Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdamai
“BERHENTI!”
Suara tegas itu membuat semua anak yang sejak tadi mengerumuni mereka langsung terdiam. Mira melepaskan rambut Keysha. Begitu juga dengan anak laki-laki yang sejak tadi ikut mendorongnya.
Guru yang berdiri beberapa langkah dari mereka berjalan mendekat. Tatapannya berpindah dari Keysha kepada Mira, lalu kepada anak laki-laki yang masih berdiri di samping mereka.
“Siapa yang memulai?”
Tidak ada yang menjawab. Mira hanya berdiri dengan rambut berantakan. Napasnya masih terengah-engah. Tangannya menggenggam tali tas dengan erat.
Sementara Keysha langsung menunjuk ke arah Mira. “Dia, Bu!”
Mira menoleh. “Aku enggak mulai duluan.”
Keysha kembali menyela. “Dia yang narik rambutku!”
Mira menggeleng. “Karena kamu duluan yang narik rambutku.”
“Bohong!”
“Enggak bohong!”
Suara mereka kembali meninggi memenuhi lorong kelas, Ibu guru langsung menghentikan perdebatan itu.
Sudah! Kalian bertiga ikut Ibu ke ruang guru.”
“Iya, Bu.”
Mira lagi-lagi menundukkan kepalanya, gadis kecil itu, berusaha untuk tenang meskipun perasaannya campur aduk, bukan karena takut atas kejadian ini, tapi teringan akan ucapan ibunya yang selalu menyuruhnya untuk berhati-hati.
Mereka berjalan menuju ruang guru dengan langkah yang berbeda-beda. Keysha terlihat kesal. Anak laki-laki itu hanya diam. Sementara Mira berjalan paling belakang.
Sesekali tangannya merapikan rambut yang berantakan. Namun langkahnya berhenti sebentar ketika ia melihat kedua kakinya. Sepatu bekas pemberian Shasa masih melekat di sana. Sepatu yang pagi tadi membuatnya begitu bahagia. Sekarang entah kenapa benda itu justru membuat hatinya terasa sedikit sedih.
Sesampainya di ruang guru, mereka berdiri di hadapan Ibu Sinta. Guru Bahasa Indonesia itu memandang mereka satu per satu.
“Sekarang Ibu mau dengar semuanya. Jangan ada yang berbohong.”
Keysha langsung angkat bicara. “Bu, tadi Mira marah karena kami bilang sepatunya bekas.”
Mira menatapnya. “Tapi kamu juga bilang aku anak miskin.”
Suasana mendadak hening Keysha dan anak laki-laki itu tidak berani bersuara. Sementara Ibu Sinta menghela napas berat, mendengar semua keterangan satu persatu dari murid-muridnya itu.
“Benar?”
Keysha hanya menundukkan kepala, anak itu seolah tidak berani setelah Mira berani mengungkap kebenarannya.
Ibu Sinta kemudian menatap anak laki-laki di sebelahnya. “Kamu juga ikut mengejek?”
Anak itu ikut diam tak sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
“Jawab.”
“Iya, Bu.”
Ibu Sinta kembali mengalihkan pandangan kepada Mira. “Dan kamu?”
Mira mengangkat wajah. “Mira memang ikut berkelahi, Bu.”
“Kenapa?”
Mira terdiam beberapa saat. “Karena rambut Mira ditarik duluan, padahal Mira sudah ingin menghindar dari ejekan mereka."
“Lalu kamu membalas?”
Mira mengangguk pelan. “Iya.”
Ibu Sinta menarik napas panjang.
“Mira, Ibu tahu kamu membela diri. Tapi membalas dengan cara yang sama tetap tidak boleh.”
Mira menundukkan kepala. "Tapi mereka keterlaluan Bu, selalu ejek dan hina Mira setiap hari."
“Iya, Ibu tahu. Dan kalau ada yang mengganggu kamu lagi, seharusnya kamu melapor kepada guru.”
Mira mengangguk. “Iya.”
Ibu Sinta kemudian menatap Keysha dan anak laki-laki itu.
“Dan kalian juga harus tahu. Tidak ada seorang pun yang boleh menghina temannya hanya karena keadaan ekonomi, kalian di sekolah sudah diajarkan tatakrama, untuk saling menghargai dan menghormati."
Keduanya saling pandang lalu mulai menundukkan wajahnya.
“Sepatu bekas bukan sesuatu yang memalukan.” Tatapan Ibu Sinta kemudian jatuh kepada Mira. “Yang memalukan adalah ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi hanya karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.”
Mira perlahan mengangkat wajah. Entah kenapa kalimat itu membuat hatinya sedikit lega. “Maaf, Bu.”
