tanyanya pendek.
Pengacara itu membuka map perlahan. "Istri Anda telah mengajukan gugatan perceraian."
Dominic langsung membeku. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap pengacaranya tanpa berkedip. Seolah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami kalimat yang baru saja didengarnya.
"Apa?" Suara Dominic nyaris berbisik.
"Nyonya Vivienne Laurent telah mengajukan gugatan cerai secara resmi," jawab pengacara itu dengan tenang.
Dominic langsung berdiri dan mengulurkan tangannya. "Berikan kepadaku," pintanya tegas.
Pengacara tersebut menyerahkan dokumen itu. Dominic segera membukanya. Tangannya mulai gemetar ketika melihat nama Vivienne tercetak jelas di halaman pertama. Ia membaca halaman demi halaman. Semakin banyak yang dibacanya, semakin cepat napasnya.
"Dia serius," gumam Dominic dengan suara serak.
Pengacaranya mengangguk perlahan. "Sepertinya begitu."
Dominic tiba-tiba membanting dokumen tersebut ke atas meja. "Ini tidak mungkin!" teriaknya.
"Tuan Dominic, Anda harus tenang—"
"Dia tidak mungkin menceraikanku!" potong Dominic dengan suara keras. Suara itu menggema di dalam ruangan.
Pengacara tersebut tetap tenang. Ia sudah terbiasa menghadapi klien yang panik ketika berada dalam masalah hukum.
"Anda perlu menenangkan diri agar kita bisa membahas langkah selanjutnya," ujar sang pengacara.
"Bagaimana aku bisa tenang?" bentak Dominic sambil menunjuk dokumen di atas meja. "Dia istriku!"
Dominic kemudian berjalan mondar-mandir. Langkahnya cepat dan tidak beraturan. Kedua tangannya beberapa kali mengusap wajah.
"Beberapa hari lalu dia masih menangis di depanku," ujar Dominic dengan napas berat. "Dia masih mengatakan bahwa dia kecewa. Dia masih memanggilku suaminya."
Mata Dominic kembali tertuju pada dokumen perceraian tersebut. Kemudian sebuah pikiran tiba-tiba muncul di kepalanya. Wajah Dominic perlahan berubah.
Pengacaranya mengerutkan kening. "Ada apa, Tuan?"
Dominic tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke depan seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya.
"Rupanya Vivi tahu hubungan aku dengan Giselle?" jawabnya pelan nyaris berbisik..
Pengacaranya terdiam. Ia tidak ingin ikut campur dalam persoalan rumah tangga kliennya.
Dominic mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira Vivienne hanya marah karena kasus perusahaan. Ia tidak pernah menyangka istrinya mungkin sudah mengetahui perselingkuhannya. Atau mungkin Vivienne sudah mengetahuinya sejak lama.
"Selama ini dia sudah tahu," bisik Dominic.
Jari-jarinya mengepal.
Satu per satu kejadian beberapa bulan terakhir kembali muncul dalam pikirannya. Dominic menggigit bibirnya.
"Dia sengaja diam," gumamnya dengan suara bergetar.
Dominic merasakan sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kehilangan uang atau jabatan. Ia takut ternyata selama ini Vivienne sudah mengetahui semuanya. Dan selama itu pula, Vivienne hanya menunggunya melakukan kesalahan terakhir.
Di tempat lain, kehidupan Giselle mulai berubah dengan cepat. Tidak ada skandal yang muncul di media. Tidak ada berita tentang perselingkuhannya dengan Dominic. Tidak ada foto dirinya bersama pria yang sudah menikah. Namun, pekerjaan yang selama ini datang tanpa henti mulai menghilang satu per satu.
Satu kontrak ditunda. Kontrak berikutnya tidak diperpanjang. Kemudian dua pekerjaan besar yang sebelumnya hampir pasti menjadi miliknya tiba-tiba diberikan kepada model lain.
Pagi itu, Giselle duduk di hadapan manajernya dengan wajah tegang. Tangannya menggenggam selembar pemberitahuan kontrak sampai kertas tersebut sedikit kusut.
