“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bongkar Loteng! : 06
“IBU!!” Guntur memberontak, berusaha melepaskan dekapan yang membuatnya sulit menghirup oksigen.
Pujiara terkejut, menangis kencang. Suaranya melengking menarik perhatian pengunjung mulai berdatangan.
“Lepaskan anakku!” Mima menarik lengan membelit pundak Guntur, mengunci tangan.
Posisinya terjepit. Ada Ara dalam gendongan, dan Guntur yang menjerit minta pertolongan.
Beberapa orang mulai mendekati dua wanita dewasa berdiri dan saling menarik lengan anak remaja tertutup wajahnya.
“Loteng! Bongkar loteng! Hati-hati ….” wanita memiliki kecantikan unik tertutupi oleh rambut kusut, berbisik keras, lalu berteriak kencang.
“Putraku! Ini putraku!” Badan Guntur diangkat, diguncang.
Hamima menahan napas, mukanya langsung pias, dan ia menangis ketakutan. Takut terjadi apa-apa dengan putranya. “Tolong lepaskan!”
“Lepaskan anak itu, Desita! Dia bukan putramu! Anak kita sudah meninggal sesaat setelah kamu melahirkannya!” suara berat, menggelegar menyentak tubuh memeluk Guntur.
Wanita yang dipanggil Desita, menangis kencang, lalu meraung-raung masih dengan mendekap Guntur. “Anakku masih hidup, dia belum mati!”
Hamima memperhatikan sosok pria berkisar umur lima puluh tahunan. Setiap melewati warga, maka dia membalas sapaan dengan anggukan singkat, tapi matanya menghunus wanita masih enggan melepaskan Guntur.
“Desita, anak kita sudah dikubur di pemakaman umum. Sadarlah!” tak ada keraguan, langkahnya pasti, lalu dalam sekali gerakan — tarikan pada lengan berkulit halus langsung menyentak si wanita masuk dalam pelukan.
“Ibu.” Guntur memeluk pinggang ibunya.
“Maafkan istri saya, dia belum bisa menerima kepergian putra kami 11 tahun yang lalu,” ucapnya terdengar tulus, sarat rasa bersalah.
Sekilas Hamima menelisik penampilan termasuk flamboyan — kalung rantai emas besar, gelang tangan juga berkilau keemasan. Kemeja warna nyentrik kuning cerah, celana hijau tua, tak ketinggalan topi ala-ala seorang koboi.
“Saya turut berduka cita,” ucapnya berempati seraya menunduk sebentar. Tangis Pujiara mulai reda, tersisa suara sedu sedan.
Dari sisi kiri perut ibunya, Guntur mengintip sosok yang tadi memeluk kuat.
Tatapan mereka terkunci, dan remaja mengenakan kaos hitam, menahan napas.
Hanya sepersekian detik, lalu Desita menarik-narik ujung kemeja suaminya.
“Ayo pulang. Sudah mainnya di luar, kamu membuat anak orang ketakutan.” Lingkaran tangan pada pinggang terlihat menekan.
Hamima dapat melihat perubahan ekspresi wanita yang berdiri kaku, menunduk dalam. ‘Apa benar mereka suami istri?’
“Kami pulang dulu. Sekali lagi maaf atas ketidaknyamanan tadi.” Pria itu berbalik badan, menarik pinggang istrinya.
Salah satu pemuda yang senantiasa berdiri di belakang pria paruh baya, mendekati Hamima. Bertanya dengan ekspresi datar, suara tegas mengintimidasi. “Apa saja yang dikatakan oleh nyonya Desita?”
“Maksudnya gimana?” balik tanya Hamima, dia tidak paham.
“Tadi, nyonya Desita ada bilang apa saja?” sorot matanya menghujam wanita berambut pendek dibawah telinga, wajahnya cukup cantik.
“Dia teriak-teriak mengakui anakku sebagai anaknya. Terus ngajak pulang,” seperti ada sesuatu menahan mulut Hamima agar tidak mengungkapkan kalimat singkat yang keluar dari mulut Desita.
“Cuma itu?” dicarinya kebohongan pada ekspresi dan gerak tubuh.
“Iya. Apa ada yang salah?” Mima menjawab mantap. Tak terlihat seperti seseorang menyembunyikan sesuatu.
