Indonesia
NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. Rumor dan Bayangan

Tiga hari setelah pertarungan melawan Lee Cheon-ho berlalu seperti tiga minggu bagi Tang Hyun, karena setiap kali dia menutup mata, dia bisa merasakan pedang itu kembali menebas ke arah lehernya, bisa merasakan tulang rusuknya retak karena benturan ke dinding batu, dan bisa merasakan darahnya sendiri mendidih di dalam tubuh ketika dia memaksa Teknik Racun Darah Sembilan Bunga bekerja di luar batasnya, sehingga meskipun tubuhnya sudah dirawat oleh para tabib Klan Tang dan pil dari Tang So-yeon sudah menetralkan sebagian besar efek sampingnya, tetap saja ada rasa sakit tumpul yang menetap di dadanya seperti pengingat bahwa dia masih manusia, dan manusia bisa mati.

Namun dunia di luar kamarnya tidak memberinya waktu untuk beristirahat, karena nama "Tang Hyun" sekarang sudah menjadi bahan pembicaraan utama di seluruh Gunung Hua, dan rumor menyebar lebih cepat daripada racun, lebih tajam daripada pedang, dan lebih berbahaya daripada kedua hal itu digabungkan.

"Katanya dia murid haram Klan Tang, hasil eksperimen Tetua Ketiga."

"Katanya darahnya sudah bukan darah manusia lagi, makanya racunnya bisa keluar dari pori-pori."

"Katanya dia sengaja membiarkan dirinya dipukul agar bisa menodai pedang lawan dengan darah beracunnya."

"Katanya Nona Tang So-yeon menyukainya, makanya dia menggendongnya di depan semua orang."

Setiap versi cerita menjadi lebih berlebihan dari versi sebelumnya, dan dalam waktu dua hari, Tang Hyun berubah dari "anak luar yang beruntung" menjadi "monster yang harus diawasi", dan di meja makan, di tempat latihan, bahkan di kamar mandi, orang-orang berbisik tentangnya setiap kali dia lewat, beberapa dengan ketakutan, beberapa dengan kebencian, dan beberapa dengan rasa ingin tahu yang berbahaya.

Tang Hyun tidak peduli, atau setidaknya dia berpura-pura tidak peduli, karena dia sudah terbiasa dibenci sejak menjadi Gu Cheol, tetapi yang membuatnya gelisah adalah kenyataan bahwa sejak hari itu, ada mata yang terus mengawasinya, mata yang tidak berasal dari Klan Tang, mata yang mengikutinya dari jauh ketika dia berjalan ke aula makan, mata yang bersembunyi di balik atap ketika dia berlatih di halaman tengah malam, dan mata yang menghilang begitu saja ketika dia menoleh.

Malam keempat setelah pertarungannya, Tang Hyun memutuskan untuk keluar, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk memancing, karena di Klan Tang dia diajarkan satu hal yang paling penting: jika ada ular yang mengintaimu dari semak, maka cara terbaik adalah duduk diam di dekat semak itu sampai ular itu bosan dan keluar sendiri.

Gunung Hua pada malam hari sangat sunyi, hanya ada suara angin yang melewati pohon pinus dan suara serangga yang sesekali terdengar, dan bulan menggantung tinggi di atas puncak, menerangi tangga batu dengan cahaya pucat yang membuat semuanya tampak seperti dunia lain.

Tang Hyun duduk di bangku batu di taman belakang penginapan Klan Tang, mengenakan jubah tipis dan memegang cangkir teh yang sudah dingin, dan di depannya ada papan kecil tempat dia berlatih melempar jarum, setiap jarum yang dia lempar selalu mengenai titik tengah dengan sempurna, tetapi tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena racun di dalam tubuhnya belum sepenuhnya stabil.

Sudah hampir tengah malam ketika dia akhirnya merasakannya, sebuah niat membunuh yang tipis, seperti jarum yang menyentuh kulit, datang dari arah pohon besar di sebelah timur.

Dia tidak menoleh, dia hanya menyeruput tehnya dan berkata pelan, "Keluarlah. Aku sudah menunggu cukup lama."

Tidak ada jawaban, hanya keheningan.

Tang Hyun tersenyum tipis, "Kalau kau tidak keluar, aku yang akan datang. Dan kau tidak akan suka caranya."

Baru setelah itu, tiga bayangan melompat turun dari pohon, semuanya mengenakan pakaian hitam dan topeng kain yang menutupi wajah, dan di tangan mereka ada pedang pendek yang bilahnya dilapisi sesuatu yang berkilau di bawah sinar bulan.

"Anak Klan Tang," kata salah satu dari mereka, suaranya serak, "kau telah mempermalukan sekte ortodoks. Malam ini, kami akan membersihkan nama baik dunia murim."

