Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 Evakuasi di Tengah Badai Media

Rintik cahaya lampu kamera menembus kegelapan ballroom, menyambar-nyambar bagai kilatan petir di tengah badai yang tak kunjung reda. Puluhan wartawan yang semula datang dengan perhatian tertuju pada isu korporasi Arabell Group kini telah mengalihkan seluruh sorotan kepada satu sosok.

Ravian Adhikara Evander.

Mereka mendesak maju, mendorong pembatas kain beludru, mengacungkan mikrofon dari segala arah, seolah hendak mengoyak pertahanan pria itu hanya dengan rentetan pertanyaan.

“Pak Evander! Bisa jelaskan hubungan Anda dengan mahasiswi yang ada di dalam rekaman CCTV tersebut?”

“Apakah benar terjadi nepotisme dan transaksi nilai akademis di Kampus Jagatara?!”

“Apakah ini alasan Anda melindunginya malam ini?!”

Cecaran pertanyaan sahut-menyahut memekakkan telinga, bercampur dengan suara rana kamera yang tiada henti. Riuhnya memenuhi ballroom seperti gelombang yang siap menenggelamkan siapa pun yang berada di tengahnya.

Akan tetapi, Ravian tetap berdiri tegak.

Tubuhnya menjadi pagar kokoh di antara Liora dan lautan manusia yang haus akan skandal. Wajah tampannya mengeras, nyaris tanpa ekspresi. Tak ada kepanikan di matanya, hanya amarah dingin yang begitu tenang hingga justru terasa lebih mengancam daripada amarah yang meledak.

Ia tak menjawab satu pun pertanyaan.

Tak peduli pada kamera.

Tak peduli pada mikrofon.

Tak peduli pada reputasinya yang mungkin sedang dihancurkan di depan mata. Sebab, di tengah kekacauan itu, hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya.

Liora.

Di ujung lorong menuju VIP Lounge, gadis itu berdiri dengan kedua kaki seolah tertanam di lantai, terpaku di dekat sebuah pilar.

Wajahnya pias.

Jari-jarinya mencengkeram ujung gaun sendiri, sementara napasnya naik turun dengan cepat. Di balik kacamatanya, dua bola mata cokelat yang jernih itu mendadak mati rasa, menatap tanpa berkedip ke arah layar raksasa yang memenuhi salah satu sisi ballroom.

Rekaman itu.

Rekaman momen intim mereka.

Diputar di hadapan ratusan pasang mata.

Dunia Liora seakan runtuh hanya dalam beberapa detik.

Suara-suara di sekelilingnya perlahan berubah menjadi dengungan yang jauh. Lampu kamera terasa seperti kilatan yang membutakan. Rasa panik mencengkeram dadanya, membuatnya kesulitan meraup oksigen. Sementara tubuhnya terasa begitu ringan seolah-olah lantai di bawah kakinya telah menghilang.

“Jalan! Beri jalan!” suara tegas itu menerobos kerumunan.

Julian muncul bersama empat pengawal berseragam gelap. Mereka membentuk barikade tubuh, memaksa jalan di antara wartawan yang semakin agresif.

Begitu berhasil mendekati Ravian, Julian menyenggol bahunya dan membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu di tengah hiruk-pikuk yang nyaris menulikan telinga.

“Ravian, mobil sudah siap di pintu keluar darurat bawah tanah. Kamu dan Liora harus keluar dari gedung ini sekarang juga. Pintu utama sebentar lagi akan diblokir penuh oleh media.”

Ravian hanya mengangguk singkat.

Tidak ada waktu untuk berpikir. Tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Ia berbalik dan melangkah lebar menuju lorong VIP. Begitu pandangannya menemukan Liora, langkahnya langsung berubah menjadi lebih cepat.

Gadis itu masih berdiri gemetar di dekat pilar.

“Pak Ravian...” suaranya nyaris tak terdengar. “Video itu... foto-foto itu...”

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, luruh perlahan melewati pipi pucatnya.

Ravian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia tanpa ragu merengkuh bahu Liora dan menarik gadis itu mendekat ke dalam perlindungan tubuhnya.

“Jangan lihat mereka,” suaranya rendah, tenang, tetapi mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. “Jangan dengarkan apa pun.”

Telapak tangannya yang lebar berpindah ke belakang kepala Liora, menundukkan kepala gadis itu ke dadanya, menyembunyikan wajah Liora sepenuhnya dari sorotan kamera yang masih berusaha menangkap gambar dari celah-celah barikade para pengawal.

“Lihat saya saja.”

Liora membisu, tubuhnya pasrah dalam pelukan Ravian.

“Dan ikut saya,” suara Ravian melembut, hanya untuknya. “Percaya pada saya.”

Tanpa alasan yang mampu dicerna nalar, tiga kata terakhir itu membuat pertahanan yang tersisa pada diri Liora semakin rapuh.

'Percaya pada saya.'

Sebuah babak baru bermula malam itu, ketika ia akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya bertumpu sepenuhnya pada pria tersebut.

