**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025 - Sudah Kuketahui Sejak Lama
"Larasati," panggil Arkana.
Tanganku membeku. Pisau yang tadi mulai turun kini terasa terlalu terang di antara kami.
Arkana tidak bergerak mendadak. Ia hanya membuka mata sepenuhnya dan memandang tanganku, lalu wajahku.
"Letakkan," katanya.
Pisau jatuh ke karpet dengan bunyi tumpul.
Aku mundur satu langkah. "Aku tidak akan melakukannya."
"Tapi kau datang untuk mencoba."
"Aku sudah menurunkannya sebelum kau bangun."
"Aku tidak pernah tidur."
Kalimat itu mengubah udara di kamar.
Arkana duduk perlahan. Tidak ada kantuk di wajahnya. Tidak ada kebingungan. Ia telah menunggu dalam keadaan sadar, menyerahkan punggung dan napasnya sambil mengetahui aku berdiri membawa pisau.
"Kau sengaja membiarkanku?"
"Aku ingin melihat pilihanmu."
"Dan aku memilih tidak melakukannya."
"Setelah mengangkat pisau. Setelah tidur di sisiku. Setelah menerima cincin dan berjanji menikah denganku."
Setiap `setelah` terdengar seperti pintu besi yang ditutup.
Aku memeluk tubuh sendiri. "Aku belum pernah mengatakan kebencianku hilang."
"Tidak. Kau hanya mengatakan mencintaiku."
"Keduanya benar."
Arkana turun dari ranjang. Ia mengambil pisau dari lantai, melipatnya kembali, lalu meletakkannya di atas formulir pernikahan.
"Berapa lama?" tanyanya.
"Apa?"
"Berapa lama kau merencanakan kematianku? Sejak masuk rumah ini? Sejak pertama kali memelukku? Atau sejak malam kau datang dan memintaku memandikanmu?"
Rasa malu membakar wajahku. "Jangan ubah malam itu menjadi senjata."
"Kaulah yang membawa senjata ke dalamnya."
Aku tidak punya jawaban.
Arkana mengambil ponsel dan menekan satu nomor. "Bayu. Masuk."
Beberapa menit kemudian, pintu kamar diketuk. Bayu masuk dengan wajah tegang, masih mengenakan pakaian yang sama dari makan malam persiapan pernikahan. Tatapannya menemukan pisau di atas meja.
"Kau sudah tahu," katanya kepada Arkana.
"Katakan kepadanya."
Bayu menghela napas. "Kana, jangan lakukan ini saat kalian sedang marah."
"Katakan sejak kapan."
Aku menatap mereka bergantian. "Apa yang dia maksud?"
Bayu akhirnya memandangku. "Pada ulang tahunmu yang kedelapan belas, Kana memintaku memeriksa semua arsip tentang anak yang selamat dari rumah keluargamu."
Darah meninggalkan wajahku.
"Kenapa?"
Arkana menjawab, "Karena kau menyebut nama jalan lama saat demam. Nama yang tidak pernah kuberitahukan kepadamu."
Bayu melanjutkan dengan hati-hati. "Catatan sipil lama rusak, tetapi laporan polisi menyebut seorang anak perempuan hilang. Usia, bekas cedera kaki, dan waktu masuk panti asuhan cocok."
"Kalian tahu aku siapa."
"Ya," kata Arkana.
"Selama ini?"
"Ya."
Arkana membuka laci meja dan mengeluarkan map cokelat. Dari dalamnya ia menaruh salinan laporan lama, foto rumahku setelah kebakaran, dan catatan panti asuhan. Pada halaman terakhir ada foto seorang anak perempuan dengan perban di kaki, duduk di samping Gilang.
Aku mengenali mata itu sebagai milikku.
"Kau menyimpan semua ini di kamar kita?"
"Aku menyimpannya dekat karena setiap malam aku hampir membangunkanmu dan bertanya apakah kau masih ingin membunuhku."
"Kenapa tidak?"
"Karena pada pagi hari kau selalu melakukan sesuatu yang membuatku berharap. Kau menyiapkan kopi. Kau memarahi pengawalku. Kau memainkan piano ketika mengira aku tidak mendengar." Arkana menunjuk foto itu. "Aku meyakinkan diri bahwa anak ini perlahan percaya rumahnya tidak akan direnggut lagi."
