THE SAINTESS BEHIND THE WHITE VEIL: THE GODS ARE OBSESSED WITH ME

THE SAINTESS BEHIND THE WHITE VEIL: THE GODS ARE OBSESSED WITH ME

Chapter 1: The Girl Behind the White Veil

Pagi hari di Grand Temple of Olympus selalu dimulai dengan dua hal: dentang lonceng perak seberat tiga ton yang bergema hingga ke ujung Kekaisaran Celestia, dan aroma dupa laurus yang manis menyengat. Bagi ribuan peziarah, tempat ini adalah poros jagat raya—sebuah keajaiban arsitektur dengan pilar-pilar marmer putih yang melesat menembus awan, tempat manusia membawa doa dan berharap para dewa mendengarkan.

Namun, bagi Ophelia Elizhabet de Ceolum, tempat ini hanyalah sebuah pabrik keluhan berlantai marmer.

"Ophelia! Air suci di koridor barat belum diganti! Dan tolong rapikan lilin di altar Dewa Perang sebelum para ksatria datang!"

"Baik, Suster Maria," sahut Ophelia lembut. Sound vokal-nya yang halus mengalun sempurna, persis seperti yang diharapkan dari seorang biarawati magang yang santun dan penuh pengabdian.

Ia mengangguk kecil, menundukkan kepala hingga ujung cadar putihnya meluncur menutupi dada. Cadar itu tebal, terbuat dari kain tenun khusus yang menutupi seluruh wajahnya dari dahi hingga dagu. Di mata orang luar, Ophelia adalah biarawati yang sangat rendah hati—seorang gadis yang memilih menyembunyikan parasnya demi menjaga kesucian niat di hadapan Yang Mahakuasa.

Sensasi kain dingin itu menggesek pipinya saat ia berjalan menyusuri koridor marmer. Tidak ada yang tahu bahwa di balik selubung putih tersebut, Ophelia sedang menguap lebar-lebar hingga matanya berair.

‘Aku baru tidur tiga jam,’ batin Ophelia, meratapi nasibnya sembari mengangkut ember berisi air suci. ‘Kenapa dewa-dewa itu harus berdebat soal tata letak batu altar sampai tengah malam? Dan kenapa harus di atas kepala kamar tidurku?’

Tiba-tiba, udara di depan mata Ophelia bergetar.

Bintik-bintik cahaya keemasan berkumpul di udara, membiaskan sinar matahari pagi menjadi sebuah papan transparan berwarna biru pucat yang mengapung tepat di hadapannya.

╔══════════════════════════════════════════════════════════╗

[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]

Target: Ophelia Elizhabet de Ceolum

Affection Level: ██████████ 99%

Divine Attention: EXTREME

Danger Level: 01%

Sanity Level: QUESTIONABLE

╚══════════════════════════════════════════════════════════╝

Ophelia menghentikan langkahnya. Ember kayu di tangannya goyah sedikit. Ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang teredam sempurna oleh kain cadarnya.

‘Pagi yang indah untuk mulai gila lagi,’ umpatnya dalam hati.

Layar itu melayang mengikuti pandangan matanya. Tak lama kemudian, baris-baris teks berwarna emas mulai bermunculan di atasnya, bergulir cepat seperti aliran air terjun.

[GOD OF WAR: Kenapa Saintess kecil itu hari ini terlihat sangat cantik?!]

[GODDESS OF BEAUTY: Karena dia memang cantik, bodoh. Walaupun cadar menyebalkan itu menghalangi 80% keindahannya. Buka cadarmu, Anakku!]

[GOD OF KNOWLEDGE: Secara statistik, simetri wajah dan proporsi tubuh Ophelia berada di luar standar rata-rata manusia sebesar 14,2%. Ketertarikan visual kalian sangat rasional.]

[GOD OF WAR: Aku tidak meminta analisis angka dari otak karatanmu, Orpheon!]

Ophelia memejamkan mata di balik cadarnya. Jarinya mencengkeram gagang kayu ember lebih erat. ‘Dewa Perang Asterion, tolong ingat kembali bahwa Anda adalah Dewa Perang, bukan pengamat gaya hidup biarawati.’

Fenomena gila ini dimulai kira-kira tiga bulan yang lalu. Saat itu, Ophelia yang sedang menyapu halaman kuil mendadak melihat jendela status melayang di udara. Awalnya, ia mengira dirinya terkena racun jamur ilusi atau menderita demam tinggi. Namun, ketika pesan-pesan absurdity itu mulai memengaruhi kenyataan—seperti tanaman layu yang mendadak mekar penuh karena 'Goddess of Beauty merasa iba melihat Ophelia cemberut'—Ophelia tahu bahwa ia berada dalam masalah besar.

