Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008

Uang Itu Bukan dari Sahabat

Bram menyusul Laras sebelum ia mencapai trotoar.

“Tunggu.”

Laras mempercepat langkah. Tumit sepatunya nyaris tersangkut celah batu ketika Bram menangkap lengannya.

“Lepas. Orang-orang lihat.”

“Biarkan.”

“Aku nggak bisa menerima uangmu.”

“Sudah masuk rekeningmu.”

“Aku transfer balik.”

“Kalau kamu transfer balik, aku kirim lagi.”

Laras berbalik dengan mata basah. “Kamu pikir semua masalah bisa selesai pakai uang?”

“Nggak.” Bram melonggarkan genggaman. “Tapi masalah yang ini memang butuh uang.”

Jawaban itu membuat Laras kehilangan bantahan.

Bram mengambil satu langkah mundur. “Aku nggak minta jawaban soal perasaanku sekarang. Simpan uangnya. Pakai kalau kamu butuh.”

“Aku akan bayar.”

“Terserah.”

Ia membukakan pintu mobil. Laras masuk karena tak punya tenaga untuk berdebat lagi.

Sepanjang perjalanan pulang, mawar merah tergeletak di pangkuannya. Laras tidak membuangnya.

Menjelang malam, Tiara pulang dengan bahu turun dan wajah lelah. Ia langsung menjatuhkan diri di samping Bram yang sedang menonton berita.

“Mas, pijitin pundak aku.”

Tiara mencoba menyandarkan kaki di pangkuan suaminya. Bram berdiri sebelum kaki itu sempat menyentuh.

“Aku habis latihan. Tenagaku sudah habis.”

“Cuma lima menit.”

Bram mengambil sebuah kartu dari laci dan meletakkannya di meja. “Aku sudah beliin paket spa. Dua belas juta. Besok pergi.”

Mata Tiara langsung cerah. “Yang di hotel itu?”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang dari tadi?” Tiara mengambil kartu tersebut dan memotretnya untuk status. “Makasih, Mas.”

Ia mencium pipi Bram singkat, lalu sibuk memilih jadwal perawatan. Bram mengusap bekas lipstik dengan punggung tangan dan menoleh ke arah Laras.

Laras segera masuk ke dapur.

Beberapa menit kemudian, Bram memanggil dari ruang audiovisual yang berada tepat di seberang pintu kamar utama. “Laras, filmnya mulai.”

Tiara masih bertelepon dengan spa. Laras ragu sebelum duduk di kursi pijat sebelah Bram. Lampu ruangan diredupkan. Di layar, sepasang kekasih sedang berlari mengejar kereta.

Bram meraih tangan Laras di antara dua kursi.

Laras langsung menariknya. “Pintunya terbuka.”

“Memang.”

“Tiara bisa lihat.”

“Kalau takut, duduk lebih jauh.”

Laras seharusnya menurut. Namun setelah beberapa detik, tangannya kembali diletakkan di sandaran, cukup dekat hingga jari kelingking mereka bersentuhan.

Sentuhan kecil itu berlangsung sepanjang film.

Ketika adegan di layar berubah menjadi perpisahan, Laras tanpa sadar menahan napas. Kursi pijat di bawah tubuhnya bergerak terlalu kuat. Ia mencari tombol pengatur, tetapi Bram lebih dulu membungkuk dan mengecilkan tekanannya.

“Yang ini?” bisiknya.

“Sedikit lagi.”

Jari Bram menekan tombol. Bahunya hampir menyentuh lutut Laras. Pada saat yang sama, Tiara keluar dari kamar utama.

Laras buru-buru menarik kaki.

“Nonton apa?” Tiara berdiri tepat di ambang pintu.

Bram kembali duduk tanpa tergesa. “Film.”

“Ya gue tahu film.” Tiara melihat adegan laki-laki menangis di layar. “Sejak kapan lo suka beginian?”

“Sejak film aksi isinya sama semua.”

Tiara mendengus. Ia hendak masuk, tetapi ponselnya berbunyi lagi. Pihak spa menelepon untuk mengonfirmasi jadwal.

“Gue tidur duluan, ya, Ras. Besok berangkat pagi.”

“Iya. Selamat tidur.”

Tiara melambaikan tangan dan kembali ke kamar.

Pintunya menutup tepat di depan pandangan Laras. Kamar istri Bram hanya berjarak beberapa langkah, sementara jari laki-laki itu kembali menyentuh tangannya.

“Kamu sengaja pilih tempat duduk yang kelihatan dari sana?” Laras berbisik.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Biar kamu berhenti mengira aku malu duduk dekat kamu.”

