Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Kembalinya hari itu, keduanya tidak banyak berbicara lagi. Seruni kembali dengan pekerjaannya, begitu pun dengan Raifan. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Banyak hal yang memenuhi pikiran hingga tidak bisa di ungkapkan satu sama lain.
"Nona Muda sudah pulang"
Sambutan dari Pak Gun, seperti biasa akan menjadi hal pertama yang Seruni dengar saat pulang. Seruni tersenyum, mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Mas Rai sudah pulang, Pak?"
Pak Gun menggeleng pelan, dia menatap Nona Muda di rumah ini yang terkadang keberadaannya tidak di mengerti siapa pun, termasuk suaminya.
"Mungkin sebentar lagi Tuan akan pulang"
Seruni mengangguk saja, dia pergi ke kamarnya. Menutup pintu dan bersandar di balik pintu kamar yang tertutup. Memejamkan matanya dengan menghembuskan napas kasar.
"Dia sendiri yang tidak ingin melepaskan aku, dan sekarang semua semakin terasa hampa. Pernikahan yang terus berjalan seperti ini, tidak akan ada ujungnya"
Seruni tahu permasalahan mereka bukan hanya tentang pernikahan tanpa cinta. Tapi, banyak rahasia yang tidak saling di ungkapkan.
Selesai mandi, Seruni turun ke lantai bawah. Pemotretan hari ini cukup melelahkan, dia melihat menu makan malam yang tidak untuk selera makannya malam ini. Membuatnya berjalan ke arah rak, mengambil satu mie instan disana.
"Nona mau apa?" tanya Pak Gun yang tiba-tiba muncul.
"Pak, aku sedang ingin makan mie. Jadi maaf ya karena masakan malam ini tidak aku makan, untuk yang lainnya saja"
Maksudnya untuk semua pekerja di rumah ini. Seruni lanjut memasak mie, tidak menghiraukan lagi keberadaan Pak Gun di sana. Menambahkan beberapa potongan cabai ke dalam semangkuk mie kuah itu. Lalu, membawanya ke meja makan, dia duduk di sana dengan satu mangkuk mie instan.
"Pak Gun mau? Aku bisa buatkan" ucap Seruni saat menyadari tatapan Pak Gun yang seperti melihat racun di mie yang sedang Seruni makan.
"Ti-tidak Nona, silahkan saja"
Seruni mengangguk, dia melanjutkan makan. Srup..srup... Kuah mie yang pedas, gurih menyegarkan diri yang sudah lelah seharian bekerja. Hangatnya sampai ke perutnya, membuat terasa nyaman dan mengenyangkan.
Saat satu mangkuk mie telah habsi di lahapnya, tepat saat Raifan datang. Dia menerima laporan dari Pak Gun dan langsung menemui Seruni di ruang makan. Melihat istrinya yang sedang minum soda setelah selesai makan mie. Raifan menatap ngeri pada setiap yang dimakan oleh Seruni. Satu mangkuk mie instan dengan penuh irisan cabai dan segelas minuman soda.
"Benar-benar makanan tidak sehat" gumamnya pelan. Menatap Seruni yang terlihat menikmati makan malamnya hari ini. "Kenapa kau makan mie? Bukannya Pak Gun dan pelayan sudah masak makan malam"
"Bosan saja, lagian terus makan sendirian jadi tidak berselera. Lebih baik makan mie yang buat mood naik" jawabnya santai, Seruni melangkah melalui Raifan.
"Tunggu!" Suara bariton penuh penekanan itu membuat langkah kaki Seruni terhenti, namun tidak berbalik pada suaminya. "Kau harus menjaga kesehatanmu, makanan seperti ini benar-benar tidak sehat"
Seruni tersenyum miris, dari ucapan suaminya memang seolah dia paling mengerti dirinya dan paling peduli. Tapi kenyataannya, Raifan hanya seorang suami yang tidak pernah mencintainya.
"Bukannya kalau aku cepat mati, kau bisa kembali dengan Mawar"
Hening beberapa saat, tangan Raifan mengepal erat. Mendengar ucapan Seruni yang benar-benar membuatnya marah. Melihat punggung istrinya yang pergi begitu saja.
