⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shen Wuyi [FRAGMEN KETUJUH: SHEN WUYI]
Reruntuhan Xuwu tidak punya sejarah yang tertulis di mana pun.
Orang-orang di Desa Muyun, yang berdiri di tepinya seperti seseorang berdiri di tepi sumur tanpa dasar, punya satu aturan tak tertulis tentang tempat itu: jangan bertanya, jangan menggali, jangan berjalan terlalu jauh ke dalam setelah senja.
Delapan tahun lalu, seseorang melanggar aturan ketiga, dan yang mereka temukan keesokan paginya, tertidur di antara pecahan batu berukir simbol yang tidak dikenal siapa pun, adalah seorang bayi.
Mereka menamainya Shen Wuyi.
Tidak ada yang tahu kenapa nama itu yang dipilih Nenek Ru, wanita tua yang mengambilnya. Saat ditanya, Nenek Ru hanya mengangkat bahu. "Namanya terasa seperti itu," katanya. Tidak ada yang berani bertanya lebih jauh. Orang-orang di dekat Reruntuhan Xuwu belajar untuk tidak selalu menuntut alasan atas segala sesuatu.
Hari ini adalah Hari Uji Akar.
Setiap delapan tahun, anak-anak Desa Muyun yang cukup umur dibariskan di depan sebuah batu utuh yang digali dari Reruntuhan Xuwu satu generasi lalu—satu-satunya benda dari sana yang pernah dianggap cukup aman untuk dibawa keluar. Batu itu, entah bagaimana caranya, bisa membaca akar spiritual seseorang: menunjukkan Dao mana yang paling cocok dengan jiwa mereka, cahaya apa yang akan menyala saat telapak tangan menyentuhnya.
Sembilan anak berdiri dalam antrean. Shen Wuyi berdiri di posisi terakhir, seperti biasa, karena ia tidak pernah berebut posisi apa pun.
Anak pertama menyentuh batu itu. Cahaya biru pudar menyala sebentar—Water Dao, level rendah, cukup untuk jadi murid luar sekte air terdekat.
Anak kedua: cahaya cokelat. Earth Dao.
Begitu seterusnya, satu per satu, cahaya menyala dalam berbagai warna, sebagian terang, sebagian nyaris tak terlihat, tapi semuanya menyala.
Sampai giliran Shen Wuyi.
Ia menyentuh batu itu tanpa ekspresi apa pun—tidak gugup, tidak berharap, hanya melakukan apa yang diminta karena itu yang harus dilakukan hari ini.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada warna. Tidak ada getaran. Tidak ada apa pun.
Batu itu tetap diam, seolah tangan yang menyentuhnya tidak benar-benar ada.
Kerumunan yang tadinya ramai membicarakan hasil anak-anak lain perlahan diam.
"Coba lagi," kata tetua yang memimpin upacara, suaranya sedikit tegang.
Shen Wuyi mengangkat tangan, menyentuh batu itu lagi.
Tidak ada apa pun.
"Mungkin batunya rusak," seseorang berbisik.
"Batu ini sudah dipakai delapan kali sebelumnya, dan tidak pernah ada kesalahan." bisikan lain menjawab.
"Mungkin anak itu tidak punya jiwa," bisikan ketiga, lebih pelan, lebih takut daripada yang lain.
Shen Wuyi mendengar semuanya. Ia tidak membantah. Ia juga tidak sedih. Ia hanya berdiri, tangan masih di atas batu yang tidak bereaksi apa pun terhadapnya, menunggu seseorang memberitahunya apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Tetua itu akhirnya menarik napas panjang. "Turunkan tanganmu, Nak."
Shen Wuyi menurunkan tangannya.
"Kenapa tidak terjadi apapun?" seorang anak lain bertanya, lebih penasaran daripada jahat.
"Aku tidak tahu," Shen Wuyi menjawab.
Itu jawaban yang jujur. Ia selalu menjawab jujur, karena berbohong membutuhkan usaha yang menurutnya tidak sepadan dengan hasilnya.
Setelah upacara berakhir, anak-anak lain berkumpul membicarakan Dao mereka masing-masing dengan bersemangat, membayangkan sekte mana yang akan menerima mereka, teknik apa yang akan mereka pelajari.
Shen Wuyi berjalan sendirian kembali ke gubuk Nenek Ru, melewati tepi Reruntuhan Xuwu tanpa rasa takut yang biasanya dimiliki anak-anak lain saat melewati tempat itu.
Ia berhenti sebentar di sana, memandangi pecahan batu berukir simbol asing yang tersebar di sepanjang tepi reruntuhan—tempat ia pertama kali ditemukan, meski ia sendiri tidak mengingatnya.