Tang Hyun berdiri perlahan, "Kalian dari Sekte Pedang Langit? Atau bayaran?"

"Jangan banyak bicara," orang kedua mengangkat pedangnya, "mati saja."

Pertarungan pecah dalam sekejap, dan ketiga orang itu menyerang bersamaan, gerakan mereka cepat dan terkoordinasi, jelas bukan pembunuh amatir, melainkan pembunuh bayaran profesional yang disewa khusus untuk membunuhnya malam ini.

Namun Tang Hyun sudah bukan Gu Cheol yang dulu, dia sudah terbiasa mati, dan dia sudah terbiasa membuat orang lain mati, sehingga ketika pedang pertama datang ke arah dadanya, dia hanya memiringkan tubuh dan membiarkan bilahnya menggores lengannya, sengaja, karena darahnya yang keluar langsung mengenai wajah penyerang pertama dan membuat orang itu menjerit dan memegangi matanya.

"Racun buta," kata Tang Hyun datar sambil melemparkan bubuk dari kantong di pinggangnya, dan kabut tipis langsung menyebar, membuat dua orang lainnya batuk dan mundur.

Orang ketiga mencoba menusuk dari belakang, tetapi Tang Hyun sudah berbalik, dan jarum panjang di lengan bajunya menancap tepat di tenggorokan orang itu, tidak cukup dalam untuk membunuh, tetapi cukup untuk melumpuhkan saraf suara sehingga orang itu hanya bisa mengerang tanpa suara.

Dalam waktu kurang dari satu menit, ketiganya sudah tergeletak di tanah, merintih dan menggeliat karena racun yang bekerja di tubuh mereka.

Tang Hyun berjongkok di depan salah satu dari mereka dan melepas topengnya, dan di bawahnya adalah wajah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun, dengan tato kecil berbentuk pedang di lehernya.

"Tato Sekte Pedang Langit," gumam Tang Hyun, "jadi benar kalian."

Orang itu melotot dan mencoba menggigit lidahnya untuk bunuh diri, tetapi Tang Hyun lebih cepat, dia menampar rahangnya dan memasukkan pil ke mulutnya, "Jangan mati dulu. Aku masih butuh kau bicara."

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar mendekat, dan Tang Ling datang berlari dengan wajah panik, diikuti oleh dua murid Klan Tang lainnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Tang Ling sambil memeriksa luka di lengan Tang Hyun.

"Aku baik-baik saja," jawab Tang Hyun sambil berdiri, "mereka yang tidak."

Berita tentang percobaan pembunuhan itu menyebar ke seluruh kamp sebelum matahari terbit, dan pagi harinya Pemimpin Aliansi Murim memanggil semua Ketua Sekte untuk rapat darurat, karena membunuh peserta di tengah turnamen adalah penghinaan besar terhadap aturan yang mereka buat sendiri.

Ketua Sekte Pedang Langit bersumpah bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang ini, bahwa murid-muridnya tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu, dan bahwa ini pasti fitnah dari Klan Tang untuk menjatuhkan nama baik mereka.

Tetua Kedua Klan Tang hanya tertawa dingin dan melemparkan ketiga mayat hidup itu ke tengah aula, "Kalau bukan kalian, siapa? Hantu?"

Rapat itu berakhir tanpa hasil, tetapi semua orang tahu bahwa perang dingin antara Klan Tang dan Sekte Pedang Langit baru saja dimulai, dan Tang Hyun adalah percikan apinya.

Siangnya, Tang Hyun dipanggil ke tenda utama Klan Tang, dan di sana sudah menunggu Tetua Kedua, Tang So-yeon, dan tiga murid inti lainnya.

"Jelaskan," kata Tetua Kedua dengan suara berat.

Tang Hyun menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir, tanpa melebih-lebihkan, dan ketika dia selesai, Tetua Kedua menatapnya lama.

"Kau melakukan pekerjaan dengan baik," katanya akhirnya, "tetapi mulai sekarang, kau tidak boleh keluar sendirian di malam hari. Dan juga..." dia melirik ke arah Tang So-yeon, "Nona akan mengawasi latihanmu mulai hari ini."

Tang Hyun terkejut, "Saya? Diawasi Nona?"

Tang So-yeon tidak menjawab, dia hanya berdiri dan berjalan keluar tenda, dan itu sudah cukup menjadi perintah.

Sejak hari itu, latihan Tang Hyun berubah total.

