Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20 saling andalkan
"DIAM KAMU!" bentak Sonia histeris seraya membuang muka, tak sanggup menatap Rika.
Rika tak berniat melayani perdebatan itu lagi. Amira pun hanya diam, sesekali melirik layar ponselnya dengan raut wajah tak percaya. Sonia ini anak bungsu—memiliki dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuan—namun di saat kritis seperti ini, tak ada satu pun dari mereka yang menampakkan batang hidungnya.
"Sepertinya mereka masih lama, Amira. Apa kita kembali lagi besok saja?" bisik Rika melirik jam tangannya.
Amira mengangguk pelan. "Benar juga. Sudah dua jam lebih kita menunggu di sini, tapi tidak ada jalan keluar."
"Amira! Sudahlah, mending kamu bebaskan Sonia sekarang!" seru Mirna kesal melihat Amira bersiap berdiri.
Amira menatap mantan mertuanya itu dengan pandangan datar. "Ya sudah, tinggal bayar 5 juta rupiah, masalah selesai kan? Aku tidak berniat menyulitkan Ibu, mengingat Ibu pernah jadi mantan mertuaku. Kalau yang melakukan ini orang lain, aku akan lebih memilih memenjarakan orang yang dengan sengaja mencelakai barang milikku. Dan ingat, ini bukan insiden tidak sengaja... Sonia melakukannya dengan sadar."
Mirna mengusap dadanya yang sesak, lalu berpaling ke arah meja kepolisian. "Pak Polisi, bisakah anak saya dibawa pulang dulu malam ini?"
"Itu semua tergantung keputusan korban, Bu," jawab petugas polisi tegas.
Mirna kembali menatap Amira dengan mata melotot. "Amira! Cepat bilang sama Pak Polisi untuk membebaskan Sonia!"
"Ya, aku memang akan membebaskan Sonia... Tapi mana uang ganti ruginya dulu?" sahut Amira santai.
"Amira, kamu jangan mempersulit keadaan!" gertak Mirna.
Amira menoleh ke arah petugas polisi di sampingnya. "Pak Polisi, apa ancaman hukuman untuk orang yang melakukan perusakan barang milik orang lain dengan sengaja?"
"Pasal 406 KUHP, ancaman hukuman maksimal 2 tahun 8 bulan sampai 5 tahun penjara, Mbak," jawab petugas polisi lugas.
Amira menaikkan sebelah alisnya ke arah Mirna. "Tuh, dengar sendiri. Aku hanya minta ganti rugi 5 juta rupiah, di mana letak akunya yang mempersulit?"
"Tapi kamu tinggal bilang masalah ini selesai ke polisi, kan gampang?!" cerceca Mirna keras kepala.
"Loh, lalu siapa yang menanggung biaya perbaikan mobilku?"
"Kamu ini perhitungan sekali, Amira!"
"Aku sudah sangat murah hati, Bu," potong Amira dingin.
Mirna menggertakkan giginya rapat-rapat. Bicara dengan Amira benar-benar tidak ada ujungnya.
Saat Amira dan Rika bersiap melangkah keluar dari kantor polisi meninggalkan Mirna dan Sonia yang mulai putus asa, pintu depan mendadak terbuka. Seorang wanita dengan pakaian mencolok melangkah masuk dengan napas terengah-engah.
Mila.
"Bu! Ada apa ini?!" tanya Mila panik.
Wajah Mirna seketika berbinar. "Mila! Untunglah kamu datang! Ibu cuma punya uang 2 juta di dompet... Ibu pinjam 3 juta dulu dari kamu buat bebaskan Sonia!"
Mila langsung melangkah mundur dengan raut wajah keberatan. "Ih! Aku tidak punya uang, Bu! Minta sama Adam saja! Aku ini cuma bawa uang 50.000 rupiah di tas!"
