Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Rumah besar Wijaya yang biasanya tenang, kini berubah menjadi tempat yang lebih ramai setelah pengakuan Daniel. Keamanan diperketat. Orang-orang baru datang dan pergi, membantu Adrian mengamankan perusahaan dan melindungi keluarga dari ancaman Victor. Adeline mengamati semua itu dengan mata waspada. Dia sudah terbiasa mendengar banyak suara hati, tetapi akhir-akhir ini jumlahnya semakin banyak dan semakin membingungkan.
Suatu pagi, seorang pria bernama Rudi datang ke rumah. Dia adalah kepala keamanan baru yang direkrut Adrian untuk melindungi keluarga. Rudi adalah pria bertubuh besar dengan wajah tegas dan tatapan tajam. Dia berbicara dengan suara berat dan selalu terlihat serius. Adrian memperkenalkannya kepada seluruh anggota keluarga sebagai orang kepercayaan yang akan menjaga mereka dari bahaya.
Adeline menatap Rudi dari balik kaki ibunya. Gadis kecil itu tidak menyukai tatapan pria itu. Ada sesuatu di matanya yang membuatnya tidak nyaman. Tetapi dia tidak bisa mendengar suara hatinya dengan jelas karena semua orang di ruangan itu berbicara dengan suara keras, memenuhi telinga batinnya dengan kebisingan yang mengganggu.
Beberapa hari berlalu dan Adeline mulai terbiasa dengan kehadiran Rudi. Pria itu selalu berjalan di sekitar rumah dengan langkah tegas, memeriksa setiap sudut dan setiap pintu. Dia jarang berbicara dan selalu menjaga jarak dari anggota keluarga. Nathan mulai merasa curiga dan sering mengamati gerak-gerik Rudi dari kejauhan.
"Ada yang aneh dengan dia," kata Nathan pada Adeline suatu malam saat mereka duduk di kamar. "Dia terlalu diam dan terlalu memperhatikan kita."
Adeline mengangguk. "Aku juga merasakannya, Kak. Tapi aku belum bisa mendengar suara hatinya dengan jelas. Mungkin karena dia terlalu berhati-hati."
Namun pada suatu sore, ketika Adeline sedang duduk sendirian di taman belakang, dia mendengar sesuatu. Suara hati Rudi tiba-tiba muncul dengan sangat jelas, mungkin karena tidak ada orang lain di dekatnya yang mengganggu pendengarannya.
Semuanya berjalan sesuai rencana. Adrian benar-benar mempercayaiku. Dia tidak tahu bahwa aku bekerja untuk Victor. Semakin dekat aku dengan keluarga ini, semakin mudah bagiku untuk menghancurkan mereka. Victor akan sangat senang mendengar kabar ini.
Adeline merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan ketakutannya. Gadis kecil itu terus menggambar di buku sketsanya seolah tidak mendengar apapun, tetapi di dalam hatinya dia panik. Rudi adalah mata-mata Victor. Dia bekerja untuk musuh mereka dan dia berada di dalam rumah mereka sendiri.
Suara hati Rudi terus berbicara. Victor sudah menyiapkan semuanya. Besok malam, ketika semua orang tidur, aku akan membuka pintu belakang. Beberapa orang akan masuk dan mengambil dokumen-dokumen penting dari ruang kerja Adrian. Setelah itu, kita akan membuat seolah-olah itu adalah perampokan biasa. Keluarga ini akan kehilangan segalanya dan tidak akan pernah curiga bahwa aku yang membantu.
Adeline menggenggam erat pensil warnanya. Dia harus memberitahu ayahnya segera. Tetapi dia juga tahu bahwa dia harus berhati-hati. Jika Rudi curiga bahwa dia tahu, pria itu mungkin akan bertindak lebih cepat dan lebih berbahaya.
Malam itu, ketika semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, Adeline menarik lengan ayahnya. "Ayah, aku harus bicara dengan Ayah," bisiknya. "Di tempat yang sunyi dan aman."
Adrian melihat ekspresi serius di wajah putrinya dan segera mengerti. Dia membawa Adeline ke ruang kerjanya dan mengunci pintu. "Ada apa, Sayang?"
Adeline menceritakan semua yang dia dengar dari suara hati Rudi. Kata-katanya keluar dengan cepat dan penuh ketakutan. Dia menjelaskan tentang rencana besok malam, tentang pintu belakang yang akan dibuka, tentang dokumen-dokumen yang akan dicuri.
Adrian mendengarkan dengan wajah yang semakin gelap. Ketika Adeline selesai berbicara, dia memeluk putrinya erat. "Kamu luar biasa, Sayang. Kamu berhasil menyelamatkan keluarga kita lagi."
"Apa yang akan Ayah lakukan?" tanya Adeline dengan suara bergetar.
Adrian tersenyum tipis. "Ayah akan membiarkan Rudi menjalankan rencananya. Tapi Ayah akan menyiapkan jebakan. Besok malam, ketika Rudi dan orang-orangnya datang, mereka tidak akan menemukan dokumen apapun. Sebaliknya, mereka akan menemukan polisi yang menunggu mereka."
Adeline mengangguk, tetapi matanya masih penuh kekhawatiran. "Ayah, apa Victor dan Marissa akan terus mencoba? Aku takut mereka tidak akan pernah berhenti."
Adrian mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Mereka mungkin tidak akan pernah berhenti. Tapi selama kita bersatu dan selama kamu bisa mendengar rencana mereka, kita akan selalu selamat. Kamu adalah mata dan telinga keluarga ini, Sayang. Dan Ayah sangat bersyukur memilikimu."
Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Adeline terbangun dan mendengar bisikan-bisikan di kepalanya. Rudi sedang merencanakan langkah terakhirnya. Victor sedang menunggu kabar baik. Marissa sedang tertawa dalam hati karena merasa kemenangan sudah di depan mata. Tetapi Adeline tersenyum kecil di dalam kegelapan kamarnya. Mereka tidak tahu bahwa dia mendengar semuanya. Mereka tidak tahu bahwa dia sudah memberitahu ayahnya. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berjalan menuju perangkap yang sudah disiapkan.
Besok malam, kebenaran akan terungkap. Dan sekali lagi, seorang gadis kecil yang manis akan menjadi saksi dari semua kejahatan yang disembunyikan oleh orang dewasa. Adeline memeluk boneka beruangnya dan berbisik pelan, "Aku akan terus mendengar. Aku akan terus melindungi keluargaku. Tidak ada yang bisa menghentikanku."