Ravian menuntunnya menyusuri lorong servis di belakang ballroom. Langkah mereka cepat, hampir tergesa. Di belakang, suara wartawan masih terdengar mengejar, diselingi benturan tubuh para pengawal yang berusaha menahan massa.

Ravian terus melangkah tanpa sekali pun menoleh. Ia hanya memastikan satu hal.

Liora tetap berada di sisinya.

Mereka menuruni tangga darurat menuju basement khusus VIP. Derap langkah menggema di dinding beton, berpacu dengan detak jantung Liora yang tak kunjung tenang.

Begitu sampai di bawah, sebuah sedan hitam telah menunggu dengan mesin menyala.

Pak Hendra berada di balik kemudi.

Julian segera membuka pintu belakang. “Cepat!”

Ravian mendorong Liora masuk terlebih dahulu. Setelah memastikan gadis itu aman, ia menyusul dan menutup pintu rapat.

Dalam sekejap, dunia luar terputus.

Keributan. Teriakan. Lampu kamera. Semuanya tertinggal di balik kaca gelap mobil.

“Jalan, Pak Hendra!” seru Julian dari luar. “Ke tempat aman. Sekarang!” tangannya menepuk kap mobil dua kali.

Sedan itu langsung melaju.

Ban berputar meninggalkan basement, menembus jalanan Jakarta yang diguyur hujan deras. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca yang basah, memanjang seperti garis-garis cahaya yang berlari tanpa arah.

Di belakang mereka, Hotel Grand Hyatt perlahan menghilang dari pandangan, sementara kekacauan yang mereka tinggalkan di sana baru saja dimulai.

Di dalam kabin, suasana jauh lebih sunyi.

Liora duduk lemas di samping Ravian. Tubuhnya gemetar kecil. Ia menyembunyikan wajah di balik sepasang telapak tangan seakan dengan begitu ia bisa menghapus semua yang baru saja dilihatnya.

Sialnya, tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kenyataan.

Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya pecah. Bahu Liora berguncang hebat.

“Karier Bapak...” suaranya terputus oleh isakan. “Masa depan saya di kampus... semuanya hancur, Pak...”

Ravian menatapnya dalam diam. Ada sesuatu yang bergetar di balik tatapan dinginnya. Bukan kemarahan kali ini. Melainkan rasa bersalah.

Dan ketakutan yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul ke permukaan.

Ia tidak memikirkan formalitas.

Tidak memikirkan jarak.

Tidak memikirkan apa pun yang mungkin dikatakan orang.

Ravian mengulurkan tangan dan tanpa membuang waktu menarik Liora ke dalam pelukannya.

Gadis itu sempat tercengang.

Namun, beberapa detik kemudian, ia menyerah pada kehangatan yang mendekapnya dan membiarkan kepalanya bersandar di dada Ravian.

Detak jantung pria itu terdengar stabil di telinganya. Jauh lebih stabil daripada dunianya yang baru saja porak-poranda.

Jemari panjang Ravian menyusuri rambutnya perlahan, mengusapnya dengan gerakan lembut yang bertolak belakang dengan ketegangan di wajahnya.

“Tidak ada yang hancur, Liora,” suara Ravian terdengar serak dalam kesunyian kabin.

“Tapi, Pak...”

“Dengarkan saya.”

Liora terdiam.

Ravian menundukkan wajahnya sedikit, memastikan gadis itu mendengar setiap kata yang diucapkannya.

“Saya yang akan menanggung seluruh akibatnya.” tangannya mengusap rambut Liora sekali lagi. “Bukan kamu.”

Hujan menghantam kaca mobil dengan suara yang konstan, seolah menjadi tirai yang memisahkan mereka dari dunia luar.

“Tidak ada seorang pun yang akan menyentuhmu.” nada suara Ravian semakin rendah. “Tidak ada seorang pun yang berhak menghancurkan masa depanmu.”

Ia menarik napas panjang. Dengan keyakinan yang nyaris terdengar seperti sebuah sumpah, ia berbisik, “Saya akan memastikan itu, Liora.”

Di tengah pelukan itu, Liora kembali menangis. Kali ini, tangisnya bukan lagi semata-mata karena ketakutan.

Ada sesuatu yang jauh lebih rapuh di sana.

Kepercayaan.

Di saat yang sama, di dalam saku jas Ravian, ponselnya terus bergetar tanpa henti.

Satu notifikasi.

Dua.

Sepuluh.

Puluhan.

Layar ponselnya akhirnya menyala sendiri.

Deretan berita daring memenuhi layar, masing-masing berlomba menuliskan versi mereka tentang kehancuran yang baru saja terjadi.

Satu tajuk utama terpampang paling mencolok:

“SKANDAL DOSEN DAN MAHASISWI MAGANG EVANDER CORP MELEDAK DI GALA DINNER.”

Ravian menatap judul itu beberapa detik. Tatapannya kembali mengeras.

Ia tahu satu hal.

Malam ini bukan akhir dari masalah mereka.

Ini baru permulaannya.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!