Mila kemudian mengedarkan pandangan dan terkejut mendapati Amira berdiri di sana. "Loh... Amira? Kenapa kamu ada di sini, Bu?"
"Ini! Si Sonia merusak mobil punya Amira!" jelas Mirna berapi-api.
Mila tertawa mengejek. "Apa?! Amira punya mobil?! Halah, dia pasti bohong, Bu!"
"Bohong atau tidak, kenyataannya adikmu sudah merusak mobil milikku," sahut Amira enteng.
"Astaga, Amira!" Mila menunjuk muka Amira dengan nada menyindir. "Aku tahu itu pasti bukan mobil kamu! Makanya kamu ngotot minta ganti rugi 5 juta, kan? Kamu takut dimarahi sama pemilik mobil aslinya, iya kan?!"
"Terserah apa yang kamu pikirkan," jawab Amira tenang. "Ini sudah malam. Cepat bayar kerugianku kalau mau adikmu keluar."
Mila berkacak pinggang. "Amira! Kamu itu sudah hidup 2 tahun menumpang di rumah kami! Harusnya kamu tahu diri dan memaafkan Sonia!"
"Oh, aku sudah memaafkan Sonia kok," potong Amira cepat. "Makanya aku hanya minta ganti rugi 5 juta rupiah. Kalau aku tidak memaafkannya, aku akan menuntut dia 5 tahun penjara di dalam sel."
"Kamu... dasar wanita tidak tahu diri!" maki Mila.
Amira menyunggingkan senyum sinis. "Aku yang tidak tahu diri?" gumam Amira meremehkan. "Aku malah tidak percaya kalau seorang pemilik salon seperti kamu cuma punya uang 50.000 rupiah di tas. Bisnismu sedang maju-majunya, belum lagi Mas Doni suamimu baru naik jabatan dan gaji... Tapi kamu cuma mau mengeluarkan 50.000 rupiah untuk menyelamatkan adik kandungmu sendiri? Yang tidak tahu diri sebenarnya siapa di sini?"
"DIAM KAMU, AMIRA!" bentak Mila merah padam.
Sonia yang mendengarkan dari balik teralis sel mendadak ikut tersulut emosi. Hatinya sangat sakit mendengar kakak perempuannya hanya bersedia mengeluarkan uang 50.000 rupiah untuk membantunya.
Amira merogoh ponselnya. "Aku masih menyimpam nomor telepon Mas Doni. Apa perlu aku hubungi dia sekarang untuk minta bantuan?"
"Jangan ganggu Mas Doni!" jerit Mila panik.
"Kenapa, Mila?" tanya Mirna heran melihat reaksi ketakutan anaknya.
"P-pokoknya jangan mengganggu Mas Doni, Bu! Harga diriku bisa hancur kalau Mas Doni tahu masalah ini!" sergah Mila terbata-bata.
Amira terkekeh pelan, jelas-jelas sengaja memprovokasi. "Oh... Ternyata harga diri di depan suami jauh lebih penting daripada nasib adik kandung sendiri."
"DIAM KAMU, AMIRA!"
"Mila... Masa kamu tidak punya simpanan uang sama sekali?!" rengek Mirna frustrasi.
"Tidak ada, Bu! Ugh... Mana sih Mas Adam?! Kenapa dia belum datang juga?!" kesal Mila mengalihkan pembicaraan.
Mirna kembali menelpon Adam, namun panggilannya lagi-lagi diabaikan.
Tak lama kemudian, pintu kantor polisi kembali terdorong kasar. Ridwan melangkah masuk terburu-buru bersama istrinya, Lusi. Ridwan yang tidak memperhatikan sekitar langsung berjalan cepat menghampiri sel tahanan Sonia.
"Sonia! Kamu ini apa-apaan sih?! Bikin malu keluarga saja!" bentak Ridwan tanpa basa-basi. "Aku malu punya adik seperti kamu! Bikin masalah terus! Ingat ya, jangan libatkan aku dalam masalah ini, apalagi minta uang padaku! Anak-anakku sendiri sedang butuh banyak biaya sekolah! Jadi kamu tanggung saja sendiri akibatnya!"
