Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KISAH DI BALIK GELAS TEH
Arthur masih membeku di depan pagar kayu pekarangan. Langkah kakinya terasa amat berat untuk meninggalkan tempat itu. Logika berpikirnya sebagai Pahlawan Utama Kerajaan benar-benar terguncang. Mengalahkan Raja Iblis adalah satu hal, tetapi melihat Lady Alya—sosok Saintess Suci yang paling dihormati di seluruh benua—kini dengan luwesnya mengusap keringat di dahi seorang pria yang mengaku "hanya petani biasa", adalah teka-teki yang jauh lebih membingungkan daripada teka-teki Labirin Kuno.
"Lady Alya..." Arthur menyela pelan, suara baritonnya bergetar penuh rasa penasaran yang tak tertahankan. "Jika hamba diperbolehkan bertanya... bagaimana bisa Anda... berada di tempat ini? Kerajaan mengumumkan Anda gugur saat ledakan sihir di perbatasan tiga tahun lalu."
Alya menoleh, lalu melirik Kayy yang sedang santai meniup uap cangkir tehnya. Sebuah senyuman manis dan nostalgia terpancar dari wajah sang mantan Saintess.
"Tiga tahun lalu, ya?" gumam Alya lembut. Tangannya bergerak merangkul lengan Kayy, menyandarkan kepalanya perlahan di bahu pria itu. "Dunia luar mengenal peristiwa itu sebagai tragedi ledakan sihir. Tapi bagiku... itu adalah hari di mana aku akhirnya terbebas."
Tiga tahun lalu, di tengah Hutan Kelam yang pekat oleh aura kematian.
Alya berlari dengan langkah terseret. Gaun suci putihnya yang indah telah robek dan berlumuran darah. Napasnya memburu, dadanya terasa seperti terbakar dari dalam. Ia baru saja melarikan diri dari konspirasi petinggi Kerajaan yang ingin menjadikannya sebagai 'Wadah Persembahan' demi membangkitkan Sihir Terlarang. Untuk menutupi pelariannya, Alya memicu ledakan intisari mananya sendiri—sebuah nekat yang memalsukan kematiannya, namun membayar harga mahal: organ dalamnya hancur dan intisari sihirnya sekarat.
Jatuh tersungkur di atas rumput basah, Alya memejamkan mata. Pandangannya mengabur. 'Apakah ini akhir hidupku?' pikirnya dalam keputusasaan. Di tengah kesunyian hutan yang mencekam, ia hanya berharap bisa mati tanpa harus menjadi alat politik Kerajaan.
Namun, alih-alih malaikat maut, yang menghampirinya adalah suara decitan roda gerobak kayu yang agak berkarat.
"Astaga, ada yang membuang sampah sembarangan di dekat kebunku," gumam sebuah suara pria dengan nada malas yang luar biasa.
Alya membuka matanya sedikit. Di balik bayangan kabur, ia melihat seorang pemuda bersahaja membawa cangkul di bahunya dan memegang sebutir kentang mentah. Pemuda itu tidak memakai zirah emas, tidak membawa pedang legendaris, dan sama sekali tidak memiliki aura sihir yang megah.
Itu adalah Kayy.
"T-Tolong..." bisik Alya lirih sebelum akhirnya kesadarannya lenyap total.
Ketika Alya terbangun, ia tidak mendapati dirinya di atas altar batu yang dingin atau penjara bawah tanah. Ia berada di atas tempat tidur kayu yang bersih, berselimut kain katun yang beraroma harum dedaunan kering. Suara gemericik air dan aroma sup gurih menyeruak masuk ke dalam indranya.
"Oh, sudah bangun?"
Kayy masuk ke dalam kamar kecil itu sambil membawa semangkuk sup kentang yang uapnya masih mengepul. Ia duduk di kursi kayu di samping tempat tidur tanpa canggung sedikit pun.
"Dimana... aku? Siapa kamu?" tanya Alya panik, refleks memegang dadanya. Namun, ia mendadak membeku. Rasa sakit membakar di organ dalamnya telah hilang. Kutukan sihir terlarang yang seharusnya merusak jiwanya lenyap tanpa bekas.
"Ini gubukku. Nama aku Kayy," jawab pemuda itu santai sambil menyodorkan mangkuk sup. "Kamu pingsan di depan area tanam wortelku. Tubuhmu kotor sekali, jadi aku minta tolong nenek di desa sebelah untuk menggantikan bajumu. Makan ini dulu, sup kentangnya masih hangat."
Alya menatap mangkuk sup itu dengan bingung. "Kamu... kamu tidak tahu siapa aku?"
Kayy menaikkan sebelah alisnya, mengamati wajah Alya sejenak. "Perempuan yang hampir mati di semak-semak? Atau kamu buronan yang mencuri beras?"
