Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabib
Istana Selatan,
Di kediamannya Swanzi tertidur.
Tidurnya nyenyak.
Di dalam kereta tadi dia puas tertidur dalam pelukan Raja Yuko.
Aku tidak berpikiran apa-apa hanya saja aku punya perasaan tidak enak setelah ini.
Swanzi pasti punya siasat lagi.
Aku kembali ke kamarku di ikuti oleh seorang dayang.
Aku teringat, kemana dayang yang kemarin di usir bersamaku.
Dia tidak terlihat.
"Bisa bantu aku.. tolong carikan aku dayang yang menemani Swanzi biasanya" kataku.
"Baik Nona... " kata dayang, dayang itu pergi.
Aku di dalam kamar sendirian.
Raja Yuko datang.
"Kenapa tidak mengobati Swanzi" kata Raja Yuko menarik tanganku.
"Dia hanya sedang tidur" kataku tenang.
"Dari tadi kau hanya mengamati" katanya
"Aku perlu mengamati, untuk apa buang-buang energi" kataku melepas tanganku dari pegangan Raja Yuko.
Aku kembali duduk.
Dayang datang menghadap, dia takut melihat Raja Yuko.
"Bagaimana? " tanyaku.
"Beberapa hari ini Dayang itu tidak ada di istana" kata Dayang melapor padaku.
"Siapa? " tanya Raja Yuko.
"Dayang yang menemani Swanzi" jawabku.
Aku mempersilahkan dayang yang membantuku keluar dari kamar, karena aku tau tempramen Raja Yuko.
"Berikan saja minum air sumur suci" kataku "Swanzi pasti sembuh," kataku meresepkan asal.
Raja Yuko melangkah keluar dari kamarku.
**
Aku memilih beristirahat karena tadi malam kurang tidur.
Berbaring di kasur sutra.
Kudengar ribut di luar jendela.
"Mayanza... " pintu kamarku di buka tanpa diketuk.
Aku terkejut, langsung duduk.
Putri Rena berlari ke arahku.
"Sumur air suci" katanya
Tanganku ditarik kami berlari.
Kerumunan orang-orang istana di dekat sumur itu.
Mataku terbelalak seorang wanita dengan tubuh yang sudah bengkak dengan pakaian putih ditemukan di dalam sumur.
Aku mendekat mengenal orang itu, Raja Yuko datang.
"Ada apa ini? " tanya Raja Yuko.
"Kami menemukan mayat seorang dayang jatuh di sumur" kata Pengawal.
Raja Yuko berbalik berjalan menuju kediaman Swanzi.
Aku mengikuti dari belakang.
Ikut masuk ke kediaman Swanzi.
Swanzi sudah bangun duduk meminum air.
Raja Yuko merampasnya.
"Hentikan, jangan diminum" katanya.
Gelas itu dirampas dan terjatuh di lantai.
Swanzi terkejut.
Menangis.
Aku berdiri di pintu.
"Sudah aku bilang, dia harus mengajariku menjadi Tabib seperti Ayah....
dari awal sudah kubilang padanya, tapi tidak pernah sedikitpun mengajari aku" tangisnya pecah di pelukan Raja Yuko.
Kenapa jadi aku?
Bukankah diawal mau belajar tapi mau membunuhku berkali-kali.
Aku berbalik badan, meninggalkan Raja Yuko dan Swanzi ke kamarku.
**
Dayang yang meninggal langsung di makamkan jauh dari istana.
Ada beberapa acara buang sial yang diadakan kerajaan, tidak boleh makan ketan dan semacam manisan.
Tidak seorangpun yang mendekat dan mengambil air dari sumur.
Air sumur sudah ternodai oleh mayat.
Aku mulai membaca buku pengobatan tradisional Negeri Zink.
Mengenal beberapa ramuan obat.
Tanpa kekuatan sihir aku mampu mengobati tanpa harus mengeluarkan energi.
"Baginda Raja memanggil anda Nona Mayanza" kata seorang pengawal dari luar pintu.
"Aku datang" kataku.
**
Aku melangkah ke perpustakaan kerajaan.
Berjejer buku-buku ilmu pengetahuan mendekati meja belajar di pojok belakang aku melihat gulungan-gulungan kertas.
Mungkin ini adalah gulungan titah Raja pikirku.
Aku memberanikan diri membaca beberapa bait yang bisa dibaca dalam bahasa latin.
Sebuah titah kotak merah jadi perhatianku.
Aku ingin meraihnya tapi terlalu tinggi.
Aku berjinjit tidak sampai juga, melompat.
Aku terkejut Raja Yuko dan Panglima datang.
Aku diam berdiri.
"Sudah lama?" tanya Raja Yuko.
"Tidak juga... " jawabku.
menyentuh beberapa buku dengan jariku.
Panglima pamit keluar perpustakaan.
"Berapa lama kau bisa tinggal disini? " tanya Raja Yuko dengan wajah serius.
"Tergantung kita memburu mahluk apa lagi" kataku.
"Sejak kapan kau bisa berpindah ke tempat yang sama pada satu dunia" tanya Raja Yuko lalu duduk di kursi.
Aku juga ikut duduk di kursi yang ada, kakiku pegal.
"Entahlah, aku lupa" kataku menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Biasanya kau minta pulang lebih cepat" kata Raja Yuko.