"DIAMM!" jerit Sonia histeris.
Sonia meremas besi sel tahanan, air matanya menetes deras dihantam kekecewaan mendalam. "Pergi kamu! Kamu kakak yang sama sekali tidak ada gunanya!" teriak Sonia memukul-mukul jeruji besi.
Mirna melotot marah pada anak sulungnya. "Ridwan! Kalau kamu ke sini cuma tidak bisa membantu, mending kamu pergi saja!"
"Bukannya aku tidak mau membantu, Bu!" dalih Ridwan membela diri. "Tapi merusak mobil baru itu biayanya pasti mahal! Bisa habis puluhan juta! Dari mana kita punya uang sebesar itu, Bu?! Pokoknya aku tidak mau dilibatkan dalam masalah ini! Dan jangan pernah pertemukan aku dengan pemilik mobil itu!"
Mendengar ucapan Ridwan yang begitu berlepas tangan, rasa sakit di hati Sonia makin menjadi-jadi. Kakak pertamanya ternyata jauh lebih parah dan tidak peduli padanya.
Mila melirik Ridwan lalu berbisik, "Mas... Amira itu pemilik mobilnya."
"Hah?! Si Amira?!" Ridwan mendelik kaget. "Mana dia?! Mana orangnya?! Biar aku hajar sekalian dia!"
"Yakin mau menghajarku?"
Suara dingin Amira mengudara dari arah belakang. Amira sudah berdiri tegak seraya pelan-pelan menggulung kemeja bagian lengannya, menatap Ridwan dengan mata tajam yang mengintimidasi.
Ridwan tersentak kaget, melangkah mundur satu langkah. "H-hah?! Sejak kapan kamu ada di sini?!"
"Selain buta hati, ternyata mata kamu buta beneran ya, Mas?" sindir Amira menohok.
Lusi yang berdiri di samping Ridwan langsung pasang badan melototi Amira. "Amira! Kamu jangan keterlaluan ya! Makanya jangan sembarangan pinjam mobil orang! Giliran rusak, kamu malah menyalahkan keluarga kami! Sudah, mending kamu berdamai saja! Kamu tinggal minta maaf pada pemilik mobil aslinya, selesai kan?! Jangan mempersulit kami! Kami ini keluarga yang pernah berjasa dalam hidupmu! Sekarang kamu sudah jadi janda, jangan mempersulit diri sendiri!"
Amira mengangkat tangannya, pura-pura menggaruk telinganya dengan wajah malas. "Astaga... Telingaku sampai pengang mendengar ceramah tidak bermutu dari kalian berdua."
"Kurang ajar kamu, Amira!" gertak Lusi. "Sekarang sudah malam! Cepat cabut laporan kamu! Besok kami masih harus bekerja. Dan jangan pernah bermimpi kamu akan mendapat uang sepeser pun dari kami!"
"Aku tidak sedang bermimpi," sahut Amira sangat tenang. "Aku memang sedang menuntut ganti rugi secara sah dari kalian."
"Kamu benar-benar wanita tidak tahu diri!" bentak Ridwan kasar.
Amira melangkah maju satu tapak, menatap Ridwan dan Lusi dengan raut wajah membeku.
"Kalian yang kakak-kakak tidak tahu diri," bisik Amira dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Adik kandung sendiri sedang kesusahan di dalam sel, bukannya dibantu malah dimarahi dan dimaki-maki. Kalau habis dimarahi lalu kalian keluarkan uang untuk membantunya, itu masih mendingan. Tapi ini? Sudah marah-marah, tapi tidak mau menolong sepeser pun! Benar kata Sonia... Kalian ini kakak-kakak yang sama sekali tidak ada gunanya."