Indonesia
NovelToon NovelToon
Bangkitnya Kaisar Dewa

Bangkitnya Kaisar Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.

Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —

Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Racun

Malam itu, setelah Nyonya Liu pergi dengan hati yang sedikit lebih tenang, Ye Hu duduk bersila di atas tempat tidur, kedua tangannya diletakkan di atas lutut, mata terpejam rapat.

Bukan untuk menyerap energi alam — ia tahu betul, tanpa dantian yang utuh, qi langit dan bumi hanyalah angin yang lewat di kulit, tak akan pernah bisa tersimpan sedikit pun. Ia duduk demikian karena ribuan tahun kebiasaan sebagai seorang kaisar dewa: meditasi bukan sekadar cara berkultivasi, melainkan cara terbaik untuk menenangkan pikiran, menyusun rencana, dan melihat segala sesuatu dengan jernih.

Di dalam keheningan kamar, ia mulai menyusun kembali potongan ingatan tentang kejadian tiga tahun lalu — hari di mana dantiannya hancur, dan nasibnya berubah drastis.

Saat itu, ia sedang bersiap melakukan terobosan untuk naik ke tingkat kultivasi berikutnya, langkah yang seharusnya mulus karena bakatnya yang luar biasa. Sebelum mulai, ayahnya, Marquis Ye Ba, datang dan memberikan sebutir Pil Penguat Sumsum, katanya untuk memantapkan fondasi agar terobosan itu berjalan lancar. Namun tak lama setelah meminumnya, rasa sakit hebat menyerang perutnya, lalu dantiannya yang murni dan kuat itu hancur berkeping-keping, seolah dihantam palu dari dalam.

Ini sejenis racun untuk membunuh binatang yang di gabungkan dengan pil pembersih sumsum akan merusak meridian dan dantian.

Semua orang menganggap itu kecelakaan kultivasi. Namun bagi Xuan Ling — yang seumur hidupnya bukan hanya seorang kaisar dewa, melainkan juga seorang alkemis tingkat sembilan, yang pengetahuannya tentang ramuan dan pil melampaui kebanyakan orang — hal itu sangat mencurigakan.

 

Pil Penguat Sumsum murni tidak pernah merusak dantian, pikirnya, jari-jemarinya perlahan mengepal di atas lutut. Pil itu hanya memperkuat tubuh dan merapikan aliran qi. Kecuali… pil itu telah dicampur bahan lain — racun yang disamarkan sebagai ramuan penguat. Itulah sebabnya dantiannya hancur, bukan karena terobosan gagal.

 

Ia tidak langsung menuduh Ye Ba. Mungkin ayahnya sendiri tidak tahu — mungkin ada oknum yang memberikan pil itu kepada ayahnya, dengan niat agar pil itu sampai ke tangannya. Dan yang lebih mencurigakan: setelah kejadian itu, tabib keluarga yang memeriksanya hanya berkata dantian hancur akibat terobosan gagal, tanpa menyebutkan sedikit pun adanya keracunan. Padahal, racun yang merusak dantian pasti meninggalkan jejak yang bisa dideteksi jika diperiksa dengan teliti. Kemungkinan besar… tabib itu juga bersekongkol. Untung saja dantiannya rusak karena di racun jadi cukup mudah mengatasinya dengan pil sederhana seperti menyembuhkan racun. Tapi seandainya dantiannya rusak karena pukulan maka sulit memperbaikinya, paling tidak pil tingkat empat dan beberapa bahan langka.

 

Lalu malam ini, di Rumah Bunga Indah — racun yang digunakan untuk meracuni anggurnya. Dari ingatan tubuh asli dan pengetahuannya sendiri, ia mengenali ciri-cirinya: racun dari rumput bernama Rumput Penderitaan Agony. Tanaman itu hanya tumbuh di daerah yang sangat dingin, atau bisa dibeli di toko obat khusus. Bukan racun yang bisa didapatkan sembarangan. Itu berarti, pelakunya sengaja, dan punya akses untuk membeli atau mendapatkan bahan itu.

Racun Agony itu sendiri adalah untuk meracuni binatang buas atau di taburi di anak panah saat berburu. Untuk manusia akan berakibat fatal.

 

Dua kali percobaan pembunuhan, dengan cara berbeda, tapi sama-sama terencana baik.

