Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilasan Masa Lalu

"Buat jalang ini mengetahui di mana posisinya!" titah Madam Elena dengan suara baritonnya yang menggelegar, memecah keheningan yang dingin.

Semua pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling pandang dengan senyum licik.

Tanpa membuang waktu, dua pelayan bertubuh besar merangsek maju.

Mereka mencengkeram kasar tubuh Kamelia, menyeretnya tanpa ampun dari atas ranjang yang kasar.

Kamelia yang tubuhnya masih lemah, digerogoti sakit dan demam tinggi, hanya bisa pasrah menerima tarikan tersebut.

Di dalam benaknya yang kian meredup, tidak ada ruang untuk meratapi nasibnya sendiri. Setiap embusan napasnya, setiap ketahanannya menahan rasa sakit, dilakukannya bukan untuk dirinya sendiri.

Melainkan demi Aurelia—sang putri tercinta, cahaya penuntun di tengah kegelapan hidupnya.

Brak!

Tubuh kurus Kamelia dipaksa menghantam tanah yang keras. Rasa nyeri yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh tulang belakangnya, membuatnya terbatuk hingga mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.

Madam Elena melangkah maju, tumit sepatunya mengetuk tanah dengan irama yang mengintimidasi.

Ia menatap wanita yang tampak lemah dan tidak berdaya di bawah kakinya tanpa rasa iba sedikit pun. Sorot matanya sedingin badai salju.

Perlahan, ia mendekat, melipat gaun megahnya, lalu berjongkok tepat di samping wajah Kamelia yang tampak pasrah.

"Kau tahu, alasan kenapa semua penderitaan ini terjadi padamu?" bisik Madam Elena lirih, namun nadanya sarat akan racun yang mematikan. Ia mendekatkan wajahnya, tersenyum sinis, "Karena kau berani melawanku, Kamelia."

Napas Madam Elena terasa hangat namun beracun di kulit Kamelia. Suara sinisnya kembali berdesis, mengungkapkan sebuah dendam lama yang tidak bisa ia lupakan. "Dan kesalahan terbesarmu... karena kau berani melahirkan anak haram itu! Jadi, nikmati masa hukumanmu... selama kau masih memiliki napas untuk hidup."

Sebuah seringai kemenangan terukir jelas di wajah Madam Elena. Ia bersiap untuk bangkit, mengira telah berhasil menghancurkan sisa harga diri wanita di bawahnya. Namun, perkiraannya meleset.

Kamelia perlahan membuka kelopak matanya. Sepasang manik matanya yang redup tiba-tiba menyala, menatap langsung ke dalam manik mata Madam Elena dengan binar kebencian yang mendalam dan tak tergoyahkan.

"Kau salah, Elena," desis Kamelia dengan suara yang tajam, memotong keangkuhan sang Madam. "Kau melakukan semua ini hanya karena kau tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Kenyataan bahwa pria yang paling kau cintai di dunia ini, lebih memilih orang rendahan seperti diriku daripada dirimu yang diagungkan."

Mata Madam Elena membelalak, kilat kemarahan mulai menggantikan keangkuhannya.

Kamelia tidak berhenti. Mengabaikan rasa sakit yang menghujam tubuhnya, ia melanjutkan kata-katanya dengan berani, setiap kalimatnya seperti belati yang menguliti tubuh Madam Elena. "Dan anak haram yang selalu kau sebutkan dengan penuh penghinaan itu... dia adalah satu-satunya penerus sebenarnya dari Klan Es! Bukan Enzo... apalagi..."

Dengan sisa tenaga yang ada, Kamelia menegakkan sedikit tubuhnya, mendekatkan bibirnya yang pucat tepat di samping telinga Madam Elena. "...suamimu, Frost," bisiknya lirih, namun bergaung tajam bagai lonceng kematian di jantung Madam Elena.

Tangan Madam Elena seketika terkepal begitu rapat hingga kuku-kukunya memutih. Rahasia masa lalu yang paling kelam, rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun di dunia ini, baru saja dibisikkan dengan begitu gamblang.

Bagi dunia luar dan seluruh penghuni wilayah Klan Es, Aurelia hanyalah anak haram hasil aib dari tetua Frost.

Namun, tidak ada yang tahu kebenaran sesungguhnya di balik garis darah itu—bahwa anak haram yang mereka hina adalah satu-satunya pewaris sah yang memiliki segel darah murni dari Klan Es.

Masa lalu akan sebuah rahasia besar yang selama ini terkunci rapat, kini menganga lebar. Wajah Madam Elena memerah padam, dadanya naik turun dengan napas yang memburu.