Pria berbadan besar, mengenakan kaos singlet hitam, enggan menjawab. Ia berbalik badan mengikuti langkah bosnya yang sudah jauh.
“Kamu gapapa kan, Guntur?” Hamima memeriksa keadaan putranya.
Guntur menggeleng, menurut saat tangannya ditarik agar duduk lagi di kursi tunggu. “Gapapa. Mereka siapa, Bu?”
“Entahlah, Ibu juga gak kenal,” jawabnya apa adanya.
Seorang ibu-ibu memakai baju kebaya polos bahan ringan, mendekati Hamima, duduk berjarak satu kursi.
“Tadi itu juragan Sarkam, dan istri mudanya. Warga sini pada gak suka bahkan banyak yang mengolok-olok Desita. Dia orang ketiga dalam rumah tangga bu Yuyun. Kehilangan bayi memang menyakitkan,tapi itulah karma atas perbuatan jahatnya,” tanpa sungkan mulutnya terus membongkar aib.
“Kamu orang baru ya? Tinggal di desa mana?” Ia bertanya sambil menilik penampilan Hamima.
“Desa Windu Asri. Iya, saya orang baru.” Hamima mengangguk, sedikit tidak nyaman berinteraksi dengan orang asing yang terlihat suka bergosip.
“Apa kamu istrinya pak Galih, guru olahraga SD kecamatan Windu?” tebak ibu-ibu yang rambutnya dikuncir tinggi.
“Iya. Saya dan anak-anak baru kemarin sampai sini,” Mima menjawab ramah.
“Berarti kalian nempatin rumah gedong paling ujung?” suaranya terdengar lebih bersemangat, sepasang matanya berbinar, seakan mendapatkan bahan obrolan seru dibahas dengan orang lain.
“Iya,” Mima berbicara singkat-singkat, menjaga tutur kata agar jangan sampai salah ucap.
“Kalian beruntung bisa membeli rumah itu. Sebelumnya tidak dijual. Juragan Sarkam enggan melepaskan, tapi karena sudah lama gak dihuni, malah jadi terbengkalai, berujung dijual juga,” ungkapnya.
“Ngomong-ngomong, kita belum kenalan. Aku Trias, guru matematika. Rekan kerja pak Galih. Nantinya jadi wali kelas 5.” Ia mengulurkan tangan.
Hanima menyambut uluran tangan. “Hamima.”
“Eh, ada bu Trias,” sapa Galih, tangannya menjinjing plastik.
“Guntur, salim sama wali kelas mu nanti, Nak,” titahnya pelan.
Guntur pun beranjak dari bangku, lalu berdiri di depan wanita terlalu banyak bicara. “Namaku Guntur, bu guru.”
“Sopan sekali putranya pak, Galih. Saya masih sukar percaya loh, Pak. Anda kelihatan masih muda, tetapi sudah punya anak remaja,” pujinya sedikit berlebihan.
Hamima memandangi terang-terangan interaksi suami dan rekan sejawatnya.
“Muda apanya, Bu. Umur saya sudah 33 tahun, dan istri 29 tahun, dulu kami memang nikah muda,” Galih bersikap ramah namun sopan.
Terdengar suara petugas puskesmas memanggil nomor antrian. Kebetulan Hamima mendapatkan giliran pertama.
“Mas, ayo!” Mima berdiri, mengangguk sedikit ke Trias yang sangat transparan menatap suaminya.
“Kami duluan ya, Bu. Kasihan si kecil lagi demam,” pamitnya dengan menggandeng tangan Guntur.
“Silahkan, Pak!” Trias masih melihat punggung sosok tinggi, berbadan bagus, cocok dengan pekerjaannya sebagai guru olahraga.
Di dalam ruangan periksa — Pujiara dibaringkan diatas ranjang. Bayi tengah sakit itu langsung protes dengan tangisan lirih.
“Sebentar ya, cantik. Pak dokter cari tau dulu kenapa bisa sampai demam, biar kita usir pergi rasa sakitnya,” kata pria berjas putih, memiliki suara hangat, dan tatapan teduh.
Dia adalah dokter PTT (pegawai tidak tetap) yang sedang melaksanakan masa bakti di pelosok, mengikuti program wajib dari pemerintah. Sebagai batu loncatan untuk jenjang karir diangkat menjadi pegawai negeri sipil.
“Putri saya kenapa dokter, Syahril?”
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu