Indonesia
NovelToon NovelToon
Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

#4

#Ada yang ingat gak, Zion pernah aku spill tipis, di novel wanita mantan narapidana vol 2, sebagai penjinak bom. Saat itu ada pasukan khusus datang untuk menangkap Andra dan komplotan jual beli senjata ilegal. 

Atap gedung bukan tempat ideal untuk mendaratkan helikopter, bukan juga tempat yang mudah untuk melakukan pengawasan ke sekitar gedung. Sehingga tempat itu tak masuk dalam target pengawasan para teroris, hingga Zion dengan mudah menguasai area tersebut, 

Kabel AC, sambungan vital internet dan listrik, termasuk termasuk kompresor AC berada di sana, ini menjadi keuntungan lebih bagi Zion untuk melumpuhkan komunikasi para teroris di dalam ruangan. Yang mana komunikasi utama mereka masih menggunakan internet yang ada di dalam gedung. 

Namun, Zion menyimpan semua keuntungan itu sebagai rencana cadangannya, ia fokus mencari pintu masuk ke dalam gedung. 

Akhirnya Zion berhasil menemukan pintu yang ia cari, dan seperti dugaannya, pintu tersebut tak bisa diakses karena dalam kondisi terkunci. Zion tak punya pilihan selain melesatkan tembakan dari pistol yang ia bawa, untunglah pistol tersebut memiliki peredam hingga tak menimbulkan suara sedikitpun. 

Tak perlu pertimbangan yang lama, Zion berhasil masuk ke dalam gedung, ia juga mengabarkan pada anak buahnya bahwa ia sudah ada di dalam gedung. 

Mendengar sang komandan sudah berhasil masuk, pasukan Zion pun bergerak lincah di sela para polisi yang masih berjaga di depan gedung kedutaan. Mereka cepat seperti bayangan, lincah namun, penuh perhitungan matang. Terus mengawal dan mengawasi sang duta besar dari kejauhan, hingga berhasil menempatkan diri di pos-pos strategis. 

Permintaan sang pemimpin teroris sangat jelas, bebaskan Alan Romanov, maka duta besar juga akan selamat. 

Namun, petinggi pemerintahan tak bisa mengabulkan keinginan para teroris begitu saja, sebab Alan Romanov termasuk dalam daftar pria paling dicari di Moskow. Karena deretan catatan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya. 

Jadi Zion bergerak cepat demi menyelamatkan sebagian besar warga negara Indonesia yang berada di dalam gedung kedutaan. 

Ruangan di lantai paling atas sepertinya hanya berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai. Karena itulah ruangan tersebut minim cahaya selain dari pantulan sinar matahari dari luar ruangan, debu-debu tipis berterbangan, dan udara terasa sangat pengap tanpa sirkulasi. 

Namun Zion tak percaya begitu saja dengan ketenangan ruangan tersebut, karena telinganya yang tajam mampu mendengar suara yang tidak asing. 

Tak! 

Tak! 

Tak! 

Detak yang teratur seperti pergerakan jarum jam, “Gawat! Jangan-jangan … ”  monolog Zion. 

Zion menyisir tempat tersebut, membuka dan mencari dengan ketenangan yang tak masuk akal di bawah ancaman bom yang mungkin bisa meledak kapan saja. 

Akhirnya Zion menemukan benda yang ia cari, sebuah box misterius tergeletak diatas meja, dan saat dibuka— membuat Zion menghentikan nafasnya untuk beberapa saat. 

Sebuah bom, yang lebih mencengangkan, benda itu adalah bom yang siap diaktifkan kapan saja. Bom tersebut menjadi pengendali dari semua bom yang mungkin sudah ditanam di dalam gedung, entah di titik mana saja lokasinya. 

Sekali saja bom tersebut aktif, maka berikutnya akan terjadi ledakan susul menyusul, hingga semuanya habis dengan sendirinya. 

“Komandan, kami sudah hampir menyelinap.” Dari earphone-nya Zion bisa mendengar anak buahnya melapor, namun belum bergerak sebab menunggu perintah darinya. 

“Dengarkan baik-baik,” kata Zion mengawali titahnya. “Aku perintahkan kalian bergerak, di bawah kendali komandan dua. Karena disini, aku menemukan sebuah bom yang harus segera dijinakkan. Hati-hati dan tetap waspada, karena di bawah sana mungkin banyak ranjau yang siap meledak bila induk yang disini tak berhasil dijinakkan.” 

