Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Saking lelahnya
Saking kelelahannya usai pergulatan gairah yang berulang kali di pagi hari, Aura tertidur pulas. Selimut tebal membungkus tubuh polosnya, sementara napasnya terdengar sangat teratur dan halus, menyatu dengan keheningan kamar yang hangat.
Fadil perlahan meregangkan tubuhnya. Ia menatap wajah lelap istrinya yang begitu polos dengan binar kasih sayang.
Meski hatinya enggan beranjak dari kasur empuk itu, tanggung jawab sebagai direktur utama menuntutnya untuk segera bergegas. Hari ini ia ada rapat penting, walau ia tau pasti akan terlambat masuk kantor.
Dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur nyenyak Aura, Fadil beranjak dari tempat tidur. Ia mengenakan kembali pakaian santainya seadanya, lalu menyelinap keluar kamar.
Saat memutar gagang pintu dan menutupnya dengan rapat tanpa menimbulkan suara, Fadil tersentak pelan.
Mbok Nah sudah berdiri di lorong lantai dua, tepat beberapa langkah di belakangnya. Tangan wanita paruh baya itu tampak terangkat, dan berniat menggetok pintu kamar Aura.
"Eh, Tuan..." Mbok Nah agak kaget melihat sang majikan keluar dari kamar Aura dengan rambut yang sedikit berantakan. "Ini Tuan, bibi mau bangunin Neng Aura buat sarapan. Dari tadi belum turun-turun..."
Fadil cepat-cepat menahan Mbok Nah seraya meletakkan satu jarinya di bibir, dan memintanya pelan.
"Jangan dipanggil dulu, Mbok," pesan Fadil. Semburat senyum tipis yang penuh arti pun terukir di bibirnya. "Aura masih istirahat, kelelahan. Sebentar lagi saja bangunkannya."
Mbok Nah seketika mengangguk paham. Sebagai orang tua yang sudah berpengalaman, ia bisa menangkap nuansa hangat yang terpancar dari raut wajah Tuan mudanya itu. "Oh... begitu, Tuan. Baik, baik. Bibi mengerti."
"Saya mau bersiap-siap dulu," pamit Fadil seraya melangkah menuju kamar di seberang, ruang khusus pakaian dan walk-in closet miliknya yang juga dilengkapi kamar mandi pribadi.
Proses bersiap-siap Fadil pagi itu terasa jauh lebih bergairah. Usai mandi dan mengenakan setelan jas kemeja kerjanya yang rapi, Fadil turun ke lantai bawah.
Hingga ia duduk di meja makan dan menyantap sarapan sederhana yang disiapkan Mbok Nah, sosok Aura belum juga muncul dari lantai atas. Gadis itu benar-benar terlelap tanpa menyadari waktu yang makin merambat siang.
Fadil yang duduk sendirian di meja makan hanya bisa terkekeh pelan sambil mengunyah roti panggangnya. Bayangan betapa pasrah dan lelahnya Aura di pelukannya pagi tadi membuat senyum di wajah tegasnya tak kunjung padam.
"Mbok," panggil Fadil saat Mbok Nah menuangkan teh hangat ke cangkirnya.
"Iya, Tuan?"
"Nanti bangunin Auranya jangan terlalu siang ya, Mbok. Kasihan dia belum sarapan dari pagi," ujar Fadil seraya meraih tas kerja dan kunci mobilnya dari atas meja.
"Siap, Tuan. Nanti setengah jaman lagi Bibi ketuk pintunya lagi," sahut Mbok Nah riang.
"Saya berangkat kantor dulu," balas Fadil mengangguk puas.
Mobil sedan hitam Fadil membelah jalanan kota yang sudah ramai. Sementara itu di rumah besar, waktu terus bergulir.
Usai membereskan bekas piring sarapan Fadil dan menyapu area dapur hingga bersih mengkilap, Mbok Nah menyapu pandangannya ke arah jam dinding dapur. Jarum panjang dan pendek sudah menunjukkan tepat pukul sembilan pagi.
"Wah, sudah jam sembilan. Neng Aura kok belum turun juga ya?" gumam Mbok Nah seraya mengelapkan tangannya ke celemek.
Mengingat pesan Tuan mudanya agar tidak membiarkan Aura melewatkan sarapan terlalu siang, Mbok Nah melangkah mantap menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Suasana koridor atas sangat hening. Mbok Nah berdiri di depan pintu kamar Aura, lalu mengetuk pintunya dengan pelan.
Tok! Tok! Tok!
"Neng Aura... Neng?" panggil Mbok Nah dari luar.
Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Suara semilir angin dari pendingin udara pun tak terdengar.
Mbok Nah lalu mengetuknya sedikit lebih keras. Tok! Tok! Tok!
"Neng Aura... Ini Bibi, Neng. Sudah jam sembilan lewat, yuk sarapan dulu. Tuan Fadil tadi pesan suruh bangunin Neng Aura..."
Hening. Pintu kayu jati tebal itu tetap membisu.
Mbok Nah lantas menghentikan ketukannya, lalu menempelkan telinganya ke daun pintu mencoba mendengarkan pergerakan di dalam. Namun, tidak ada tanda-tanda Aura bergerak atau membuka selimut.
Mbok Nah menyandarkan badannya seraya menatap jam tangan murah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tumben sekali Neng Aura masih tidur nyenyak jam segini..." gumam Mbok Nah heran.
