Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Layar Retak dan Gengsi di Luar Seragam
Dua hari setelah insiden hantaman bola basket, kehidupan sekolah Amira berangsur-angsur normal.
Atau lebih tepatnya, normal dalam versi yang baru.
Plester penurun panas di pelipis kirinya sudah diganti dengan plester luka biasa berukuran kecil.
Tidak ada lagi tatapan sinis dari kakak kelas, tidak ada lagi bisik-bisik merendahkan di kantin.
Bahkan, beberapa anak kelas XII yang biasanya arogan kini sengaja tersenyum canggung saat berpapasan dengannya di koridor.
"Gue masih ngerasa kayak bos mafia tiap jalan bareng lo, Mir," celetuk Rara saat mereka menuruni tangga menuju lapangan parkir.
"Bener banget. Semenjak kejadian lo digendong kapten, satu sekolah mendadak sungkem," timpal Maya sambil sibuk mengunyah permen karet.
Amira hanya memutar bola matanya malas.
"Bukan sungkem, May. Mereka cuma takut diamuk sama si kulkas dua pintu itu," ralat Amira dengan nada bosan.
Meski mulutnya berkata begitu, jauh di lubuk hatinya, Amira masih sering merasakan desiran aneh jika mengingat kejadian di UKS.
Alfian yang panik, Alfian yang pucat, dan Alfian yang diam-diam membelikannya semangkuk bubur panas.
Sial, cowok itu benar-benar tahu cara mengacaukan kewarasan orang.
"Lo balik naik apa, Mir? HP lo kan masih mati total," tanya Rara membuyarkan lamunan Amira.
Amira menghela napas panjang, menatap tas punggungnya dengan nanar.
"Gue mau mampir ke pusat servis elektronik di mal ujung jalan sana," jawab Amira lesu.
"Kemarin malam udah gue coba charge seharian, tapi layarnya tetep mati dan cuma getar-getar doang."
"Mau gue temenin nggak?" tawar Maya dengan raut simpati.
"Nggak usah, kalian kan ada jadwal kumpul ekskul mading hari ini. Gue berani kok sendiri," tolak Amira halus.
Setelah berpamitan dengan kedua temannya, Amira berjalan menyusuri trotoar menuju halte angkot.
Cuaca sore ini cukup cerah, berbeda dengan badai yang menerjang tempo hari.
Amira naik ke dalam angkot biru yang lumayan sepi, duduk di pojok sambil menikmati semilir angin dari jendela.
Pikirannya melayang pada ponselnya yang rusak.
Gara-gara Alfian dan bola nyasarnya, Amira harus merelakan uang tabungannya untuk mengganti LCD yang harganya tidak murah.
"Awas aja kalau sampai habis banyak, bakal aku tagih ke si kapten arogan itu," gerutu Amira pelan.
Pusat perbelanjaan elektronik itu sangat ramai dan bising.
Lampu-lampu neon menyilaukan mata, berpadu dengan suara dentuman musik bass dari berbagai toko speaker.
Amira berkeliling dari satu konter ke konter lain dengan langkah ragu.
Ia sama sekali tidak mengerti soal mesin atau sparepart ponsel.
"Ganti LCD original buat tipe ini kena delapan ratus ribu, Dek," ucap seorang teknisi berbadan tambun di salah satu toko.
"Hah?! Delapan ratus?!" mata Amira nyaris melotot keluar.
Itu lebih dari separuh uang jajan bulanannya!
"Nggak bisa kurang, Bang? Ini kan cuma retak dikit di pojokan," tawar Amira memelas.
"Ya nggak bisa, Dek. Ini udah harga pas. Kalau mau yang KW harganya lima ratus, tapi saya nggak jamin layar sentuhnya mulus," jelas si abang teknisi acuh tak acuh.
Amira menggigit bibir bawahnya, menatap ponsel kesayangannya yang tergeletak mengenaskan di atas etalase kaca.
Kalau ia pakai yang KW, pasti nanti cepat rusak lagi.
Tapi kalau yang asli, dompetnya bakal menangis darah.
"Ada harga yang lebih masuk akal nggak di toko lain?" gumam Amira bimbang.
Tepat saat Amira berniat mengambil ponselnya untuk pergi ke konter lain, sebuah tangan panjang dan kekar mendahuluinya.
Ponsel retak itu diambil oleh seseorang dari arah belakang.
"Delapan ratus kemahalan, Bang. Harga distributor buat LCD tipe ini cuma empat ratus ribu," suara bariton yang teramat berat itu memecah kebisingan konter.
Amira tersentak hebat, buru-buru menoleh ke samping.
Aroma parfum mint maskulin langsung menyerang indra penciumannya dengan telak.
Alfian berdiri di sebelahnya.
Cowok itu tidak memakai seragam sekolah atau jaket varsity kebesarannya.
Alfian mengenakan kaus hitam polos yang pas membalut tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana jeans gelap dan sneakers putih.
Rambut hitamnya tidak ditata rapi seperti biasa, melainkan sedikit acak-acakan natural yang justru membuatnya terlihat luar biasa tampan.
Amira sampai lupa cara berkedip selama tiga detik penuh.
