Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 IKRAR "YA" TANPA CINTA
Kantor catatan sipil berbau kertas isap dan bunga layu, bau urusan yang tergesa dan janji-janji hampa. Ruangannya kecil, berlangit-langit tinggi dengan dinding warna krem, sederet kursi kayu bersandar di tembok, dan sebuah podium tempat penghulu sipil menunggu dengan wajah seseorang yang telah menyaksikan seribu pernikahan dan tak satu pun mengubah hidupnya.
Maya tiba sambil bergandengan lengan ayahnya, merasakan berat tatapan orang-orang tertuju padanya. Tak ada tamu. Tak ada bunga. Tak ada musik. Hanya segelintir orang asing: sang penghulu, dua saksi yang disewa Bara (pria-pria berjas gelap yang lebih mirip pengawal ketimbang kawan), dan pengacara keluarga Prakoso, dengan kacamata bergagang penyu dan tas kulitnya.
Bara sudah di sana. Berdiri di samping podium, mengenakan setelan hitam yang sempurna, dengan raut yang sama sekali tak membocorkan apa pun. Ia tampak seperti patung, sebuah monumen bagi kesabaran, bagi ketidakpedulian, bagi keyakinan bahwa ini hanyalah satu urusan administrasi lagi.
Bramantyo menggenggam lengan Maya lebih erat dari yang diperlukan.
"Kamu masih sempat mundur," bisiknya, begitu pelan sampai hanya Maya yang bisa mendengar.
Maya menggeleng.
"Tidak, Papa. Sudah tidak."
Sang penghulu berdeham. Pria berusia lanjut, berambut kelabu dan berperut buncit, dengan jubah yang terlalu sempit untuknya dan kacamata baca yang nyaris melorot dari hidung.
"Nona Maya Adiwangsa," katanya, membaca dari selembar kertas. "Apakah Anda hadir atas kehendak sendiri untuk menikah secara sah dengan Bapak Bara Prakoso?"
Maya menelan ludah. Atas kehendak sendiri. Betapa janggal kata itu dalam situasi seperti ini. Bisakah disebut kehendak sendiri sesuatu yang kaulakukan karena tak ada pilihan lain? Bisakah disebut bebas sebuah keputusan yang diambil saat pisau sudah di leher dan tangan kosong tak berdaya?
"Ya," jawabnya. Suaranya keluar mantap, lebih mantap dari yang ia duga.
Sang penghulu mengangguk dan berpaling ke arah Bara.
"Bapak Bara Prakoso. Apakah Anda hadir atas kehendak sendiri untuk menikah secara sah dengan Nona Maya Adiwangsa?"
Bara butuh sedetik untuk menjawab. Sedetik yang terasa abadi, saat Maya merasa seluruh dunia menahan napas.
"Ya."
Tak ada senyum. Tak ada kelembutan. Hanya satu kata. Dingin. Tepat. Setajam pisau bedah.
Sang penghulu mulai membacakan pasal-pasal kitab undang-undang hukum perdata, hak dan kewajiban suami istri, harta bersama, aturan pembagian harta.
Maya berhenti menyimak di tengah-tengah bacaan itu. Pikirannya melayang ke tempat lain, ke sebuah kenangan samar tentang pernikahan sepasang sepupu, bertahun-tahun silam, di sebuah gereja yang penuh bunga putih dan kerabat yang tersenyum.
Waktu itu ia masih kecil. Ia sempat menangkap buket sang pengantin dan bermimpi tentang pernikahannya sendiri, suatu hari nanti, dengan pria yang ia cintai, dalam upacara yang penuh cahaya dan janji-janji yang sungguh-sungguh.
Tak pernah ia bayangkan pernikahannya kelak berlangsung di sebuah ruang kosong kantor catatan sipil, dengan seorang mafioso sebagai mempelai pria dan ayahnya menunduk menatap lantai agar tak menangis karena murka.
"Saya nyatakan kalian sah sebagai suami dan istri," ucap sang penghulu, menutup buku dengan bunyi berdebam. "Silakan menandatangani."
Bara menandatangani lebih dulu. Tulisannya tegas, mantap, huruf-huruf kapital bertenaga yang nyaris tak menyisakan ruang untuk nama keluarga. Lalu ia mengulurkan pena kepada Maya. Logamnya masih hangat oleh sentuhan tangan Bara, dan Maya bergidik saat menerimanya.
Ia menandatangani dengan tangan gemetar. Tulisannya, yang dulu begitu rapi dan anggun, kini menjadi coretan yang nyaris tak terbaca, seolah kertas itu sendiri menolak menerima namanya yang baru.
