Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Jauh Lebih Sulit
Viktor
Aku keluar rumah pagi-pagi dengan satu tujuan pasti.
Tempat praktik Dokter Alda.
Ibuku menolak memberitahuku alamat maupun jam pemeriksaannya.
Katanya Ekaterina sendiri yang harus memberitahuku.
Dan ketika aku mendesak, dia menjawab dingin:
"Kalau dia tidak memberitahumu, Viktor... itu karena dia tak ingin kamu ada di sana."
Kalimat itu terus berdentam di kepalaku sepanjang pagi.
Tapi persetan.
Aku harus datang.
Sekalipun dia akan mengusirku dari sana.
Aku baru bisa tahu di mana lokasi pemeriksaannya karena terus-menerus menggangu Pak Geraldo sampai dia akhirnya menyerah. Dan sekarang aku sudah berdiri di klinik ini sejak jam bukanya.
Menunggu.
Gelisah.
Jengkel pada diriku sendiri karena begitu gugup.
Aku tak pernah gugup karena perempuan mana pun.
Tapi dengannya...
semuanya terasa berbeda.
Ketika mobil ibuku masuk ke area parkir, jantungku berdegup berat di dada.
Konyol.
Kulihat ibuku turun lebih dulu.
Dan di detik matanya bertemu mataku, aku nyaris bisa merasakan penghakiman menembus kulitku.
Dia tak berkata apa-apa.
Tak perlu.
Lalu Ekaterina turun.
Dan sialan...
hanya dengan memandangnya, dadaku sesak.
Gaun sederhana itu.
Rambut yang diikat.
Tangan yang otomatis melindungi perutnya.
Anakku.
Dia melihatku.
Dan keterkejutan di wajahnya meruntuhkanku lebih dari teriakan mana pun.
Aku mendekat perlahan.
Berusaha tak membuatnya makin takut.
"Sudah kubilang aku akan hadir."
Suaraku keluar lebih pelan dari yang kuduga.
Lebih tulus.
Tapi Ekaterina tak menjawab.
Tak juga menatapku benar-benar.
Dia hanya berpaling lalu masuk ke klinik. Aku mengikuti dari belakang dan melihatnya duduk sejauh mungkin dari tempatku.
Seolah kehadiranku menyakitinya.
Dan mungkin memang begitu.
Ibuku berhenti di sisiku dan berkata lirih:
"Pelan-pelan, Viktor."
Aku terus menatap Ekaterina.
Dia menghindar mengangkat mata ke arahku.
Jemarinya mencengkeram erat tas di pangkuannya.
Seakan bersiap kabur kapan saja.
Ibuku menghela napas dalam.
"Kamu sangat menyakitinya."
Kali ini aku tak mencoba membantah.
Karena tak ada pembelaan.
Tidak setelah semua yang kutahu.
Tidak setelah caraku memperlakukannya.
Maka aku hanya berkata:
"Aku tahu."
Dan aku memang tahu.
Rasa bersalah menggerogotiku dari dalam.
Tak lama, perawat memanggil Ekaterina.
Dia langsung berdiri.
Dan aku mengikuti.
Seketika kusadari tubuhnya kembali menegang.
Tapi aku tetap melangkah.
Karena aku harus ada di sana.
Aku harus melihat anakku.
Aku harus mencoba memperbaiki kerusakan yang kubuat sendiri.
Sebelum masuk ke lorong, aku menoleh ke belakang.
Ibuku masih duduk di ruang tunggu.
Dia hanya mengangguk perlahan padaku.
Dan tersenyum kecil.
Seakan akhirnya melihat sesuatu yang dia nantikan sepanjang hidupnya:
Aku berusaha menjadi lelaki sejati.
Kubuka pintu ruang praktik agar Ekaterina masuk lebih dulu.
Dia melewatiku sambil berusaha bahkan tak menyentuh lenganku.
Seolah sentuhanku bisa membakar.
Dan mungkin memang membakar.
Dokter Alda menyambut kami dengan hangat begitu kami masuk.
Tapi tak lama dia tersenyum, menatapku langsung.
"Sepertinya aku memang sudah mulai menua."
Aku tersenyum ringan.
"Aku yang membantu persalinanmu dulu... dan sekarang aku akan membantu persalinan bayimu."