Setelah memberikan instruksi, Zion mematikan alat sambungan komunikasinya, agar ia bisa fokus menjinakkan benda berdaya ledak dahsyat itu. 

Zion kembali mendekat dan tetap waspada, ia menyarungkan kembali pistolnya ke dalam selipan ikat pinggangnya, lalu berkonsentrasi penuh melihat, mencermati, menimbang dan menghitung dengan tepat kabel mana yang harus ia putus terlebih dahulu. 

Sebuah rangkaian rumit yang hanya dipahami orang-orang khusus yang berpengalaman dibidangnya, kabel berwarna, merah, biru, hijau, putih dan kuning. Entah di sebelah mana si perakit meletakkan kabel yang mampu memicu ledakan. 

Keringat dingin mengucur di pelipis dan sekujur badan Zion, setiap kali ia berhadapan dengan langsung dengan bom aktif. 

Wajah orang tua, dan saudara-saudaranya langsung terbayang, jika benar, maka ia bisa bertemu dengan mereka kembali, dan jika salah, maka ia akan pergi menghadap Tuhan. 

Padahal sejak kecil ia bercita-cita jadi pembalap, namun, takdir menuntunnya bekerja sebagai komandan pasukan khusus, yang kerap bersentuhan dengan benda berdaya ledak tingkat tinggi. 

“Mom, kini aku tahu betapa berat pekerjaanmu saat masih menjadi seorang agen rahasia,” monolog Zion, terus berbicara sendiri bila ia kebetulan sedang berhadapan dengan benda mematikan ini. 

Akhirnya, saat menentukan pun tiba, Zion tak punya banyak waktu. Di bawah sana mulai terdengar bunyi tembakan beberapa kali, dan suara ribut, entah mereka meributkan apa. Atau mungkin hanya sekedar ancaman. 

Zion mulai memejamkan kedua matanya rapat-rapat, “Tuhan, beri aku kesempatan untuk hidup sedikit lebih lama,” ucap Zion ketika sudah berhasil memutuskan kabel mana yang akan ia potong untuk menonaktifkan bom tersebut. 

Klek! 

Kabel terputus, satu detik, dua detik, semua berlalu, Zion menunduk menatap bom tersebut, sudah padam sepenuhnya. Zion bernafas laga, kemudian menyalakan alat komunikasinya kembali. 

“Komandan satu bergabung,” lapor Zion pada anak buahnya, pertanda ia telah berhasil mengatasi satu masalah genting. 

Namun belum lama zion bernafas lega, terdengar suara langkah kaki seseorang datang menaiki tangga. Zion mundur sejenak dan bersembunyi, menunggu orang itu berjalan lebih dekat padanya. 

Sret! 

“Hmpft!” pekik orang itu, tak sempat melawan, karena Zion langsung memiting leher dan mengajar tengkuknya hingga ia roboh. Zion menyembunyikan pria itu di bawah salah satu meja, lalu bergerak cepat, namun, tetap dengan kewaspadaan penuh meninggalkan tempat itu guna bergabung dengan anak buahnya. 

Tepat di anak tangga lantai tiga seseorang tiba-tiba melihat kehadirannya, Zion melepaskan tembakan sebagai bentuk perlindungan diri. Dan detik berikutnya ia kembali berhadapan dengan dua orang anak buah Adam Romanov. 

Bugh! 

Bagh! 

“Akh!”

Perkelahian tak terelakkan, Zion menghajar dua orang tersebut, hingga mereka roboh, sialnya suara keributan tersebut akhirnya didengar orang-orang yang ada di sana. 

“Bergerak sekarang! Tak ada waktu menunggu!” pekik Zion di tengah aksinya menghajar orang-orang yang kini mulai mengepungnya. 

Beberapa saat kemudian, kaca jendela di lantai satu pecah berhamburan karena diterobos paksa oleh para anggota pasukan khusus, adu tembak tak terelakkan, jeritan keras terdengar dari para sandera yang tengah ketakutan, berbondong-bondong mencari tempat perlindungan. 

Kolong meja, di balik tiang yang besar, dan dimana saja tempat yang ideal untuk berlindung mereka tempati, asal tak terkena peluru nyasar. 

