Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Young Grand Duke
Sinar matahari siang menerobos masuk melalui deretan jendela kaca patri Grand Temple of Olympus, membiaskan spektrum warna biru dan emas di atas lantai pualam. Namun, bagi Ophelia Elizhabet de Ceolum, kehangatan musim panas yang menyelimuti kuil agung itu seketika sirna begitu ia melangkah keluar dari koridor utama menuju balai penerimaan tamu utara.
Suhu udara di sekitarnya mendadak merosot drastis. Setiap kali Ophelia mengembuskan napas, uap putih tipis terkumpul di udara, mengembun di permukaan kain cadar putih yang menutupi wajahnya.
Di ujung aula yang megah dan tinggi, seorang pria berdiri membelakangi pintu masuk. Pria itu mengenakan jubah kebangsawanan berwarna biru gelap berlapis bulu serigala perak pada bagian bahu. Zirah ringan berukirkan lambang es abadi membungkus tubuhnya yang tinggi tegap. Rambut perak keabu-abunya tampak berkilau diterpa cahaya, sementara sepasang mata berwarna biru es yang sangat dingin sedang menatap tajam ke arah lukisan dinding keagamaan.
Adrian Theodore Everhart—Grand Duke of Eternal Winter sekaligus penguasa wilayah utara Kekaisaran Celestia—telah tiba di kuil.
Ophelia menghentikan langkahnya tepat lima meter di belakang Adrian. Ia memeluk nampan kayu kosong di dadanya, berusaha keras menahan menggigil yang bukan disebabkan oleh ketakutan, melainkan oleh sihir pasif yang menguar dari tubuh sang Grand Duke.
"Selamat siang, Yang Mulia Grand Duke Everhart," sapa Ophelia dengan intonasi paling halus, sopan, dan terkontrol yang bisa ia hasilkan. "Hamba mendengar Anda sedang menunggu utusan dari kediaman Pendeta Tinggi."
Adrian bergerak perlahan. Tumit sepatu bot kulit tebalnya berdetak dingin di atas lantai pualam saat ia berbalik. Tatapan matanya yang membekukan jatuh tepat pada sosok biarawati bercadar putih di hadapannya. Wajahnya yang sangat tampan, dengan rahang tegas dan struktur tulang yang simetris, tampak benar-benar tanpa ekspresi—bagaikan patung es yang dipahat sempurna tanpa cela.
"Biarawati bercadar," panggil Adrian. Suaranya terdengar berat, dalam, dan begitu tenang, seolah-olah sanggup membekukan lautan hanya dengan satu kata. "Pendeta Tinggi Julian mengirim seorang biarawati muda untuk menyambut penguasa utara?"
Ophelia menundukkan kepalanya tipis. "Pendeta Tinggi sedang menyelesaikan dokumen penting bersama para kardinal, Yang Mulia. Hamba ditugaskan untuk memandu Anda menuju ruang tunggu kehormatan sebelum pertemuan resmi dimulai."
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju satu pijakan, membuat kristal es halus mekar secara ajaib di atas lantai batu di sekitar jejak kakinya. Binar matanya yang biru jernih meneliti Ophelia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Di atas kepala mereka, layar keemasan yang sempat membeku tadi pagi kembali meledak oleh kehadiran tokoh utama pria ketiga tersebut.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Divine Attention: HIGH
New Entity Detected: Adrian Theodore Everhart (Male Lead #3)
Temperature Alert: -4°C (Dropping)
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF WAR: Pria es ini lagi! Kenapa orang-orang dari utara selalu membawa aura yang sangat tidak menyenangkan? Ophelia, pakai mantel tebal atau minta aku membakar jubahnya dengan api ilahi!]
[GODDESS OF BEAUTY: Asterion, jaga mulutmu! Kontras antara rambut perak Adrian dan cadar putih Ophelia sungguh sebuah keindahan yang sangat dingin dan elegan! Ini seperti perpaduan salju abadi dan bunga lili suci!]