“Sekarang kalian saling meminta maaf.”
Keysha terlihat enggan. Namun akhirnya ia berkata pelan. “Maaf.”
Mira menatapnya. “Maaf juga.”
Ibu Sinta mengangguk. “Sudah. Sekarang kembali ke kelas.”
Ketiga anak itu pun meninggalkan ruang guru.
Namun sebelum Mira pergi, Ibu Sinta memanggilnya.
“Mira.”
Anak itu berhenti. “Iya, Bu?”
“Jangan pernah malu dengan apa yang kamu miliki.”
Mira terpaku, ia sangat paham apa yang dibicarakan oleh gurunya itu. Ia pun kembali mendekat beberapa langkah.
Sementara Ibu Sinta tersenyum kecil. “Yang penting kamu tahu bagaimana mendapatkannya.”
Mira mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Ketika kembali ke kelas, beberapa teman langsung memperhatikan rambut Mira yang masih berantakan. Namun Mira memilih duduk di bangkunya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah.
Beberapa menit kemudian Shasa datang.
Begitu melihat Mira, gadis itu langsung menghampirinya.
“Mir!”
Mira menoleh. “Kamu kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
“Rambutmu kenapa?”
Mira mencoba merapikannya. “Tadi sedikit berantem.”
Shasa langsung terkejut. “Berantem?”
Mira mengangguk. “Sama siapa?”
Mira akhirnya menceritakan semuanya. Tentang Keysha yang mengejek sepatunya. Tentang anak laki-laki yang ikut menghina. Sampai akhirnya mereka menjambak rambutnya.
Wajah Shasa berubah. “Karena sepatu itu?”
Mira mengangguk. Shasa menatap kedua kaki Mira. “Kalau begitu jangan pakai lagi.”
Mira langsung menggeleng. “Enggak mau.”
“Kenapa?”
“Karena Mira suka.”
Shasa tidak bisa berbuat apa-apa karena memang pada dasarnya Mira sangat membutuhkan sepatu itu.
“Lagipula sepatu ini masih bagus.”
“Tapi mereka mengejek kamu.”
Mira tersenyum. “Biarin saja, lagian mereka sudah ditegur sama guru, semoga saja mereka gak jahil lagi."
“Kamu enggak malu?”
Mira menggeleng cepat. "Kenapa harus malu, kan Mira tidak mencuri, sepatu ini Mira dapat dari hasil boncengin Kakak setiap hari."
Ia kemudian mengangkat sedikit kakinya. “Sepatu ini bikin kaus kaki Mira enggak kelihatan lagi.”
Shasa akhirnya tertawa. “Kamu itu ada-ada saja.”
Mira ikut tertawa. Namun di dalam hati Shasa justru merasa sedih. Ia tidak menyangka pemberian sederhana darinya bisa membuat Mira menjadi bahan ejekan.
Bel pulang akhirnya berbunyi. Anak-anak mulai berhamburan keluar kelas. Mira merapikan buku-bukunya kemudian memasukkannya ke dalam tas. Saat hendak keluar, Shasa kembali menghampirinya.
“Mir.”
“Hm?”
“Jangan lupa minggu depan, ya.”
Mira menoleh. “Tentang apa?”
Shasa tertawa kecil. “Tentang aku dan Ibu.”
“Oh iya.” Mira langsung mengangguk. “Mira ingat.”
“Jangan sampai lupa.”
“Enggak akan. Mira juga mau bantu Ibu jualan.”
"Ya sudah kalau gitu kita pulang ya," ajak Shasa.
Mira mengangguk senang, anak itu langsung mengambil sepedanya mininya yang terparkir di sebelah jalanan sekolah.
Shasa tertawa lepas saat dibonceng oleh Mira yang notabennya lebih kecil darinya, begitupun dengan Mira.
"Rasanya jadi gak sabar ingin bertemu sama ibunya Kak Shasa," ucap Mira.
"Tunggu saja Mir, pastinya Ibukku sangat senang kalau aku punya teman baru."
Percakapan mereka mengalir hingga pada akhirnya sepeda Mira sampai di depan rumah Shasa. Gadis kecil itu segera turun dan melambaikan tangan pada Mira.
Mira hanya mengangguk lalu mulai mengayuh sepedanya kembali, entah kenapa ia seolah tidak sabar ingin menunggu hari itu hari dimana ia pertama kali bertemu dengan Ibu Shasa yang membawa majikannya dari kota.
"Orang-orang kota itu pasti sangat bersih dan wangi, tidak seperti Mira," gumamnya sambil terus mengayuh sepeda mininya.
Bersambung .....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