 

Namun sekarang, memikirkan pelakunya belum cukup. Yang terpenting adalah memulihkan dirinya. Tanpa kekuatan, ia hanyalah domba yang menunggu untuk disembelih. Untuk memperbaiki dantian yang diracun, ia butuh ramuan khusus, tungku pembakaran, dan bahan-bahan untuk membuat pil pemulihan. Tapi sebelum itu, tubuhnya masih mengandung sisa racun dari malam ini — racun itu harus dibersihkan terlebih dahulu, atau semua usahanya akan sia-sia.

Jangankan hanya dantian rusak, bahkan manusia fana pun dapat mempunyai dantian jika ada bahan untuk di buat pil.

 

Maka rencana pertama sudah jelas: ke rumah obat, membeli Pil Pembersih Racun. Sederhana, tapi mutlak harus dilakukan.

 

Keesokan harinya, matahari sudah tinggi di langit saat Ye Hu berjalan keluar dari gerbang kediaman Keluarga Ye. Pakaiannya sederhana, wajahnya masih pucat, namun tatapan matanya kini berbeda — tidak lagi kabur karena mabuk dan putus asa, melainkan tajam dan tenang, seolah segala sesuatu di sekitarnya terlihat dengan jernih.

Toko Obat ini adalah toko obat terbesar di Kota Awan, terletak di jalan utama yang ramai. Saat ia melangkah masuk, udara segar bercampur aroma akar tanaman dan ramuan kering menyambutnya. Ruangan itu cukup luas, dengan rak-rak kayu tinggi yang dipenuhi laci-laci bertuliskan nama bahan obat, dan beberapa pelanggan sedang berbicara dengan pegawai di meja depan.

Namun langkahnya terhenti sesaat.

Di sudut ruangan, berdiri dua orang wanita muda. Salah satunya adalah Qing Xin — gadis yang dulu bertunangan dengannya, putri dari keluarga bangsawan lain di kota itu. Dulu, perjodohan itu dianggap sebagai pernikahan yang sempurna: putra berbakat Keluarga Ye dan putri cantik dan berbudi luhur Keluarga Qing. Namun sejak dantiannya hancur, pertunangan itu dibatalkan secara sepihak, dan tak lama kemudian, Qing Xin malah dijodohkan dengan Ye Du — adik kandungnya sendiri.

Di samping Qing Xin ada Wan Ning, sahabat dekatnya, gadis yang berasal dari Paviliun Peracik Pil — sekte yang terkenal karena ahli dalam meramu berbagai jenis obat dan pil. Wan Ning selalu tampak sombong, seolah-olah statusnya membuatnya lebih mulia dari orang lain.

Ye Hu berniat berbalik dan pergi sebentar, menunggu mereka keluar dulu. Ia belum siap berurusan dengan mereka. Namun baru saja ia berbalik sedikit, suara tajam Wan Ning terdengar membelah ruangan.

“Hei, bukankah itu Ye Hu? Berani-beraninya dia datang ke sini tanpa menyapa? Sungguh tidak tahu sopan santun!”

Semua mata di ruangan itu beralih ke arahnya. Ye Hu menghela napas dalam hati, menahan amarah yang mulai bangkit, lalu berbalik perlahan.

Wan Ning melangkah maju, wajahnya penuh penghinaan. “Kau itu dulu tunangan Qing Xin. Sekarang meski pertunangan sudah batal, setidaknya kau harus tahu diri. Dia sekarang adalah tunangan Ye Du, adikmu. Bagaimana bisa kau lewat begitu saja tanpa memberi salam? Seharusnya kau sadar, sejak dantianmu rusak, kau bukan lagi orang yang sama.”

 

Qing Xin menatapnya, bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya ia hanya diam, wajahnya tampak serba salah — bukan karena kasihan, tapi karena malu dan enggan membela.

 

Belum sempat Ye Hu menjawab, tawa mengejek terdengar dari pintu masuk. Seorang pemuda berpakaian mencolok melangkah masuk, diikuti dua orang pengikutnya. Itu Guo Seng — orang yang dulu sering mengekor pada Ye Hu, memuji-mujinya dan meminta perlindungan saat Ye Hu masih berbakat. Kini, ia adalah salah satu orang yang paling suka merendahkan mantan pelindungnya itu.

