Indonesia
NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Umpan yang Dilempar

Pagi itu mansion berjalan seperti biasa. Para pelayan bergerak menjalankan tugas masing-masing. Sarapan disiapkan tepat waktu. Mobil-mobil keluar masuk halaman depan. Tidak ada sesuatu yang tampak berbeda. Setidaknya, bagi siapa pun yang melihat dari luar.

Namun di ruang kerja Dante, suasana jauh berbeda. Luca berdiri di depan meja kerja sambil memegang tablet. Beberapa rekaman kamera keamanan terpampang di layar.

Dante duduk di belakang meja dengan kedua tangan bertaut di depan dada. "Segera kita lempar umpannya," katanya tanpa perasaan.

Luca mengangguk.

Dante membuka sebuah berkas. "Informasinya harus cukup masuk akal untuk dipercaya. Jangan terlalu jelas. Kalau terlalu mudah, Alessia akan curiga."

Luca memperhatikan layar. "Apakah kita harus membuat dua informasi?"

"Tiga."

Dante mengangkat pandangan. "Yang pertama untuk orang yang tidak berkepentingan. Yang kedua untuk orang yang mungkin menjadi mata-mata. Yang ketiga..." Ia berhenti sejenak. "...hanya boleh diketahui oleh orang yang benar-benar berada di lingkaran dalam."

Luca langsung memahami maksudnya. "Kita melihat informasi mana yang sampai kepada Alessia."

Dante mengangguk."Dan dari mana informasi itu keluar."

Luca mengetuk layar tabletnya.

"Bagaimana dengan Nyonya? Apakah Nyonya perlu tahu bahwa jadwalnya hanya umpan?"

Dante terdiam beberapa detik. "Tidak perlu."

Sekali lagi Luca mengangguk.

Menjelang waktu sarapan, Ara sudah duduk di ruang makan. Ia menunggu kedatangan Dante. Entah sejak pukul berapa pagi ini, pria yang tidur di sampingnya itu sudah terbangun. Ia hanya tahu Dante sudah berada di ruang kerja saat ia terbangun jam 6 pagi. Ia juga samar-samar mendengar suara Luca. Mungkin ada urusan penting yang harus mereka tangani. Atau mungkin ada meeting pagi dengan investor dari belahan dunia lain.

Sementara pikirannya sendiri masih tertuju pada Alessia. Pertemuan mereka semakin dekat. Hari ini rencananya. Dalam hati ia masih bertanya-tanya. Mengapa Alessia begitu bersikeras memintanya datang sendiri? Dan apa sebenarnya yang ingin dikatakan kakaknya?

Suara langkah kaki Dante, membuat Ara mengangkat kepala. Pria itu muncul dari arah lorong dan berhenti beberapa langkah di depannya.

"Sudah makan?" tanya Dante dengan suara rendah.

"Belum. Menunggumu." Ara menatap lurus Dante.

Dante kemudian duduk di kursi biasa tempat ia duduk. Ia menyodorkan piringnya ke Ara.

Ara bangkit dan mengisi piring Dante dengan roti dan selada dan telur. Ia membuatkan sandwich. Tak lupa ia menuangkan sedikit mayones dan saos.

"Pertemuanmu dengan Alessia akan berlangsung hari ini." Dante membuka percakapan.

"Ya." Ara meletakkan piring yang sudah terisi di depan Dante.

"Kapan?"

"Alessia belum mengirimkan pesan lagi."

"Lokasinya?"

"Belum dikirim juga."

Dante mengambil segelas jus jeruk yang berada di meja.

Ara memperhatikannya. Ia kemudian mengisi piringnya sendiri. Ia juga membuat sandwich untuk dirinya.

Dante menatapnya untuk memastikan. "Kau tetap ingin pergi?"

"Iya." Ara mengangguk.

"Takut?"

Ara berpikir sebentar. "Sedikit. Tapi aku juga tidak ingin terus hidup dengan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi."

Dante tidak menjawab. Tatapannya melembut. "Aku tidak akan menghentikanmu."

Ara sedikit terkejut. "Apakah kau akan mengirim orangmu mengikuti ku?"

Dante bersandar santai sambil memakan sandwich buatan istrinya. Ia mengiyakan.

"Kau tidak perlu kawatir. Mereka akan mengikutimu dalam jarak yang aman." Dante menggigit sandwich terakhirnya.

Ara hanya mengangguk. Ia tidak punya pilihan juga. Dante telah mengaturnya. Ia hanya bisa belajar percaya pada pengaturan suaminya.

Usai sarapan, Dante tetap berangkat ke kantor. Ia tidak tinggal di rumah, ia tidak ingin membuat siapapun mata-mata Alessia yang masih tersisa di mansion menjadi curiga.

***

Pagi itu, setibanya di kantor, tiga layar pengawasan mansion sudah menyala. Layar pertama menampilkan kamera gerbang utama. Layar kedua memperlihatkan rekaman lorong-lorong mansion. Layar ketiga menampilkan daftar aktivitas keluar-masuk para pelayan.

