Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 26
Pak Heru meletakkan ijazah Zivana dengan raut ragu. "Mbak Zivana ini lulusan Sarjana Manajemen... tapi kenapa melamar jadi OB di sini? Pekerjaan ini cuma bersihkan ruangan, cuci piring bos, angkat barang, dan menyapu toilet. Apa tidak salah lamaran?"
"Tidak salah, Pak," jawab Zivana jujur tanpa ragu sedikit pun.
"Saya sangat butuh pekerjaan ini untuk menyambung hidup."
Pak Heru mendecih pelan, menyandarkan punggungnya. "Mbak, orang berpendidikan tinggi biasanya cuma bertahan seminggu di posisi ini. Begitu kena tegur atasan atau disuruh-suruh staf biasa, langsung kena mental lalu kabur. Kami butuh orang yang tahan banting, bukan yang cuma pelarian sementara."
Atmosfer ruangan terasa menekan. Namun alih-alih ciut atau tersinggung, mata Zivana justru memancarkan ketegaran yang luar biasa.
"Pak Heru," potong Zivana penuh penekanan, suaranya jernih dan mantap.
"Saya mungkin berpendidikan, tapi saya tidak punya gengsi. Hidup sudah menempal saya dengan krisis yang jauh lebih keras daripada sekadar menyapu lantai atau menerima teguran orang."
Zivana menatap lurus mata Pak Heru.
"Saya jamin, saya akan datang paling pagi, membersihkan setiap sudut ruangan tanpa cela, dan menjalankan semua tugas operasional dengan disiplin tinggi. Jika Bapak mencari orang yang hanya bekerja asal-asalan, itu bukan saya. Tapi jika Bapak butuh pekerja yang jujur, cekatan, dan tahan banting, saya siap dinilai dari hasil kerja saya."
Hening menguasai ruangan selama beberapa detik. Pak Heru memperhatikan ketegasan di raut wajah Zivana, tak ada kesombongan, hanya ada kesungguhan yang murni.
Pak Heru perlahan menutup map lamaran itu, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh rasa hormat.
"Bagus. Sorot matamu tidak bohong, Mbak," ucap Pak Heru pelan.
"Dunia kerja butuh orang yang mau merendah untuk bangkit. Saya pegang janjimu."
Pak Heru mengulurkan tangannya melintasi meja. "Selamat bergabung. Ambil seragammu di bagian logistik, masa percobaanmu dimulai besok pagi jam enam."
Zivana tertegun. Senyum haru dan rasa lega yang luar biasa perlahan terukir di wajahnya saat ia membalas genggaman tangan calon atasannya itu. Ia keluar dari gedung dengan langkah mantap, siap menata kembali puing-puing hidupnya dari tingkatan paling bawah, demi kehormatan dan kebebasan jiwanya sendiri.
Begitu resmi diterima, Zivana langsung ditempatkan di lantai sepuluh, zona paling eksklusif dan paling ditakuti oleh seluruh karyawan PT Mahardika Group. Lantai khusus pimpinan ini terkenal dengan standar operasional yang sangat ketat, dikuasai oleh seorang Direktur Utama muda bernama Melvin Baskara Mahardika, yang dikenal sangat perfeksionis, dingin, kejam dalam menilai kesalahan, dan tidak menoleransi sedikit pun kelalaian sekecil debu.
Pagi itu, hari pertama Zivana bertugas. Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB. Mengenakan seragam Office Girl berwarna biru muda dengan rambut yang dicepol rapi tanpa sehelai pun lepas, Zivana melangkah keluar dari lift khusus. Udara di lantai sepuluh terasa begitu menekan, hening, dingin, dan beraroma kayu jati mewah.
Di ujung koridor, berdiri seorang pria paruh baya berjas rapi, Pak Hendra, kepala pengawas lantai pimpinan dengan wajah kaku.
"Kamu OB baru itu?" tanya Pak Hendra tanpa senyum.
"Dengar baik-baik, Zivana. Lantai ini bukan tempat main-main. Di sini ada Bapak Melvin, CEO kita. Beliau orangnya sangat perfeksionis. Kalau beliau lihat ada satu sidik jari saja di kaca jendela, atau sudut ruangan berdebu, kamu langsung didepak hari ini juga. Paham?"
"Paham, Pak," jawab Zivana tenang, mempertahankan postur tubuhnya yang tegak tanpa menunjukkan rasa gentar.
"Bagus. Ruang kerja utama Pak Melvin di ujung koridor. Pastikan steril sebelum beliau datang jam tujuh."
