Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Dorr.

Suara letusan pistol rakitan itu memecah kesunyian sore di halaman rumah Bayu.

Kepulan asap tipis langsung mengepul dari ujung laras pistol yang dipegang erat oleh Leo.

Bayu merasakan desingan angin panas melintas sangat dekat di samping telinga kanannya.

Bzzzt. Peluru itu menembus dinding kayu lapuk di belakang Bayu dan meninggalkan lubang hitam yang cukup besar.

"Sial, hampir saja kepalaku bolong," batin Bayu dengan jantung yang berdegup kencang seperti mau copot.

Ia tidak punya pilihan lain selain mengambil risiko terbesar dalam hidupnya saat ini.

"Batu Waktu, hentikan waktu sekarang juga," teriak Bayu dalam hatinya dengan sisa tenaga yang sangat tipis.

Wusss.

Seluruh pergerakan di dunia mendadak membeku secara mutlak tanpa suara.

[Jeda Waktu diaktifkan.]

[Energi Waktu: 1/10]

[Peringatan Darurat: Cadangan energi hampir habis. Risiko pingsan permanen atau kerusakan saraf sensorik!]

Bayu melihat proyektil timah panas itu melayang pelan di udara, hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya.

Ia menatap peluru yang berhenti itu dengan napas terengah-engah dan pandangan mata yang mulai kabur.

Kepalanya terasa dihantam palu godam yang berat, membuat kesadarannya berangsur-angsur mulai menipis.

"Aku tidak boleh pingsan sekarang, kalau aku pingsan di sini, Leo pasti akan benar-benar menghabisiku," keluh Bayu kesakitan sambil memegangi pelipisnya.

Ia melangkah gontai ke samping untuk keluar dari jalur lintasan peluru maut tersebut.

Setiap langkah kakinya terasa seperti menyeret beban berton-ton karena entropi yang menolak pergerakannya.

Darah segar tiba-tiba menetes keluar dari hidung Bayu membasahi kerah kaus bagian depannya.

"Ugh... sial, efek sampingnya benar-benar di luar dugaan," gerutu Bayu menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.

Ia menatap layar sistem biru transparan yang kini berkedip-kedip dengan warna merah menyala.

[Energi Waktu mencapai batas kritis: 0/10]

[Sistem mendeteksi ancaman kematian fisik yang ekstrem.]

[Memicu proses darurat: Membuka skill pasif sekunder, Putar Balik waktu.]

Seketika itu juga, dunia yang tadinya membeku mendadak berputar arah mundur dengan sangat cepat.

Segala kejadian berulang ke belakang layaknya pita kaset yang diputar terbalik dalam kecepatan tinggi.

Suara desingan peluru berputar masuk kembali ke dalam laras pistol rakitan di tangan Leo.

Tubuh Bayu terseret mundur secara otomatis tanpa bisa ia kendalikan ke posisi asalnya bersandar di tiang.

Darah di hidungnya terserap kembali, dan rasa sakit di kepalanya menguap dalam sekejap mata.

"Ada apa ini, kenapa semuanya berputar mundur?" batin Bayu kaget luar biasa.

[Skill Putar Balik berhasil diaktifkan secara paksa.]

[Waktu dikembalikan ke lima detik sebelum tembakan dilepaskan.]

Brum.

Suara mesin motor preman masih terdengar berdengung di ujung gang.

Leo yang tadinya berdiri santai kini baru saja mengangkat tangan kanannya untuk mencabut pistol dari balik jaketnya.

"Jin atau bukan, tidak ada makhluk yang bisa selamat dari timah panas," ucap Leo dengan kalimat yang persis sama seperti sebelumnya.

Bayu terbelalak kendaran menyadari bahwa waktu benar-benar telah diputar ulang ke masa lalu.

"Jadi ini kemampuan kedua dari Batu Waktu, memutar balik kejadian nyata beberapa detik ke belakang," simpul Bayu cepat.

Ia tidak akan membuang kesempatan emas kedua yang diberikan oleh sistem misterius ini.

