Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Besok ia akan bangun sebagai Tira yang baru. Seorang perempuan yang akan menikah dengan lelaki yang dulu tidak pernah ia bayangkan. Lelaki yang datang membawa niat, keluarga, dan bahkan sebuah rumah untuk mereka tinggali.
Tira tidak tahu apakah Fahri akan menjadi cinta terakhirnya. Ia juga tidak tahu apakah pernikahan itu akan semudah yang mereka bayangkan. Namun satu hal sudah ia putuskan malam ini. Ia akan menerima Fahri sepenuh hati. Bukan sebagai pengganti Dimas. Bukan untuk membuat Dimas menyesal. Bukan pula karena ia kalah dalam urusan cinta. Ia akan menerima Fahri karena setelah bertahun-tahun menunggu seseorang datang, akhirnya ada lelaki yang benar-benar datang untuk tinggal.
***
Pagi itu rumah Tira mendadak ramai oleh suara ketukan pintu. Ibunya yang sedang menyiapkan sarapan sampai menghentikan pekerjaannya karena tidak merasa ada yang akan datang sepagi itu.
Ayah Tira yang membukakan pintu juga sempat mengernyit ketika melihat lelaki yang berdiri di depannya. Dimas. Ia datang sendirian, mengenakan kemeja yang tampak baru disetrika, tetapi wajahnya jauh dari tenang.
“Assalamu'alaikum, Pak.”
“Wa'alaikumussalam.” Ayah Tira tidak langsung mempersilakannya masuk. Mereka saling memandang beberapa detik. Delapan tahun lelaki ini ada dalam kehidupan putrinya, tetapi inilah pertama kalinya ia berdiri di depan rumah mereka. Bukan di simpang. Bukan di balik kemudi mobil. Bukan sebagai lelaki yang diam-diam mengantar Tira pulang.
Pagi itu Dimas akhirnya datang sendiri. “Boleh saya bicara dengan Bapak?” tanyanya.
Ayah Tira membuka pintu lebih lebar. “Duduklah.”
Mereka akhirnya duduk berhadapan di teras. Dari balik pintu kamar, Tira sudah mendengar suara mereka. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Ia tidak perlu bertanya siapa yang datang. Ia mengenali suara Dimas. Tira berdiri di dekat jendela, tidak berani keluar. Ibunya sempat masuk ke kamar dan bertanya, “Kamu tahu Dimas datang?”
Tira mengangguk. “Tahu, Bu.”
“Mau ditemui?”
Tira menggeleng. “Belum.”
Ibunya mengerti dan membiarkannya sendiri.
Di teras, Dimas menarik napas panjang sebelum akhirnya bicara. “Pak, saya datang untuk meminta maaf.” Ayah Tira diam. “Saya tahu saya terlambat.” Dimas menunduk. “Terlambat sekali.” Ayah Tira tidak membantah. “Saya juga tahu selama ini saya tidak pernah datang ke rumah ini. Saya salah. Saya terlalu lama berpikir bahwa saya masih punya waktu.” Ia mengusap kedua tangannya sendiri. “Sekarang saya sadar, ternyata saya bisa kehilangan Tira.”
“Kamu datang untuk apa, Dimas?”
Dimas mengangkat wajah. “Saya mau meminta kesempatan terakhir.”
Ayah Tira tetap tenang. “Kesempatan untuk apa?”
“Untuk menikahi Tira.”
Teras itu mendadak sunyi. Dari dalam rumah terdengar bunyi sendok beradu dengan piring. Ayah Tira memandang Dimas cukup lama. Entah sudah berapa kali ia membayangkan percakapan ini. Dulu ia menunggu Dimas datang. Pernah berharap lelaki ini akhirnya memiliki keberanian. Tetapi setelah semua yang terjadi, kedatangan itu tidak lagi membuatnya lega. “Kamu tahu Tira akan menikah?”
“Tahu, Pak.”
“Dengan Fahri.”
“Iya.”
“Dan kamu tetap datang?”
Dimas menelan ludah. “Saya masih mencintai Tira.”
Ayah Tira mengangguk kecil. “Saya tidak pernah mengatakan kamu tidak mencintainya.” Dimas terdiam. “Tetapi mencintai anak saya tidak otomatis membuat saya berhak menentukan siapa yang harus dia nikahi.”
“Saya mengerti, Pak.” Dimas menatapnya.
Ayah Tira melanjutkan, “Delapan tahun lalu, mungkin saya bisa ikut campur. Waktu itu Tira masih muda. Sekarang dia sudah dua puluh enam tahun. Dia tahu apa yang dia mau. Kalau kamu ingin kesempatan, jangan datang kepada saya untuk meminta saya membatalkan pernikahannya.” Dimas terdiam. “Temui Tira.” Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti tamparan.
Selama ini Dimas selalu menganggap dirinya sedang berhadapan dengan ayah yang tidak merestui. Padahal ternyata tidak pernah sesederhana itu. “Pak...”
“Saya tidak akan memaksa Tira menikah dengan Fahri kalau dia tidak mau.”
Dimas mengangkat wajah. “Jadi Bapak tidak keberatan kalau saya menikahinya?”
“Saya tidak bilang begitu.” Ayah Tira tersenyum tipis. “Saya bilang keputusan itu ada pada Tira.” Dimas terdiam cukup lama. “Kalau Tira masih memilihmu, saya akan menghormati keputusan anak saya. Kalau dia memilih Fahri, kamu juga harus menghormatinya.”
Dimas menunduk. Baru sekarang ia benar-benar memahami posisi dirinya. Selama ini ia ingin mendapatkan Tira kembali seolah-olah delapan tahun hubungan memberi dirinya hak untuk meminta perempuan itu kembali kapan pun ia mau. Ternyata tidak. Tira bukan miliknya. Bahkan ayah Tira pun tidak bisa menyerahkan putrinya kepadanya. Hanya Tira yang bisa memutuskan. “Saya boleh bicara dengan Tira?” tanyanya pelan.
Ayah Tira mengangguk ke arah pintu rumah. “Itu keputusan dia. Saya tidak akan memanggilnya.”
Dimas bangkit, tetapi kemudian berhenti. Ia menatap ayah Tira. “Pak, saya benar-benar menyesal. Saya seharusnya datang dari dulu. Saya seharusnya tidak membuat Tira menunggu.”
Ayah Tira menarik napas. “Kalau kamu sudah tahu semuanya sekarang, jangan ulangi kesalahan yang sama. Kalau Tira menolakmu, jangan paksa dia. Kalau dia memilihmu, jangan lagi buat dia menunggu.”
Dimas mengangguk. Ia kemudian melangkah menuju pintu rumah dengan dada berdebar. Di balik pintu itu ada perempuan yang selama delapan tahun selalu ia yakini akan tetap menjadi miliknya. Tetapi pagi ini ia tidak lagi tahu jawabannya. “Tir...” suara Dimas terdengar dari luar. “Aku boleh bicara?”
Tira tidak langsung menjawab. Ia menatap dirinya sendiri di cermin. Wajahnya tampak tenang, meskipun hatinya sedang kacau. Dua hari lagi ia akan menikah. Dan lelaki yang selama delapan tahun ia tunggu kini datang membawa satu permintaan yang dulu begitu ingin ia dengar. Aku ingin menikahimu. Tira menarik napas panjang. Kali ini tidak ada ayah yang akan memilihkan. Tidak ada Dimas yang bisa memutuskan. Tidak ada Fahri yang akan memaksa. Semua benar-benar berada di tangannya. Dan Dimas akhirnya sadar, untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, nasib mereka tidak lagi berada di tangannya. Hanya Tira yang bisa menentukan apakah kisah delapan tahun itu benar-benar berakhir, atau masih diberinya satu kesempatan terakhir.
Tira akhirnya keluar. Dimas yang sejak tadi berdiri di ruang tamu langsung menoleh. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Delapan tahun seolah berdiri di antara mereka. Dimas ingin mengatakan banyak hal. Tentang penyesalannya. Tentang ketakutannya. Tentang bagaimana ia semalaman tidak bisa tidur karena membayangkan Tira benar-benar menjadi istri lelaki lain. Namun melihat wajah Tira yang tenang, semua kalimat itu seperti tertahan di tenggorokan. “Tir...”
“Aku sudah memilih tunanganku.” Tira mengatakannya sebelum Dimas sempat memulai. Tegas. Tidak tinggi, tetapi cukup untuk menghentikannya.
Dimas menelan ludah. “Aku cuma mau minta kesempatan terakhir. Aku bisa berubah.”
Tira tersenyum tipis. “Aku juga sudah terlalu sering mendengar kata itu.”
“Aku serius.”
“Dimas, aku nggak bilang kamu bohong.” Tira menatapnya lurus. “Tapi aku sudah membuat keputusan.”