Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Suami yang Pura-Pura Miskin

Satu minggu setelah meninggalkan rumah sakit, Ratri pulang ke kediaman Adiningrat dengan dua keputusan.

Pertama, ia akan membongkar orang yang membayar Yuliana empat miliar rupiah.

Kedua, ia akan mengakhiri pernikahannya.

Keputusan kedua seharusnya lebih mudah. Perjanjian perceraian telah disusun tim hukumnya, aset mereka terpisah, dan tiga tahun kehilangan kabar cukup untuk menjadi alasan yang tidak perlu diperdebatkan.

Masalahnya, Baskara sudah tinggal di rumah itu.

Ratri menemukan suaminya di dapur pribadi sayap utama, berdiri di depan kompor dengan celemek milik Bibi Sari yang terlalu kecil untuk tubuhnya.

Asap memenuhi ruangan.

Panci bubur mendidih sampai meluap.

Bibi Sari berdiri di sudut sambil memeluk baki, wajahnya terlihat seperti hendak menangis karena tidak diizinkan menyelamatkan dapur.

"Apa yang Anda lakukan?" tanya Ratri.

Baskara menoleh. "Memasak."

"Saya bisa melihat bencananya."

"Buburnya hampir jadi."

Tutup panci jatuh ke lantai tepat setelah ia berkata demikian.

Ratri menatap Bibi Sari. "Kenapa Anda membiarkannya?"

"Ndoro Baskara melarang saya membantu, Ndoro Putri. Katanya beliau harus belajar sendiri."

"Beri tahu pemadam kebakaran untuk siaga."

Bibi Sari menunduk, menyembunyikan senyum.

Baskara mematikan kompor. "Duduklah."

"Saya tidak lapar."

"Dokter bilang kau harus makan teratur."

"Dokter mana? Dokter Anda yang tidak pernah saya temui?"

Baskara tidak menjawab. Ia menuangkan bubur yang terlalu kental ke mangkuk, menambahkan suwiran ayam dan daun bawang yang dipotong dengan ukuran tidak seragam, lalu membawanya ke meja.

Ratri duduk bukan karena menurut, melainkan karena ingin menyelesaikan urusan mereka.

Ia meletakkan map biru di samping mangkuk.

"Tanda tangan."

Baskara membuka halaman pertama. "Gugatan cerai."

"Anda masih bisa membaca. Bagus."

"Hurufnya jelek."

Ratri menatapnya. "Itu dicetak komputer."

"Tata letaknya membuat saya tidak nyaman."

"Saya bisa minta staf mengubah margin. Hasil akhirnya tetap cerai."

Baskara membalik halaman demi halaman dengan keseriusan orang yang sedang membaca perjanjian bernilai triliunan. "Tanggalnya juga tidak baik."

"Untuk bercerai harus menunggu hari baik?"

"Untuk menandatangani apa pun, tulisan saya harus bagus. Hari ini tangan saya kaku."

Ratri memandang tangan yang baru mengaduk bubur itu. "Tadi terlihat cukup lentur saat menghancurkan dapur."

Baskara menutup map. "Makan dulu. Kita bicara nanti."

"Tidak ada nanti. Anda hilang selama tiga tahun. Sekarang Anda pulang tanpa penjelasan, membawa pasukan, menekan polisi dengan satu telepon, lalu berpura-pura tidak punya apa-apa. Saya tidak tertarik hidup dengan teka-teki."

"Saya memang tidak punya banyak."

"Berapa banyak?"

"Tidak ada pekerjaan resmi. Tidak ada aset pribadi yang berarti."

Jawaban itu cocok dengan laporan Wira. Di atas kertas, Baskara pulang tanpa jabatan, rekening mencolok, atau properti atas namanya. Seluruh jejak tiga tahun terakhir berhenti di jaringan perusahaan yang tidak bisa ditembus.

Terlalu bersih.

Ratri tidak memercayainya sedetik pun.

"Lalu untuk apa pulang?"

Baskara mendorong mangkuk bubur ke arahnya. "Saya cuma punya nyawa ini. Saya ingin mengembalikannya kepadamu."

Sendok di tangan Ratri berhenti sebelum menyentuh bubur.

Lelaki itu mengatakannya tanpa senyum. Bekas-bekas luka di balik mansetnya terlintas di pikiran Ratri, tetapi ia segera menekan rasa ingin tahu.

"Saya tidak membutuhkan nyawa Anda. Saya membutuhkan tanda tangan."

"Makan tiga sendok, baru saya pertimbangkan."

"Anda sedang menyuap pengacara?"

"Saya sedang menyuapi istri."

Ratri mencicipi satu sendok hanya agar ia berhenti bicara.

Buburnya terlalu asin.

"Bagaimana?" tanya Baskara.

"Bibi Sari."

"Ya, Ndoro Putri?"

"Besok jangan biarkan dia mendekati garam."