[GODDESS OF LOVE: KYAAAAAA! The Frozen Duke and the Soft Veiled Nun! Dia dikenal tidak pernah menyentuh atau menatap wanita mana pun di ibu kota, tetapi lihat bagaimana matanya tertuju pada Ophelia sejak detik pertama!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Berdasarkan analisis mana lingkungan, aura es di sekitar Adrian berfluktuasi secara tidak teratur. Ini menunjukkan peningkatan denyut jantung sebesar 12% saat melihat Ophelia.]
[GOD OF FORTUNE: Es yang diciptakannya merusak lapisan pualam lantai! Siapa yang akan membayar biaya restorasi batu kuil ini?!]
[UNKNOWN GOD: ...Stay warm, Ophelia.]
Ophelia memejamkan mata di balik kain cadarnya, meratapi nasibnya yang tidak pernah luput dari perhatian para dewa yang haus akan drama. Peringatan suhu dari sistem dan komentar para dewa semakin memperparah rasa pusing di kepalanya.
"Anda terlihat dingin, Biarawati," kata Adrian tiba-tiba, memutus keheningan di antara mereka.
Ophelia tersentak tipis, lalu segera menguasai diri. "Hamba baik-baik saja, Yang Mulia. Angin siang di area utara kuil memang sedikit kencang."
"Ini bukan karena angin," balas Adrian datar. Pria itu mengangkat tangan kanannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam. Dalam sekejap, aura es yang menusuk di sekitar ruangan mendadak menyurut, ditarik kembali ke dalam tubuhnya hingga suhu ruangan perlahan kembali normal. "Sensitivitas manaku sedikit tidak stabil karena perjalanan jauh dari wilayah utara. Minta maaf jika itu membuatmu tidak nyaman."
Ophelia sedikit terkejut. Sang Grand Duke yang terkenal sangat dingin, tak tersentuh, dan tidak peduli pada orang lain, baru saja meminta maaf kepada seorang biarawati biasa?
"Tidak perlu meminta maaf, Yang Mulia," sahut Ophelia seraya melakukan gestur penghormatan suci. "Hamba mengerti perjalanan dari Benteng Es Abadi sangat melelahkan. Mari hamba antarkan ke ruang tunggu."
Ophelia berbalik dan mulai memandu jalan menyusuri koridor samping yang lebih sepi. Adrian melangkah di belakangnya, mengamati setiap gerak-gerik sang biarawati dengan ketenangan yang menghanyutkan.
"Aku mendengar rumor menarik saat memasuki gerbang ibu kota pagi ini," ujar Adrian setelah beberapa saat hening. Langkah kakinya yang konstan menciptakan ritme yang menenangkan di koridor. "Kuil telah menemukan Saintess baru yang diramalkan oleh Divine Oracle."
Ophelia mempertahankan kecepatan langkahnya tanpa cela. "Benar, Yang Mulia. Nona Seraphina Celeste Roselle telah dikonfirmasi sebagai Saintess terpilih. Kedatangan Anda ke kuil tentu berkaitan dengan dukungan wilayah utara untuk upacara penobatannya, bukan?"
Adrian menatap punggung Ophelia yang terbalut jubah biarawati putih. "Secara politik, ya. Utara membutuhkan berkah ilahi untuk menahan ancaman monster di perbatasan es. Namun..."
Pria itu menghentikan langkahnya mendadak di tengah koridor.
Ophelia yang menyadari hal itu turut menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Adrian dengan raut bingung yang tersembunyi di balik kain cadar. "Yang Mulia?"
Adrian menatap lurus ke dalam sepasang mata biru jernih Ophelia yang mengintip tipis di balik kain tipis cadarnya. Tatapannya begitu dalam, seolah-olah ia sedang mencoba menembus rahasia terbesar yang disembunyikan oleh gadis itu.
"Oracle menyatakan bahwa Saintess adalah sumber cahaya ilahi terbesar di dunia ini," kata Adrian, suaranya mengalun seperti deru angin malam yang sunyi. "Namun, saat aku berdiri di hadapan gadis yang mereka sebut Saintess itu kemarin di gerbang kota... aku tidak merasakan apa pun. Tidak ada gelombang mana, tidak ada rasa hangat, tidak ada getaran ilahi."