"Apa maksudmu kontrak ini juga batal?" tanya Giselle sambil mengangkat dokumen itu.
Bella, sang manajer menghela napas panjang sebelum menjawab. "Mereka memilih model lain."
Giselle langsung mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Kami tidak diberi alasan," jawab Bella sambil menggeleng.
Giselle meletakkan dokumen itu di meja dengan gerakan kasar. "Ini sudah yang ketiga."
"Aku tahu," jawab Bella pelan.
Giselle berdiri. Tatapannya penuh tuntutan.
"Aku tidak punya masalah dengan siapa pun," katanya dengan suara meninggi. "Aku juga tidak pernah terlibat skandal."
Bella hanya diam.
"Jadi, kenapa semuanya tiba-tiba seperti ini?" tanya Giselle lagi.
Bella menghela napas. "Kami sedang mencari jawabannya."
"Terus cari!" bentak Giselle. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari ruangan.
Namun, begitu pintu tertutup di belakangnya, langkah Giselle perlahan melambat. Rasa percaya dirinya mulai retak.
Selama bertahun-tahun, Giselle terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Satu panggilan dari Dominic biasanya cukup. Satu permintaan kepada orang yang tepat bisa membuka pintu menuju pekerjaan baru.
Namun sekarang, Dominic sendiri tidak bisa berbuat banyak. Pria itu sedang menghadapi masalah hukum. Jabatannya dicabut. Pengaruhnya di perusahaan semakin berkurang, dan akses yang dahulu mudah didapat kini seperti tertutup satu per satu.
Giselle masuk ke dalam mobil. Setelah duduk, ia menutup pintu dan bersandar di kursi. Tangannya mengambil ponsel. Layar menyala. Tidak ada pesan pekerjaan atau tawaran baru. Lalu, tidak ada kabar dari Dominic.
Giselle menatap layar tersebut cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas. "Kenapa bisa begini?" gumamnya lirih.
Giselle mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Padahal aku tidak melakukan apa-apa."
Namun, justru itulah yang membuatnya semakin takut. Kalau tidak ada skandal, tidak ada konflik, dan tidak ada kesalahan yang jelas, lalu siapa yang sedang menarik semua pekerjaan itu darinya?
Giselle menatap jalan melalui kaca mobil. Dia merasa dunia yang selama ini berada di bawah kendalinya mulai bergerak tanpa meminta izin darinya.
Beberapa hari kemudian, keadaan semakin buruk. Giselle mulai menerima pekerjaan yang sebelumnya tidak akan pernah ia pertimbangkan. Pemotretan katalog kecil. Promosi merek lokal. Acara pembukaan butik dengan bayaran yang jauh lebih rendah daripada tarifnya dahulu. Bahkan ada pekerjaan yang lokasinya jauh dari pusat kota dengan fasilitas yang sangat sederhana.
Siang itu, Bella datang membawa sebuah kontrak. Wajahnya terlihat ragu ketika menyodorkan dokumen tersebut.
"Ini memang tidak seberapa," ujar sang manajer sambil meletakkan kontrak di hadapan Giselle. "Tapi setidaknya ada pemasukan."
Giselle menatap angka yang tercantum di sana. Matanya terpaku cukup lama. Dahulu, nominal seperti itu bahkan tidak cukup untuk membayar satu sesi pemotretannya. Sekarang, angka tersebut terasa sangat berarti.
Giselle menelan ludah. "Ambil," jawabnya akhirnya.
Manajernya mengangkat wajah. "Yakin?"
Giselle mengangguk pelan. "Aku butuh uang."
Kalimat itu terasa pahit ketika keluar dari mulutnya. Namun, ia tidak punya pilihan. Kemewahan yang selama ini dianggapnya sebagai kehidupan normal perlahan mulai menjauh.
Dan yang paling membuatnya takut adalah satu hal. Ia masih belum tahu siapa yang membuat semua itu terjadi.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess