tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
"Kurang ajar! Berarti selama ini Silvy hanya memanfaatkan Abang saja?! Dia tidak benar-benar mencintai Abang!" marah Kavian, urat-urat di lehernya menonjol menahan emosi yang meluap.
"Hmm, itu yang El dengar sendiri dari mulutnya, Bang," ucap Elvian mengangguk prihatin.
"Wah, wah, wah! Tidak bisa dibiarkan itu, Bro! Elo harus balas dendam kepada mereka!" kompor Brian langsung bersemangat.
"Benar, Bang. Abang harus membalas mereka. Abang tidak boleh diam saja di saat harga diri Abang diinjak-injak seperti itu," dukung Elvian berapi-api.
"Betul, Bang. Jangan kasih kendor," timpal Revangga setuju.
Kavian mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja. "Tentu saja saya akan membalas mereka berdua. Saya akan membalas mereka dengan cara yang jauh lebih menyakitkan."
Puk.
"Tenang, Bro. Gue bakal bantu elo buat balas dendam ke mereka," ucap Brian santai sembari nekat mencolek dagu Kavian.
"Heeee! Tangannya itu mau gue potong, hah?!" marah Elvian langsung menepis tangan Brian dengan galak.
"Yaelah, El. Gue kan hanya bercanda doang," gerutu Brian mengusap tangannya yang memerah.
"Elo jangan dekat-dekat sama Abang gue ya, buaya buntung si tukang gombal cewek!" omel Elvian menatap Brian dengan pandangan penuh permusuhan.
Brian hanya bisa mendengus pasrah.
Tian yang melihat kelakuan karyawannya langsung menegur, "Brian, panggil dia Abang. Dia lebih tua dari kamu."
"Gak pantas dipanggil Abang, Kak. Gue panggil Honey aja gimana, Bro? Hmm? Hmm?" goda Brian lagi, sengaja menaik-turunkan alisnya ke arah Kavian untuk memecah ketegangan.
Kavian menatap Brian datar. "Saya jauh lebih tua dari kamu, jadi panggil saya Abang seperti yang dilakukan El. Lagipula, saya ini normal. Walaupun seandainya saya belok, saya tidak akan suka dengan anak kecil yang masih bau kencur seperti kamu."
"Hahaha! Hahaha!" Tawa Elvian, Revangga, dan Tian langsung pecah seketika di dalam kafe.
"Bau kencur gak tuh! Hahaha!" ledek Revangga puas menertawakan temannya.
"Hooouuwooo... hancurnya hatiku, Dek! Kamu bilang Aa yang super handsome ini dikatain bau kencur? Sungguh teganya dirimu, teganya, teganya hooowooo pada dirikuuu..." rengek Brian mendadak bernyanyi dramatis layaknya di panggung sandiwara.
"Si gembul malah menyanyi! Kita ini lagi rapat serius tahu!" kesal Elvian melempar gulungan tisu ke arah Brian.
Kavian dan Tian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib Brian yang terbukti selalu berhasil mencairkan suasana tegang menjadi penuh tawa.
"Jadi, gimana kelanjutan rencananya, Bang?" tanya Revangga kembali ke topik utama.
Elvian mengetuk dagunya, mencoba mengingat sesuatu. "Ah! El baru ingat! Perusahaan Abang kan sedang bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Ferdy itu. Gimana kalau Abang mencabut seluruh investasi perusahaan Abang dari mereka sekarang juga? Biar perusahaan mereka langsung bangkrut!" usul Elvian bersemangat
Hmm... benar juga apa yang kamu bilang, Dek. Tapi masalahnya, kalau Abang mencabut investasi secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, mereka pasti akan curiga. Apalagi selama ini tidak ada masalah apa-apa antara perusahaan Abang dan perusahaan si Ferdy itu," jelas Kavian menimbang risiko bisnis.
"Gini saja, Bang. Keluarga Ferdy itu kan tidak tahu kalau mereka sebenarnya bekerja sama dengan perusahaan utama milik Abang, kan?" tanya Elvian lagi.
"Terus?" Kavian menaikkan sebelah alisnya.
"Gimana kalau El yang pura-pura menjadi CEO dari anak perusahaan Abang? Biar mereka tidak curiga. Apalagi El sama keluarga benalu itu kan dari dulu memang tidak pernah akur. Jadi, El bisa membuat alasan kalau pencabutan investasi itu karena El secara pribadi tidak suka bekerja sama dengan mereka," ucap Elvian memberikan ide.
