Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Yang Kausembunyikan, Kutahu Sedikit

Ratri melepaskan lengan kemeja Baskara sebelum pria itu terbangun.

Sepanjang pagi, bekas luka tersebut tidak meninggalkan pikirannya.

Saat Baskara membawa sarapan, Ratri bertanya, "Tiga tahun ini Anda tinggal di mana?"

Langkahnya berhenti sepersekian detik. "Banyak tempat."

"Sebutkan satu."

"Jauh."

"Itu arah, bukan tempat."

Baskara meletakkan nampan. "Makan dulu."

"Anda selalu memakai makanan untuk menghindari pertanyaan."

"Karena kau lebih mudah marah saat lapar."

Ratri ingin mengatakan bahwa luka di lengannya telah berbicara lebih jujur daripada mulutnya. Namun, kalimat itu berhenti di tenggorokan.

Kalau Baskara mengaku memberikan darah dan umur, apa yang harus ia lakukan? Memintanya berhenti berarti mungkin menyerah pada kematian sendiri. Membiarkannya berarti menerima hidup yang dibayar dari tubuh orang lain.

Ia memilih pertanyaan lain.

"Kenapa Anda tahu ruang ini?"

"Panji menemukannya."

"Kenapa Anda tahu akar hitam, arah timur, dan cara memanggil sukma saya?"

"Eyang Suryo pernah mengajariku."

"Kapan?"

"Dulu."

"Sebelum atau sesudah Anda menghilang?"

Baskara menarik kursi dan duduk. "Ratri, belum waktunya."

"Siapa yang menentukan waktu?"

"Aku. Karena aku yang akan menanggung akibat kalau kau tahu terlalu banyak sekarang."

Jawaban itu membuat Ratri marah. "Anda sudah menentukan tiga tahun hidup saya tanpa bertanya. Jangan lakukan lagi."

Baskara menunduk. "Benar."

Ia tidak membela diri. Pengakuan sederhana itu justru menghilangkan sasaran kemarahan Ratri.

"Saya membenci Anda," katanya.

"Aku tahu."

"Jangan selalu menjawab begitu."

"Aku tidak tahu jawaban lain yang tidak bohong."

Ratri menatapnya. "Setidaknya Anda mengakui banyak berbohong."

"Tentang hidupku, iya. Bukan tentang keinginanku menjagamu."

Ratri memalingkan wajah ke jendela.

Siang bergerak lambat. Ki Prasetya memeriksa nadi dan mengatakan Ratri boleh berjalan sebentar, tetapi belum boleh meninggalkan tempat itu. Wira menunggu di luar pintu. Baskara beberapa kali masuk membawa air, obat, atau selimut yang tidak diminta.

Setiap kali ia datang, Ratri ingin bertanya.

Setiap kali pula ia membiarkannya pergi.

Ia tidak terbiasa takut pada jawaban. Selama ini fakta buruk selalu lebih berguna daripada ketidaktahuan. Hanya kali ini, fakta tersebut menyentuh bagian dirinya yang tidak bisa diselesaikan dengan laporan atau gugatan.

Ratri membuka ponsel dan melihat foto lama yang dikirim Reza. Ada tanggal kecelakaan, hari masuk rumah sakit, dan catatan kondisi yang tidak dapat dijelaskan. Ia menulis tanggal-tanggal itu pada kertas, lalu membandingkannya dengan warna luka yang sempat ia lihat di lengan Baskara.

Beberapa bekas terlalu tua untuk dipastikan. Namun, pola besarnya tidak salah.

Tiga tahun lalu, ketika ia hampir mati karena demam yang membuat sukma menjauh, Baskara mendapat luka pertama.

Setahun lalu, ketika kendaraan Ratri terguling tetapi ia keluar tanpa luka berat, ada satu garis lebih dalam.

Malam di pendopo, rumah sakit, dan setiap pendarahan setelahnya memiliki luka yang masih merah.

Ratri meremas kertas itu sampai kusut.

Wira mengetuk pintu. "Mau saya panggil Ndoro Baskara?"

"Tidak."

"Beliau belum tidur sejak malam sebelum kita datang."

"Kenapa Anda baru bilang?"

"Karena beliau meminta semua orang fokus pada Bos."

Ratri menatap Wira tajam. "Sejak kapan Anda menuruti dia?"

"Sejak saya melihat beliau memberikan darah sampai Ki Prasetya menyuruh berhenti. Saya tidak tahu siapa beliau sebenarnya, tapi malam itu beliau tidak berbohong tentang takut kehilangan Bos."

Setelah Wira pergi, Ratri mencoba tidur. Ia gagal. Setiap kali memejamkan mata, terdengar lagi suara Baskara memanggilnya pulang dari kegelapan.

Menjelang sore, Baskara naik ke atap bangunan untuk menelepon Panji.

"Dia melihat lukanya," katanya.

"Haruskah saya siapkan penjelasan tentang tiga tahun ini?"

"Belum."

"Ndoro Putri akan terus mencari."

"Biarkan dia menemukan sebagian. Jangan biarkan dia tahu berapa banyak umur yang sudah berpindah."

Panji diam. "Sampai kapan Ndoro bisa menyembunyikannya?"

Baskara memandang langit Jakarta yang mulai jingga. "Sampai dia cukup percaya untuk tidak memilih mati hanya demi menyelamatkanku."

"Dan kalau beliau marah karena Ndoro menentukan itu sendiri?"

"Dia berhak."

Baskara memutus panggilan. Ia menekan telapak pada dada. Nyeri dari laku semalam masih menjalar di bawah tulang rusuk. Napasnya menjadi pendek.

Ia mengeluarkan pil pemulih dari saku, tetapi tangannya terlalu gemetar untuk membuka bungkus. Pil itu jatuh dan menggelinding di lantai. Baskara tidak mengambilnya. Ia hanya menunggu serangan nyeri mereda sambil menghitung denyut yang terhubung kepada Ratri.

Denyut itu stabil.

Hanya fakta tersebut yang penting baginya.

Di lantai bawah, Ratri melihat kursi di samping tempat tidurnya kosong.

Ia menemukan pintu menuju atap terbuka.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tangga. Nalurinya menyuruh kembali ke kamar, membiarkan Baskara menyimpan rahasia seperti ia menyimpan rahasia Nyai Ratri.

Namun, bekas luka di lengan itu muncul lagi di pikirannya.

Ratri naik.

Setiap anak tangga membuat tubuhnya yang baru pulih protes. Ia seharusnya memanggil Wira atau kembali berbaring. Namun, untuk pertama kalinya ia ingin melihat Baskara ketika pria itu tidak sempat mengenakan salah satu wajah palsunya.

Baskara berdiri membelakanginya di dekat pagar atap. Bahunya membungkuk. Satu tangan menekan dada, tangan lain mencengkeram pagar agar tetap tegak.

Tidak ada suami miskin yang lugu. Tidak ada pria berkuasa yang membuat satu aula takut. Hanya seseorang yang tubuhnya terlalu lelah untuk terus berpura-pura.

Ratri berjalan mendekat.

Angin membawa suara Baskara kepadanya.

"Asal kau hidup..."

1
Evi Marena
novel mu sangat bagus thorrr....walau banyak misteri tp AQ suka ,q harap novel mu tidak putus ditengah jalan ya thorrrr 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!