"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18. DSKKR
(Di Rumah Ibu Maya)
Keheningan melingkupi ruang tengah rumah Ibu. Cahaya siang yang hangat menelusup dari sela-sela gorden, menyinari permukaan meja kayu tempat berjejernya lembaran kertas sketsa dan pensil gambar.
Setelah memastikan ketiga anak-anaknya asyik bermain di pekarangan belakang, Maya duduk menyendiri. Jari-jemarinya yang halus membelai ujung pensil. Sudah bertahun-tahun jemari itu hanya disibukkan oleh urusan piring kotor, baju cucian, dan botol susu anak-anak. Dulu, sebelum mengenal Fandi, Maya adalah sosok desainer muda berbakat yang imajinasinya tak terbatas di atas cat air dan kain sutra.
"Sudah lama gak megang pensil ini ya, May?" gumam Maya pelan pada dirinya sendiri.
"Iya bu, rasanya seperti matahari di tengah awan mendung bu.."
"Iya ibu mengerti may, semoga apapun yang sedang kamu usahakan sekarang ini ya di lancarkan ya may.. ibu hanya bisa mendukung dan mendoakan kamu.."
"Iya ibuu... Terima kasih yaa.. doa ibu sangat berharga untuk maya.."
"Ya sudah ibu mau awasi cucu-cucu ibu ya.. kamu situ yang fokus.."
"Iya bu.."
Maya memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Beban rasa bersalah, cemoohan mantan mertua, dan bayangan Fandi yang selama ini menyumbat kreativitasnya perlahan meluruh. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang kini siap diisi dengan warna-warna baru.
Begitu matanya terbuka, tangannya mulai menari di atas kertas putih.
Garis demi garis terbentuk dengan luwes. Sebuah rancangan busana outerwear modern berpotongan asimetris meliuk indah di kertas sketsa. Elegan, tajam, tapi tetap memancarkan kelembutan wanita yang telah melewati badai. Insting estetikanya yang selama ini tertidur lelap mendadak bangkit, membanjiri kepalanya dengan ide-ide liar yang segar.
Setengah jam kemudian,
Ibu melangkah mendekat dari dapur membawakan piring berisi potongan buah segar. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap goresan pensil di meja.
"Ya Allah, May..." bisik Ibu terperanjat pelan, matanya berbinar haru. "Bagus banget... Ini gambar buatan kamu sendiri?"
Maya mendongak, menyunggingkan senyuman tulus yang sudah lama tak terukir di wajahnya. "Iya, Bu. Tiba-tiba kepala Maya berasa plong banget. Ide-ide rancangan baju yang dulu sempat mati mendadak keluar semua."
Ibu duduk di kursi samping Maya, mengusap punggung tangannya lembut. "Goresan tangan kamu gak pernah bohong, May. Jiwa seni kamu dari dulu ada di sini, cuma kemarin sempat tertutup sama orang yang gak tahu cara menghargainya."
Kata-kata Ibu bagai oase di tengah gurun. Maya menatap sketsa itu sekali lagi, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia melihat binar impian dan potensi dirinya sendiri bukan lagi sebagai seorang istri yang meratapi nasib, melainkan sebagai seorang wanita berdaya yang siap merebut kembali takdirnya.
DI saat yang sama, bawahan nya karin menelpon.
"Halo rin? Ada apa?"
"Halo mba may, aku cuma mau kasih tau mba, kalau aku sudah kirimkan design dari tim lain ya mba"
"Oh ya? Ya sudah, nanti coba aku lihat.."
Telpon pun di tutup, Dan aku melanjutkan pekerjaan ku.
***
Sementara itu, di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan.
Fandi duduk dengan wajah kusam di sudut ruangan, menghadap seorang pria berkacamata yang merupakan kenalan lamanya sesama fotografer. Di meja mereka, tergeletak beberapa lembar portofolio hasil foto terbaru Fandi.
"Gimana, Bro?" tanya Fandi memajukan badannya dengan raut berharap. "Lu ada project yang bisa dilempar ke gue gak? Konsep apa aja gue siap pegang."
Temannya itu menghela napas panjang, merapikan lembaran portofolio Fandi lalu menggesernya kembali.
"Jujur ya, Ndi... gue ngomong sebagai teman," ujar pria itu pelan. "Foto-foto lu belakangan ini garing banget. Tone warnanya membosankan, pose modelnya kaku, gak ada 'jiwa'-nya sama sekali. Beda banget sama karya-karya lu dua tahun lalu waktu lu masih sering menang award."
Fandi mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya merapat menahan malu. "Gue cuma butuh project, Bro. Studio gue mau disita kalau akhir bulan ini gak bisa bayar sewa."
Temannya menggeleng prihatin. "Problem lu bukan di studio, Ndi, tapi di naluri seni lu. Dulu foto-foto lu bernyawa karena ada Maya yang ngatur konsep, wardrobe, sampai lighting-nya. Sekarang semenjak lu jalan sama si Siska itu... maaf ya, karya lu kelihatan murah."
Fandi bungkam. Setiap kata yang keluar dari mulut temannya bagai tamparan keras yang meretakkan egonya.
Pria itu berdiri, menepuk bahu Fandi pelan. "Mending lu benahin dulu kepala lu, Ndi. Kalau lu terus-terusan maksain gaya hidup mahal bareng Siska tapi karya lu anjlok kayak gini, nama lu bakal habis di industri ini."
Pria itu melangkah pergi meninggalkan Fandi yang mematung sendirian di meja.
Fandi mencengkeram cangkir kopinya hingga jemarinya memutih. Rasa frustrasi menyelimuti dadanya. Dia memikirkan ucapan semua orang: Pak Budi, klien-kliennya, hingga temannya sendiri. Semuanya mengucapkan hal yang sama.
"Yang tidak bisa menilai karya ku itu adalah sampah. Jelas-jelas semua jepretan ku memiliki seni tinggi. Mereka ini gimana sih"Ucap Fandi kesal.
Bersambung..