Sebelum Leo sempat menarik keluar pistolnya dari balik jaket, Bayu sudah lebih dulu melangkah maju.

"Bang Leo sepertinya lupa cara berhitung matematika dasar waktu sekolah," sindir Bayu dengan nada tajam.

"Anak buahmu yang lima orang itu saja sudah pingsan duluan, kenapa kamu malah mau ikut menyusul tidur di rumput?"

Leo menghentikan gerakannya sesaat, matanya melotot menatap ke arah lima anak buahnya yang sudah terkapar di tanah.

Ia baru sadar kalau seluruh preman andalannya itu sudah tumbang tak berdaya dalam waktu yang sangat singkat.

"Kapan anak-anak itu tumbang, aku bahkan tidak melihatmu bergerak sama sekali," gumam Leo gemetar ketakutan.

Riko yang berada di belakangnya sudah terduduk lemas di tanah sambil memeluk kedua lututnya sendiri.

"Sudah kubilang Bos, anak ini bukan manusia biasa, dia jurusannya ilmu hitam tingkat tinggi," jerit Riko histeris.

Leo menelan ludah kasarnya, keringat dingin mengalir deras membasahi kening dan leher pria berbadan kurus itu.

Insting bertahan hidupnya berteriak kencang menyuruhnya untuk segera kabur dari tempat angker ini.

"Sialan, kita urus urusan ini lain kali bocah keparat," maki Leo sambil melangkah mundur perlahan menuju mobil sedannya.

Ia membanting pintu mobil bagian pengemudi dengan kasar dan langsung menyalakan mesinnya.

"Cepat naik ke motor bodoh, kita tinggalkan tempat ini sekarang," teriak Leo pada Riko dari dalam mobil.

Riko yang panik setengah mati langsung merangkak bangun dan membonceng motor rekannya terbirit-birit.

Kedua motor preman dan mobil sedan hitam itu langsung tancap gas kabur meninggalkan debu tebal di jalanan.

Bayu menghela napas panjang melihat iring-iringan preman itu kabur terbirit-birit dari halaman rumahnya.

"Syukurlah gertakan tadi berhasil, energiku benar-benar sudah habis total," keluh Bayu memegang dadanya.

Bruk.

Tubuh Bayu akhirnya ambruk jatuh bersimpuh di atas tanah lantaran staminanya terkuras habis tanpa sisa.

Kesadarannya perlahan-lahan mulai menggelap, membawanya ke dalam keheningan tidur yang sangat lelap.

Tidak jauh dari pekarangan rumah itu, terlihat sesosok gadis berambut sebahu berjalan mendekat membawa payung lipat.

Anya menyipitkan matanya melihat sesosok tubuh pemuda tergeletak di halaman rumah tua yang berantakan.

"Bayu, apa yang sebenarnya terjadi padanya?" gumam Anya kaget sambil berlari kecil menghampiri.

Anya berlutut di samping tubuh Bayu yang tidak sadarkan diri dan memeriksa denyut nadinya.

"Badannya panas sekali, dan ada bau aneh seperti sengatan listrik di sekitar sini," amati Anya dengan kecerdasannya.

Ia mencoba menepuk pelan pipi Bayu untuk membangunkan pemuda yang pingsan itu.

"Bangun, jangan membuatku repot di tempat sepi seperti ini," kata Anya sedikit panik.

Bayu tidak memberikan respons apa pun, napasnya terdengar teratur menandakan ia benar-benar tertidur pulas karena kelelahan.

Anya menghela napas pasrah lalu mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya untuk mencari bantuan medis darurat.

"Dasar pemuda misterius, baru juga kemarin sore kita ngobrol di kedai," gerutu Anya sambil mengetik nomor telepon.

"Kenapa sekarang kamu sudah terkapar mengenaskan seperti gelandangan di depan rumah sendiri."

Suara jangkrik malam mulai berderik pelan menggantikan hiruk-pikuk keributan preman geng Cobra tadi sore.

Suasana kembali sunyi senyap seiring dengan malam yang semakin larut menyelimuti desa kecil tersebut.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!