Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Di Balik Senyum Sang Konglomerat
Pria tua berjas mahal itu tersenyum hangat, memandang kedatangan Narendra dan Cassandra dengan sorot mata yang teduh. Namun, ketenangan di wajahnya justru membuat suasana di meja nomor sembilan terasa sangat mencengkeram.
"Duduklah, Narendra, Cassandra," sapa pria tua itu dengan suara berat yang karismatik. "Sudah lama Kakek tidak melihatmu serapi ini, Narendra."
Narendra tak langsung duduk, melainkan menarik kursi kayu berukir itu untuk Cassandra terlebih dahulu. Tatapan mata cowok itu mengeras, mengunci pandangan kakeknya tanpa sedikit pun rasa hormat yang tersisa.
"Apa maksud dari semua pesan ini, Kakek Subroto?" tanya Narendra tanpa basa-basi seraya mendudukkan dirinya di samping Cassandra.
Kakek Subroto meletakkan cangkir teh porselennya dengan sangat perlahan ke atas tatakan. Ia terkekeh pelan, seolah pertanyaan tajam dari cucunya hanyalah gurauan anak SMA biasa.
"Kalian berdua bertindak sangat luar biasa beberapa hari ini," puji Kakek Subroto seraya menatap Cassandra. "Memusnahkan Baskoro yang serakah dan Hermawan yang amat licik dalam satu malam."
Cassandra mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba meredam emosi yang bergejolak di dadanya. "Anda memanfaat kami. Anda sengaja membiarkan kami terjebak dalam bahaya malam itu!"
"Bukan memanfaatkan, Cassandra, melainkan menguji," ralat Kakek Subroto dengan senyum misterius. "Kakek butuh bukti apakah cucu Kakek dan putri dari mantan mitra Kakek cukup tangguh untuk memegang aset keluarga ini."
Ia merogoh saku jasnya, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat tebal persis di tengah meja. Di dalamnya terlihat sudut kertas sertifikat tanah tua milik almarhum ayah Cassandra.
"Sertifikat ini adalah milik ayahmu, Cassandra," lanjut Kakek Subroto pelan. "Kakek menyimpannya selama sepuluh tahun untuk melindunginya dari jangkauan Baskoro yang ingin menjualnya secara ilegal."
Cassandra menatap amplop itu dengan napas tersendat. Rasa benci dan kebingungan beradu sengit di dalam kepalanya, berusaha mencerna kejujuran dari pria tua berkharisma di hadapannya.
Narendra langsung menepis amplop cokelat itu menjauh dari jangkauan tangan Cassandra. "Jangan sentuh, Cas. Kakek enggak pernah memberikan sesuatu secara cuma-cuma tanpa imbalan."
Kakek Subroto tersenyum makin lebar, menyetujui ucapan cucunya dengan anggukan kepala. "Cerdas seperti biasa, Narendra."
Ia menyandarkan punggungnya pada kursi mewah tersebut, menatap kedua remaja itu secara bergantian.
"Imbalannya sangat sederhana. Kakek ingin kalian berdua menyatu dalam jajaran pengurus yayasan SMA Garuda dan mengelola seluruh sistem keamanan digital perusahaan Kakek."
"Kami cuma anak SMA biasa, Kakek!" potong Narendra tegas. "Kami bukan pion bisnis Kakek berikutnya!"
"Kalian bukan anak SMA biasa sejak kalian meretas server pasar gelap itu, Narendra," balas Kakek Subroto dingin.
"Pilihan ada di tangan kalian. Terima penawaranku atau sertifikat tanah ini hangus bersama kenangan ayahmu, Cassandra."
***
Keesokan Harinya.
Suasana kantin SMA Garuda siang itu tampak begitu ramai oleh gelak tawa para murid. Aroma bakso kuah dan es teh manis memenuhi udara, menciptakan ketenangan khas anak sekolah setelah melalui ujian semester.
Cassandra dan Narendra duduk di meja kantin sudut dekat pohon mangga. Di meja mereka menumpuk dua mangkuk bakso urat, sebotol jus jeruk, dan beberapa buku pelajaran matematika yang terbuka acak.
"Lu beneran enggak bisa ngerjain soal nomor lima ini, Ren?" tanya Cassandra seraya mengetuk pulpennya di atas kertas.
Narendra terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di atas meja sambil menatap wajah Cassandra dari samping. "Otak gue cuma bisa baca kode enkripsi rumit, Cas. Kalau soal aljabar kelas dua SMA gini... jujur gue pasrah."
"Gaya lu sok-sokan jadi peretas andal, giliran aljabar malah nyerah!" cibir Cassandra seraya menepok pelan bahu Narendra.
Momen sederhana itu membuat gelak tawa kecil pecah di antara mereka berdua. Untuk sejenak, ancaman Kakek Subroto dan rahasia sertifikat tanah seolah menguap tertutup oleh keceriaan masa remaja yang sempat hilang dari hidup mereka.
Narendra meraih es teh manisnya, lalu menyerahkan satu tusuk bakso pada Cassandra. "Habis ini kita mau kemana? Gue traktir es krim di depan gerbang."
"Boleh, tapi lu yang bayar ya!" sahut Cassandra dengan senyum cerah.
Namun, kedamaian di kantin sekolah itu mendadak terganggu ketika ponsel Narendra di atas meja bergetar keras. Sebuah panggilan video tanpa nama masuk kembali secara paksa.
Narendra menggeser tombol hijau, menampilkan layar panggilan tersebut di depan mereka berdua.
Layar ponsel itu bukannya menampilkan wajah Kakek Subroto, melainkan sebuah rekaman siaran langsung dari dalam ruang kelas Cassandra sendiri.
Di dalam rekaman video tersebut, terlihat sosok seorang siswa berjaket hitam sedang memasukkan sebuah benda mencurigakan berbentuk kotak kecil berpendar merah ke dalam tas sekolah Cassandra.
Siswa berjaket hitam di dalam video itu memutar badannya menatap layar kamera, melepaskan kupluk jaketnya perlahan.
Cassandra menutup mulutnya kaget, sementara Narendra langsung bangkit berdiri dari kursi kantin.
Siswa yang menanam bahan peledak di dalam tas Cassandra... adalah teman sebangku Cassandra sendiri, cewek polos yang selama ini selalu menjadi tempatnya berbagi cerita di kelas.