Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Bercerai Dahulu
Yeshika adalah orang sederhana, pemikirannya pun cukup bisa dipahami oleh dua perempuan yang sedang membedah kepribadiannya. Akhirnya keduanya saling menggelengkan kepala bersama.
Anjani memakan buah pir dari salad, segar dan manis, tetapi ketika tertelan entah kenapa menjadi sangat pahit. Ia tak bisa merasakan makanan dengan benar.
"Aku akan membunuhnya untukmu, tenang saja beso--"
Anjani mendelik sekilas lalu menggelengkan kepala kuat, segera ia memotong ucapan Eve, "Jangan asal ngomong, kalau di dengar orang, mampus kamu."
"Aku punya kenalan pengacara, tenang saja asal ada uang, dia pasti bisa bikin Syahrul masuk penjara dengan hukuman berlapis!" Eve buru-buru membuka ponselnya, mencari nama kontak yang ia kenal, lalu menunjukkan pada Anjani setelah menemukannya.
Pengacara Kemal, begitu nama kontaknya, sedangkan profilnya bergambarkan seorang pria berkacamata dengan rambut botak setengah. Dari sudut pandang Anjani, orang itu kelihatan tidak mampu berurusan dengan hukum, wajahnya seperti orang penyuka obat-obatan terlarang; tubuhnya kurus hingga tulang pipi terlihat menonjol dan matanya sangat cekung.
Anjani menggaruk pelipisnya, lalu bertanya, "Kamu dapat nomor dia dari mana?"
Eve menarik ponselnya, menaruh ke depan tubuhnya, kau terkekeh pelan. "Aku tahu kontaknya dari iklan, katanya dia pengacara sukses, dari ulasannya sih dia sangat dipercaya," bebernya.
Anjani menghela napas panjang. Itu sudah pasti penipuan. Ia menatap Eve, "Hapus saja kontaknya. Emang kamu tahu dia bisa diandalkan? Keluargamu pasti punya pengacara yang lebih top dari dia."
Eve mengangkat bahunya acuh, "Belum. Keluargaku tidak punya pengacara pribadi, aku yang ba---"
"Okay, stop it, Eve. Jangan pakai pengacara itu." Anjani memaksakan senyum, untungnya Eve tidak melanjutkan ucapan dan langsung menghapus nomor pengacara itu dengan bibir yang terlihat sangat maju.
Pelayan datang dan langsung meletakkan daging panggang di depan Anjani, daging itu dipotong tebal dengan bagian tengah berwarna merah muda sempurna.
Di sampingnya terdapat mashed potato yang sangat halus, asparagus panggang, dan saus truffle berwarna cokelat pekat. Aroma mentega dan daging panggang langsung memenuhi ruang kecil di sekitar meja.
Eve mendapatkan pan-seared salmon dengan kulit yang dipanggang hingga renyah, disajikan bersama kentang kecil, asparagus, dan saus lemon butter.
Eve memandang makanan mereka dan bersungut-sungut, “Memikirkan Syahrul bikin lapar saja!”
Anjani memotong dagingnya. Pisau hampir tidak membutuhkan tekanan untuk membelahnya. Daging itu lembut dan juicy. Lalu memasukkan potongan kecil ke dalam mulut, rasa gurih dari daging panggang sangat terasa disusul dengan lada hitam dan saus truffle serta mentega, seolah perpaduan rasa yang pas itu menarik seluruh rasa lelahnya hari ini.
Perasaaan kacau balau hari ini seolah terobati oleh citarasa daging yang Anjani kunyah. Ia bergumam pelan, matanya menutup nikmat, dan lidahnya tak berhenti berkecap.
Eve juga tampak menikmati menu yang dia pesan, beberapa kali memotong dan memasukkan potongan cukup besar untuk ia lahap.
Untuk sementara waktu, keduanya sibuk mengisi perut, menyingkirkan beberapa percakapan yang berada di benak meraka. Hingga Eve tiba-tiba menjatuhkan sebuah pertanyaan disela-sela mereka makan.
"Jadi apa rencanamu?" tanya Eve, mulutnya penuh dengan daging, sementara kedua tangannya memegang garbu dan pisau kecil.
Anjani menaruh garbu di samping piringnya, lalu menatap Eve penuh keyakinan, "Untuk sementara aku tidak akan menggugat cerai Syahrul."
Keputusan yang Anjani buat berhasil membuat Eve ternganga, tentu saja perempuan keturunan London itu merasa tidak terima, ia dengan segera berucap dengan intonasi suara agak kencang, "Anjani?! Kupikir kamu tidak sebodoh itu untuk memaafkan Syahrul!"
"Tenang!" Anjani menaruh jari telunjuknya di depan belahan bibitnya, meminta Eve untuk tidak asal bicara menggunakan gestur tangan, lalu melanjutkan ketika sahabatnya sudah tidak emosi lagi.
"Aku ingin tahu seberapa jauh mereka bermain di belakangku, dan aku ingin mempermainkan perasaan Yeshika sama seperti dia mempermainkanku selama ini," terang Anjani sambil tersenyum.
Eve mengangguk paham. Sahabatnya memang terbaik. Namun, biasanya Anjani tidak pernah mengambil resiko seperti ini, dia terkadang membiarkan begitu saja masalah pribadinya.
"Aku sudah tidak ingin mempertahankan apapun dalam rumah tangga ini.” Anjani mengusap-usap cincin pernikahannya dengan Syahrul, dulu benda itu berharga, kali ini ia bingung harus membuangnya ke mana.
Eve mengambil minum dan menegaknya pelan-pelan.
“Untuk Syahrul, kalau dia berani macam-macam, akan aku gunakan semua koneksiku untuk mempersempit jalannya,” kata Anjani pelan. Ia melepas cincin pernikahan di jari manisnya dan ia buang ke dalam gelas minumannya yang hampir habis.
Pernikahan mereka sudah harus berakhir sampai sini. Lima tahun menemani hanya untuk berakhir diselingkuhi, itu terlalu miris dan menindas harga dirinya.
Eve langsung mengangkat wajah. Memperhatikan cincin yang bergoyang pelan di dalam gelas.
“Benar. Kau selalu seperti itu,” terang Eve. Jari telunjuknya bergerak pelan mengarah pada Anjani.
“Selama ini kalian sebenarnya seperti apa?” tanya Eve kemudian.