Jantung Ophelia serasa berhenti berdetak selama satu detik.
PING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
CRITICAL WARNING: Perception Skill Activated!
Adrian Theodore Everhart is detecting Divine Core Resonance!
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF KNOWLEDGE: Bahaya! Grand Duke dari Utara memiliki bakat bawaan Absolute Sensory. Dia bisa merasakan ketidakberadaan energi ilahi pada Seraphina!]
[GODDESS OF WISDOM: Tenanglah, Ophelia. Jangan biarkan ekspresimu goyah. Pria itu hanya sedang memancing responmu.]
Ophelia mengepalkan jemarinya di balik nampan kayu, menarik napas panjang secara perlahan untuk menenangkan debar dadanya yang liar.
"Keagungan kekuatan ilahi tidak selalu dapat dirasakan oleh indra manusia, Yang Mulia," sahut Ophelia dengan nada suara yang sangat tenang dan meyakinkan. "Nona Seraphina baru saja tiba dan kekuatannya belum sepenuhnya bangkit. Seiring berjalannya waktu, berkah Olympus pasti akan terpancar jelas melalui dirinya."
Adrian memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah senyuman tipis—sangat tipis hingga hampir tak kasatmata—mewarnai bibirnya yang biasanya terkunci rapat.
"Jawaban yang sangat diplomatis, Biarawati Ophelia," kata Adrian seraya melangkah mendekat, menyisakan jarak yang cukup dekat hingga Ophelia dapat merasakan aura dingin yang samar dari tubuhnya. "Tetapi anehnya... justru di dekatmu, aku merasakan kehangatan yang sangat langka. Kehangatan yang tidak pernah aku rasakan dari siapa pun di kuil ini."
Ophelia membeku di tempatnya.
[GOD OF WAR: APA KATANYA?! KEHANGATAN?! DIA MENCOBA MERAYU SAINTESS KITA DENGAN GAYA DINGIN ITU?!]
[GODDESS OF LOVE: OHOOOO! 'Aku tidak merasakan apa pun dari Saintess resmi, tapi aku merasakannya darimu!' INI ADALAH DIALOG KLASIK YANG SANGAT INDAH!]
[UNKNOWN GOD: ...Step back, Duke.]
Sebelum Ophelia sempat merangkai kata-kata untuk membantah penyataan berbahaya tersebut, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah ujung koridor lain. Seorang prajurit pengawal utara berlari mendekat seraya membungkuk hormat.
"Yang Mulia Grand Duke! Pendeta Tinggi Julian telah selesai memimpin rapat kardinal dan sedang menunggu Anda di ruang dewan utama."
Atmosfer tegang yang membeku di antara mereka seketika terurai. Adrian memindahkan pandangannya ke arah pengawalnya, lalu kembali menatap Ophelia.
"Tampaknya pertemuan kita harus ditunda, Biarawati Ophelia," ucap Adrian tenang. Ia memberikan penghormatan kecil yang sangat anggun khas bangsawan tinggi. "Kita akan bicara lagi nanti. Aku yakin kita akan sering bertemu selama aku berada di ibu kota."
Adrian berbalik dan melangkah pergi bersama pengawalnya, meninggalkan jejak dingin yang perlahan menguap di udara.
Ophelia mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, menyandarkan tubuhnya tipis pada pilar pualam di dekatnya.
"Satu ksatria gila, satu penyihir jahil, dan sekarang seorang duke es yang mencurigai segalanya..." gumam Ophelia lirih, memejamkan matanya pasrah. "Kenapa tidak ada satu pun orang normal di kekaisaran ini?"
Layar keemasan melayang lembut di hadapannya, seolah merespons keluh kesahnya.
[GODDESS OF BEAUTY: Karena kamu adalah pusat dari dunia ini, sayangku!]
Ophelia hanya bisa menarik cadar putihnya lebih rapat, bersiap menghadapi kekacauan berikutnya yang sudah menunggunya di perpustakaan bawah tanah.
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