"Eh? Kok kamu bisa ada di sini?!" seru Amira setelah kesadarannya kembali.
Alfian sama sekali tidak menoleh menatap Amira.
Mata elang cowok itu masih menatap tajam ke arah abang teknisi di balik etalase.
"Lima ratus ribu, udah termasuk ongkos pasang. Gimana?" tawar Alfian dengan nada datar namun sangat mengintimidasi.
Si abang teknisi yang tadinya santai, kini terlihat agak salah tingkah ditatap seintens itu oleh cowok berwajah preman elit.
"Y-ya nggak dapet dong, Mas. Saya kan juga butuh untung," elak si teknisi sambil menggaruk tengkuknya.
"Toko di ujung blok sana nawarin lima ratus lima puluh ribu," karang Alfian dengan wajah tanpa dosa.
"Kalau Abang nggak mau, saya bawa cewek ini ke sana aja."
Alfian membalikkan badannya, bersiap melangkah pergi sambil membawa ponsel Amira.
"Eh, bentar, bentar!" panggil si teknisi buru-buru.
"Ya udah, ya udah. Enam ratus ribu, harga mentok! Saya pasangin yang original, garansi sebulan."
Alfian menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dari balik bahunya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh kemenangan.
"Deal," jawab Alfian singkat.
Ia meletakkan kembali ponsel Amira ke atas etalase kaca.
"Berapa lama jadinya?"
"Satu jam, Mas. Ditinggal aja dulu, nanti balik lagi," kata teknisi itu mulai membongkar bagian belakang ponsel.
Alfian mengangguk puas.
Baru setelah urusannya dengan abang konter selesai, cowok itu menunduk dan menatap Amira yang sedari tadi melongo tak bersuara.
"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Baru sadar gue ganteng?" sindir Alfian menaikkan sebelah alisnya.
Wajah Amira langsung memerah padam, buru-buru memalingkan pandangannya.
"Dih, geer abis! Aku cuma kaget, kenapa setan penunggu lapangan basket tiba-tiba muncul di mal elektronik?!" sungut Amira ngegas untuk menutupi salah tingkahnya.
"Gue habis beli pelindung lutut baru di toko sport lantai bawah," jawab Alfian enteng sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jeans.
"Terus nggak sengaja ngelihat ada cewek bodoh yang hampir dikadalin tukang servis."
"Siapa yang kamu panggil cewek bodoh?!" Amira melotot garang.
"Lo," sahut Alfian tanpa berkedip.
"Kalau lo nggak gue tolongin tadi, lo udah miskin mendadak bayar delapan ratus ribu buat barang harga standar."
Amira terdiam.
Mulutnya terbuka sedikit berniat membantah, tapi tidak ada kata yang keluar karena ucapan cowok ini lagi-lagi seratus persen benar.
"Ya... ya kan aku nggak tahu harga pasarannya!" bela Amira pelan, nyalinya menciut.
Alfian mendengus pelan, menggelengkan kepalanya melihat tingkah keras kepala gadis di depannya ini.
"Lo bawa duit enam ratus ribu nggak sekarang?" tanya Alfian mengalihkan pembicaraan.
Amira menggigit bibirnya, mengangguk ragu. "Bawa sih... tapi itu uang tabunganku bulan ini."
Melihat raut wajah Amira yang murung memikirkan uang tabungannya yang lenyap, entah kenapa ada rasa tidak tega yang menyusup di dada Alfian.
Rasa bersalah tipis karena bola basketnya lah yang menjadi awal mula semua bencana ini.
Tapi tentu saja, seorang Alfian Pratama tidak akan pernah meminta maaf secara blak-blakan.
"Gue yang bayar servisnya nanti," potong Alfian tiba-tiba.
Amira langsung mendongak kaget. "Hah? Maksudnya?!"
"Gue nggak suka ngulang kalimat gue dua kali," balas Alfian ketus, mulai melangkah menjauhi konter.
"Tungguin di sini atau gue tinggal."
Amira buru-buru menyusul langkah panjang cowok itu.
"Nggak usah! Aku bisa bayar sendiri! Nggak usah sok pahlawan deh!" tolak Amira, gengsinya kembali meronta.
Alfian berhenti mendadak di tengah jalan, membuat Amira nyaris menabrak punggung lebarnya.
Cowok itu berbalik, menundukkan kepalanya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah Amira.
"Lo itu emang hobi banget nolak bantuan orang, ya?" desis Alfian tajam.
"Gue yang bayar karena ini tanggung jawab gue sebagai kapten tim. Bola dari lapangan gue yang bikin layar lo retak."
Amira tertegun, menatap langsung ke dalam manik mata hitam legam itu.
Tidak ada arogansi di sana, hanya ada sebaris tanggung jawab yang teguh.
"Jadi mending lo diam, simpan uang tabungan lo yang secuil itu, dan ikut gue sekarang," titah Alfian final.
Amira mengerutkan kening. "Ikut ke mana? Kan nunggu sejenjam."
"Makan. Gue belum makan siang," jawab Alfian membalikkan badan dan kembali berjalan.
Mereka berakhir di sebuah food court yang terletak di lantai paling atas mal.