 

“Wah, siapa yang datang? Tuan muda yang dulu perkasa, sekarang sampah Kota Awan!” Guo Seng tertawa keras, suaranya terdengar menyebalkan. “Lihat wajahnya, seolah-olah dia sedang mencari pil ajaib yang bisa memperbaiki dantiannya yang hancur! Apa kau pikir ada obat seperti itu di dunia ini?”

 

Orang-orang di toko obat itu pun ikut tertawa, tatapan mereka penuh merendahkan.

 

“Dantian hancur berarti hancur, tidak ada obatnya.”

“Dia pasti sudah gila karena putus asa.”

“Buang-buang waktu saja dia ke sini.”

 

Ye Hu mengabaikan suara-suara itu, matanya tetap tenang, berjalan lurus menuju meja pegawai obat. Ia tidak peduli apa yang mereka katakan selama ia mendapatkan apa yang ia butuhkan.

 

Namun Guo Seng tidak berniat membiarkannya begitu saja. Ia melangkah cepat, berdiri di hadapan Ye Hu, menghalangi jalannya.

 

“Kau tuli ya? Mereka semua menertawakanmu, kau tidak tahu malu?” Tanpa peringatan, tangan Guo Seng terayun keras — plak! — tamparan mendarat keras di pipi kiri Ye Hu. “Wan Ning sudah bilang, minta maaf dan beri salam pada Qing Xin! Sekarang kau tidak layak baginya, bahkan tidak layak menjadi pelayannya!”

 

Pipi Ye Hu memerah bekas tamparan itu. Di dalam dadanya, api amarah berkobar hebat. Aku, Kaisar Dewa Xuan Ling, pernah memerintah jutaan makhluk di Dunia Dewa, dan sekarang ditampar oleh sampah seperti ini di tempat umum? Ia hampir saja meledak, hampir saja mengeluarkan seluruh kekuatan yang tersisa — namun ia sadar. Tubuh ini lemah, ia tak punya qi, tak punya kekuatan. Jika ia bertindak sekarang, ia hanya akan dipermalukan lebih parah, bahkan mungkin terluka lebih parah. Ia harus bersabar. Bersabar sampai ia kembali berdiri tegak.

 

“Cukup!” Teguran keras terdengar dari belakang meja. Pegawai toko obat itu berdiri, wajahnya tidak senang. “Ini Toko Obat Kebajikan, bukan tempat untuk berkelahi atau mempermalukan orang lain. Jika ingin ribut, silakan keluar.”

 

Guo Seng mendengus, namun ia tidak berani menentang pegawai toko itu. “Hmph, beruntung kau. Tapi ingatlah dirimu. Jangan sampai kau bertemu aku di jalan nanti, kalau tidak, jangan salahkan aku!”

 

Ia melangkah mundur, masih menatap Ye Hu dengan tatapan jijik. Wan Ning hendak menambahkan kata-kata pedas lagi, namun Qing Xin segera menarik lengan temannya itu, menggeleng pelan, memberi isyarat agar berhenti.

 

Ye Hu tidak menatap siapa pun. Ia berjalan melewati Guo Seng seolah-olah pemuda itu hanyalah tiang kayu di pinggir jalan, lalu berdiri di depan meja pegawai itu. Pipi kirinya masih terasa panas dan perih, namun suaranya tetap tenang dan datar saat ia berbicara.

1
Nanik S
Chu Hua juga bengis dan kejam
Nanik S
Menuju jalan didepan yang yak terbatas
Nanik S
Ye Ba... dan seluruh keluarga harus mengetahui
Nanik S
Apakah Pemuda tampan itu Ayah Xuan Ling
BOIEL-POINT .........
very very very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
Nanik S
Kesepakatan yang bmenguntungkan
Nanik S
Ambil saja sekalian lempenganya
Nanik S
Rhu Shun ketua bayangan malam
Nanik S
Keren dan keren ... apakah bisa didapat lempenganya
Nanik S
Sebenarnya Ye Hu anak siapa
Nanik S
Banyak sekali musuhnya
Nanik S
Ternyata Ye Hu hanya anak angkat dan Ibu Angkat yang kejam😇😇😇
Nanik S
Shiiiiip gerak cepat sebelum terlambat
Nanik S
Ceritanya Bagus Tor👍👍👍
Nanik S
Ye Hu... ambil sekalian bahan Pil tingkat tiga💪💪💪
Nanik S
Tidak mungkin Ayahnya yang meracuni Anaknya sendiri paling, anak selir lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!