Kalimat itu menghantamku telak.
Bayiku.
Aku langsung menoleh pada Ekaterina.
Dia tersenyum tipis pada dokter, malu-malu, sebelum duduk.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula...
semuanya terasa benar-benar nyata.
Pemeriksaan dimulai.
Dokter menelaah hasil tes di tabletnya sementara keheningan menguasai ruangan.
Lalu dia menghela napas pelan.
"Seperti dugaanku... hasil tes darah menunjukkan anemia dan kekurangan beberapa vitamin."
Tubuhku langsung mengeras.
Sang dokter melanjutkan:
"Aku akan meresepkan satu vitamin tambahan."
Ekaterina hanya mengangguk dalam diam.
Tampak kecil di kursi itu.
Lalu dokter mengangkat pandangannya ke arahnya.
"Kamu merasakan sesuatu belakangan ini?"
Ekaterina ragu sebelum menjawab.
"Kemarin aku merasa ada nyeri menusuk di perut..." Seolah cemas—
Dia buru-buru menunduk.
Seakan takut pada jawabannya.
Dokter bertanya dengan tenang:
"Kamu sedang tertekan?"
Dan aku melihat persis saat Ekaterina membeku.
Karena kami berdua tahu apa penyebabnya.
"Iya."
Dokter Alda melepas kacamatanya perlahan.
"Bayimu merasakan semua yang kamu rasakan, Ekaterina."
Rasa bersalah menghantam dadaku begitu keras sampai membuatku jengkel.
"Menghindari emosi yang berlebihan itu penting."
Aku langsung menunduk.
Karena itulah yang telah kuperbuat.
Emosi yang berlebihan.
Sebuah kekacauan.
Sebuah masalah.
Tapi kemudian sang dokter tersenyum, berusaha mencairkan suasana.
"Sekarang, ayo kita lihat bayinya."
Keduanya berdiri.
Aku otomatis mendekat untuk membantu Ekaterina naik ke ranjang periksa.
Tapi dia mundur diam-diam bahkan sebelum tanganku menyentuhnya.
Penolakan itu tanpa suara.
Tapi tetap menyakitkan.
Dokter Alda pura-pura tak menyadarinya.
Ekaterina berbaring dan menyingkap sedikit gaunnya.
Dan mustahil untuk tidak memandang.
Karena sekarang...
perutnya sudah mulai tampak.
Kecil.
Membulat.
Menyimpan anakku.
Dadaku terasa sesak dengan cara yang aneh.
Kuat.
Nyaris membuatku sulit bernapas.
Sang dokter memulai pemeriksaan.
Lalu aku melihatnya.
Di layar.
Bayiku.
Dia bergerak, perlahan berpindah posisi.
Kecil.
Hidup.
Nyata.
Aku benar-benar terpaku.
Tak mampu berkedip.
Tak mampu bernapas dengan benar.
Sang dokter tersenyum menatap layar.
"Beratnya bertambah beberapa gram, Ekaterina. Selamat."
Ekaterina mengembuskan napas lega.
Dan aku melihat matanya berbinar.
"Terus makan dengan baik dan minum vitaminnya."
Dia langsung mengangguk.
Lalu dokter sedikit menaikkan volume suara.
"Ayo kita dengar jantungnya."
Dan di detik berikutnya...
suara itu memenuhi ruangan.
Kuat.
Cepat.
Sempurna.
Jantungku benar-benar berhenti berdetak sesaat.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidup...
aku mengerti apa artinya mencintai seseorang bahkan sebelum mengenalnya.
Dokter Alda mengakhiri pemeriksaan setelah beberapa menit lagi.
"Semuanya baik-baik saja dengan bayinya."
Kelegaan langsung menguasai ruangan.
Aku bahkan tak sadar sedang menahan napas sampai perlahan kuembuskan.
Ekaterina masih menatap layar beberapa detik lagi.
Seakan sulit melepaskan pandangan darinya.
Dari anak kami.
Sang dokter membersihkan sisa gel dari perutnya lalu menjauh untuk merampungkan beberapa catatan.
Maka aku mengulurkan tangan otomatis untuk membantunya turun dari ranjang periksa.