Para dewa dan dewi Olympus sedang menonton hidupnya. Seolah-olah kehidupan Ophelia adalah sebuah pertunjukan teater beranggaran tinggi yang disiarkan langsung ke alam ilahi.

Dan yang paling menakutkan: mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Ophelia bisa melihat apa yang mereka tulis.

[GODDESS OF LOVE: Lihat cara dia memegang ember itu! Sangat anggun! Ah, seandainya ada ksatria tampan yang datang dan membantunya mengangkut air itu, lalu mata mereka bertemu... drama yang sempurna!]

[GOD OF FORTUNE: Jangan gila, Elara! Jika ada ksatria yang mendekatinya, biaya berkah yang harus kukeluarkan untuk menjaga privasi Ophelia akan membengkak lagi! Berkah Ilahi tidak gratis!]

[GODDESS OF WISDOM: Bisakah kalian semua tenang? Dia hanya sedang membawa air suci.]

[UNKNOWN GOD: ...She's cute.]

Tulisan terakhir itu membuat sudut mata Ophelia berkedut.

'Unknown God'. Dewa tanpa nama, tanpa profil, dan tanpa penjelasan yang selalu muncul di jam-jam acak hanya untuk melempar kalimat singkat yang tidak membantu sama sekali.

Ophelia melanjutkan langkahnya, pura-pura tidak melihat papan ketik gaib yang terus membanjiri pandangannya. Ia membelokkan langkah menuju Sanctuary Utama, tempat di mana patung-patung dewa berdiri megah. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kain menyerap bunyi di atas lantai batu.

"Selamat pagi, Agung Asterion," gumam Ophelia pelan saat melintas di depan patung Dewa Perang yang memegang tombak raksasa. Ia menunduk sebentar, memberi penghormatan formal.

Tiba-tiba, layar di hadapannya meledak dengan notifikasi berwarna merah terang.

[GOD OF WAR: DIA MENYEBUT NAMAKU! DIA MEMANDANG PATUNGKU! CELASTIA, KAU LIHAT ITU?! DIA LEBIH MENYUKAIKU!]

[GODDESS OF BEAUTY: Jangan percaya diri! Dia hanya menyapu debu di kaki patungmu yang kasar itu! Ophelia, datanglah ke altarku! Aku punya gaun sutra dari benang emas yang ingin kuberikan!]

[GOD OF WAR: Aku akan memberinya pedang! Pedang Mythril bertatahkan permata merah! Dia akan terlihat sangat perkasa!]

Ophelia menggigit bibir bawahnya. ‘Aku seorang biarawati, Demi Dewa... Untuk apa aku membawa pedang raksasa saat membagi-bagikan roti kepada anak-anak yatim piatu?’

Kekacauan di layar semakin tidak terkendali. Tulisan-tulisan itu bertumpuk begitu cepat hingga menyulitkan Ophelia untuk melihat jalan di depannya.

"Ophelia?" Sebuah suara berat dan dingin memecah konsentrasinya.

Ophelia mendongak. Di ujung koridor utama, berdiri seorang pria tinggi berseragam ksatria putih dengan sulaman emas di bagian dada—lambang Holy Imperial Knights. Rambutnya yang berwarna hitam kebiruan tersisih rapi, menyebarkan aura dominan yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Sepasang mata berwarna merah gelap menatap Ophelia dengan tajam.

Lucien Raphael von Astralis. Komandan Holy Imperial Knights sekaligus Imperial Swordmaster termuda dalam sejarah Celestia.

"Komandan Lucien," sapa Ophelia secepat mungkin, membungkuk dalam-dalam untuk menyembunyikan keterkejutannya.

Lucien melangkah mendekat. Setiap pijakan mataboot-nya bergema keras di koridor yang sepi. Matanya yang tajam meneliti biarawati di hadapannya—terutama cadar putih tebal yang tidak pernah lepas dari wajah gadis itu.

"Apa yang sedang kau lakukan di koridor utama sepagi ini?" tanya Lucien, suaranya datar namun sarat akan kecurigaan. "Upacara penyambutan Saintess baru akan dimulai dalam satu jam. Seluruh biarawati magang seharusnya sudah berada di aula timur."

"Saya baru saja selesai membersihkan pelataran barat, Komandan. Saya sedang dalam perjalanan menyimpannya," jawab Ophelia lembut, mempertahankan ketenangan suaranya sebaik mungkin.

Namun, di dalam kepalanya, ketenangan itu hancur berkeping-keping.

