Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Matanya membelalak kaget saat melihat nama yang tertera sebagai penyumbang dana terbesar.
"Bapak Walikota yang mendanai pasokan senjata klan Naga Hitam?" pekik Anya tertahan.
Itu adalah nama orang nomor satu di kota ini yang terkenal sangat bersih dan merakyat.
Kenji tersenyum sinis melihat reaksi terkejut tunangannya itu.
"Di dunia ini, pejabat pemerintah dan mafia adalah dua sisi koin yang sama, Anya."
Kenji mengambil kembali kertas itu dari tangan Anya.
"Walikota sengaja membesarkan Naga Hitam untuk menyingkirkan klan Bratadikara yang tidak mau tunduk padanya."
Bima berdehem pelan untuk meminta perhatian tuannya kembali.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan Muda?" tanya Bima.
"Jika kita menyerang walikota secara terang-terangan, kita akan berhadapan dengan militer negara."
Kenji melipat map cokelat itu lalu menyerahkannya kembali pada Bima.
"Simpan bukti ini baik-baik, kita akan menggunakannya di saat yang tepat nanti."
Kenji menoleh menatap Anya yang masih terlihat syok.
"Kita harus bermain politik sekarang, dan itu berarti kita butuh wajah yang cantik dan pintar untuk masuk ke lingkaran mereka."
Anya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Maksudmu aku yang harus mendekati lingkaran walikota itu?" tanya Anya ragu.
"Siapa lagi?" jawab Kenji dengan senyum miring.
"Mulai minggu depan, kau akan menghadiri pesta-pesta kelas atas bersama istri para pejabat kota."
Anya menghela napas panjang meratapi nasibnya yang semakin rumit.
Baru saja dia belajar memegang senjata, sekarang dia harus belajar berpolitik.
"Aku mengerti, aku akan melakukan apa pun yang kau minta," pasrah Anya.
Kenji mengusap sisa darah di pelipisnya sendiri lalu menatap sekeliling gudang.
"Bakar tempat ini sampai rata dengan tanah, jangan sisakan bukti apa pun," perintah Kenji pada Bima.
"Baik, Tuan Muda," jawab Bima sigap.
Kenji kembali merangkul bahu Anya dan membawanya berjalan menuju pintu keluar.
Udara malam di pelabuhan terasa sangat dingin saat mereka melangkah keluar dari gudang.
Angin laut meniup rambut panjang Anya hingga berantakan.
Wusss.
Kenji melepaskan jas hitamnya yang robek lalu memakaikannya ke bahu Anya.
Anya menatap pria itu dengan tatapan protes.
"Kau sudah kedinginan dan terluka, kenapa malah memberikan jasmu padaku?" omel Anya.
"Aku tidak akan mati hanya karena angin laut," jawab Kenji seenaknya.
"Tapi jika ratuku sakit karena kedinginan, itu akan mencoreng nama baik klan Bratadikara."
Anya mendengus sebal mendengar alasan klise yang sangat konyol itu.
Meski begitu, dia tetap merapatkan jas kebesaran Kenji itu ke tubuhnya.
Aroma parfum maskulin yang bercampur bau keringat Kenji membuat hatinya terasa hangat.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju mobil limosin yang diparkir tidak jauh dari sana.
Tiba-tiba Anya menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Kenji.
Sret.
Gadis itu menarik kerah kemeja Kenji agar pria itu sedikit menunduk.
Kenji menaikkan satu alisnya karena bingung dengan tingkah agresif tunangannya ini.
Anya mengangkat tangan kanannya lalu mengusap sisa darah di pelipis Kenji dengan ibu jarinya.
Gerakannya sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
"Jangan terluka lagi karena melindungiku," ucap Anya dengan suara yang sangat pelan.
"Aku tidak suka melihatmu berdarah."
Kenji terdiam membeku mendapat perlakuan manis yang sangat tiba-tiba ini.
Jantungnya yang biasa berdetak tenang kini berpacu jauh lebih cepat dari saat baku tembak tadi.
Pria dingin itu menelan ludah dengan susah payah.
"Aku tidak bisa berjanji," jawab Kenji dengan suara serak.
Kenji mengangkat tangannya dan menutupi tangan Anya yang masih berada di pipinya.
Grep.
"Nyawamu jauh lebih penting dari nyawaku sendiri sekarang."
Anya merasakan wajahnya memanas mendengar kalimat posesif tersebut.
Dia buru-buru menarik tangannya dari wajah Kenji dan berdehem canggung.
Ehem.
"A-ayo kita pulang sekarang, lukamu harus segera diobati," ucap Anya salah tingkah.
Anya langsung berbalik dan berjalan cepat menuju mobil limosin.
Kenji berdiri di tempatnya sambil menatap punggung gadis itu dengan senyum tipis.
Senyuman yang tulus dan penuh dengan rasa cinta yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
"Dia benar-benar membuatku gila," gumam Kenji pelan sebelum menyusul langkah Anya.
[Misi Harian Selesai: Berhasil menguasai gudang pelabuhan Naga Hitam.]
[Hadiah: Poin Kecerdasan +5, Poin Stamina +2, Poin Afeksi Target meningkat.]
Layar biru itu muncul sekilas di pandangan Anya saat dia duduk di dalam mobil.
Anya menyandarkan kepalanya di kursi kulit yang empuk dan memejamkan mata.
Perang dengan klan Naga Hitam ini ternyata bukan sekadar perebutan wilayah kekuasaan preman.
Ini adalah konspirasi besar yang melibatkan petinggi kota yang korup.
Dan Anya tahu, dia harus menjadi bidak catur yang sangat pintar jika ingin memenangkan permainan ini.
Minggu depan, medan perangnya bukan lagi gudang kumuh penuh peluru.
Melainkan ruang pesta mewah yang dipenuhi senyuman palsu dan racun mematikan dalam gelas anggur.
Anya harus bersiap menghadapi dunia baru yang tidak kalah mengerikannya ini.