Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
#14
Tak ada yang aneh dengan tamu Daddy Danesh, pria itu justru terlihat hangat dan akrab dengan sang mertua, serta bisa bersikap hangat pada Zea juga.
“Mom, dimana Daddy mengenal temannya itu?”
Disela aktivitas mereka menyiapkan hidangan makan siang dan snack, Lizie coba mengorek informasi.
“Sepertinya mereka pertama kenal di Singapura. Saat itu, Thomas adalah wisatawan yang sedang berlibur sambil menikmati pertandingan balap mobil A1, bersama Daddy dan Zion di sirkuit balap kami.”
“Jadi Zion juga mengenalnya?”
“Mungkin sekarang sudah lupa, saat Zion kecil, dia sangat tergila-gila dengan mobil balap, jadi daddy-nya selalu mengajaknya pergi ke Singapura untuk menyaksikan pertandingan di sirkuit balap kami.”
Lizie hanya mengangguk, tak berani bertanya lebih lanjut, khawatir mertuanya curiga. Sebaliknya ia terus mengawasi dari dekat, saat ikut menyelam ke dalam obrolan akrab di meja makan tersebut.
Usai makan siang, Thomas pun pamit, sebab ia masih ada urusan lain.
•••
Malam harinya.
“Papa!”
Jelang malam di tempat Zion, sementara di Jakarta Zea sudah saatnya tidur malam. Zion baru sempat menghubungi keluarganya, karena masih fokus dengan penyelidikannya.
Rencananya, malam nanti ia dan Louis akan diam-diam mendatangi sisa reruntuhan bangunan milik Adam Romanov, siapa tahu Zion bisa mendapatkan petunjuk di sela waktu penyelidikan tentang Alan Romanov yang sepertinya sedang melanjutkan apa yang sebelumnya dimulai oleh Adam Romanov kakaknya.
“Hai Sayang,” sahut Zion ditambah senyuman terbaiknya.
“Kanen, Papa kapan puyang?” Melihat sang Papa tak ada hal lain yang Zea tanyakan selain kepulangan Zion.
“Belum tahu, Nak, Zea baik-baik sama Mama, ya?”
Zea langsung cemberut, lalu memberikan ponsel tersebut pada Lizie.
“Ngambek lagi?”
“Hmm, begitulah anak perempuan.”
Meski ngambek pada awalnya, namun, karena Zion bersedia sabar menuruti keinginan Zea untuk tidak mematikan video call hingga ia tertidur, gadis kecil itu pun luluh.
“Bye, Sayang,” pamit Zion dengan berat hati, karena rindunya mulai menggunung, apalagi dia baru saja mendengar ungkapan rindu penuh cinta dari dua wanita yang paling dia cintai setelah sang mommy.
“Bye, juga, hati-hati selama bekerja,” balas Lizie sendu. Ia tahu betapa besar resiko pekerjaan sang suami saat berada di medan tugas seperti sekarang. Maka tak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa dan terus berdoa, agar Zion selalu dalam perlindungan yang Maha Kuasa.
Padahal Zion tidak sedang bertugas di medan perang, namun, kekhawatiran Lizie melebihi apapun. Wanita itu tak berani bertanya, namun, firasatnya mengatakan, bahwa Zion sedang berjalan semakin dekat ke arah masa lalunya.
•••
Malam gelap telah turun ketika video call Zion dan keluarganya berakhir, pria itu masih di kamar hotelnya, menatap kelap-kelip lampu malam di ibu kota Rusia dari tempatnya.
Lampu meja menjadi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Di hadapannya, beberapa berkas masih terbuka dan berserakan, menyajikan data-data organisasi gelap yang sedang ia selidiki, berserakan seperti puzzle yang belum berhasil disusun dengan benar.
Zion kembali membolak-balik data orang-orang yang ada di sana, hingga tangannya kembali berhenti pada satu nama yang terus mengusik pikirannya.
Lynx.
Zion menyandarkan tubuhnya ke kursi, memikirkan nama yang terdengar sederhana, namun, misterius.
Semisterius orang yang menyandang nama tersebut, karena tak ada keterangan gender dalam data tersebut. Hingga zion tak bisa benar-benar memastikannya, meski pada awalnya dia meyakini bahwa Lynx adalah seorang wanita. Namun, kini ia kembali meragukannya setelah melihat bagaimana sepak terjang Lynx selama bekerja untuk Adam Romanov.
Tidak hanya gender yang sengaja dikosongkan, tapi hampir tidak ada informasi apapun, yang artinya Adam Romanov sangat menjaga kerahasiaan identitas asli Lynx.
