perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak pernah mengerti
Kurang dari 20 menit perjalanan, aku dan Aira telah sampai di depan kantor Mas Rama. Ya, jarak antara rumah dan tempat kerja Mas Rama lumayan jauh. Dan aku harus sampai sebelum jam 8.
Kulihat Mas Rama sudah berdiri di depan kantornya, menungguku datang. Saat ia melihat ky, segera ia menghampiriku dan langsung meminta berkas yang kubawa.
"Untung saja rapat nya belum dimulai. Kenapa lama sekali." Ucap nya padaku.
"Maaf, Mas karena aku membawa Aira. Aku tidak mungkin mengendarai motor terlalu ngebut." Jawabku pelan.
Tanpa berkata lagi, Mas Rama langsung berjalan masuk kedalam kantornya. Tanpa ada ucapan terimakasih atau pun senyuman.
Aku menarik napas panjang. Aku melihat Aira yang memandangku dengan senyuman. Senyumnya membuat hatiku kembali tenang.
Aku dan Aira langsung pulang. Namun sebelum pulang aku mau mampir dulu ke pasar untuk berbelanja keperluan dapur yang sudah mulai menipis.
Aku mengendarai motor ku dengan perlahan karena tubuhku sudah merasa lelah. Dari pagi aku sama sekali belum memakan sesuap nasi.
Setelah aku sampai dipasar, aku hanya membeli bahan-bahan yang sudah habis. Karena jatah uang belanja dari Mas Rama harus bisa aku perhitungkan hingga 1 minggu.
Mas Rama menjatah uang untuk 500 ribu dalam satu minggu. Aku tak pernah tau berapa besar gaji Mas Rama setiap bulan sebagai seorang pegawai negri. Karena kami masih punya cicilan rumah, jadi aku berpikir bahwa mungkin gaji Mas Rama sebagian besar untuk membayar cicilan rumah.
Aku tidak ingin mempunyai pikiran negatif terhadap suamiku. Aku ingin mencari surga dengan selalu patuh dan melayaninya dengan sepenuh hati.
Setelah berbelanja, aku dan Aira langsung pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, terlihat masih berantakan. Ruang tamu, meja makan, dapur, semua nya belum sempat aku bereskan.
"Aira, sayang. Adik main sendiri dulu ya di kamar sambil nonton tv. Mama mau beres- beres rumah dulu, terus masak buat makan siang." Ucapku pada Aira.
"Iya, Mama." Jawab nya . Aira memang anak yang sangat penurut.
Tanpa membuang waktu aku segera membereskan rumah, menyapu, mengepel, mencuci piring sisa sarapan tadi pagi. Setelah itu aku lanjutkan untuk memasak.
Saat aku sedang sibuk di dapur. Aku tidak mendengar suara Aira. Biasanya anak itu senang mengoceh sendiri, kadang juga bernyanyi.
Segera aku melangkah menuju kamar untuk melihat Aira. Dan ternyata anak itu ketiduran di depan tv dengan boneka yang di peluknya. Aku berjalan mendekatinya, mencium keningnya. Sungguh anak yang manis.
Aku kembali ke dapur, namun tiba-tiba ponselku berbunyi di atas meja makan. Segera aku mengambil dan melihat layar ponselku. Ternyata Bu Nadia menghubungiku, guru Aldi di sekolah.
"Assalamualaikum, Bu Nadia.?" Ucap ku memberi salam kepada Bu Nadia.
"Walaikumsallam, Bu Jasmine. Maaf mengganggu. Ini saya mau memberitahu kalau Aldi sakit, tadi dia muntah-muntah, Bu. Dan sekarang anak nya menangis memanggil mama nya. Apakah Bu Jasmine bisa menjemput Aldi sekrang?" Ucap Bu Nadia.
Seketika aku terkejut mendengar ucapan Bu Nadia. Karena tadi pagi Aldi sehat-sehat saja dan tidak ada tanda-tanda akan sakit. Kenapa dia bisa muntah-muntah.
"Iya, Bu Nadia. Tapi ini Adiknya baru saja tertidur, jika saya tinggal tidak ada yang menjaga nya dirumah. Saya akan coba menghubungi Papa nya Aldi dulu. Supaya beliau yang menjemput." Ucapku.
"Baik, Bu Jasmine. Sementara saya akan menjaga Aldi di ruang UKS." Ucap Bu Nadia.
"Terimakasih banyak, Bu Nadia." Jawab ku.
Setelah menutup telpon dari Bu Nadia. Aku langsung saja menghubungi Mas Rama.
Tak lama telpon ku di jawabnya.
"Assalamualaikum, Mas?" Ucapku.
"Walaikumsallam. Ada apa?" Tanya Mas Rama.
"Mas, aku mau minta tolong. Bisa kah kamu menjemput Aldi sekrang di sekolahnya. Karena barusan wali kelas Aldi menghubungiku dan memberitahu kalau Aldi tiba-tiba sakit, dia muntah-muntah di sekolah. Aku tidak bisa menjemputnya, karena Aira baru saja tidur. Kalau aku membangunkannya, nanti pasti dia akan rewel." Kata ku kepada Mas Rama.