Alfian memilih meja yang berada di pojok dekat jendela kaca besar, menghadap langsung ke pemandangan kota di sore hari.
Satu porsi nasi goreng seafood panas sudah tersaji di depan Alfian.
Sementara di depan Amira, hanya ada segelas lemon tea dingin yang ujung sedotannya sudah ia gigit sedari tadi.
Suasana di meja itu canggung luar biasa.
Amira tidak tahu harus membicarakan apa dengan musuh bebuyutannya saat mereka tidak sedang berada di mode "saling membunuh".
Alfian makan dengan sangat tenang dan elegan, sama sekali tidak terganggu dengan kecanggungan yang mengudara.
"Kenapa lo nggak makan?" tanya Alfian setelah meneguk air putihnya.
"Nggak lapar," dusta Amira, padahal perutnya sudah bernyanyi sejak tadi.
Namun gengsi mencegahnya untuk meminta dibelikan makanan setelah cowok ini rela membayar biaya servis ponselnya.
Alfian menyodorkan piring kecil berisi beberapa potong dimsum udang yang baru saja ia pesan sebagai makanan pembuka.
"Makan itu. Gue sengaja pesen banyak," titah Alfian datar.
Amira melirik dimsum itu, lalu melirik wajah Alfian curiga.
"Kamu nggak lagi nyoba ngeracunin aku kan biar nggak banyak protes di sekolah?" selidik Amira memicingkan matanya.
Alfian memutar bola matanya malas, sebuah ekspresi yang sangat langka ia tunjukkan pada orang lain.
"Kalau gue niat bunuh lo, gue bakal tinggalin lo pas pingsan di lapangan kemarin," balas Alfian tajam.
Amira mendengus pelan, akhirnya menyerah pada godaan perutnya dan mencomot satu buah dimsum menggunakan garpu kecil.
Rasa udang yang gurih langsung memanjakan lidahnya.
"Enak," gumam Amira tanpa sadar, matanya berbinar kecil.
Alfian yang melihat raut wajah puas itu diam-diam menahan senyum tipis di sudut bibirnya.
Cowok itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Amira yang sedang mengunyah dimsum dengan pipi agak menggembung.
Untuk pertama kalinya, mereka duduk berhadapan tanpa ada keributan.
"Kenapa kamu selalu masang muka kaku kayak kanebo kering ke semua orang di sekolah?" tanya Amira tiba-tiba, memecah keheningan yang nyaman itu.
Alfian sedikit tersentak mendengar pertanyaan blak-blakan tersebut.
"Bukan urusan lo," jawab Alfian cepat, refleks menggunakan kalimat andalannya.
"Tuh kan, mulai lagi mode kulkasnya," cibir Amira meminum lemon tea-nya.
"Aku cuma nanya. Heran aja, padahal di luar sekolah kamu bisa tuh ngomong panjang lebar sambil nawar harga."
Alfian terdiam cukup lama, menatap keramaian food court di bawah sana.
Entah kenapa, melihat wajah Amira yang santai tanpa aura permusuhan membuatnya merasa sedikit... lengah.
"Gue cuma muak," ucap Alfian tiba-tiba, suaranya sangat pelan namun terdengar jelas.
Amira menaruh gelasnya, mendengarkan dengan saksama.
"Muak lihat orang-orang yang pura-pura baik cuma karena butuh sesuatu dari gue. Muak sama cewek-cewek yang cuma ngejar status," lanjut Alfian, matanya menerawang jauh.
"Makanya gue pasang tembok. Kalau mereka nggak kuat nembus sikap gue, berarti mereka emang nggak pantes ada di dekat gue."
Amira tertegun mendengar pengakuan yang sangat mendalam dari seorang Alfian Pratama.
Ternyata, di balik arogansinya, cowok ini menyimpan rasa tidak percaya yang besar terhadap orang lain.
"Tapi... cara kamu itu salah," respons Amira lembut, sama sekali tidak ada nada menghakimi di suaranya.
Alfian menoleh, menatap gadis itu dengan dahi berkerut.
"Maksud lo?"
"Kalau kamu masang tembok terlalu tinggi, kamu emang berhasil ngejauhin orang-orang palsu," jelas Amira sambil tersenyum tipis.
"Tapi kamu juga nggak sengaja ngeblokir orang-orang tulus yang beneran peduli sama kamu."
Deg.
Jantung Alfian seolah melompat dari ritmenya.
Kalimat sederhana itu menghantam telak, tepat di ulu hatinya
Tatapan Amira yang teduh dan tulus membuat napas Alfian sedikit tertahan.
"Kayak cowok bodoh yang milih kedinginan di dalam benteng es-nya sendiri," pungkas Amira sambil menyuapkan dimsum terakhir ke mulutnya.
Alfian tidak menjawab.
Cowok itu hanya menatap Amira dalam diam, menyadari bahwa cewek keras kepala ini adalah satu-satunya orang yang berani memanjat paksa dinding es yang ia bangun bertahun-tahun.
Dan yang paling menakutkan bagi Alfian adalah... ia mulai tidak keberatan jika Amira berada di dalam bentengnya.