Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerentanan
Setelah Indra kembali tidur, ditemani Luki yang duduk di tepi ranjangnya lebih lama dari biasanya untuk memastikan anaknya benar-benar tenang, ia kembali ke ruang kerja tempat Alena masih menunggu, kini duduk di sofa kecil di sudut ruangan, menatap keluar jendela ke arah langit malam yang mulai menunjukkan tanda-tanda fajar yang masih jauh.
"Maaf soal tadi," kata Luki, duduk di sofa yang sama, menjaga jarak yang sopan meski keduanya tahu jarak itu terasa dipaksakan setelah momen yang terputus beberapa jam lalu.
"Nggak perlu minta maaf," jawab Alena, tersenyum kecil. "Dia anakmu. Wajar kalau dia jadi prioritas di atas segalanya, termasuk di atas percakapan orang dewasa yang belum selesai."
Keheningan menggantung di antara mereka, bukan keheningan canggung, melainkan keheningan yang penuh dengan sesuatu yang belum terucapkan, sesuatu yang keduanya rasakan tapi belum berani mereka beri nama secara terbuka.
"Boleh aku tanya sesuatu?" kata Alena akhirnya, memecah keheningan itu.
"Tentu."
"Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar aman? Bukan sebagai Tuan L yang mengendalikan segalanya, tapi sebagai Luki, manusia biasa yang boleh merasa takut, merasa lelah, tanpa harus menyembunyikannya dari siapa pun?"
Pertanyaan itu menghantam Luki dengan cara yang tak terduga, membuatnya diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, suaranya lebih jujur dari yang pernah ia gunakan pada siapa pun selain, mungkin, Sarah bertahun-tahun lalu.
"Saya tidak ingat," katanya pelan. "Mungkin sebelum ayah saya meninggal. Sejak itu, setiap hari terasa seperti pertempuran yang tidak pernah benar-benar berhenti, bahkan di dalam rumah ini, bahkan saat aku sedang membacakan dongeng untuk Indra. Ada bagian dari diriku yang selalu waspada, selalu menghitung risiko, selalu siap bertarung."
"Sampai malam ini?" tanya Alena lembut.
Luki menatapnya lama, ia membiarkan dinding yang selama ini ia bangun begitu rapat mulai runtuh sepenuhnya di depan seseorang yang bukan anaknya sendiri.
"Sampai kamu memegang tanganku tadi," jawabnya jujur, suaranya nyaris berbisik. "Untuk sesaat, aku lupa harus waspada. Aku lupa harus menghitung risiko. Aku hanya... ada, di sana, tanpa perlu jadi Tuan L atau bahkan Ayah. Hanya Luki."
Alena merasakan dadanya sesak mendengar pengakuan itu, menyadari betapa langka dan berharganya momen kejujuran ini dari seorang pria yang selama bertahun-tahun terpaksa membangun benteng di sekeliling dirinya sendiri.
"Aku takut, Alena," lanjut Luki, kata-kata yang jelas sulit ia ucapkan, tapi yang kini mengalir seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah bertahun-tahun tertahan. "Bukan takut pada Antasena, atau pada siapa pun yang mengancamku di dunia luar sana. Aku takut pada apa yang mungkin terjadi kalau aku membiarkan diriku merasakan ini — merasakan sesuatu untuk seseorang selain Indra. Terakhir kali aku membiarkan diriku mencintai seseorang, aku kehilangan dia, dan aku tidak yakin aku sanggup kehilangan lagi."
"Aku tidak akan berjanji bahwa tidak ada risiko," jawab Alena jujur, tidak ingin memberikan kepastian palsu pada seseorang yang sudah cukup kehilangan dalam hidupnya. "Hidup di dekatmu berarti hidup dengan bahaya yang nyata. Aku sudah merasakannya sendiri di taman itu. Tapi aku juga tahu satu hal — aku tidak menyesal satu detik pun berada di sini, bersama kalian berdua, meski aku tahu risikonya."
Luki menatapnya lama, tangannya perlahan bergerak mendekati tangan Alena, ragu sejenak sebelum akhirnya menggenggamnya, kali ini dengan kesadaran penuh, bukan gestur spontan yang terjadi begitu saja seperti sebelumnya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya jadi orang biasa lagi," katanya, jujur, rentan dengan cara yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun selain di depan anaknya sendiri. "Aku sudah terlalu lama jadi Tuan L di luar sana. Aku tidak tahu apakah masih ada cukup dari Luki yang tersisa untuk pantas dicintai seseorang seperti kamu."
"Aku tidak jatuh cinta pada versi 'orang biasa' yang mungkin tidak lagi ada," jawab Alena, suaranya lembut tapi penuh keyakinan. "Aku jatuh cinta pada pria yang kulihat malam ini — pria yang bisa mengancam seorang penjahat berbahaya demi melindungi anaknya, lalu pulang dan berlutut untuk memeluk anak itu dengan kelembutan yang sama sekali tidak berkurang. Kedua sisi itu adalah kamu, Luki. Aku tidak butuh kamu memilih salah satunya untuk pantas dicintai."
Kata-kata itu, sederhana tapi penuh makna, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang masih Luki pertahankan. Ia mendekat perlahan, memberi Alena cukup waktu untuk mundur jika ia mau, tapi Alena tidak mundur — ia justru mendekat juga, dan ketika bibir mereka akhirnya bertemu, itu bukan ciuman terburu-buru yang lahir dari nafsu sesaat, melainkan sesuatu yang lebih lembut, lebih penuh makna — pengakuan tak terucapkan dari dua orang yang, di tengah dunia penuh bahaya dan ketakutan, akhirnya menemukan satu momen ketenangan yang jarang sekali mereka rasakan.
Ketika mereka akhirnya berpisah, dahi mereka masih saling menempel, Luki tersenyum — senyum yang jarang sekali ia tunjukkan bahkan pada Indra, senyum yang penuh dengan kelegaan dan harapan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok," bisiknya. "Tapi malam ini, aku merasa seperti mungkin — hanya mungkin — aku bisa punya kehidupan yang lebih dari sekadar bertahan hidup."
"Kita hadapi besok bersama-sama," jawab Alena, menggenggam tangannya lebih erat. "Apa pun yang terjadi."