"Kenapa Aldi bisa muntah-muntah. Kau membekalinya apa tadi. Kamu itu gimana sih.
Aku juga tidak bisa menjemputnya, karena pekerjaanku menumpuk dan harus segera aku selesaikan." Ucap Mas Rama dengan sedikit nada tinggi.
"Aku tidak membekalinya yang aneh-aneh mas. Semua bekalnya aku sendiri yang buat. Mungkin anak nya tadi jajan sembarangan di sekolah. Kalau Mas benar-benar tidak bisa menjemput yasudah tidak apa-apa. Mas Rama selesaikan pekerjaan Mas saja." kata ku.
"Yasudah." Ucap Mas Rama singkat yang langsung menutup teleponnya.
Aku berpikir keras gimana caranya aku menjemput Aldi tanpa harus membangunkan Aira.
Aku keluar ke teras rumah, berharap ada tetangga yang bisa aku mintai tolong untuk menjaga Aira sebentar. Namun, di luar sangat sepi, semua orang pasti sedang beraktifitas dengan perkerjaannya masing-masing.
Di tengah kebingunganku, tiba-tiba terdengar suara Aira memanggilku. Langsung saja aku segera menuju ke arah kamar.
" Mama.." Seru Aira memanggilku.
"Iya, Nak. Kok sudah bangun. Kenapa?" Tanya ku sambil mengusap puncak kepalanya.
"Aira lapar, Ma. Aira pengen makan." Ucap nya pelan.
Memang sudah waktunya Aira makan siang. Namun, aku mencoba membujuknya untuk menjemput Abang nya terlebih dahulu. Kasian Abang pasti tidak berhenti menangis jika belum bertemu Mama nya.
"Nanti kita makan, tapi kita jemput Abang dulu ya di sekolah. Abang lagi sakit, kasian kalau Abang nunggu lama. Adik gak papa kan?" Tanya ku pada Aira. Sebenarnya aku tidak tega. Tapi perasaanku tidak tenang karena memikirkan Aldi.
"Iya, Mah. Ayo kita jemput Abang dulu." Kata Aira. perasaan ku menjadi sedikit lega, karena Aira sangat bisa di beri pemahaman.
Tanpa menunggu waktu lagi. Aku segera memakaikan jaket untuk Aira. Setelah itu langsung mengendarai sepeda motorku menuju sekolah Aldi. Laju motorku agak ku percepat supaya aku cepat sampai di sekolah.
Kurang dari 10 menit aku dan Aira tiba di sekolah Aldi. Segera ku langkahkan kaki langsung menuju ruang UKS. Sesampainya disana terlihat Bu Nadia sedang menunggu Aldi yang berbaring di kasur.
"Assalamualaikum, Bu Nadia." Kataku mengucapkan salam.
"Walaikumsallam, Bu Jasmine. Silahkan masuk. Aldi terus menangis mencari Mamanya." Ucap Bu Nadia.
Segera ku langkahkan kaki mendekati Aldi. Ku letakkan telapak tanganku di dahi Aldi. Badannya panas.
"Abang, sayang. Kenapa Abang bisa muntah-muntah. Abang jajan sembarangan ya tadi?" Tanya ku pada Aldi yang matanya terlihat sembab karena sedari tadi menangis.
"Iya, Ma . Tadi Abang beli es yang warna nya merah. Abang pengen lihat temen-temen Abang banyak yang beli. Jadi Abang ikutan beli. Habis itu Abang langsung muntah-muntah." Jawab Aldi pelan.
"Mama kan sudah berulang kali bilang sama Abang. Jangan jajan sembarangan. Nah kan sekarang Abang jadi sakit." ucapku.
"Maaf, mah. Besok-besok gak Abang ulangi."
Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Aldi.
setelah itu aku berpamitan kepada Bu Nadia dan membawa Aldi pulang.
"Bu Nadia terimakasih sudah menjaga Aldi. Saya ijin membawa Aldi pulang kerumah." kataku kepada Bu Nadia.
"Sama-sama, Bu jasmine. Semoga Nak Aldi cepat sembuh dan besok bisa sekolah lagi." Jawab Bu Nadia.
"Ayo sayang salim dulu sama Bu Nadia. Aira juga salim." Ucapku menyuruh Aldi dan Aira berpamitan kepada Bu Nadia.
Setelah berpamitan. Aku dan kedua anakku keluar dari ruang UKS dan berjalan keluar gedung sekolah.
Aku mengendarai sepeda motor dengan sangat pelan. Supaya Aldi merasa nyaman dan tidak terlalu terkena angin.
Sesampainya dirumah aku segera menyuapi ke dua anak ku makan siang. Dan juga memberikan obat untuk Aldi. Setelah itu aku menyuruhnya untuk istirahat. Aku menemani aldi di sampingnya sambil mengelus lembut kepalanya. Sedangkan sang Adik asik bermain sendiri bersama boneka kesayangannya.
...****************...
Terimakasih sudah membaca..
Jangan lupa folllow yaa 😘