Setiap pagi dia harus berlatih menghindari jarum yang dilemparkan Tang So-yeon dengan kecepatan yang tidak manusiawi, setiap siang dia harus belajar bagaimana membuat racun yang bisa menembus Qi pelindung dari sekte ortodoks, dan setiap malam dia harus bermeditasi sambil menahan rasa sakit karena Tang So-yeon akan terus-menerus menyuntikkan racun ringan ke dalam tubuhnya untuk "menguji ketahanannya".

"Kau terlalu bergantung pada darahmu sendiri," kata Tang So-yeon suatu malam ketika mereka berdua berlatih di halaman, "itu akan membunuhmu sebelum musuhmu sempat menyentuhmu."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Tang Hyun sambil terengah-engah.

"Belajar mengendalikan nya. Racun sejati bukan yang membunuh dengan cepat, tetapi yang membunuh tanpa ada yang sadar sampai semuanya terlambat."

Dan di bawah bimbingan itu, Tang Hyun menjadi lebih kuat dengan kecepatan yang mengerikan, karena dia tidak punya rasa takut untuk menyakiti dirinya sendiri, dan Tang So-yeon adalah guru yang paling kejam sekaligus paling jujur yang pernah dia temui.

Suatu malam, ketika mereka selesai berlatih, Tang So-yeon tiba-tiba bertanya, "Kenapa kau begitu putus asa untuk menjadi kuat?"

Tang Hyun terdiam lama, lalu dia menjawab dengan jujur, "Karena aku pernah lemah. Dan karena kelemahan itu, aku kehilangan segalanya."

Tang So-yeon menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ekspresinya sedikit melunak, "Kelemahan memang dosa terbesar di dunia ini."

Mereka terdiam bersama di bawah bulan, dan untuk sesaat, Tang Hyun hampir berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, ada orang yang akhirnya mengerti dia.

Tapi kedamaian itu tidak bertahan lama.

Tiga hari kemudian, pengumuman besar ditempel di papan utama: Babak 16 Besar Turnamen akan dimulai, dan lawan Tang Hyun adalah Nangong Yeon dari Klan Nangong.

Seluruh kamp langsung heboh, karena Nangong Yeon adalah salah satu dari Tiga Bunga, dan dia terkenal karena teknik pedangnya yang seindah tarian dan secepat kilat, belum pernah ada orang yang bisa menyentuhnya dalam pertandingan resmi.

Dan sekarang, seorang anak dari Klan Tang yang bahkan bukan murid inti akan melawannya.

Orang-orang bertaruh, beberapa bilang Tang Hyun akan mati dalam sepuluh detik, beberapa bilang dia akan menggunakan racun kotor dan menang dengan cara memalukan, dan beberapa orang, sangat sedikit, mulai berpikir bahwa mungkin anak itu benar-benar berbahaya.

Malam sebelum pertandingan, Tang Hyun tidak bisa tidur, dia duduk di atap penginapan dan menatap langit, memikirkan apa yang akan terjadi besok.

Langkah kaki terdengar di belakangnya, dan Tang So-yeon duduk di sampingnya tanpa diundang.

"Kau takut?" tanyanya.

"Tidak," jawab Tang Hyun, "aku hanya... tidak ingin mengecewakanmu."

Tang So-yeon menoleh padanya, "Aku tidak pernah mengharapkan apa pun darimu."

"Lalu kenapa kau melatihku? Kenapa kau memberiku pil? Kenapa kau menggendongku?"

Tang So-yeon tidak menjawab untuk waktu yang lama, lalu dia berkata pelan, "Karena racun di tubuhmu... baunya seperti kebebasan. Dan aku sudah lama tidak mencium bau itu di Klan Tang."

Dia berdiri dan pergi, meninggalkan Tang Hyun sendirian dengan kata-kata itu yang terus bergema di kepalanya.

Keesokan paginya, Arena Pertama penuh sesak, karena semua orang ingin melihat pertandingan antara Mutiara Pedang dan Anak Racun.

Tang Hyun berjalan masuk, dan di seberangnya berdiri Nangong Yeon, mengenakan gaun biru muda yang berkibar tertiup angin, dengan senyum manis yang bisa membuat siapa saja melupakan bahwa wanita ini bisa membunuh seratus orang tanpa berkedip.

"Senang bertemu denganmu, Tuan Tang," kata Nangong Yeon dengan suara lembut, "aku sudah mendengar banyak tentangmu."

Tang Hyun menundukkan kepala, "Saya juga, Nona Nangong."

Wasit mengangkat tangan, dan seluruh Gunung Hua menahan napas.

"Mulailah!"

Dan dengan itu, pertandingan yang akan menentukan nasib Tang Hyun, dan mungkin juga nasib Klan Tang di turnamen ini, akhirnya dimulai.

Di tribun, Tang So-yeon duduk dengan tangan mengepal, dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Kekhawatiran.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!