Bayu menunduk. "Aku menyarankan Kana memberi tahu semua kebenaran saat identitasmu ditemukan. Dia menolak."
"Kau bilang dia belum siap," kata Arkana.
"Karena saat itu Laras baru berusia delapan belas dan baru memahami perasaannya. Bukan karena kebohongan boleh dipelihara selamanya."
"Kalian membicarakan kapan aku siap tanpa melibatkanku."
Bayu menerima tuduhan itu. "Ya. Itu kesalahan kami."
Aku membalik salah satu laporan. Di tepi halaman ada tulisan tangan Arkana: `Jangan dekati. Jangan tanya. Tunggu dia sendiri.` Perintah perlindungan sekaligus bukti bahwa bahkan rahasiaku telah hidup di bawah izinnya.
"Apakah kau mengawasiku sejak saat itu?"
"Aku memastikan tidak ada orang dari masa lalu keluargamu yang menemukanmu."
"Itu bukan jawaban."
"Ya," katanya. "Aku mengawasimu."
Setidaknya pengakuan itu tidak dibungkus sebagai kebetulan.
Aku teringat setiap ciuman, setiap pertanyaan tentang belas kasih, setiap kali dia memandangku seolah bisa melihat kebohongan di bawah kulit.
"Mengapa tidak mengatakan apa-apa?"
Arkana tertawa pelan tanpa kegembiraan. "Karena aku bodoh. Aku berpikir jika kuberi cukup waktu, cukup kebebasan, dan cukup cinta, kau akan datang sendiri membawa kebenaran."
"Aku hendak mengatakannya setelah malam di Lumière."
"Tapi Puspita muncul lebih dulu, lalu kau meninggalkanku."
"Kau yang memutuskan hubungan kita."
"Agar kau punya jalan keluar. Agar kau tidak perlu memilih antara keluarga yang mati dan lelaki yang membunuh mereka."
"Kau berbohong bahwa aku tidak pantas dicintai."
"Dan kau berbohong sambil menyimpan pisau beberapa meter dari tempat tidur kita."
Bayu maju. "Kalian berdua sudah cukup saling melukai malam ini. Laras menurunkan pisaunya. Itu yang penting."
Arkana menoleh kepadanya. "Kau menemukan identitasnya. Apakah kau juga menemukan berapa kali dia mencoba membunuhku?"
"Dia masih anak-anak pada dua kesempatan pertama."
"Dan kesempatan terakhir?"
Bayu diam.
Aku memaksa suaraku keluar. "Malam pertama kami."
Arkana menutup mata sebentar. Ketika membukanya lagi, sesuatu di dalamnya telah pecah.
"Kau datang kepadaku karena pisau itu."
"Awalnya."
"Kau menciumku agar aku lengah."
"Ya."
"Kau membiarkanku percaya bahwa akhirnya kau memilihku."
"Aku memang memilihmu. Aku tidak mengambil pisaunya. Aku menangis karena tidak sanggup."
"Tapi malam itu dimulai sebagai jebakan."
Aku mengangguk, air mata mengaburkan wajahnya. "Ya."
Arkana berbalik dan memukul telapak tangannya ke dinding, jauh dari tubuhku. Bayu segera menangkap bahunya.
"Jangan," kata Bayu.
"Keluar."
"Kana."
"Keluar sebelum aku mengatakan sesuatu yang juga akan kusesali kepadamu."
Bayu menatapku, bertanya tanpa suara apakah aku ingin ikut. Aku hampir mengangguk. Namun bagian diriku yang lelah melarikan diri memilih tetap berdiri.
"Aku akan baik-baik saja," kataku.
"Tidak ada seorang pun di rumah ini yang baik-baik saja," balas Bayu. Ia tetap keluar, tetapi pintu tidak ditutup rapat.
Arkana berdiri membelakangiku. Bahunya naik turun. Aku ingin menyentuhnya, tetapi saat jemariku hampir mencapai lengannya, dia menjauh.
"Jangan gunakan tangan yang sama," katanya.
Aku menarik tangan.
"Apa yang kauinginkan dariku sekarang?" tanyaku.
"Aku ingin kembali ke lima menit sebelum kau membuka laci."
"Kalau kau sudah tahu sejak lama, mengapa malam ini mengubah segalanya?"