Zivana mendorong troli pembersihnya dengan langkah pasti. Sesampainya di depan pintu kayu jati besar, ia mengetuk pelan sebelum masuk.
Ruangan itu sangat luas, didominasi warna monokrom elegan dengan jendela kaca raksasa yang langsung menghadap ke langit kota Yogyakarta. Zivana langsung bekerja dengan efisiensi tinggi. Ia membersihkan setiap inci meja kerja, merapikan tumpukan dokumen tanpa sedikit pun mengubah urutan prioritasnya, hingga menyeka kaca jendela hingga berkilau tanpa noda.
Tepat pukul 06.55 WIB, suara langkah kaki tegas terdengar mendekat dari koridor luar.
Ceklek.
Pintu terbuka lebar. Sosok Melvin melangkah masuk. Pria muda berusia awal tiga puluhan itu mengenakan setelan jas hitam pas badan dengan dasi senada. Wajahnya tampan namun memancarkan aura es yang membekukan, dingin, tajam, dan tanpa ekspresi. Melvin melempar tas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah menuju meja kerjanya.
Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Sepasang mata tajam Melvin menyipit dingin. Ia melihat sosok wanita berseragam Office Girl berdiri tegak di dekat rak buku dengan troli pembersih, memandangnya tanpa rasa takut.
Melvin melangkah mendekati meja kerjanya. Pria itu menyentuh permukaan meja dengan ujung jarinya, lalu memeriksa tumpukan dokumen yang tertata rapi di sisinya.
"Siapa yang menyuruhmu merapikan dokumen di meja saya?" suara Melvin meluncur berat, rendah, dan menusuk dingin tanpa ampun.
Zivana menunduk hormat sejenak, lalu menjawab dengan suara jernih dan tenang.
"Saya, Pak Melvin. Maaf jika saya lancang. Tapi saya melihat tumpukan laporan riset pasar dan kontrak investor itu sedikit berantakan. Saya menyusunnya berdasarkan tingkat urgensi dan tenggat waktu agar memudahkan Bapak membaca pagi ini."
Melvin berbalik. Tatapan mata tajam bagai elang itu menembus tepat ke mata Zivana. Alih-alih terpesona atau melunak, rahang Melvin justru mengeras.
"Siapa nama kamu?" tanya Melvin dingin.
"Zivana, Pak."
"Dengar, Zivana," desis Melvin tajam, melangkah mendekat perlahan dengan aura intimidasi yang kuat.
"Di ruangan ini, tugasmu hanya membersihkan debu, mengepel lantai, dan membuang sampah. Kamu tidak dibayar untuk berpikir, dan pasti tidak dibayar untuk menyentuh dokumen privasi saya. Mengerti?!"
Atmosfer ruangan mendadak membeku. Tekanan udara di sekitar Melvin terasa begitu mencekam.
Namun, alih-alih ciut atau menunduk ketakutan seperti pegawai lain yang sering menangis di hadapannya, Zivana justru mengangkat dagunya perlahan. Ia menatap lurus mata dingin sang CEO muda tanpa keraguan sedikit pun.
"Saya mengerti aturan perusahaan, Pak Melvin," jawab Zivana mantap, suaranya sama sekali tidak bergetar.
"Tapi saya juga tahu bahwa efisiensi dimulai dari kerapian data. Jika Bapak menganggap inisiatif saya sebuah pelanggaran, saya minta maaf. Tapi saya pastikan, kebersihan dan ketepatan kerja saya di lantai ini tidak akan pernah mengecewakan."
Melvin tertegun sepersekian detik. Pria muda itu belum pernah mendapati seorang petugas kebersihan atau bahkan staf manajerial sekalipun yang berani menatap matanya dan membalas argumennya dengan ketenangan setinggi itu.
Sudut bibir Melvin terangkat sebelah, membentuk senyuman sinis yang dingin.
"Berani juga lidahmu, Office Girl," geram Melvin pelan.
"Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di lantai saya dengan mulut lancangmu itu. Sekarang, keluar dari ruangan saya."
Zivana sedikit membungkuk hormat, lalu mendorong trolinya berjalan keluar dengan langkah anggun dan kepala tegak. Di balik punggungnya, Melvin berdiri mematung di depan meja kerjanya, menatap pintu yang tertutup rapat dengan mata menyipit, menyimpan rasa penasaran asing terhadap wanita asing berseragam biru muda yang baru saja menantang dinginnya otoritas seorang Melvin Baskara.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