Sebab, layar transparan di depan matanya mendadak berkedip-kedip merah intens, disertai suara denting peringatan yang membingakkan telinga batinnya.

[GODDESS OF LOVE: KYAAA! PRIA TAMPAN ITU DEKAT BANGET! LOOK AT THAT EYE CONTACT!]

[GOD OF WAR: BAHAYA! RIVAL TERDETEKSI! SIAPA MANUSIA FANA INI YANG BERANI MENATAP SAINTESS-KU DENGAN MATA MERAH SOK KEREN ITU?!]

[GODDESS OF BEAUTY: Lucien dari House Astralis... hmmm, secara estetika dia sangat memenuhi standar. Tapi tatapannya terlalu agresif! Dia bisa menakuti Ophelia-ku!]

[GOD OF WAR: AKU AKAN MENGIRIMKAN PETIR UNTUK MEMBAKAR RAMBUTNYA!]

[GODDESS OF WISDOM: ASTERION, TAHAN DIRIMU! KITA TIDAK BOLEH INTERVENSI FISIK TANPA ALASAN!]

Ophelia membeku. Panik mulai merayapi punggungnya saat ia melihat kilatan listrik kecil berwarna keemasan menyambar-nyambar di langit-langit koridor marmer—tepat di atas kepala Lucien.

‘Jangan berkilat! Jangan menyambar! Jangan buat Komandan ini terbunuh hanya karena Dewa Perang sedang cemburu!’ teriak Ophelia dalam hati, berjuang mati-matian agar tangannya tidak gemetaran di balik lengan baju biarawatinya.

Lucien menyadarkan perubahan atmosfer itu. Ia mengerutkan dahi, matanya bergeser sedikit ke arah plafon kuil sebelum kembali menatap Ophelia. Pria itu mengambil satu langkah lebih dekat.

"Ada yang aneh dengannya..." gumam Lucien pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Setiap kali aku berada di dekatmu, aura mana di sekitar tempat ini menjadi sangat tidak stabil."

"M-mungkin itu hanya efek dari sisa-sisa doa pagi, Komandan," kilih Ophelia cepat, mundur setengah langkah secara refleks.

[GOD OF WAR: DIA MUNDUR! DIA MERASA TERANCAM! ASTERION, SIAPKAN PETIR KEDUA!]

[UNKNOWN GOD: ...Step back, mortal.]

Tiba-tiba, tekanan udara di koridor menurun drastis. Hawa dingin yang tidak alami berembus, membuat kain cadar Ophelia berkibar pelan. Lucien serta-merta memegang hulu pedangnya, memasang kuda-kuda siaga saat insting ksatrianya mendeteksi keberadaan kekuatan ilahi yang sangat masif namun tersembunyi.

Ophelia menyatukan kedua tangannya di depan dada, berpura-pura berdoa agar ia punya alasan untuk menundukkan kepala dan memejamkan mata rapat-rapat.

‘Ya Tuhan... Dewa mana pun yang ada di atas sana... Tolong hentikan ini. Aku hanya ingin hidup tenang sebagai biarawati biasa yang tidak terkenal...’

Namun, nasib tampaknya punya rencana lain. Hari ini adalah hari di mana ramalan besar dipublikasikan. Hari di mana Saintess resmi pilihan kuil akan diumumkan kepada seluruh dunia.

Dan sementara seluruh Kekaisaran meyakini bahwa gadis lain adalah sang Penyelamat yang ditunggu-tunggu... para dewa di atas langit sana justru sedang memperebutkan satu-satunya gadis yang wajahnya tersembunyi di balik cadar putih.

Ophelia menarik napas panjang saat layar status di depannya memperbarui teksnya dengan font berwarna merah menyala.

╔══════════════════════════════════════════════════════════╗

[SYSTEM ANNOUNCEMENT]

Divine Obsession has reached Phase 1.

Good luck surviving the Temple, Saintess Ophelia.

╚══════════════════════════════════════════════════════════╝

Ophelia menutup mata erat-erat di balik kain putihnya.

‘Sepertinya aku benar-benar harus mempertimbangkan untuk kabur dari kuil ini malam ini juga.’