"Seruni, tunggu!"
Teriakan itu cukup menggelegar hingga beberapa pekerja di rumah ini terkejut, dan mereka langsung kembali dengan pekerjaan masing-masing. Pelayan yang sedang mengelap meja di ruang tengah, hanya menunduk berpura-pura tidak tahu tentang pertengkaran yang akan segera terjadi. Mereka sudah mulai terbiasa dengan semua ini, pasangan suami istri yang terkadang perang dingin dan kadang bertengkar saling berteriak hingga urat leher hampir putus.
Brak... Suara pintu di tutup kasar, membuat suasana cukup menegangkan. Pak Gun menatap ke lantai atas, ke arah pintu kamar yang tertutup. Menghela napas pelan saat melihat pertengkaran pasangan suami istri ini lagi. Setelah beberapa saat hanya terjadi perang dingin diantara mereka berdua.
"Kembali bekerja, jangan ikut campur!" ucapnya tegas pada pelayan disana.
"Baik Pak"
*
Sementara di dalam kamar peperangan akan segera terjadi. Seruni kali ini cukup berani, menatap suaminya dengan berani, meski tanganya meremas erat celana piyamanya.
"Berani sekali kau membahas hal itu?" tekan Raifan dengan suara rendah.
Seruni tersenyum sinis, meski dia terlihat cukup berani, tetap saja detak jantung berdetak lebih cepat dan tangan yang meremas celana piayamanya dengan gemetar.
"Membahas apa? Tentang kamu dan Mawar, Mas? Memangnya kenapa? Bukankah kalian saling mencintai, seharusnya saat Mawar kembali, kamu segera ceraikan aku dan kembali padanya. Bukan malah menyiksaku seperti ini!"
Sial, dia terlalu berani. Melihat tatapan tajam milik suaminya, membuat Seruni mulai menciut. Tapi sebenarnya memang itu yang ingin dia katakan sejak dulu. Jadi, meski nanti akan mendapatkan pukulan dari suaminya, setidaknya Seruni sudah mengungkapkan apa yang memang ingin dia katakan sejak awal.
Raifan meraih dagunya, mencengkramnya cukup kuat kali ini. Seruni sampai meringis. Tatapannya begitu tajam dan nyalang pada Seruni.
"Urusanku dengan dia, hanya akan jadi urusanku saja. Kau tidak perlu ikut campur!"
Seruni tersenyum miris, meski dagunya masih berada dalam cengkraman tangan suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca, sekuat apa dia mencoba untuk berani menghadapi suaminya, pada akhirnya tetap dia hanya perempuan yang lelah dengan keadaan, sehingga sulit mengontrol air matanya sendiri.
"Tapi aku istrimu, sampai saat ini aku masih resmi menjadi istrimu. Dan apa aku harus diam saja melihat suamiku berhubungan dengan wanita masa lalunya? Apa aku harus membiarkan kalian terus bersama di belakangku?"
Raifan menatap lebih dalam bola mata yang berembun itu. Sorot mata yang menutupi banyak luka dan kecewa. Air mata menetes tanpa di pinta, segera Raifan menghapusnya dengan jarinya.
"Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun di belakangmu, paham! Jadi, berhenti berpikir berlebihan"
Seruni diam, dia menepis kasar tangan Raifan yang memegang pipinya. "Haha... Aku tahu sekarang, karena aku hanya seorang istri yang dijodohkan denganmu. Jadi, kamu bebas melakukan apapun dan aku tidak boleh ikut campur urusan itu. Begitu? Mas, menurutmu istri mana yang akan tahan melihat suaminya selingkuh di bela-"
"Aku tidak pernah selingkuh!" tegas Raifan dengan suara keras, membuat Seruni kaget dan memejamkan matanya.
"Lalu, kamu dan Mawar itu apa kalau bukan selingkuh?"
"Diam!"
Prank... Raifan menendang meja kaca di sampingnya hingga hancur berantakan. Seruni memejamkan mata karena takut, sepertinya dia mulai berlebihan memancing emosi suaminya.
Bersambung
Satu bab dulu gengs... Aku sibuk... Cielah sibuk... beneran ya, gue sibuk...🥱