Salah satu simbol di batu terdekat berkedip pelan, seperti embun yang memantulkan cahaya bulan, meski tidak ada bulan yang cukup terang malam itu untuk menjelaskannya.
Shen Wuyi memandanginya lama.
Ia tidak merasa takut. Ia juga tidak merasa penasaran, setidaknya tidak dengan cara yang biasanya membuat orang lain bertanya-tanya keras-keras.
Ia hanya duduk di sana, di tepi reruntuhan, menunggu sesuatu—entah apa—tanpa tahu apa yang ia tunggu.
"Kau tidak sedih?"
Nenek Ru duduk di sampingnya beberapa saat kemudian, membawa dua mangkuk bubur hangat, satu untuknya, satu untuk Shen Wuyi.
"Tidak," Shen Wuyi menjawab, menerima mangkuknya.
"Anak-anak lain akan pergi ke sekte-sekte mereka tahun depan. Kau tidak akan bisa ikut."
"Aku tahu."
"Itu tidak membuatmu sedih?"
Shen Wuyi berpikir sejenak, benar-benar berpikir, bukan sekadar menjawab cepat untuk mengakhiri percakapan.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya sedih tentang sesuatu yang tidak pernah kumiliki," ia akhirnya berkata. "Aku tidak punya Dao. Jadi aku tidak kehilangan apa pun hari ini. Aku hanya... tetap seperti kemarin."
Nenek Ru menatapnya lama, campuran kasihan dan sesuatu yang lebih rumit—hampir seperti kekaguman yang tidak berani ia ucapkan.
"Kau memang anak yang aneh," katanya akhirnya, tapi nadanya tidak kejam.
Shen Wuyi berkata, tanpa nada tersinggung sama sekali. "Orang-orang selalu bilang begitu."
Malam itu, Shen Wuyi berbaring di alas tidurnya yang tipis, memandangi atap gubuk yang bocor di satu sudut, membiarkan tetesan air jatuh perlahan ke lantai dengan ritme yang hampir menenangkan.
Ia tidak memikirkan Hari Uji Akar. Ia tidak memikirkan bisikan-bisikan tentang jiwa yang mungkin tidak ia miliki. Ia hanya memikirkan hal-hal kecil—suara air menetes, bentuk retakan di atap, apakah besok akan hujan.
Ia tertidur tanpa kesulitan, seperti biasa.
Dan seperti biasa—meski ia tidak tahu ini "seperti biasa" bagi lima bagian lain dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya, tersebar di lima benua yang tidak pernah ia dengar namanya—tidak ada apa pun yang datang dalam tidurnya malam itu.
Tidak ada suara.
Tidak ada gema.
Tidak ada kalimat yang diucapkan dengan nada santai dari suatu tempat yang jauh, menunggu untuk didengar.
Hanya kegelapan yang biasa, dan tidur yang biasa, dan pagi yang akan datang seperti biasa juga.
Jauh di atas semua langit yang bisa dijangkau siapa pun di Desa Muyun, di dimensi yang bahkan Reruntuhan Xuwu sendiri tidak sanggup memetakannya, Fang Tianyi membuka mata sedikit dari posisi berbaringnya.
Dari enam nyala yang telah ia lepaskan, enam gema kecil sudah terkirim dan diterima, enam jawaban singkat yang membuatnya tersenyum sendirian di kekosongan.
Tapi dari nyala ketujuh—nyala yang sempat berkedip ragu-ragu saat proses pembelahan, yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya yakin telah selesai terbentuk dengan benar—tidak ada apa pun yang kembali.
Bukan penolakan.
Bukan kegagalan.
Hanya keheningan yang terasa berbeda dari keheningan biasa—seperti memanggil ke dalam ruangan yang kau kira kosong, dan menyadari, entah bagaimana, bahwa ruangan itu mungkin tidak benar-benar ruangan sama sekali.
Fang Tianyi memandangi kekosongan di sekitarnya lebih lama daripada biasanya malam itu.
Untuk pertama kalinya sejak ia membelah dirinya menjadi tujuh, ia merasakan sesuatu yang bukan rasa ingin tahu.
Sesuatu yang lebih dekat dengan kewaspadaan.
"Menarik," gumamnya pelan, meski kali ini senyumnya tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya. "Sekali lagi, kau menunjukkan sesuatu yang belum pernah kulihat."
Ia berbaring kembali, tapi tidak sepenuhnya tenang seperti biasanya—dan jauh di bawah sana, di tepi Reruntuhan Xuwu, simbol-simbol asing di antara pecahan batu terus berkedip pelan sepanjang malam, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak seorang pun, bahkan penciptanya sendiri, benar-benar memahaminya.