Luca berdiri di depan meja. "Semua orang yang menerima informasi pertama sudah kami identifikasi."

Dante tidak mengalihkan pandangan dari layar. Ia diam beberapa detik.

Luca menggeser layar tabletnya. "Dia mengatakan informasi itu kepada dua orang lain. Salah satunya memang tidak punya hubungan dengan bagian keamanan."

"Yang satunya?"

"Masih kami selidiki."

Dante mengambil cangkir kopinya. Ia menatap rekaman kamera. "Biarkan saja. Aku ingin tahu siapa yang menerima informasi setelahnya." Ia menyesap kopinya.

Pukul sepuluh pagi. Salah satu pelayan meninggalkan mansion membawa beberapa kantong sampah. Itu memang tugasnya. Seharusnya tidak ada yang aneh. Namun hari itu, sebuah mobil hitam berhenti di ujung jalan. Pelayan itu tidak langsung menuju tempat pembuangan. Ia berjalan beberapa meter lebih jauh. Tangannya masuk ke dalam saku. Sebuah ponsel kecil dikeluarkan. Ia melihat sekeliling dan mengetik sesuatu.

Dari dalam mobil hitam, seseorang mengambil foto. Tidak lama, pelayan itu kembali ke mansion.

Di ruang kerja, Luca menerima laporan. "Dia mengirim pesan."

Dante menatap layar. "Ke siapa?"

"Nomor sekali pakai."

Luca kemudian menunjukkan sebuah foto.

Dante memperhatikannya. Pelayan itu terlihat tidak gugup dan tidak terburu-buru. Tingkahnya mirip agen mata-mata yang sudah terlatih.

"Sudah berapa lama dia bekerja di mansion?"

"Empat tahun."

"Empat tahun?"

"Ya."

Dante menyandarkan tubuhnya. "Periksa seluruh riwayatnya."

Luca mengangguk. Tak lama, ia kembali ke ruang kerja. "Kami sudah memeriksa riwayat pelayan itu."

"Apa hasilnya?" timpal Dante dingin.

Luca meletakkan sebuah dokumen. "Empat tahun lalu, sebelum bekerja di mansion, dia bekerja di sebuah restoran."

Dante membaca laporan tersebut. "Restoran?"

"Restoran yang dimiliki salah satu perusahaan yang pernah bekerja sama dengan keluarga Ara."

Tatapan Dante berubah. "Siapa pemiliknya?"

Luca menyebutkan nama ibu Ara. Dante kaget. Tetapi ia tidak akan menyimpulkan buru-buru. Setelah Ara menemui Alessia, ia akan meminta Luca menyelidiki apa kaitan ibu Ara. Nyonya rumah keluarga Milano yang tampak lemah itu ternyata tidak sesederhana yang ia pikirkan.

"Restoran itu sekarang sudah tutup?" Dante memastikan.

Luca mengiyakan. Ia keluar sebentar untuk menerima informasi lain.

"Ada perkembangan?" Dante mengangkat kepala saat Luca mengetuk pintu ruang kantornya.

"Pelayan itu bertemu seseorang."

"Siapa?"

"Kami belum bisa melihat wajahnya."

Luca memperbesar rekaman. Sebuah gambar buram muncul di layar. Seorang pria berdiri di dekat sebuah mobil. Wajahnya tertutup bayangan. Namun posisi tubuhnya terlihat jelas. Dante memperhatikan beberapa detik.

"Tidak perlu dekati. Aku tidak mau mengambil resiko mereka curiga dan mencelakai Ara."

Luca mengangguk.

Dante menunjuk layar. Ia menunjuk kendaraan di belakang pria itu.

"Ikuti mobilnya."

"Baik." Luca mengangkat telepon dan memerintahkan orang mereka untuk mengikuti mobil pria itu.

"Bagaimana kita akan menangani pelayan itu Tuan?"

"Tunggu nyonya pergi, baru ambil dia dan interogasi," beritahu Dante dingin.

Luca tahu maksud tuannya. Pelayan itu tidak akan pernah melihat matahari lagi. Tuannya jelas tidak mengampuni pelayan yang berani mengkhianatinya. Ini berbeda dengan kasus pelayan baru yang masih 1 bulan mulai bekerja, itupun ia bisa dibebaskan karena mempertimbangkan keinginan nyonya. Tapi pengkhianatan 4 tahun kali ini sudah cukup membuat tuannya murka. Jelas selama 4 tahun ini banyak informasi yang bocor. Dan Dante harus tahu informasi apa saja yang telah bocor dan informasi itu diberikan kepada siapa.

Sementara itu, seseorang di mansion diam-diam telah menerima pesan. Orang itu bukan pelayan yang membuang sampah tadi. Ia adalah salah satu pengurus di mansion. Ia salah satu kepala keamanan.

##Tetap awasi mansion.##

Sosok itu menatap mansion sekali lagi. Lalu menghilang ke dalam kegelapan. Mata itu adalah mata lain yang mengawasi mansion.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!