Zion menatap kembali satu foto yang Lynx yang ia dapat dari panglima besarnya.
Gambar itu benar-benar buram. Terlihat seseorang tengah berjalan keluar dari sebuah bangunan setelah melakukan aksinya. Namun, wajahnya tertutup bayangan malam.
Bahkan kamera beresolusi tinggi itu tak mampu memperlihatkan wajah asli sosok Lynx, hingga siapapun dia termasuk orang yang mengambil gambar, pasti sulit untuk memastikan siapa orang tersebut.
Tok!
Tok!
Lamunan Zion buyar karena mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang, sepertinya Louis sudah siap.
“Kami menunggu Anda di basement, Komandan.”
Zion mengangguk, “Baiklah. Aku bersiap dulu.”
Mereka hendak kembali ke bekas reruntuhan bekas reruntuhan bangunan, karena Zion ingin melihat sendiri ruang bawah tanah Adam Romanov. Dan waktu malam, adalah saat yang tepat, dengan resiko pandangan tak leluasa.
•••
Pagi hari di Jakarta.
Media cetak dan elektronik, heboh dengan berita meninggalnya Panglima Besar, tak diberitakan dengan jelas apa yang menjadi penyebab wafatnya atasan Zion tersebut. Namun, berita simpang siur menyebutkan bahwa beliau meninggal karena tertembak.
“Opa mau temana?” Zea baru selesai mandi saat melihat Opa Danesh keluar dengan pakaian formal serba hitam, begitupun Mommy Dhera. “Oma juga mau pelgi?”
“Iya, maafkan Oma, ya, karena belum bisa antar Zea, nanti siang saja Oma dan Opa jemput kamu, lalu kita ke Geraldy Kingdom. Gimana?”
“Holyee! Cipp! Da boyeh ingkal janji loh, ya?”
Lizie ikut keluar rumah, “Mommy dan Daddy mau kemana?”
“Kami harus melayat, kamu tahu atasan Zion, kan? Semalam beliau meninggal,” jawab Daddy Danesh.
“Iya, iya, aku tahu beliau saat kami tak sengaja bertemu di salah satu restaurant.”
“Kami pergi dulu.”
“Hati-hati, Mom, Dad.”
“Kamu juga, ya, Sayang?” balas Mommy Dhera, lalu masuk ke dalam mobil mereka.
Lizie menatap kepergian sang mertua untuk sejenak, kemudian kembali masuk ke rumah untuk menemani Zea sarapan pagi sebelum pergi sekolah.
•••
Setelah Zea tiba dengan selamat di sekolahnya, Lizie baru membuka ponselnya, seseorang tanpa nama dan tanpa nomor telepon mengirimkan sebuah pesan untuknya. Isinya adalah foto, foto Zea yang sedang bermain di sekolahnya, foto kedua mertuanya, foto kakak dan adik iparnya, hingga yang terakhir, foto Zion sebelum keberangkatannya ke Moskow-Rusia.
Deg!
Ini bukan sekedar perintah, namun, ancaman untuk Lynk.
Si pengirim pesan tahu dengan pasti kelemahan Lynx saat ini adalah keluarga yang sangat disayanginya.
Lizie geram, ia hanya bisa mengepalkan tangan dengan tubuh bergetar, amarahnya tak bisa ia sampaikan pada sosok yang seharusnya, sosok yang telah berani membangunkan sisi liar yang selama ini terkubur di dalam dirinya.
Mereka boleh bermain-main dengan nyawanya, tapi, tak ada yang boleh mengusik keluarganya, orang-orang yang kini menjadi pusat hidupnya, karena kasih sayang mereka adalah hal berharga yang sejak kecil tak pernah Lizie dapatkan, karena Adam Romanov telah merampas masa kecilnya yang seharusnya bahagia.
•••
Saat ini seorang pria sedang duduk santai menikmati breakfast-nya di lounge salah satu hotel mewah di ibu kota. Tangan kanannya menggenggam ponsel, ia sedang menelepon seseorang yang entah siapa. Sementara mulutnya sedang mengunyah buah-buahan tropis sebagai hidangan pembuka sarapan paginya.
Sisi dekat jendela adalah spot favoritnya, karena ia bisa sarapan sambil menikmati hangatnya matahari pagi.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba dan kabar berita sebelumnya, orang itu jatuh tersungkur dari kursi yang ia duduki. Sementara kaca jendela yang berada tepat di sebelahnya, sudah berlubang bekas dilewati peluru yang sungguh pas mengenai batang leher orang itu.
Seseorang itu adalah Thomas.
Dan dilihat dari ciri tembakannya yang akurat dan presisi, maka snipernya adalah—