“Ini bukan soal malu. Ini soal salah.”

Bram memandang layar. “Aku tahu bedanya.”

Namun ia tidak menarik tangannya.

Malam semakin larut. Tiara tertidur lebih dulu. Laras duduk di meja makan sendirian dengan aplikasi m-banking terbuka. Saldo baru itu tampak seperti angka milik orang lain.

Rp200.000.000.

Menggunakan uang Bram untuk menutup kebutuhan keluarga Wahyu terasa salah. Menyimpannya juga terasa salah. Mengembalikan semuanya akan membuat ibu Wahyu kehilangan tindakan yang dibutuhkan, sementara Bram pasti mengirim lagi seperti ancamannya.

Laras memasukkan nomor rekening Wahyu.

Nominal yang diketiknya tepat Rp100.000.000.

Ia memeriksa nama penerima tiga kali, membaca ulang angka nol, lalu menekan konfirmasi. Notifikasi berhasil muncul. Saldo Laras masih menyisakan seratus juta rupiah.

Tangannya tetap gemetar, tetapi bukan hanya karena takut.

Untuk pertama kalinya, ia memiliki cukup uang untuk berhenti memikirkan harga setiap tarikan napas.

Toh cuma uang, pikirnya getir. Selama ini ia menyerahkan hidupnya sedikit demi sedikit demi uang. Sekarang uang justru memberinya kesempatan mengambil hidup itu kembali.

Ponselnya berdering. Wahyu.

“Uangnya masuk?” Laras bertanya.

“Masuk.” Suara Wahyu penuh kelegaan. “Ya Allah, Dik, seratus juta. Terima kasih. Bilang terima kasih juga ke temanmu.”

Laras terdiam.

“Tiara baik banget mau bantu sebanyak ini,” lanjut Wahyu. “Aku janji bakal ganti ke dia.”

Kebohongan tersedia begitu saja. Laras hanya perlu mengiyakan.

“Mas, uang itu bukan...”

Pintu kamar Bram terbuka di ujung lorong. Laki-laki itu keluar, menatap Laras yang memegang ponsel.

Laras menelan sisa kalimatnya. “Sudah. Urus Ibu dulu.”

“Iya. Terima kasih, Dik.”

Panggilan berakhir.

Bram duduk di seberangnya. “Sudah dikirim?”

“Seratus juta.”

“Kenapa cuma setengah?”

“Karena dia mintanya seratus.” Laras mengunci layar. “Sisanya akan aku kembalikan.”

“Pakai buat hidup di Jakarta.”

“Aku belum bilang mau tinggal.”

“Tapi kamu mau.”

Laras memandang bunga mawar yang kini diletakkan dalam gelas berisi air. Kelopaknya mulai terbuka.

“Bu Ratna punya pekerjaan terjemahan buat aku,” katanya pelan. “Mungkin aku bisa mulai lagi.”

“Mulai.”

“Nggak segampang itu.”

“Kamu punya uang, tangan, dan kemampuan. Bagian mana yang kurang?”

Laras menatapnya. “Keberanian.”

Bram mencondongkan badan. “Ambil dari aku.”

Keesokan paginya, Laras bangun sebelum semua orang. Ia membuat nasi, telur gulung, dan ayam untuk bekal. Di atas telur milik Bram, ia menggambar wajah tersenyum dengan saus tomat.

Bram berdiri di belakangnya sambil memperhatikan.

“Lucu?” Laras bertanya.

“Aku akan bilang ke teman-teman, istriku yang masak.”

Sendok di tangan Laras berhenti. “Jangan sembarangan.”

“Mereka nggak kenal Tiara.”

“Tetap saja aku bukan istrimu.”

Bram mengambil kotak bekal dan menutupnya. “Belum.”

Satu kata itu membuat Laras kehilangan suara sampai mereka masuk mobil.

Bram mengantar Laras ke gerbang Universitas Indonesia. Matahari pagi menembus pepohonan kampus yang dulu begitu akrab baginya. Mahasiswa berjalan membawa buku dan kopi. Tak seorang pun mengenal Laras sebagai istri yang gagal atau menantu yang selalu kekurangan uang.

Sebelum turun, Bram menyentuh punggung tangannya. “Telepon kalau selesai.”

Laras mengangguk.

Ia berdiri di depan gerbang UI dan menarik napas panjang. Usianya belum habis. Ia masih punya tangan, kemampuan, dan sesuatu yang semalam belum ia miliki.

Di balik gerbang itu ada dunia yang pernah mengenalnya sebagai Larasati, mahasiswa penerima beasiswa yang tidak takut menginginkan masa depan.

Keberanian untuk memilih hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!