Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Terlambat
Tatapannya tidak lagi menyerupai seorang dosen.
Dua hari kemudian, Kirana baru memahami betapa berbahayanya tatapan itu.
“Kirana, tunggu!”
Suara Gilang terdengar dari ujung jalan kampus. Kirana mempercepat langkah tanpa menoleh. Ia sudah menolak tawaran antar-jemput tiga kali sejak insiden sarapan, tetapi laki-laki itu seakan menganggap kata tidak sebagai pembuka negosiasi.
“Kirana! Aku cuma mau kasih ini!”
Alih-alih mengambil jalur utama menuju Fakultas Ekonomi, Kirana memotong lewat gedung perpustakaan. Pilihan itu membuatnya harus memutari taman dan menaiki tangga belakang. Ketika sampai di depan ruang kuliah, napasnya terengah dan pintu sudah tertutup.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.07.
Sial.
Kirana menarik napas, mengetuk dua kali, lalu membuka pintu.
Suara Arya berhenti di tengah penjelasan. Lima puluh mahasiswa menoleh bersamaan.
“Maaf, Prof. Saya terlambat.”
Arya berdiri di samping layar proyektor. Hari ini ia mengenakan kemeja abu-abu gelap dan kacamata emas yang membuat tatapannya semakin tajam.
“Saya tahu,” jawabnya. “Jam di ruangan ini berfungsi.”
Tawa kecil terdengar dari beberapa bangku. Winda di baris tengah memberi isyarat agar Kirana cepat masuk.
“Saya ada alasan, Prof.”
“Semua orang yang terlambat punya alasan.” Arya melirik jam tangannya. “Aturan tetap aturan. Duduk.”
Kirana menahan balasan di ujung lidah. Ia berjalan menuju bangku di samping Winda dengan tengkuk panas.
“Gilang?” bisik Winda.
Kirana mengangguk.
“Harusnya lo lempar dia pakai sepatu.”
“Lalu gue masuk kelas tanpa sepatu?”
“Poin bagus.”
Di depan, Arya mengetuk meja dengan ujung pena. “Kalau diskusinya menarik, silakan dibagikan kepada kelas.”
Kirana langsung membuka laptop. “Tidak, Prof.”
“Bagus.”
Kelas berjalan normal selama hampir satu jam. Kirana mulai berpikir hukuman keterlambatannya hanya teguran singkat sampai Arya membagikan lembar latihan.
“Kalian kerjakan analisis kasus ini berpasangan. Kumpulkan sebelum kelas berakhir.”
Kertas berpindah dari tangan ke tangan. Ketika tiba di meja Kirana, ada satu buku catatan hitam tipis di atasnya.
Sampul depan ditempeli kertas kecil bertuliskan namanya.
Kirana Anindya Saraswati. Tugas tambahan.
Ia membuka halaman pertama.
Tulis ulang catatan perkuliahan hari ini. Sertakan revisi analisis dan tiga sumber tambahan. Serahkan langsung kepada saya.
Winda menjulurkan kepala. “Gila, sih. Dendam pribadi banget.”
“Pelan.”
“Mahasiswa lain telat minggu lalu cuma disuruh nyanyi lagu nasional.”
“Dia belum ngajar minggu lalu.”
“Makin mencurigakan.”
Kirana mengangkat pandangan. Arya sedang menjawab pertanyaan mahasiswa di baris depan, tetapi sesaat kemudian matanya bertemu dengan Kirana. Pria itu mengangkat alis, seolah menanyakan apakah ia keberatan.
Kirana menutup buku dengan sedikit lebih keras dari seharusnya.
Ia akan menyelesaikan tugas itu dengan sempurna. Tidak akan ada alasan untuk menahannya di kelas atau meminta nomor lain atau membahas Singapura.
Tiga puluh menit kemudian, pasangan Kirana dan Winda menyerahkan analisis paling awal. Arya membaca sekilas, mengangguk, lalu menaruhnya di tumpukan.
“Kalian boleh pergi.”
Winda berdiri, tetapi Kirana masih duduk. “Buku ini dikumpulkan kapan, Prof?”
“Besok sore.”
“Tiga sumber tambahan untuk materi satu pertemuan?”
“Kamu keberatan?”
“Saya hanya ingin tahu standar penilaiannya.”
Arya menutup tutup pena. “Lengkap, akurat, dan tidak dikerjakan sambil mencari jalan untuk menghindari seseorang.”
Beberapa mahasiswa yang belum selesai mengangkat kepala. Kalimat itu terdengar seperti komentar tentang keterlambatan, tetapi Kirana tahu persis makna lainnya.