Terpopuler

Comments

Wulan

Wulan

kak arthor aku mampir dan dari eps 1 aja udah seru 😆😆

2026-09-07

0

Wulan

Wulan

hmmmm mencurigakan unknown God ini 🧐🧐

2026-09-07

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1: The Girl Behind the White Veil
2 Chapter 2: The Busiest Temple in the World
3 Chapter 3: A Nun Who Hides Her Face
4 Chapter 4: A Man Made of Ice
5 Chapter 5: Am I Going Crazy?
6 Chapter 6: The God Who Watches Me
7 Chapter 7: A Very Strange Morning
8 Chapter 8: The Goddess Who Complimented My Hair
9 Chapter 9: Divine Blessings Are Annoying
10 Chapter 10: The Day I Heard the Gods Argue
11 The Saintess Selection Ceremony
12 The Girl Chosen by the Oracle
13 Seraphina Celeste Roselle
14 The Fake Saintess?
15 Why Are the Gods Panicking?
16 The White Veil Never Comes Off
17 The Imperial Swordmaster Arrives
18 Lucien's Suspicious Gaze
19 The Goddess of Love Screams
20 Please Stop Shipping Me
21 The Grand Mage of Celestia
22 Cassian's First Experiment
23 The Mage Who Hates Being Ignored
24 The Saintess and the Archmage
25 Three Seconds of Divine Silence
26 The Young Grand Duke
27 Adrian's Unexpected Question
28 Why Is Everyone Looking at Me?
29 The Gods Are Watching Again
30 The Grand Pope's Arrival
31 A Suspicious Prayer
32 The Youngest Grand Pope
33 Don't Look Behind My Veil
34 The First Divine Miracle
35 A Miracle I Didn't Perform
36 Divine Chaos
37 The Goddess of Beauty's Jealousy
38 The God of War's Gift
39 The Sword That Chose Me
40 The Gods Start Fighting
41 The Goddess of Wisdom Intervenes
42 A Very Long Divine Argument
43 Ophelia's Headache
44 PENGUMUMAN UNTUK PARA PEMBACA
45 The Day Olympus Went Silent
46 The Official Saintess
47 Seraphina's First Day
48 A Surprisingly Kind Rival
49 The Two Saintesses
50 Why Is Seraphina Following Me?
51 A Friendship Behind the Curtains
52 The White Veil and the Silver Crown
53 The Temple's Strange Rumors
54 The Saintess Who Can't Heal
55 A Miracle in the Cathedral
56 The Oracle's Prophecy
57 The Forbidden Scripture
58 The Saintess Who Was Erased
59 A Secret Beneath Olympus
60 The Door No One Can Open
61 The Crimson Archbishop
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Chapter 1: The Girl Behind the White Veil
2
Chapter 2: The Busiest Temple in the World
3
Chapter 3: A Nun Who Hides Her Face
4
Chapter 4: A Man Made of Ice
5
Chapter 5: Am I Going Crazy?
6
Chapter 6: The God Who Watches Me
7
Chapter 7: A Very Strange Morning
8
Chapter 8: The Goddess Who Complimented My Hair
9
Chapter 9: Divine Blessings Are Annoying
10
Chapter 10: The Day I Heard the Gods Argue
11
The Saintess Selection Ceremony
12
The Girl Chosen by the Oracle
13
Seraphina Celeste Roselle
14
The Fake Saintess?
15
Why Are the Gods Panicking?
16
The White Veil Never Comes Off
17
The Imperial Swordmaster Arrives
18
Lucien's Suspicious Gaze
19
The Goddess of Love Screams
20
Please Stop Shipping Me
21
The Grand Mage of Celestia
22
Cassian's First Experiment
23
The Mage Who Hates Being Ignored
24
The Saintess and the Archmage
25
Three Seconds of Divine Silence
26
The Young Grand Duke
27
Adrian's Unexpected Question
28
Why Is Everyone Looking at Me?
29
The Gods Are Watching Again
30
The Grand Pope's Arrival
31
A Suspicious Prayer
32
The Youngest Grand Pope
33
Don't Look Behind My Veil
34
The First Divine Miracle
35
A Miracle I Didn't Perform
36
Divine Chaos
37
The Goddess of Beauty's Jealousy
38
The God of War's Gift
39
The Sword That Chose Me
40
The Gods Start Fighting
41
The Goddess of Wisdom Intervenes
42
A Very Long Divine Argument
43
Ophelia's Headache
44
PENGUMUMAN UNTUK PARA PEMBACA
45
The Day Olympus Went Silent
46
The Official Saintess
47
Seraphina's First Day
48
A Surprisingly Kind Rival
49
The Two Saintesses
50
Why Is Seraphina Following Me?
51
A Friendship Behind the Curtains
52
The White Veil and the Silver Crown
53
The Temple's Strange Rumors
54
The Saintess Who Can't Heal
55
A Miracle in the Cathedral
56
The Oracle's Prophecy
57
The Forbidden Scripture
58
The Saintess Who Was Erased
59
A Secret Beneath Olympus
60
The Door No One Can Open
61
The Crimson Archbishop

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!