Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Anne
"Apakah kedua anak ini adalah anakmu?"
cecar Selina dengan tatapan mengejek.
Anne hanya terdiam, pikirannya kembali
teringat pada empat tahun silam, dulu ia
mengenal Selina serta paman dan bibinya dengan baik, tapi ia tidak menyangka jika ternyata di balik semua itu mereka adalah ular berbisa yang malah menerkamnya.
Rasanya dia begitu murka, karena perbuatan Selina hidupnya jadi seperti ini.
Segala bentuk kemarahan itu terpendam di dalam batinnya sejak tahunan yang lalu, tapi selama ini ia hanya diam dan diam.
"Kenapa hanya diam?" Selina kembali
mencecarnya.
"Dahulu aibmu tersebar kemana-mana
saat kamu melakukan malam panas itu di bar, lalu kini kamu kembali dengan anak-anak liar ini, jadi seperti nya keberadaan mereka berhubungan dengan waktu itu, jadi karema sudah melahirkan anak haram itu!" seru Selina dengan wajah mengejek.
"Jaga bicaramu Selina!" sahut Anne dengan lantang.
Anne berjalan mendekat dengan kemarahan yang menjalar hingga ke ubun-ubun mendengar kata kasar yang sudah di lontarkan oleh Selina terhadap anak-anaknya.
Kemarahan itu nampak dari wajah teduh yang kini mengeras, manik mata yang jernih kini menggelap.
Anne berjalan mendekati ke dua putranya yang kini berdiri di tembok dengan sebelah kaki terangkat dan tangan menarik telinga.
Seketika saja Matteo dan Marco pun memeluk Anne seolah ingin melindungi ibunya dari orang jahat.
"Ini semua juga karena perbuatan mu jadi jangan berbicara sembarangan di depan mereka! Jika tidak mau ku cabik-cabik wajahmu." berang Anne menatap Selina dengan murka.
"Jadi benar mereka adalah anakmu?" rasa
ingin tahu Selina amatlah besar.
Selina tidak dapat berbohong di hadapan
anak-anaknya untuk tidak mengakui mereka, "ya, mereka anakku. Puas?"
Saat itu Selina pun berdiri dari kursi nya dengan senyum sinis dan tangan terlipat di depan dada, dia berjalan sambil mengitari tubuh Selina, "pantas saja, kelakuan anakmu ini sangat liar, tidak bermoral dan tidak berpendidikan sama seperti ibunya!" terang Selina.
"Lihatlah anakku di pukuli oleh mereka."
Anne menatap sepupunya itu dengan tajam, dia benar-benar telah kehilangan
kesabarannya ingin sekali menjambak rambutnya karena ucapannya yang sangat frontal mengatai anaknya, apapun yang menyangkut anaknya ia akan selalu melindungi mereka, ia tak terima jika ada
orang lain yang menyakitinya, namun meski begitu dalam keadaan seperti ini, ia harus bisa mengontrol emosinya, ia tidak mungkin bertengkar di lingkungan sekolah apalagi di hadapan anak-anak.
Lagi pula ia harus fokus pada inti permasalahan untuk tahu apa sebabnya anaknya memukuli anak Selina.
Di kepala Anne kini juga berpikir, apakah
anak Selina itu juga anaknya dengan Davin?
Tadi ia bertemu dengan Davin dan sekarang ia bertemu dengan wanita ini, mengapa se-pagi ini nasibnya kurang beruntung, bertemu dengan dua iblis sekaligus.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab pada anakku! Aku ingin kamu meminta maaf dan membayar ganti rugi seratus lima puluh juta atas apa yang sudah anakmu lakukan!" seru Selina.
"Apa?"
Anne tercengang mendengarnya. Ini adalah pemerasan, memang apa yang sudah anaknya perbuat sampai ia harus mengganti rugi sebanyak itu?
Ibu kepala sekolah mendekati Selina,
"'nyonya, tolong tahan emosi anda. Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik."
"Tidak bisa! Dia harus melakukannya sekarang, meminta maaf dan membayar ganti rugi." Selina tampak sekali penuh ambisi, dia menatap Anne sinis sepertinya dia hanya ingin menjatuhkan harga diri Anne dengan melakukan ini.
"Tunggu dulu, bu guru benar masalah ini
bisa di selesaikan baik-baik, kalau begitu
Matteo, Marco katakan apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Anne ingin tahu kebenarannya.
Matteo merasa sedikit tenang saat ini, dia memiliki keberanian yang lebih ketika ada Anne, Matteo pun menatap wajah Selina dan putranya dengan marah, "dia! Dia sudah membuka rok Marcella. Aku dan Marco hanya memperingatinya, tapi dia malah marah dan tidak terima, dia yang memulai dahulu untuk memukul Marco, dan aku hanya ingin membela kebenaran." terang Matteo dengan jujur.
"Tidak mungkin anakku tidak mungkin
melakukan itu." Selina menggeleng menyangkal ucapan Matteo.
Tapi Anne melihat tatapan jujur di mata kedua anaknya, mereka benar-benar anak yang polos tidak mungkin mereka mengada-ada.
"Itu benar mami, aku memintanya untuk
meminta maaf pada Marcella, tapi dia malah marah dan juga melempar kami dengan laptop miliknya hingga laptop Mcbook itu terbanting ke lantai dan rusak." sahut Marco menyetujui ucapan Matteo.
Anne tertegun, ia semakin merasa bahwa memiliki tiga anak kembar sekaligus, dan mereka memiliki gen yang kuat sehingga tampan dan cantik.
"Marcella, sekarang jawab pertanyaan
mami dengan jujur apakah benar dia sudah membuka rokmu?" cecar Anne sambil berjongkok menatap putrinya dengan lembut penuh pengertian.
Marcella pun mengangguk dengan malu-malu, wajahnya tertunduk takut di hadapan Anne.
Anne langsung mendesahkan nafasnya,
ternyata benar dan ia tidak bisa memaafkan perbuatan ini.
"Lihatlah, bu guru bisa lihat kan jika anakku tidak bersalah, mereka tidak memukulinya, justru anaknya yang sudah melecehkan anakku." seru Anne penuh murka menatap Selina.
"Aku percaya anakku adalah anak yang
baik, mereka pasti tidak akan mau memukuli anak orang sembarangan, mereka juga sudah berkata jujur." imbuhnya.
"Lagi pula, lihatlah anaknya tidak mengalami luka sedikitpun, pakaian nya masih rapi, dia tidak mengalami lecet sama sekali." tunjuk Anne pada anak Selina yang masih tampak biasa saja, dia tertunduk di sebelah ibunya setelah mendengar seruan Selina.
Selina terlihat kikuk tapi dia segera menyangkal, "di pukuli tidak harus terluka kan?" ia tak terima dengan segala ucapan Selina.
"Di sekolah ini pasti ada CCTV kenapa kita tidak melihatnya saja untuk tahu mana yang benar dan salah, kalau begitu saya minta pada pihak sekolah untuk terus terang dan memperlihatkan pada kami bukti CCTV itu, sehingga kami akan tahu siapa yang sudah salah." ujar Anne memilih jalan tengah demi membuka fakta itu.
Selina melirik kepala sekolah dengan tajam, kepala sekolah tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, fakta lainnya suami Selina adalah pemilik sekolah ini.
Kepala sekolah lalu menatap Anne, tak
ingin masalah ini akan melebar kemana-mana oleh sanggahan Anne, "bu Anne, sebaiknya anda meminta maaf saja pada nyonya Selina." Ujarnya dengan nada lembut.
Anne tercengang ketika mereka tetap tak mengindahkan protesnya sama sekali.