Kavian tersenyum tipis lalu menggeleng. "Alasannya kurang tepat, Dek. Kamu harus tahu pepatah dalam dunia bisnis: urusan pribadi jangan pernah dibawa ke dalam urusan perusahaan. Kalau memakai alasan itu, kita akan dicap tidak profesional."
"Benar juga sih," keluh Elvian kembali lemas.
Tian yang sejak tadi diam menyimak, akhirnya angkat bicara. "Vian, apa perusahaan mereka masih membuat proyek bersama perusahaanmu yang sampai sekarang belum selesai tepat waktu?"
Kavian tampak berpikir sejenak. "Ada. Kami sedang bekerja sama untuk membuat proyek pembangunan jalan raya dan mall. Tapi sampai sekarang belum mereka selesaikan, padahal seharusnya fasilitas itu sudah rampung dan siap digunakan bulan ini."
"Kamu bawa berkas perjanjian kerja samanya?" tanya Tian lagi.
"Bawa." Kavian merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah map berkas tebal, lalu memberikannya kepada Tian.
Tian membuka berkas tersebut dan membacanya dengan sangat teliti selama beberapa menit sebelum akhirnya tersenyum penuh arti.
"Kita bisa gunakan berkas ini untuk membatalkan kerja sama secara sepihak dengan perusahaan Ferdy," ucap Tian dengan nada berwibawa. "Kalau si Ferdy itu meminta alasan kenapa kerja samanya dibatalkan, kita tinggal tunjukkan berkas ini. Kita bilang kalau perusahaan mereka tidak kompeten, lambat, dan kita juga bisa menuduh mereka melakukan korupsi atau penggelapan dana internal."
Tian menjeda kalimatnya, menatap Kavian lekat. "Pekerjaan yang seharusnya telah selesai sampai sekarang masih terbengkalai dan jelas-serius merugikan perusahaanmu, Vian. Kita bisa membatalkan kerja sama ini secara hukum. Jika dia menolak, ancam saja untuk membawa kasus ini ke jalur pengadilan atas dugaan penipuan proyek. Dengan begitu, mau tidak mau dia pasti akan menandatangani pembatalan kerja sama demi menyelamatkan nama baiknya."
"Ide bagus! Kak Tian memang hebat kalau soal strategi bisnis!" puji Revangga kagum.
"Tapi Kak, gimana kalau ternyata ada perusahaan besar lain yang diam-diam membantu mendanai perusahaan Ferdy agar tidak bangkrut?" tanya Brian melemparkan kemungkinan terburuk.
"Nah, itu dia. Itu yang harus kita pikirkan sekarang. Kita harus menutup celah agar perusahaan lain tidak ada yang mau membantu perusahaan Ferdy," sahut Tian mengetuk meja.
"Saya bisa bantu," ucap sebuah suara bariton yang berat dari arah pintu masuk.
Sontak semua orang menoleh. Seorang pemuda tampan dengan postur tegap melangkah masuk dengan santai namun memancarkan aura intimidasi yang kuat.
"Maxime," ucap Tian terkejut.
"Hmm." Maxime mengangguk singkat. Dia mengambil posisi berdiri di dekat meja mereka. "Saya bisa membantu kalian semua untuk menghancurkan perusahaan Ferdy sampai ke akar-akarnya. Tapi... tentu saja dengan satu syarat."
Brian menyengir jail dari balik punggung Tian. "Wah, ada yang punya niat tersembunyi nih sama elo, Max."
"Apa syaratnya?" tanya Elvian menatap tajam ke arah sang mafia.
Maxime menatap lekat manik mata Elvian, lalu menyunggingkan sebuah senyum miring yang menawan namun berbahaya. "Kamu harus resmi menjadi kekasih saya, dan mau bertunangan dengan saya secepatnya."
Brak!
Elvian menggebrak meja dengan wajah memerah menahan kesal. "Apa?! Kamu sudah gila ya?! Gue tidak mau!"
Maxime hanya menanggapi penolakan itu dengan kedikan bahu santai. "Kalau tidak mau, ya sudah. Saya hanya ingin memberi tahu satu hal, bukan cuma perusahaan Kavian saja yang menanam modal di sana. Saya dan kedua saudara saya juga memiliki investasi besar di perusahaan keluarga Ferdy. Jadi, kalau hanya Kavian yang mencabut modalnya, perusahaan Ferdy tidak akan mudah bangkrut begitu saja."