"Sekarang kalian boleh berciuman," umum sang penghulu, dengan senyum mekanis seorang pejabat yang terbiasa menjalankan protokol.
Maya dan Bara saling menatap.
Inilah saatnya. Ciuman protokoler. Segel terakhir kesepakatan itu.
Bara membungkuk ke arahnya. Bukan gerak yang romantis, bahkan tidak ramah. Hanya sebuah tundukan yang cermat, terukur, seperti seseorang yang menunduk untuk memungut sesuatu dari lantai. Maya memejamkan mata pada detik terakhir, sebab ia tak sanggup menyaksikan wajah itu mendekat.
Bibirnya menyentuh bibir Bara.
Sebuah ciuman kering, singkat, nyaris tanpa hasrat. Bibir Bara terasa tegas, sedikit dingin. Ciuman itu hanya berlangsung sedetik, cukup lama agar para saksi bisa memberi kesaksian bahwa peristiwa itu benar terjadi.
Namun dalam sedetik itu, terjadi sesuatu.
Maya merasakan sensasi menggelenyar di pangkal punggungnya, sengatan yang merambat naik menyusuri tulang belakangnya bagai percikan listrik.
Ia membuka mata seketika dan bertemu pandang dengan Bara, yang ternyata sudah lebih dulu mengamatinya. Sepasang matanya yang kelabu, sedingin baja, menyimpan sesuatu yang baru. Sesuatu yang tak bisa Maya beri nama. Keterkejutan? Rasa ingin tahu? Ketertarikan?
Momen itu pecah secepat kedatangannya. Bara menarik diri, berpaling ke arah penghulu, dan menjabat tangannya dengan sopan santun yang sempurna. Maya terpaku di tempat, bibirnya masih terasa hangat, bertanya-tanya apakah semua itu hanya khayalannya belaka.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Bramantyo, muncul di sisinya dengan kening berkerut.
Maya mengangguk tanpa menatapnya.
"Iya. Aku baik-baik saja."
Padahal tidak. Ia tidak baik-baik saja. Sebab ia baru saja mencium seorang pria yang tidak ia cintai, dan tubuhnya menanggapi dengan cara yang tak bisa dikendalikan oleh akalnya.
* * *
Selepas upacara, mulailah kerepotan itu.
Yang pertama adalah menunggu. Pengacara harus mencatatkan akta itu ke dalam buku yang sesuai, tapi petugas yang bertanggung jawab sedang keluar untuk makan siang. Makan siang. Di tengah-tengah pernikahan Maya Adiwangsa, birokrat yang bertugas memutuskan bahwa menyantap roti lapis lebih penting daripada memproses berkas yang akan mengubah hidupnya selamanya.
"Tapi kok bisa begini?" seru Maya, lengan menyilang di dada, dengan raut yang berayun antara kegusaran dan keputusasaan. "Ini pernikahan saya!"
Sang sekretaris, perempuan berusia sekitar empat puluhan dengan kacamata bermodel kupu-kupu dan keriting yang gagal, menatapnya dari balik meja dengan kesabaran yang tak berbatas.
"Maaf, Bu. Pak Sudir baru kembali satu jam lagi."
"Satu jam?" Maya mengusap rambutnya, kebiasaan gugup yang ia warisi dari ibunya. "Kami harus melakukan apa selama satu jam?"
"Menunggu, Bu. Itulah yang orang lakukan di kantor pemerintahan."
Bramantyo mendengus seperti banteng yang tersinggung dari kursi paling ujung. Kedua tangannya, bertumpu pada tongkat yang kini ia butuhkan untuk berjalan (tekanan penjara telah merusak persendiannya), mengetuk-ngetuk lantai dengan irama tak beraturan yang membocorkan ketaksabarannya.
"Ini pertunjukan sirkus," gumamnya, cukup keras agar semua orang mendengar. "Sungguh tak sopan. Di zaman saya, urusan begini dilakukan dengan tata krama."
"Zaman Anda, Pak Bramantyo," sahut Bara, tanpa menoleh, dengan lengan menyilang bersandar di dinding seberang, "sudah lewat."
Bramantyo menatapnya tajam bagai hendak membakar.
"Diam kamu. Kamu tak berhak berkomentar. Ini semua salahmu. Kalau kamu tak memaksa melakukannya hari ini, kita bisa menunggu sampai petugasnya ada."
"Kalau kita menunggu, kakak Anda tahu. Dan begitu kakak Anda tahu, ia menggerakkan bidaknya. Anda mau ia menggerakkan bidaknya, Pak Bramantyo? Sebab saya tidak."
Keheningan yang menyusul terasa memekakkan.