Ingatan masa lalu kembali menghantam kesadarannya bagai ombak besar yang menghancurkan dinding pertahanannya.

Perebutan kekuasaan yang berdarah, perjodohan politik yang ditolak mentah-mentah, dan konspirasi tersembunyi yang ia susun demi menyingkirkan seseorang—semuanya berputar kembali, membakar akal sehatnya.

Brak!

"Tutup mulutmu, jalang!" teriak Madam Elena kesetanan. Dengan penuh kebencian yang nyata dan tak terbendung, ia melayangkan tendangan keras tepat ke arah perut Kamelia.

"Hajar wanita ini, supaya dia sadar di mana tempatnya yang sebenarnya!" titah Madam Elena dengan rahang mengeras, menyemburkan uap dingin dari napasnya yang memburu.

Mendengar perintah itu, semua pelayan saling pandang. Senyum menyeringai terukir di wajah-wajah kejam mereka, bersiap meluncurkan siksaan fisik yang sudah menjadi rutinitas harian di kediaman tersebut.

Kamelia hanya bisa memejamkan matanya pasrah. Tangannya mengepal lemah di atas tanah yang dingin, menyadari tubuhnya terlalu rapuh untuk membalas.

Namun, sebelum langkah pertama para pelayan mendarat, sebuah suara lengkingan tajam memecah ketegangan.

"Apa yang kalian lakukan pada ibuku?!"

Semua orang tersentak. Gerakan para pelayan terhenti seketika saat mereka menoleh ke arah sumber suara.

Disana, Aurelia berdiri dengan tubuh gemetar menahan amarah, rahangnya mengeras sempurna.

Tanpa membuang waktu, ia berlari kencang dan langsung menjatuhkan lututnya di depan sang ibu. Ia mendekap tubuh lemah Kamelia dengan begitu lembut, seolah wanita itu adalah porselen yang siap pecah kapan saja.

Aurelia mendongak. Matanya menatap Madam Elena dengan pandangan yang luar biasa datar, dingin, dan setajam belati es.

"Ibuku sedang sakit," kata Aurelia dengan penekanan yang berat pada setiap kata, mengintimidasi siapa pun yang mendengar. "Jadi, biarkan aku yang bekerja menggantikannya."

Meskipun gejolak di dadanya berteriak untuk melawan wanita di depannya, Aurelia mati-matian menahan diri. Ia tahu betul, perlawanan gegabah hanya akan membuat ibunya kembali menjadi samsak kemarahan.

Terlebih lagi, saat ini sihir es di dalam tubuhnya masih terkunci rapat; ia belum bisa mengeluarkan sepercik pun kekuatan murninya.

Madam Elena memejamkan mata sesaat, menahan hasrat untuk melayangkan tamparan. Meskipun hatinya belum puas dan masih haus ingin menyiksa Kamelia, tatapan dingin dari Aurelia entah mengapa membuat tengkuknya merinding.

Merasa muak, ia akhirnya melengos dan pergi dengan langkah kaki yang menghentak kasar, disusul oleh derap langkah para pelayannya yang mengekor di belakang.

Suasana kembali sunyi, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Aurelia segera mengendurkan pelukannya dan menatap sang ibu dengan pancaran rasa iba yang mendalam. "Ibu tidak apa-apa? Katakan di mana yang sakit, Ibu..." tanya Aurelia dengan nada suara yang bergetar cemas.

Kamelia memaksakan sebuah senyuman lembut di wajahnya yang pucat, lalu mengangguk perlahan demi menenangkan putrinya. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, wanita itu menjerit pilu memanggil sebuah nama dari masa lalu.

‘Andaikan saja kau berada di sini... Putri kita, Aurelia, tidak akan pernah menderita seperti ini,’ ratapnya dalam hati.

Tak mampu lagi membendung sesak yang menghimpit dadanya, Kamelia hanya bisa memalingkan wajah, menangis dalam diam memeluk takdir mereka yang malang.

Sementara itu, di kejauhan, sepasang mata elang milik Arthur menyipit tajam. Fokus tatapannya bukan jatuh pada sosok Aurelia yang sedang memeluk ibunya, melainkan tertuju lurus pada guratan wajah Kamelia.

Arthur mengangkat satu alisnya, menyadari sesuatu yang sangat penting. Struktur tulang pipi, cara wanita itu menyembunyikan tatapan bangsawannya—semuanya terlalu familiar dengan klan yang telah lama hilang.

"Dia menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi," gumam Arthur dengan suara seringan angin, sebuah senyuman misterius tersungging di sudut bibirnya.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!