"Aku diliburkan" jawabku singkat.
"Kamu di berhentikan? " kata Raja Yuko
"Enak saja! Tidak ada yang memecatku, tidak perlu berputar-putar kau mau bicara apa? " kataku yang tidak ada hormat-hormatnya.
"Aku minta kau mengajarkan Swanzi cara merapal dan meracik bunga teratai untuk pengobatan"
Wajah Raja Yuko berubah, seperti terpaksa mengatakan ini.
"Oh.. Masalah itu, masalahnya....
aku tidak bisa mengajarkan hal itu padanya. Sudah kukatakan rapalan mantra itu otomatis muncul saatku terdesak dan itu muncul begitu saja dari pikiranku.
Kau tau otomatis? bagaimana ya menjelaskannya..." kataku sambil memegang daguku dengan jari.
Raja Yuko meraih tanganku, jariku masih di plester luka, bukan itu yang dia lihat.
Gelang Giok berlilit akar emas bunga melati di tanganku.
**
Aku melepaskan tanganku,
"Lepaskan sakit! " kataku.
Raja Yuko memandangku.
Pengawal datang.
Raja Yuko perlahan melepaskan genggamannya.
"Tuan seorang dayang jatuh dari tangga setelah mengantarkan bahan makanan ke Aula Istana, apakah Nona Mayanza bisa membantu? " kata Pengawal.
"Siapa yang menyuruhmu datang kemari? " kata Raja Yuko.
" Tabib Swanzi... " kata pengawal.
Aku berdiri, "Baiklah, kebetulan hari ini aku lowong" kataku berjalan meninggalkan Raja yang masih duduk menghadap meja belajar istana.
**
Aku menghilang sejenak menjemput Kuda, kubawa ke Istana Selatan, kutitipkan dulu di kandang Istana.
Kuda Dua miliarku jangan sampai hilang pesanku pada pengawal, wajahnya bingung tidak mengerti.
Kuda bernama Gen lebih baik tinggal di Istana daripada rumah Kakek.
Aku juga membawa kotak obatku yang kuambil dari kamar Asrama.
Tepatnya peralatan medis dunia modern.
Dayang itu meringis menangis, mungkin aku terlalu lama, Swanzi malah duduk manis di sampingnya.
"Maafkan aku terlalu lama" kataku.
Lalu aku duduk, mengambil kapas.
"Apakah lukanya sudah dibasuh dengan air hangat" kataku.
"Belum... " kata seorang dayang.
"Bersihkan bawa kain bersih" dayang membantuku mengusap luka.
Swanzi memperhatikanku.
Ku keluarkan alkohol, "agak sakit" ucapku.
Dayang meringis menahan tangisan.
Mereka seperti menunggu apa yang keluar dari kotak ajaib.
Ku keluarkan spuit suntikan, kusuntik dengan obat anti nyeri.
Aku mulai menjahit kakinya yang sobek. Menutup perban.
Memberinya obat anti nyeri dan antibiotik.
"jangan lupa tiap butirnya diminum 1 selama 3 kali, sekarang minum satu setelah makan nanti malam minum lagi sekali" kataku, aku menyerahkan air putih dalam gelas keramik, memintanya menelan obat.
Terlihat bingung.
Berhasil menelan, kuminta dayang membawanya kembali ke kamar.
Swanzi menatapku kecewa lalu meninggalkan aku di kamar.
Aku menarik napas panjang.
**
Pagi hari, kicauan burung bersahutan.
Aku duduk di bawah pohon plum yang bermekaran.
duduk di bangku samping kamarku di istana selatan.
Aku duduk menunggu pasienku datang.
Dayang datang berpegangan dengan temannya.
kuajak duduk bangku di sampingku.
Kubuka lukanya dan kuganti perban kemarin.
"Bagaimana? Rasanya" kataku.
"Aku tidak merasa sakit dan demam, hanya kakiku yang sakit ini susah digerakan" katanya.
"Sabar, sebentar lagi sembuh" kataku.
"Ini perban, dan alkohol" kusertakan kapas juga untuk mereka berdua.
"Besok diganti lagi seperti caraku tadi, temanmu bisa menbantu" kataku, dayang mengangguk.
"obatnya jangan lupa diminum" kataku.
"Baik" kata dayang yang terluka.
"Baiklah, selesai" kataku, aku meregangkan tangan ke atas.
"terima kasih Tabib... Eh... Nona... " kata Dayang.
"Panggil saja aku Tabib Mayanza" kataku.
Dayang tersenyum senang.
Kembali ke kediaman mereka.
Aku duduk di bangku memandang pohon plum yang mekar.
Raja Yuko memandangku dari kejauhan.
Aku hanya ingin membuktikan padanya, tanpa teratai emas orang di Negeri Zink bisa sembuh.
**
Aku senang mengoyang-goyangkan kakiku duduk di bangku dengan pakaian berwarna merah jambu pemberian Putri Rena.
Rambutku kugerai hari ini.
Udara sejuk yang lama tidak kudapatkan di duniaku.
Aku sangat bahagia hari ini.
𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣𝙠𝙖𝙝 𝘼𝙠𝙪 𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙚𝙧𝙥𝙞𝙡𝙞𝙝?
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...