Pikirannya mulai diliputi rasa cemas bercampur geli, membayangkan betapa terkurasnya tenaga majikan mudanya itu hingga tak terdengar bisikan ketukan pintu sama sekali.
Mbok Nah memegang gagang pintu, dan mencoba memutarnya dengan pelan untuk memastikan keadaan, namun ia langsung mengurungkannya.
"Duh, gimana ya... Mau dibangunkan kasihan, tapi kalau tidak makan nanti lambungnya kumat," desah Mbok Nah kebingungan sendiri di depan pintu yang tertutup rapat itu.
Kini, Mbok Nah berdiri mematung di depan pintu kamar Aura selama beberapa saat, dengan rasa bimbang yang merayapi pikirannya.
Di satu sisi, ia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak majikannya yang sedang kelelahan itu. Namun di sisi lain, ia tau betul bahwa Aura memiliki riwayat asam lambung jika terlambat makan hingga menjelang tengah hari.
"Neng Aura...?" coba Mbok Nah sekali lagi, sambil mengetuk pintu dengan ketukan yang lebih lembut.
Namun tetap tidak ada balasan. Di dalam kamar yang sejuk dan temaram, Aura masih terlelap. Selimut tebal yang membalut tubuhnya naik turun teratur seirama dengan napasnya yang halus.
Kejadian marathon tadi pagi benar-benar menguras seluruh daya dan tenaganya.
Mbok Nah akhirnya menghela napas pasrah. "Ya sudahlah, biarkan Neng Aura istirahat sebentar lagi. Nanti jam sepuluh Bibi coba ketuk lagi," gumamnya pelan seraya melangkah turun kembali ke lantai satu.
______
Sementara itu, di lantai atas gedung perkantoran megah kawasan pusat bisnis, Fadil baru saja melangkah keluar dari ruang rapat utama.
Kemeja putih yang membalut tubuh tegapnya tergulung rapi hingga sebatas siku. Wajahnya yang biasa dingin dan kaku saat bekerja hari ini tampak jauh lebih berseri, hingga membuat beberapa staf dan sekretarisnya saling berbisik heran.
"Pak Fadil hari ini kok kelihatan sering senyum ya?" bisik salah satu staf keuangan saat Fadil melewati kubikel mereka seraya mengangguk ramah.
Fadil kemudian memasuki ruang kerja pribadinya yang luas. Ia menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya, lalu melirik jam tangan eksklusif yang melingkar di pergelangan tangannya, dimana, jarum jam menunjukkan pukul 09.55 WIB.
Pria itu menyandarkan punggungnya, menarik laci meja, lalu mengambil ponsel pribadinya. Sebuah ulas senyum hangat kembali terukir di bibirnya saat bayangan wajah merona Aura tadi pagi melintas di kepalanya.
Ia kemudian memanggil nomor telepon rumah.
Tutt... Tutt... Tutt...
Panggilan itu diangkat pada nada dering ketiga.
"Halo, Assalamu'alaikum, Tuan Fadil," suara Mbok Nah terdengar di sebrang telepon.
"Wa'alaikumussalam. Mbok, bagaimana? Aura sudah bangun dan sarapan?" tanya Fadil langsung tanpa basa-basi, dan terdengar sangat perhatian.
Di ujung telepon sana, Mbok Nah agak serba salah. "Anu... Tuan. Bibi tadi jam sembilan sudah ketuk pintu kamar Neng Aura, tapi... sepertinya Neng Aura masih lelap sekali, Tuan. Dipanggil-panggil tidak ada sahutan."
Fadil terdiam sejenak, lalu terkekeh pelan di balik genggaman teleponnya. Ia bisa membayangkan betapa polos dan nyenyaknya sang istri setelah pergulatan gairah mereka.
"Begitu ya, Mbok..." gumam Fadil dengan senyum yang makin lebar. "Ya sudah, tidak apa-apa. Biarkan dia tidur dulu. Tapi tolong siapkan makanan hangat yang lembut ya, Mbok. Takutnya perutnya kaget kalau langsung makan berat."
"Baik, Tuan. Ini Bibi sedang buatkan sup ayam hangat dan jus buah untuk Neng Aura kalau bangun nanti."
"Bagus. Nanti kalau dia sudah bangun dan selesai makan, tolong minta dia hubungi saya ya, Mbok."
"Siap, Tuan Fadil."
Fadil menutup sambungan teleponnya dengan perasaan tenang. Pria itu menatap layar ponselnya sejenak sebelum meletakkannya kembali di meja kerja, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu di rumah, jarum jam dinding menunjukkan pukul 10.30 WIB ketika kelopak mata Aura perlahan bergerak.
Sinar matahari pagi yang menjelang siang menerobos cukup terang di celah gorden kamar. Aura mengusap matanya yang terasa berat, lalu meraba area kasur di sampingnya yang sudah terasa dingin dan kosong.
Saat berusaha mendudukkan tubuhnya, Aura meringis pelan. Tubuhnya terasa begitu pegal dan sengal di setiap persendian, terutama di area pinggang.
Memori percumbuan membara dengan Fadil tadi pagi kembali berputar kilat di benaknya, hingga membuat wajah Aura memerah panas hingga ke ujung telinga.
"Ya ampun... Mas Fadil benar-benar..." bisik Aura seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu.
Aura lalu melirik jam di meja rias dan seketika terbelalak kaget. "Jam setengah sebelas?!"
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