Sementara itu, sang pemimpin aksi teror kini mulai panik, karena aksi mereka terancam gagal. 

“Jangan bergerak! Atau aku hancur leburkan tempat ini!” pekik pria itu tanpa berpikir panjang lagi. 

Dengan cepat ia mendekati pak duta besar yang masih duduk dengan tangan dan kaki terikat, sambil mengangkat sebuah remote control. Tebakan Zion, itu adalah remote untuk mengaktifkan bom yang baru saja ia non aktifkan. 

“Letakkan senjata kalian semua!” perintah pria itu pada Zion dan anak buahnya. 

Pasukan Zion saling pandang, mereka menanti sang komandan memberikan keputusan, jika pria itu meletakkan senjata, maka yang lain akan ikut. 

Namun, bila Zion tak bergeming dengan ancaman maka yang lain pun akan mematuhinya. Begitulah anak buah yang taat pada pemimpin. 

“Baiklah,” jawab Zion karena memikirkan keselamatan duta besar dan para sandera. Perlahan-lahan Zion meletakkan pistol dan senjata lain yang ia miliki. 

“Tangkap dia juga, dan jadikan sandera!” perinta pria pemimpin kelompok mafia itu, sebut saja namanya Craigh. 

Saat anak buah Craigh mendekati Zion, tanpa diduga Duta besar menghantam dagu Craigh dengan kepalanya sendiri. “Bang^sat!” umpat Craigh marah, serta remote di tangannya terpental ke udara. 

Kesempatan itu Zion pergunakan untuk kembali melancarkan serangan, ia berguling dengan senapan yang berhasil ia ambil kembali, lalu—

Dor! 

Dor! 

Carigh roboh bersimbah darah, karena tembakan Zion tepat mengenai batang lehernya. 

Zion bernafas lega setelah berhasil menumbangkan Craigh, dan membebaskan duta besar dari ikatan yang membelit anggota tubuhnya. 

Misi para teroris untuk membebaskan Alan Romanov telah gagal, bahkan menghabisi duta besar saja mereka tak mampu. 

1
Bunda Idza
ya Allah.... deg degan ini....tanda masih hidup ya kan....kenapa bisa kecolongan??? mommy Dhera. Daddy Danesh....😭😭😭 piye Iki.....
moon: sek, belum tahu aja mereka.

edisi salah pilih lawan. 🤭
total 1 replies
Dozky 2 Crazy
hmmmm ternyata siAlan pelakunya
Dozky 2 Crazy: wkwkwk galau kenapa author
total 4 replies
Dozky 2 Crazy
aduh siapeeee nih
Shee_👚
hadeh zea bakalan jadi sandera buat lizie keluar. kalian dah membangunkan singa tidur😏
Shee_👚: gak sabar nungguin para2 macan keluar kandang semua😂
total 2 replies
Dozky 2 Crazy
makanya jgn macem macem yeee😁😁
Dozky 2 Crazy
sama yaa Zea mama sama papa lagi maen tembak tembakan dulu
Shee_👚
betul zion, kamu bawa lizie kembali jangan sampai ramanov menemukannya
Shee_👚
kami sendiri aja ngeri liatnya apa lagi musuh² nya yang dah ketar ketir. kamu beruntung dah nikah sama lizie, tapi jangan sampai kamu berbuat hal² aneh kalau gak mau kena dorr😂
vania larasati
lanjut
Shee_👚
jelas lah, pengawal bukan sembarang pengawal🤣
Dozky 2 Crazy
aseeli kepo 😁😁
octa❤️
🫶🫶🫶🫶
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
Thor..ini si mantan cadelita Mak ilang GK bisa ciat ciat beladiri kah??🤭🤭
moon: sek lahaciya 🤭👻
total 1 replies
falea sezi
mertuanya gimana nunggu bocil satu aja g bs 😒 nambahin beban. aja ne katanya bekas mafia 🤣🤣 alah pret
moon: nah, begitulah... mereka boleh para paruh baya, tapi pada jamannya mereka adalah...

ingat kalimat Eyang Juna. keluarga geraldy adalah keluarga dengan spek separuh mafia. 👻👻👻👻
total 3 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
kok blm nambah up mb moon?
hasana
👍👍👍👍
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
keren 👏🏻👏🏻👏🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah kamar Lizzie 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 🤤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ngikut dong 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!