Bibi Sari menutup mulut, gagal menyembunyikan tawa.

Baskara justru terlihat puas karena Ratri mengambil sendok kedua.

Saat ia menggulung lengan kemeja untuk membersihkan meja, sebuah jam tua muncul di pergelangan. Bentuknya sederhana, kulit talinya sudah sedikit aus. Namun, Ratri mengenali lambang kecil di bagian pengait. Jam seri terbatas itu pernah dilelang di Jenewa dengan harga yang cukup untuk membeli satu lantai gedung kantornya.

"Katanya tidak punya aset berarti," ujar Ratri.

Baskara melihat jamnya. "Ini barang lama."

"Barang lama senilai puluhan miliar."

"Kalau kau suka, ambil."

"Saya tidak menerima barang dari orang yang belum menandatangani perceraian."

"Berarti saya tidak boleh menandatanganinya. Jam ini harus tetap punya calon pemilik."

Ratri meletakkan sendok.

"Menyebalkan."

"Saya dengar itu."

"Memang untuk didengar."

Wira muncul membawa sebuah tablet. Ia berhenti ketika melihat Baskara masih berada di sana.

"Laporannya," kata Ratri.

"Sekarang?"

"Dia objek penyelidikan. Biar dia mendengar."

Wira menahan senyum, lalu membuka berkas. "Tiga tahun terakhir tidak ada penghasilan resmi atas nama Baskara Adiningrat. Tidak ada rumah, kendaraan, saham, atau rekening aktif yang nilainya menonjol. Catatan perjalanan juga terputus setelah penerbangan keluar Jakarta."

"Lihat?" Baskara mengambil kain lap dari Bibi Sari. "Saya miskin."

Wira mengabaikannya. "Tapi orang-orang yang datang malam itu terlatih. Nomor kendaraan memakai registrasi khusus. Kami mengikuti satu mobil sampai gedung parkir, lalu rekaman lalu lintas di tiga ruas jalan hilang selama sebelas menit."

Ratri menatap Baskara. "Orang miskin yang bisa menghapus kamera kota."

"Mungkin kameranya rusak."

"Sebelas kamera sekaligus?"

"Jakarta sering hujan."

Hari itu matahari bersinar terik.

Wira melanjutkan, "Lelaki bernama Panji juga tidak memiliki riwayat kerja yang bisa diakses, tetapi caranya memanggil Baskara bukan seperti asisten biasa. Para personel bersenjata menerima perintah darinya tanpa bertanya."

Baskara merapikan meja, seolah laporan itu membahas orang lain.

"Ada lagi?" tanya Ratri.

"Satu perusahaan membayar biaya rumah sakit melalui yayasan. Jalurnya berhenti di beberapa perusahaan cangkang. Nama akhirnya tidak terlihat."

Tangan Baskara tidak berhenti, tetapi Ratri menangkap perubahan kecil pada napasnya.

"Empat miliar itu juga?"

"Belum bisa disambungkan."

Ratri bangkit dan mendekati Baskara. "Anda tahu siapa pengirimnya?"

"Tidak."

"Lihat mata saya saat berbohong."

Baskara menatapnya tepat di mata. "Saya tidak tahu nama yang muncul di transaksi itu."

Jawaban yang sangat hati-hati.

Bukan pengingkaran bahwa ia berada di balik uang tersebut.

Ratri semakin yakin lelaki ini sedang bermain dengan potongan kebenaran.

"Terus gali," perintahnya kepada Wira.

"Siap, Nyai."

Baskara meletakkan kain lap. "Kalau kau ingin tahu sesuatu, tanyakan langsung kepada saya."

"Saya sudah bertanya selama tiga tahun."

Sekali lagi, lelaki itu tidak memiliki jawaban.

Pak Ganda muncul di pintu dapur. Pengurus rumah tua itu membungkuk sopan, tetapi wajahnya tegang.

"Maaf mengganggu, Ndoro Putri. Mbak Lia mengirimkan berkas mendesak dari kantor."

Ia menyerahkan amplop tertutup.

Di dalamnya ada daftar pemegang saham minoritas, salinan akta palsu yang berbeda dari dokumen yang disita minggu lalu, dan tangkapan layar beberapa orang yang sedang ditawari uang untuk mengalihkan hak suara.

Pesan Mbak Lia hanya satu baris.

Mereka tidak berhenti. Seseorang sedang mengumpulkan suara untuk mengambil alih Sinar Sentosa.

Ratri menutup amplop.

Baskara sudah tidak tersenyum. "Bimo?"

"Belum tentu dia bekerja sendiri."

Telepon Ratri berbunyi. Nama Mbak Lia muncul di layar.

Begitu panggilan diangkat, suara sekretarisnya terdengar cepat.

"Bu Ratri, mereka mengajukan rapat umum pemegang saham luar biasa. Mereka mau memaksa pemungutan suara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!