“Saya tidak menghindari siapa pun,” katanya pelan.
“Bagus. Berarti tugasnya mudah.”
Winda menarik lengan Kirana sebelum perdebatan berkembang. Mereka keluar bersama mahasiswa lain.
Di koridor, seorang dosen tua berjalan dari arah ruang staf sambil membawa tumpukan jurnal. Kacamatanya tebal dan ia nyaris menabrak Winda.
“Maaf, Pak Yudi,” ujar Kirana sambil membantu menahan jurnal paling atas.
“Tidak apa-apa. Mata saya yang makin tidak bisa diajak kerja sama.” Pak Yudi mengamati wajah Kirana dari jarak dekat. “Kamu asisten baru Prof. Arya?”
“Mahasiswa, Pak.”
“Oh.” Ia menoleh ke pintu kelas, lalu kembali pada Kirana. “Saya kira tadi beliau memanggilmu berkali-kali.”
Winda langsung memasang wajah tertarik.
“Sedang bahas tugas, Pak,” jawab Kirana cepat.
Pak Yudi mengangguk dan berjalan lagi. Winda menunggu sampai dosen itu cukup jauh sebelum mencolek pinggang Kirana.
“Bahkan Pak Yudi yang minusnya kayak dasar botol sadar dia merhatiin lo.”
“Dia salah lihat.”
“Terus buku hukuman ini halusinasi?”
Kirana memeluk buku hitam ke dada. “Gue telat.”
“Karena Gilang. Tapi kenapa Prof. Arya yang kelihatan cemburu?”
Seolah dipanggil oleh namanya sendiri, Gilang muncul dari ujung tangga. Ia masih membawa sebuah kotak kertas yang tadi berusaha diberikannya.
“Akhirnya ketemu.” Ia berhenti di depan Kirana, sedikit kehabisan napas. “Tadi kamu cepat banget jalannya.”
“Karena aku mau masuk kelas.”
“Makanya aku bawain ini sampai sini.” Gilang menyodorkan kotak itu. “Sepatu lari baru. Kemarin aku lihat sol sepatu kamu sudah tipis.”
Kirana tidak menerimanya. “Gilang, ini sudah kelewatan.”
“Cuma sepatu.”
“Justru itu. Aku nggak pernah minta kamu perhatikan sepatu aku, datang ke apartemen, atau nunggu di jalan.” Suaranya tetap rendah karena koridor masih ramai, tetapi setiap katanya tegas. “Aku nggak nyaman. Tolong berhenti.”
Wajah Gilang akhirnya kehilangan senyum. “Aku cuma serius sama kamu.”
“Serius itu mendengarkan waktu orang bilang tidak.”
Winda berdiri di samping Kirana, tidak lagi bercanda. Gilang memandang keduanya, lalu menurunkan kotak yang tadi diulurkan.
“Oke,” katanya setelah beberapa detik. “Aku minta maaf. Tapi aku belum mau nyerah.”
“Itu bukan jawaban yang aku minta.”
Gilang mengembuskan napas dan pergi membawa kotaknya. Kirana baru sadar bahunya tegang ketika Winda menepuk lengannya.
“Lo sudah jelas banget,” kata Winda. “Kalau dia masih nggak paham, itu masalah dia.”
Kirana mengangguk. Ia tidak melihat bahwa dari pintu kelas, Arya telah menyaksikan seluruh percakapan. Pria itu tidak ikut campur karena Kirana mampu membela batasnya sendiri, tetapi jemarinya mencengkeram gagang pintu lebih erat saat Gilang berkata belum mau menyerah.
“Cemburu apaan? Kalian baru ketemu dua kali.”
Suara Arya dari belakang membuat keduanya berbalik.
Ia sudah keluar dari kelas. Mahasiswa lain berjalan melewati mereka, sehingga ia hanya berhenti sejenak di samping Kirana.
“Besok, pukul empat, bawa tugas itu ke ruang saya.”
“Saya bisa titip ke administrasi.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Arya menunduk sedikit. Senyumnya tidak sampai ke mata.
“Karena kali ini kamu nggak bisa kabur.”
Ia melangkah pergi sebelum Kirana sempat menjawab.
Winda menatap punggung Arya, lalu menoleh sangat perlahan. “Kalian ada masalah pribadi, ya?”
Kirana memeluk buku hukuman itu semakin erat.
“Nggak.”
“Kira.”
“Jangan mulai.”
Winda mengangkat kedua tangan. “Oke. Gue nggak mulai.” Ia menunjuk buku hitam di dada Kirana. “Tapi jelas banget Prof. Arya sudah mulai sesuatu.”