Tian menghela napas, membenarkan ucapan Maxime. "Itu benar. Ketiga perusahaan milik keluarga Benedict itu terkenal dengan kekuasaan dan kekuatannya yang luar biasa di dunia bisnis global. Sangat sulit bagi perusahaan biasa untuk bisa bertahan jika tiga raksasa itu bergerak."
Kavian menatap tajam ke arah Maxime, mencoba membaca isi pikiran pria misterius itu. Namun, Maxime yang ditatap tajam hanya menunjukkan ekspresi datar tanpa beban.
"Kenapa kamu sangat bersikeras ingin El menjadi tunanganmu, Tuan Max?" tanya Kavian menyelidik.
"Karena saya menyukai adikmu sejak pertama kali kami bertemu di rumah sakit," jawab Maxime jujur dan frontal tanpa keraguan sedikit pun.
"Kita bertemu juga karena elo terkapar terluka dan kami menolong elo ke rumah sakit! Itu juga karena disuruh Kak Tian!" ketus Elvian memprotes kalimat Maxime.
"Kalau begitu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menolong nyawa saya," balas Maxime tenang.
"Heh, Tuan Mafia. Seharusnya elo bantu El dengan tulus sebagai wujud ucapan terima kasih, bukannya malah memanfaatkan keadaan dan menyuruh El jadi pacar kamu!" semprot Revangga membela sahabatnya.
"Saya tidak memaksa. Saya hanya menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan. Jika tidak mau, ya sudah," sahut Maxime santai sembari bertumpu pada meja, mengikis jarak di antara dirinya dan Elvian.
"Jangan pernah memaksa adik saya, Tuan Max," tegur Kavian dengan nada memperingatkan.
"Saya tidak memaksa," ucap Maxime datar.
Suasana sempat hening beberapa saat sebelum akhirnya Elvian mengembuskan napas pasrah. "Gue... akan pikirkan dulu."
Seketika, seluruh orang di meja itu—kecuali Maxime—menatap Elvian dengan pandangan melotot bingung dan tidak percaya.
"Elo seriusan mau sama dia, El?!" tanya Brian heboh menunjuk-nunjuk Maxime.
"Kan gue bilang baru mau memikirkannya, Bri!" ketus Elvian kesal.
Maxime tersenyum miring, puas dengan jawaban sang pemuda manis. "Saya tunggu jawabanmu besok. Soalnya dua hari lagi saya harus pergi ke luar negeri untuk urusan penting."
"Ke mana?" tanya Elvian spontan tanpa sadar.
"Cie, cieee! Ada yang langsung khawatir nih ye! Calon pacarnya mau pergi langsung ditanyain! Uhuy!" goda Brian memanaskan suasana.
Elvian melirik tajam ke arah Brian, lalu menoleh pada Kavian. "Bang, kalau membunuh orang di negara ini, hukuman penjaranya berapa tahun sih?"
Kavian berdehem menahan tawa, sementara Revangga langsung menyahut, "Hei, elo beneran mau membunuh siapa, El?"
"Nih!" Elvian menunjuk Brian dengan emosi yang sudah di ubung-ubung kepala.
Maxime tiba-tiba menyela dengan nada yang teramat tenang namun mengerikan. "Saya bisa membunuh dia sekarang juga kalau kamu yang memintanya, El."
Mendengar ucapan dingin dari seorang mafia asli, Brian langsung melompat berdiri dan bersembunyi di balik tubuh tegap Tian. "Hiiiiy! Tolong! Kalian berdua benar-benar pasangan psikopat!" seru Brian ketakutan.
Makanya, jangan suka usil lagi sama El. Apalagi sekarang El sudah punya pawang seorang bos mafia kelas kakap," ledek Revangga puas.
Maxime kemudian menegakkan tubuhnya, bersiap untuk pergi. "Saya permisi dulu. Besok siang, saya tunggu kamu di kantor pusat perusahaan saya, El." Setelah mengatakan itu, Maxime berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kafe.
Kavian menatap kepergian Maxime, lalu beralih menatap adiknya dengan pandangan serius. "Pria itu... sepertinya benar-benar sangat menyukaimu, Dek."
Elvian langsung mengacak rambutnya frustrasi. "Dia itu orang gila, Bang!" keluh Elvian menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di kedua pipinya.