Arkana menatap pisau di meja. "Karena sampai malam ini aku masih bisa menganggap percobaan masa kecilmu sebagai jeritan seorang anak. Aku juga bisa memaafkan rencana pada malam pertama kita karena kau tidak jadi melakukannya."
"Lalu apa bedanya sekarang?"
"Sekarang kau tahu seluruh kebenaran. Kau tahu ayahmu ikut membuka rantai yang menghancurkan kami. Kau melihat aku menyerahkan jalan keluar. Kau menerima kembali cincin itu dengan tanganmu sendiri." Suaranya retak untuk pertama kalinya. "Tetapi pada malam sebelum menjadi istriku, kau masih memilih berdiri di atas tubuhku dengan pisau."
"Aku memilih menurunkannya."
"Setelah menimbang."
"Ya, setelah menimbang. Karena keluargaku bukan benda yang bisa kulupakan hanya karena kau memberiku rekening dan cincin. Aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada kemarahan yang membuatku tetap hidup selama bertahun-tahun."
"Dan aku harus berbaring diam sambil menunggu hasil timbangannya?"
"Kau sengaja berpura-pura tidur."
"Karena aku juga perlu tahu apakah besok aku menikahi perempuan yang mencintaiku atau algojo yang kehilangan keberanian."
Kata itu membuatku mundur.
"Jadi inilah diriku di matamu sekarang?"
"Aku tidak tahu siapa dirimu." Arkana menekan telapak ke matanya. "Itulah yang paling menghancurkanku."
"Aku juga."
"Tidak." Ia berbalik. "Kau ingin kembali lebih jauh. Ke malam ketika keluargamu masih hidup dan aku belum memasuki rumah itu. Aku tidak bisa memberikannya. Jadi apa pun yang kuberikan selalu kurang."
"Aku sudah menurunkan pisau. Bukankah itu berarti sesuatu?"
"Berarti kau ragu."
"Berarti aku mencintaimu."
"Cinta yang perlu menimbang apakah aku hidup sampai pagi bukan cinta yang tahu cara tinggal."
Kalimat itu memotong lebih dalam karena aku tidak dapat menyebutnya salah.
Arkana mengambil formulir pernikahan. Aku mengira dia akan merobeknya. Sebaliknya, ia melipat kertas itu sangat rapi dan memasukkannya ke laci meja.
"Pendaftaran besok dibatalkan?" tanyaku.
"Ya."
Dadaku sakit meski seharusnya merasa lega.
"Lalu aku akan pergi."
Aku melangkah menuju lemari, tetapi Arkana berdiri di depan pintu.
"Tidak."
"Kau baru mengatakan kita tidak menikah."
"Aku mengatakan pendaftaran besok dibatalkan. Aku tidak mengatakan kau bebas meninggalkan rumah ini."
"Kau memberikan semua dokumen kebebasanku."
"Aku berubah pikiran."
Kemarahan mengalahkan rasa bersalah. "Kau tidak bisa menahanku karena tidak menyukai pilihanku."
"Bisa. Aku hanya terlalu lama berpura-pura tidak mampu."
"Arkana, minggir."
Dia tidak menyentuhku. Tidak perlu. Dua penjaga sudah muncul di lorong setelah Bayu pergi, dipanggil melalui pesan yang tidak kulihat.
"Apa ini?"
"Kesempatan terakhirku memastikan kau tetap hidup sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan dengan kita."
"Dengan kita? Tidak ada kita setelah malam ini."
Rahangnya mengeras. "Kau sudah mencoba membunuhku tiga kali dan masih berpikir kaulah satu-satunya orang yang berhak memutuskan akhir?"
"Kalau kau mengurungku, aku akan membencimu lagi."
"Setidaknya kebencianmu membuatmu tetap berada di dekatku."
Aku menamparnya. Arkana menerima pukulan itu seperti pada ulang tahunku, tetapi kali ini tidak ada kelembutan tersembunyi di matanya.
Ia melangkah keluar, mengambil pisau dan formulir bersamanya.
"Jangan lakukan ini," kataku.
Arkana berhenti di ambang pintu. Suaranya rendah, dingin, dan sepenuhnya milik bos yang selama ini dia sembunyikan dariku.
"Jaga pintu. Larasati tidak boleh meninggalkan kamar ini satu langkah pun."
Pintu tertutup.
Kunci berputar dari luar.