Jawaban polos itu membuat Alya tercengang. Selama hidupnya, semua orang menatapnya dengan rasa takut, pemujaan, atau keserakahan. Mereka memanggilnya 'Wadah Suci', 'Tangan Kanan Dewa', atau 'Lady Saintess'. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang menatap matanya hanya sebagai seorang perempuan biasa yang kelaparan.
Alya menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. Saat sendok pertama menyentuh lidahnya, energi hangat yang sangat murni langsung mengalir membasahi seluruh sel tubuhnya. Sihir penyembuhan paling tinggi milik Paus Agung Kerajaan sekalipun tak ada apa-apanya dibanding kehangatan semangkuk sup kentang ini.
Alya menangis. Air matanya menetes jatuh ke dalam mangkuk. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat aman.
"Kenapa menangis? Supnya kepedasan, ya?" tanya Kayy panik kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak..." jawab Alya sambil tersenyum di balik air matanya. "Sup ini... sangat enak. Sangat hangat."
Sejak hari itu, Alya memutuskan untuk tidak pernah kembali ke Kerajaan. Ia tinggal di gubuk kecil itu, awalnya hanya sebagai membalas budi dengan membantu menyapu dan meracik teh. Namun seiring berjalannya waktu, Alya menyaksikan keajaiban yang tak masuk akal setiap harinya.
Ia melihat bagaimana Kayy menyiram pekarangan gubuknya ribuan kali hingga tanahnya berubah menjadi area suci. Ia melihat Kayy memperbaiki pintu pagar kayu dengan skill [Fortify] berturut-turut hingga pagar itu sanggup memantulkan petir alam. Namun di atas semua kekuatan tak terbatas itu, yang paling meluluhkan hati Alya adalah kesederhanaan Kayy.
Kayy tidak peduli pada tahta, tidak tertarik pada harta, dan tidak berniat menaklukkan dunia. Satu-satunya hal yang membuat pria itu tersenyum puas adalah saat melihat Alya tertawa menikmati teh hangat di sore hari.
Hingga pada suatu sore, di bawah naungan pohon yang rimbun, Kayy memberikan sepasang cincin kayu sederhana yang diukirnya sendiri dengan skill [Fortify].
"Alya," kata Kayy saat itu, menatap mata birunya dengan sangat tulus. "Aku tidak punya istana megah atau harta berlimpah. Aku cuma punya gubuk kayu ini dan kebun sayur. Tapi aku berjanji, selama kamu di sini, tidak akan ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menyakitimu lagi. Maukah kamu terus berada di sampingku?"
Tanpa ragu sedikit pun, Alya memeluk pria itu erat-erat. Di gubuk sederhana itu, tanpa pesta kerajaan atau serbuan ribuan bangsawan, mereka mengucapkan janji suci pernikahan secara pribadi—disaksikan oleh kebun wortel dan langit sore yang hangat.
Arthur terpaku mendengarkan seluruh kisah itu. Udara pagi terasa sangat hening. Sang Pahlawan menatap sepasang suami istri di depannya dengan tatapan yang penuh haru dan penghormatan.
"Jadi... Anda tidak menyembunyikan Lady Alya untuk dimanfaatkan?" bisik Arthur pelan.
"Memanfaatkan?" Kayy tertawa kecil sambil mengusap kepala Alya. "Memangnya aku kelihatan seperti politikus? Alya ini istriku. Tugas suami cuma satu: membahagiakan istrinya. Sudah, itu saja."
Arthur menghela napas panjang, lalu membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di depan Kayy dan Alya.
"Hamba mengerti sekarang," kata Arthur dengan nada mantap. "Lady Alya tidak lagi milik Kerajaan. Beliau adalah bagian dari rumah ini. Hamba berjanji atas nama Pedang Suci, keberadaan tempat ini dan kisah Anda berdua akan hamba bawa sampai ke liang kubur."
"Baguslah kalau begitu," sahut Kayy lega. "Sekarang, mumpung belum jam menyiram tanaman, cepatlah pergi dari pagarku."
Arthur tersenyum tipis, berbalik, dan melangkah pergi menembus kabut hutan dengan semangat baru di dadanya. Meski perang di barat daya masih membara, kini ia tahu... di sudut benua ini, ada sebuah tempat kedamaian mutlak yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh kegelapan apa pun.
Kayy menyesap sisa teh di cangkirnya, lalu menatap Alya yang masih tersenyum manis di sampingnya.
"Sayang," panggil Kayy.
"Ya, Kayy?"
"Cerita masa lalu tadi membuat tehnya jadi agak dingin. Mau kubuatkan cangkir yang baru?"
Alya tertawa renyah, sebuah suara tawa yang begitu indah dan bebas. "Boleh, Sayang. Kali ini, biarkan aku yang mengambilkan kentang panggangnya."