Dan kali ini...
dia tak menolak.
Sentuhan tangannya di tanganku cepat.
Ringan.
Tapi cukup untuk mengacaukan seluruh kepalaku.
Kubantu dia dengan hati-hati.
Dan aku menyadari betapa kecilnya Ekaterina di dekatku.
Rapuh.
Dia buru-buru menurunkan gaunnya begitu kakinya menyentuh lantai dan menghindari menatapku terlalu lama.
Kami kembali duduk di depan meja dokter.
Dokter Alda mulai menulis resep vitamin baru sambil bicara dengan tenang:
"Kontrol berikutnya lima belas hari dari sekarang."
Ekaterina langsung mengangguk.
Selalu begitu penurut di setiap pemeriksaan sampai membuat dadaku sesak.
"Baik."
Sang dokter menyerahkan berkas-berkas itu padanya.
"Dan jangan sampai stres."
Ekaterina tertawa kecil, nyaris canggung.
Tapi aku merasakan bobot kalimat itu lebih dari siapa pun di dalam ruangan.
Dia berterima kasih pelan sebelum kami berdiri.
Ketika kami keluar dari ruang praktik dan kembali ke ruang tunggu, ibuku langsung bangkit.
Kekhawatirannya begitu kentara sampai nyaris terlalu keibuan.
"Bagaimana? Bagaimana hasilnya?"
Ekaterina menoleh padanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya...
aku melihat senyum sungguhan muncul di wajahnya.
Kecil.
Tapi tulus.
"Semuanya baik-baik saja."
Ibuku langsung mengembuskan napas lega.
Lalu Ekaterina menambahkan dengan mata berbinar:
"Berat bayinya bertambah beberapa gram."
Ibuku menaruh tangan di dada.
"Syukurlah..."
Dan bahkan sebelum Ekaterina menyadarinya, ibuku memeluknya erat.
Seakan sedang memeluk sesuatu yang berharga.
Sesuatu yang sudah dia anggap bagian dari keluarga.
Aku memperhatikan keduanya dalam diam.
Aku menunggu ibuku selesai memeluk Ekaterina sebelum berkata:
"Ayo. Kuantar kamu pulang."
Suaraku keluar mantap.
Wajar.
Seolah itu memang sudah jadi hakku.
Tapi Ekaterina mengangkat mata ke arahku dan menjawab tanpa ragu:
"Aku pulang dengan ibumu."
Sederhana.
Lugas.
Tanpa berpikir sedikit pun.
Itu menghantamku lebih keras dari seharusnya.
Sesaat aku hanya berdiri menatapnya.
Barangkali berharap dia akan berubah pikiran.
Berharap dia menyadari bahwa aku sedang berusaha.
Tapi dia hanya mendekap resep vitamin itu ke dada dan mengalihkan pandangan.
Seakan masih tak sanggup menatapku terlalu lama.
Dan aku mengerti.
Aku mengerti bahwa aku telah menghancurkan kepercayaan apa pun yang mungkin dia miliki padaku.
Meski begitu...
sakitnya bukan main.
Ibuku mengamatiku dalam diam.
Nyaris seolah ingin mengatakan sesuatu.
Tapi aku tak memberinya celah.
Aku hanya mengangguk sekali.
Datar.
Lalu berbalik dan pergi.
Tanpa mendesak.
Tanpa berdebat.
Karena untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku tak bisa memaksa Ekaterina membiarkanku masuk ke dalam hidupnya.
Sepanjang jalan ke area parkir, setiap langkah terasa makin berat.
Kucengkeram kunci mobil kuat-kuat sementara perasaan aneh itu membesar di dada.
Bukan amarah.
Lebih buruk.
Ini adalah beban diabaikan oleh satu-satunya perempuan yang perhatiannya kini berarti bagiku.
Aku masuk ke mobil dan membanting pintu lebih keras dari seharusnya.
Beberapa detik aku hanya diam di balik kemudi menatap kekosongan.
Lalu aku tertawa getir sendirian.
Karena akhirnya aku memahami satu hal:
Menaklukkan Ekaterina akan jauh lebih sulit ketimbang membawanya ke ranjang dulu.
Dan barangkali...
aku memang pantas menerima setiap detik kesulitan ini.